
Di tengah malam yang gelap gulita, tidak dapat membuat mata seorang Arsen tertidur dengan nyenyak. Tampak laki-laki itu sangat gelisah di atas tempat tidurnya, sudah banyak gaya tidur yang ia praktekan namun dari sekian banyak gaya, tiada ada satu pun gaya yang dapat membuat dia tertidur dengan lelap malam ini.
Beberapa belakangan ini ia selalu tidak tenang. Kadang ia heran sendiri kepada dirinya yang tiba-tiba saja tebangun di tengah malam dan menginginkan sesuatu yang tak masuk akal bagi Arsen. Selain itu juga hampir setiap pagi setelah bangun tidur Arsen merasakan kepalanya pusing dan berakhir di dalam kamar mandi, muntah-muntah.
Padahal terkadang dirinya tidak ada meminum minuman keras di tengah malam atau pun makan-makanan yang tidak higenis. Meskipun ia terkesan cuek dengan hidupnya, ia tetap memperhatiakan pola makan sehatnya.
ArsenĀ langsung bangun dari baringnya dan segera berlari cepat kedalam kamar mandi. Seperti biasa, pasti di dalam kamar mandi ia akan memuntahkan sesuatu.
Huek huek huek
Setelah banyak mengeluarkan cairan yang menjijikan, laki-laki itu membersihkan dirinya yang terlihat sangat menggenaskan. Lalu setelah itu ia keluar dari kamar mandi dan berjalan kearah ranjang dan mengehempaskan tubuh kekaranya di atas kasur itu.
Pandangan laki-laki itu lurus ke depan, ia tidak tau apa yang telah terjadi dengan dirinya akhir-akhir ini. Laki-laki itu merentangkan kedua tangannya untuk menetralisir perasaan yang gundah tak tentu arah.
Ia melihat kearah jam yang berada di dinding. Ia pun menarik napas dan memejam kan matanya kembali berusaha menenangkan pikirannya serta agar dapat tertidur nyenyak di malam ini.
__ADS_1
Cowok itu mengubah posisi tidurnya menjadi menghadap kesamping. Sudah hampir sejam dengan posisi itu tetap saja pikiran cowok itu tidak mau diajak berkompromi, pikirannya selalu saja merasa tidak nyaman, entah kepada siapa ia merasakan rasa tidak enak tersebut.
"Akhhhhh."
Laki-laki itu merasa geram kepada dirinya sendiri yang dia sendiri tak mengerti dengan keadaannya sekarang. Lantas ia bangun dari posisi tidurnya dan duduk di atas ranjang. Deru napas laki-laki itu sangat terdengar jelas ketika cowok itu memaki-maki dirinya kesal.
"Kenapa sih lo Sen." Ia pun memukul-mukul kepalanya kesal, sembari menjambak rambutnya berharap agar ia dapat memecahkan masalah yang terjadi dengan dirinya ini.
Tak lama ponsel milk laki-laki itu berdering di atas nakas. Cowok tersebut langsung mengalihkan pandangannya kepada ponsel bermerk OPPO tersebut.
Arsen pun menggesek layar hijau menerima panggilan dari ayahnya. Apapun yang akan ayahnya katakan atau hal yang bersangkutan dengan masa depannya, ia akan pasrah dan menerima dengan lapang dada, agar ayahnya itu merasa puas telah mengatur-atur kehidupannya, lagi pula Arsen sudah bosan dengan hidupnya yang seperti ini.
"Ada apa pa?" Tanyanya dengan nada dingin dan mata menatap kearah pintu kamar.
"......"
__ADS_1
"Maksud papa apa?? Tidak, Tidak, Arsen nggak akan mau pa. Kenapa sih pa, papa selalu begini dengan Arsen. Arsen capek pa, diatur-atur papa terus. Arsen sudah gede pa bukan anak kecil lagi, jadi Arsen tau mana yang baik untuk masa depan Arsen."
"......"
"Papa egois. Papa tidak pernah ngertin Arsen. Papa rela ngorbanin anak sendiri demi asumsi bisnis papa, Arsen tidak mau jadi seorang pembisnis dan papa tau itu semua. Jadi jawabannya adalah, Arsen tidak akan pernah mau kuliah di Inggris."
"......"
"Terserah papa." Selepas mengucap kan kalimat tersebut, Arsen langsung mematikan sambungan telponnya dan menghempaskan ponsel tersebut di atas kasur.
Ia duduk disisi ranjang dan membungkukan badannya seraya memijat kepala dengan kedua tangan yang bertumpu dikedua lutut. Ia terpaksa menyetujui permintaan ayahnya tadi dan pergi jauh meninggalakan Indonesia ke Inggris, Negara yang bebas. Ia menampilkan smirknya, ayahnya tidak tau saja siapa dirinya, Arsen yakin pada suatu hari ayahnya akan mersa meneysal telah mengasingkannya ke Inggris.
Tiba-tiba saja Arsen merasakan menginginkan Tahu Isi yang dijual di pinggir jalan milik warung Mang Hakim. Ia pun melirik jam dinding dan berdecak kesal karena hari sudah menunjukan jam 1:00 WIB pagi. Lalu ia mengambil jaket yang terletak di dekat dinding kamarnya dan berjalan keluar untuk membeli tahu isi tersebut. Entahlah apakah warung mang Hakim masih buka atau belum yang penting ia pergi kesana terlebih dahulu sebab dia sudah tidak tahan menahan untuk segera memakan tahu isi. Semoga saja masih buka, yah semoga saja.
___________
__ADS_1
Tbc