Tragedi Malam Itu

Tragedi Malam Itu
Part 45


__ADS_3

Seseorang memberhentikan mobil nya tepat di depan sebuah rumah yang megah bak istana kerajaan, lalu sang pengendara pun memarkirkan mobil nya itu di dalam garasi. Tak berselang lama keluarlah seorang laki-laki dari dalam mobil tersebut. Arsen keluar dengan penampilan jauh lebih baik dari pada saat masih berada di dalam gudang. Selepas memberikan hukuman yang pantas bagi koruptor itu, ia langsung pulang ke rumah demi dapat menenangkan perasaannya.


Jika kalian tanya mengapa ia tidak menenangkan diri dengan pergi ke club saja, meminum minuman yang dapat membuatnya merasa berada di surga atau bermain dengan para wanita malam di sana, jawabannya adalah, entahlah saat ini ia tidak memiliki keinginan untuk pergi ke tempat haram itu. Pikirannya kalut dibayang-bayangi dengan wajah Nisa. Ia masih ingat saat mata perempuan itu menatapnya benci, padahal bukankah Alinta memang pantas mendapatkan perlakuan seperti itu, sebab perempuan tersebut telah berani melakukan kekerasan kepada Nisa-nya.


Arsen berpikir bahwa hati Nisa itu sangat lah lembut, hingga Alinta yang secara terang-terangan telah menyakiti perempuan itu, masih tetap saja dia mau membela dan memaafkan Alinta, bagi seorang Arsen itu adalah sesuatu hal yang sangat konyol. Kelembutan di zaman sekarang adalah sesuatu yang tidak berguna lagi, sebab di zaman yang keras seperti saat ini haruslah juga memakai sistem kekerasan.


Laki-laki itu berjalan keluar dari garasi dan masuk ke dalam rumah. Hal pertama yang menyambutnya saat  memasuki rumah tersebut adalah sebuah ruang tamu yang sunyi seperti tidak berpenghuni. Tidak mau ambil pusing dengan hal itu, yang mana sudah jelas semua orang yang menempati rumah ini telah terbawa oleh alam mimpi.


Kakinya melangkah melewati satu per satu benda-benda yang terdapat di dalam ruangan tamu itu. Namun, langkah kakinya yang tadi terlihat santai tiba-tiba terhenti oleh sebuah objek yang berada di depannya. Ia berdiri dengan datar menatap kedua orang yang sedang menghalangi jalannya.


"Tidak bisa kah kalian minggir terlebih dahulu. Aku ingin masuk ke kamar ku, jika kalian ingin membicarakan sesuatu kepada ku tidak bisakah dibicarakan besok pagi. Aku sedang lelah." Arsen melangkah bermaksud ingin pergi dari hadapan orangtuanya.


Tapi belum sempat kakinya menyentuh lantai, sebuah suara membuat laki-laki itu kembali meletakkan kakinya di lantai seperti semula. Ia menatap kedua orangtuanya itu dengan datar, kemudian menarik napas berat kala mendengar pertanyaan orangtuanya tersebut.


"Dari mana saja kau hari ini? Asal kau tau papa siang tadi datang ke perusahaan mu, tapi Lana mengatakan jika kau belum datang ke kantor sejak dari pagi tadi. Bukankah kau bilang di meja makan pagi tadi ingin pergi ke perusahaan hm?"


Arsen tidak menjawab, haruskah pertanyaan seperti ini dipertanyakan? Di dalam hati Arsen tidak henti-hentinya tertawa. Sejak kapan ayahnya mau menghabiskan waktu walau satu detik hanya untuk mempertanyakan hal konyol itu. Setahunya ayahnya sangat enggan sekali untuk sekedar bertanya dengannya jika selain tentang bisnis, jadi oleh sebab itu situasi saat ini bagi Arsen adalah hal yang sangat langka.


"Untuk apa kalian bertanya. Bukankah itu tidak penting untuk kalian?" Ucap Arsen sembari menatap ayah dan ibunya secara bergantian. "Sudahlah jika hanya itu pertanyaan kalian, lebih baik aku masuk kamar saja. Lagian aku menjawab atau tidak tetap saja tidak akan menambah uang kalian bukan?"


Mendengar ucapan yang baru saja beberapa detik terlontar dari mulut Arsen membuat pasangan yang berada di depannya itu menjadi geram. Wajah keduanya terlihat memerah, menandakan jika mereka sedang disulut amarah.


"Tidak bisa kah kau menjawab?"


"Memang perlu buat papa jika aku tidak masuk hari ini, atau aku pergi kemana saja. Bukankah kalian tidak peduli aku pergi kemana saja?" Kata Arsen yang berusaha membawa dirinya dalam mode on untuk menyeimbangi kemarahan sang ayah dan ibu.


"Arsen!!" Bentak Ariana berapi-api lalu menatap anaknya tidak selembut bisanya. "Dari mana saja kau hari ini?"


Arsen mendesah panjang, ia menatap kedua orang tersebut sebelum akhirnya ia pergi dari sana. Dapat dilihatnya saat ia ingin pergi dari tempat itu Ariana seperti sedang berusaha membuka handphone nya, dan..


"Apa maksud dengan vidio ini?" Tanya Ariana membuat fokus Arsen terpusat pada layar yang sedang menayangkan sebuah adegan yang tidak asing baginya. Adegan dimana ia sedang menggores wajah Alinta dan mengatakan jika Gabriel adalah anaknya.

__ADS_1


Arsen terdiam mengamati vidio itu, tidak lama tanpa orang ketahui di dalam hatinya sedang memanas, siapa yang sudah berani menyebarkan vidio ini? Tidak dapat Arsen sangkal pasti vidio nya telah menyebar kemana-mana hingga terdengar sampai ke awak media. Entahlah tidak dapat Arsen bayangkan bagaimana banyaknya besok wartawan yang akan mengejarnya.


Arsen berdecih, ternyata beritanya dengan secepat kilat melebihi kecepatan angin telah tersebar luas. Memang ia akui di zaman sekarang berita gosip lebih menyenangkan dari pada belajar.


"Kenapa? Kamu tidak bisa menjawab?" Tanya Davit disertai dengan senyuman sinis di wajahnya.


Arsen diam, tetapi bukan berarti ia takut dengan ayahnya telah mengetahui bahwa ia beberapa tahun yang lalu pernah memperkosa wanita hingga memiliki seorang anak, dan juga tidak pula ia takut untuk menjelaskannya. Tetapi diamnya kali ini sedang melamun, kepalanya saat ini sedang dipenuhi dengan nama Nisa dan Gabriel, sudah dapat dipastikan jika kedua orang yang sekarang telah menjadi semangatnya itu pasti akan terkena dampak yang telah ia ciptakan itu. Arsen khawatir dengan keadaan kedua orang tersebut, jika mereka telah mengetahui bahwa vidio itu tersebar luas pasti akan merasa tertekan, belum lagi jika ada tetangga yang mengetahui tentang vidio itu dan menggunjing Nisa serta anaknya.


Tidak, tidak, Arsen tidak bisa membayangkan itu. Ia tidak akan membiarkan satu orang pun berani menyakiti Nisa-nya baik batin maupun fisik. Jika sempat terdengar ada orang yang telah berani menyakiti Nisa-nya, maka Arsen pastikan jika orang itu tidak akan bisa lagi menikmati hidupnya. Entahlah ia sangat sensitif sekali jika mendengar atau melihat Nisa maupun Gabriel tersakiti. Emosinya tidak stabil jika mendengar salah satu dari kedua orang itu mengalami penderitaan.


Ia juga tidak mengetahui mengapa ia seperti itu, apakah ia peduli dengan Nisa karena wajah perempuan itu yang mirip dengan Ica atau ada hal lain yang menjadi faktor emosinya naik setiap kali melihat Nisa terluka walau hanya tertusuk dengan sebilah jarum.


"JAWAB ALEX APA MAKSUD DENGAN VIDIO INI?!" Bentak Ariana berapi-api dan memberikan penekanan disetiap kata-katanya.


Tidak lama sebuah air bulir bening keluar dari balik matanya, ia menangis tak menyangka bahwa anak yang disayangi nya ternyata tak lebih dari ******** yang telah menghamili anak orang lain, dan erotis nya lagi perempuan tersebut adalah seorang pelayan yang pernah ditemuinya di cafe saat membahas pertunangan Arsen dan Alinta yang akan dilakukan sehari lagi pada saat itu.


Menyebut nama Alinta membuat Ariana semakin geram ketika melihat perlakuan Arsen di vidio itu yang jelas begitu membela perempuan itu dan malah membuat wajah calon menantunya terluka dengan cukup parah, dan penyebabnya itu adalah anaknya sendiri. Tangannya kanannya terkepal, dan secara tanpa disadarinya tangannya mendarat di pipi halus anaknya.


Plakkk


"Hiks, hiks, hiks. Kenapa kau tidak pernah cerita bahwa telah menghamili anak orang lain, mama bisa ikhlas jika orang yang kau hamili bukan dia. Apa kau tidak bisa mengerti dengan perasaan Alinta, mengapa kau lakukan itu padanya. Alinta itu calon istri mu, dan calon menantu mama!!!"


Ariana menangis tersedu-sedu dan didekap oleh Davit untuk menenangkan istrinya. Matanya menatap mata Arsen yang terlihat tenang meski masih terdapat rasa terkejut.


"Bi!! Tolong bawa nyonya ke dalam kamar." Setelah mendengar seruan dari sang majikan, membuat pelayan yang berdiri tak jauh dari sana langsung cepat berlari dengan maksud ingin melaksanakan perintah sang petinggi di rumah ini.


Namun ketika sang pelayan ingin menyentuh Ariana, wanita itu lebih dulu menepisnya.


"Tidak, aku tidak ingin masuk sebelum mendapatkan penjelasannya!!!" Brontak Ariana dan semakin mengeratkan pelukannya kepada suaminya guna tetap bertahan di tempat.


"Tapi..." protes Davit tidak terima dengan penolakan istrinya tersebut, namun belum sempat ia menyelesaikan ucapnya dengan cepat Ariana memotong ucapan sang suami.

__ADS_1


"Kata ku tidak, yah tidak."


Arsen yang melihat orangtuanya sedang bertengkar memutar bola mata jengah. Ia menatap datar pasangan yang sedang berkelahi tersebut.


"Jika tidak ada yang ingin kalian tanyakan lagi, lebih baik aku masuk ke dalam kamar ku." Arsen berujar sembari memandang orangtuanya yang langsung berhenti bertengkar lalu menatap Arsen.


"Ma, lebih baik mama masuk ke dalam kamar terlebih dahulu," pinta Arsen yang sukses dihadiahi tatapan tajam Ariana.


"Aku tidak mau. Apa kau tak tau betapa lama aku menunggu mu pulang sampai badan mama mu ini hampir encok semua."


"Ku mohon tidurlah kau terlebih dahulu." Davit menatap pelayan yang di sampingnya tajam, "kamu cepat bawa nyonya masuk dan jaga dia jangan biarkan keluar sebelum aku sendiri yang datang."


"Baik tuan," kata pelayan dan dengan tidak enak hati ia memaksa istri tuannya itu masuk ke dalam kamar, meski cukup susah akibat brontak kan Ariana yang sangat kencang. Perempuan itu terus berteriak tidak ingin masuk ke dalam kamar.


Sepeninggalan Ariana, tinggallah Davit dan Arsen yang tersisa di sana. Tanpa disangka, sebuah tinjuan melayang di wajah Arsen cukup keras hingga ia tersungkur di lantai. Davit melakukan itu kepada anaknya berulang kali untuk menyalurkan emosi nya yang tertahan akibat adanya Ariana. Arsen terbaring di lantai tidak berdaya, wajahnya yang mulanya terlihat mulus kini dipenuhi dengan lebam dan warna merah dan biru.


Arsen terbaring tidak bisa bergerak akibat otot-otot nya yang mati akibat kerasnya pukulan yang ia dapatkan dari sang ayah. Ia hanya bisa memandang sang ayah dari bawah tanpa ada perlawanan yang ia lakukan kepada ayahnya tersebut. Inilah dirinya, yang tidak pernah bisa melawan sang ayah, walau ia terkenal kejam, namun ia selalu kalah dengan ayahnya.


"Papa tidak pernah mendidik mu untuk menjadi seorang penjahat kelamin!! Dan satu lagi kenapa kau melukai wajah Alinta, asal kau ketahui Thomas baru saja menelpon ku kalau ia sangat kecewa dengan kelakuan mu terhadap anaknya. Kau tidak tahu betapa malunya aku saat berbicara dengannya. Ia marah bukan hanya kepada mu tapi dengan keluarga Altas. Tidak bisa kah kau menerima dengan lapang dada pernikahan mu dengan Alinta, Lex?"


"Aku tidak peduli dengan bagaimana Thomas menilai ku atau keluarga ini. Asal kau tau papa, keluarganya lebih busuk dari perbuatan ku." Arsen berusaha mengeluarkan ucapannya dari mulut yang sudah membengkak dan dialiri darah.


"Kau..." geram Davit dan memukul anaknya kembali hingga membuat Arsen memuntahkan cairan merah dari mulutnya, sedangkan di kedua sela lubang hidungnya dipenuhi dengan darah yang terus mengalir.


"Apa kata orang-orang luar dan perusahaan lain yang melakukan kerja sama dengan perusahaan kita, ketika melihat kelakuan mu itu. Mereka tahu kau belum menikah, dan di dalam video jelas kau mengatakan jika anak kecil itu adalah anak mu, pasti mereka akan beranggapan tidak benar tentang mu. Aku tidak ingin perusahaan hancur gara-gara perbuatan mu, dan jika wartawan datang ke rumah ini aku tidak akan mau mengurusnya, kau jelaskan saja sendiri jika mereka menanyakan dari mana kau mendapatkan anak kecil itu. Aku bisa memastikan jika aku nanti membuka akun media sosial ku, pasti ada berita miring terbaru tentang mu, aku tidak ingin mengurus skandal mu dengan wanita pelayan itu. Dan aku mau seminggu ke depan berita ini sudah reda di telinga masyarakat, dan pertunangan mu dengan Alinta akan dilanjutkan, aku berharap kau meminta maaf dengannya."


Arsen yang mendengar permintaan ayahnya agar ia meminta maaf kepada Alinta langsung tersenyum sinis, walau keadaannya sudah sangat lemah ia masih bisa meludah kala mendengar isi permintaan ayahnya. Sampai kapan pun ia tidak akan pernah sudi meminta maaf kepada Alinta.


"Kau tidak tahu saja siapa Alinta, jika kau mengetahuinya jika dia dan ayahnya yang menjadi dalang korupsi di perusahaan, mungkin kau akan berpikir dua kali untuk melanjutkan perjodohan ku dengannya. Thomas sengaja mendekati mu dan menjodohkan ku dengan anaknya agar dia bisa mengambil aset-aset mu secara pelan. Sungguh miris bukan otak mu yang tidak bisa sampai berpikir sejauh itu."


"Apa maksud mu?"

__ADS_1


_________


Tbc


__ADS_2