
Huja deras di malam ini mengguyur membasahi bumi dan membawa kesan subur bagi tanaman. Nisa berjalan dengan lirih, sekujur tubuhnya menggigil, tangannya yang bergetar digenggam erat agar dapat mengurangi rasa dingin di tubuhnya.
Air mata ikut mengalir bersamaan dengan derasnya air hujan. Wanita itu berjalan dengan pelan tanpa tahu tujuan yang akan ia hampiri. Sangat dingin rasanya yang ia rasakan saat ini, namun sepanjang ia berjalan tidak ada tempat teduh untuk ia bersinggah sejenak. Setiap permukiman yang ia hampiri pasti pemiliknya akan mengusir dirinya dan memaki-maki wanita itu gelandangan.
Nisa tersenyum kecut saat ia mengingat makian setiap orang yang menyebutnya gelandangan, apa yang dikatakan oleh mereka semua adalah benar. Nisa sekarang ini sudah menjadi gelandangan yang tidak mempunyai pekerjaan dan tidak bersekolah lagi, sebegitu jahatnya takdir mempermainkan hidupnya.
Tangannya yang ia genggam pun dilepas, lalu tangan tersebut diulurkan kepada perutnya yang masih rata, namun terdapat sebuah kehidupan di sana. Perempuan itu merasa sangat sedih, sudahlah ia mengandung tanpa suami, dan sekarang ia tidak memiliki tempat tinggal. Dapatkah ia menjadi ibu yang baik bagi anaknya kelak?
"Maafkan mama nak, jika nanti tidak bisa menjadi seorang ibu yang baik," lirih Nisa mengusap perutnya.
Ia tidak tau bagaimana nantinya ia akan membiyayai kebutuhan anaknya. Sedangkan tempat tinggal saja ia tidak punya, apalagi pekerjaan. Nisa tidak tau, apakah masih ada lowongan pekerjaan yang mau menerima dirinya dalam keadaan seperti ini.
Nisa melihat ada sebuah warung yang masih buka, ia pun menyentuh perutnya yang belum diisi apa-apa. Wanita itu ketika melihat setiap orang yang keluar dari sana sambil membawa makanan di tangan mereka, ia hanya bisa menelan ludah.
Kemudian Perempuan tersebut merogoh tasnya yang basah. Ia pun sibuk membukai setiap kantong-kantong bagian di tas itu. Akhirnya ia dapat menarik napas lega, ketika menemukan apa yang ia cari. Uang, yah ia menukan uang di dalam tasnya yang nominal uang tersebut tidak terlalu banyak, hanya ada lima puluh ribu. Walaupun uanganya hanya segitu, tetapi perempuan itu yakin, dengan uang itu ia dapat bertahan hidup untuk seminggu kedepan jika ia mengirit uang tersebut.
Nisa berjalan menuju warung tersebut dengan senyuman manis. Ia begitu bersemangat menghampiri warung tahu isi seraya menyemberangi jalan yang kepadatannya mulai berkurang. Selepas telah berhasil menyemberangi jalan, wanita itu pun segera berlari menghampiri warung tahu isi tersebut sebelum ditutup. Ia hanya terdiam menghentikan langkahnya ketika pemilik warung yang tak lain adalah mang Hakim menutup warung tersebut.
Nisa pun segera memanggil-manggil mang Hakim agar pemilik warung tahu isi itu tidak jadi menutupnya.
__ADS_1
"Pak!!!"
"Pak, tunggu sebentar!!"
"Pakkkk!!" Nisa segera berlari ketika mang Hakim menedengar panggilannya dan menatap Nisa yang sedang berdiri tak jauh dari depan warung tahu isi itu.
"Ada apa neng?" Tanya mang Hakim sembari mengamati penampilan Nisa yang basah kuyup.
"Ada tahu isi nya lagi nggak?"
"Aduh neng, maaf. Tahu isinya sudah habis. Mendingan cari di tempat lain aja, soalnya bapak juga udah mau tutup. Sekali lagi bapak minta maaf," kata mang Hakim seraya menutup pintunya cepat.
Sedangkan di sisi lain, Arsen baru saja sampai di depan warung mang Hakim. Laki-laki itu berdecak kesal ketika melihat warung mang Hakim yang sudah tutup, lalu ia memukul stir sembari bergumam tak jelas.
"Ah sial gue telat lagi."
"Dasar bodoh lo Sen, mana ada orang jam segini warung masih buka. Kenapa sih Sen lo ini, pakai acara pengen makan tahu isi lagi. Nggak level banget," gerutunya memaki diri sendiri.
Ia pun ingin memutar balikan kembali mobilnya. Namun pergerakan Arsen terhenti ketika ia tak sengaja melihat wanita yang pernah bermasalah dengan dirinya beberapa hari lalu. Ia mengamati perempuan itu dengan jeli, lalu pria itu menampilkan smirknya melihat Nisa. Ternyata orang yang sudah berani mengadu nyali dengan dirinya hanyalah orang rendahan, gelandangan.
__ADS_1
"Dasar perempuan gelandangan, nggak tau diri pengen mengadu nayali dengan gue. Dia pikir dia siapa?"
Lantas Arsen pun menjalankan mobilnya mendekati Nisa yang sedang berjalan di pinggiran jalan. Lalu cowok itu berhenti ketika mobilnya telah mensejajari Nisa. Tak lama pria itu keluar dari dalam mobilnya.
Nisa belum menyadari kehadiran Arsen di dekatnya. Wanita itu terlalu larut dalam lamunan yang menyakitkan hingga tak menyadari ada sebuah lengan keras dan kekar menarik dirinya masuk ke dalam mobil.
"Aduh.... Tolong lepasin!!!"
Arsen pun menghempaskan Nisa dengan kasar ke dalam mobil seraya menutup pintu mobil dengan kencang dan mengitari mobil tersebut lalau masuk ke dalamnya.
Nisa menolehkan kepalanya kepada Arsen.
"Arsen," kata Nisa kecil, lalu ia bergisut mundur ketika menyadari orang tersebut adalah Arsen, "Ka-kamu mau apa? Arsen tolong keluarkan aku dari sini!"
Arsen menolehkan kepalanya kepada Nisa, lalu tersenyum miring melihat Nisa yang ketakutan kepada dirinya. Itulah akaibat orang yang berani mencari masalah dengan dirinya, ia yakinkan akan berakhir dengan menggenaskan.
____________
TBC
__ADS_1