Tragedi Malam Itu

Tragedi Malam Itu
Part 30


__ADS_3

Point of view Arsen


Aku berjalan gontai memasuki tempat terlaknat di mata tuhan, apalagi kalau bukan club malam. Jangan kalian pikir aku akan berbuat yang macam-macam di sini, aku datang kemari hanya untuk minum-minum dan tidak lebih dari itu. Derap langkah terdengar pelan di dalam tempat yang dipenuhi dengan suara-suara musik yang tengah mengalun. Macam-macam genre mereka putar dari mulai musik DJ, hip-hop, dangdut dan lain-lain. Aku tidak tau apa-apa saja genre musik karena itu tak penting bagi ku.


Kala mata ku menangkap kursi kosong di pojok sana, aku langsung menghampirinya. Terlihat banyak orang-orang yang sedang bercumbu mesra, dan melakukan kegiatan-kegiatan intim yang berasa membuat perutku ingin sekali memuntahkan semua isinya.  Menghela napas sembari duduk dengan pandangan lurus menatap pada orang-orang yang sedang asik menari di dance floor.


Seorang pelayan laki-laki yang bekerja di club ini mendatangi tempat ku dengan tangannya membawa beberapa botol wine serta gelasnya. Ia mendekat dan meletakkan isi yang ada di tengannya tersebut pada meja bar. Aku hanya mentapnya datar, ia terlihat sedikit canggung dengan ku. Sebab di sini aku cukup terkenal dengan ketampanan wajah yang dimiliki ku serta tentunya aku adalah orangnya keras. Mungkin hal tersebut membuatnya merasa tidak nyaman, tapi entahlah aku juga tak peduli dengannya.


Dengan perasaan kalut aku menumpahkan botol wine pada gelasnya lalu menegak habis wine tersebut dengan hanya satu tegakkan. Aku mengambil sesuatu dari balik baju Formal ku. Sekotak rokok serta dengan pemetiknya, lalu menyelipkan rokok tersebut di sela-sela bibir dan membakar ujungnya. Hispan serta hembusan aku lakukan berulang kali tanpa bosan. Asap rokok menggumpl di depan mata ku. Aku sudah terbiasa merokok sejak dari duduk di tingkat SD, hal tersebut kulakukan karena merasa hal itu bisa mengurangi beban yang ku alami sejak kecil.


Sama halnya dengan sekarang, aku merokok disebabkan oleh sesuatu yang membuatku tak bisa berhenti berpikir keras. Cenat-cenut menusuk kepalaku membabi buta hingga membuatku benar-benar pusing. Rasanya peristiwa yang sangat tak ku sangka-sangka akan aku alami, datang menghampiri. Aku merasa ini adalah beban yang amat berat yang pernah ku alami.


Apakah yang Nisa katakan tadi benar? Jika aku yang melakukannya berarti Gabriel adalah anak ku. Tapi tidak mungkin, pasti bukan aku ayahnya. Perempuan gila itu pasti sengaja memfitnah ku agar aku merasa bersalah, dan hal itu ia gunakan untuk memparas uang-uang ku. Yah aku yakin itu semua adalah settingan belaka.


"Akhhhh...." mengapa semuanya terasa sangat berat sekali. Apa salahku tuhan?


Aku mengusap wajah ku yang entah bagaimana keadaannya, semuanya hancur, baik diriku maupun keadaan ku sekarang. Wine belepotan di kerah baju ku. Sebahagian ada yang menatap jijik, namun ada pula yang menatap ku penuh nafsu. Aku tak pedulikan mereka semua, dan apalagi para ****** yang tak punya harga diri itu.


Aku tidak tau harus berbuat apa. Haruskah aku mencari kebenarannya? Atau membiarkannya saja? Yah sepertinya opsi kedua lebih cocok dari pada yang pertama. Jika apa yang ia katakan benar pasti aku terpaksa bertanggung jawab, namun aku tidak mau melakukannya. Perempuan itu hanya menambah beban ku saja.


"Dasar ******. Sepertinya ia tak laku lagi hingga terpaksa memerasku dengan cara murahan seperti itu," gumam ku dan kembali meminum wine untuk yang kelima botol.


Gabriel. Anak laki-laki yang penuh dengan daya tarik tersendiri. Siapa-pun yang melihatnya akan terpesona dengan tingkah lakunya serta rupanya yang tak jauh berbeda dengan ku. Wajah gembul yang mengemaskan itu membuatku selalu merindukannyan. Entah mengapa saat aku merangkuhnya kedalam pelukan ku, aku bisa merasakan perasaan yang selama ini aku cari. Aduh kenapa harus memikirkan anak itu lagi, tidak Sen bukan, dia bukan anak mu. ***** kau Sen sudah kemakan omongan wanita itu. Yang entah siapa namanya.


Apa jangan-jangan itu semua adalah benar, atau Ia adalah wanita yang ada di mimpiku? Dan dia memiliki anak yaitu Gabriel. Dan anak itu juga terlihat sekali mirip dengan ku, tapi aku tetap tak bisa menerimanya jika itu adalah benar. Mereka semua adalah beban.

__ADS_1


Karena sedang asik dengan pikiran ku sendiri hingga tak menyadari seseorang telah duduk di samping ku dan mengamati diriku sedari tadi. Aku melihat orang itu dengan wajah yang selalu aku pasang di tempat umum. Ia terlihat cantik malam ini dengan balutan dres dan belahan dada yang rendah hingga mengekspos bagian dadanya dengan jelas. Bibirnya berwarna merah pekat dan memang menjadi ciri dari seorang *****, rambutnya yang digerai menambah kesan indah pada dirinya. Lekukan tubuh sempurna mempepet tubuhku, dan ia pun tersenyum manis kepada ku.


Aku mengenal siapa dia. Aku sungguh disuguhkan sesuatu yang sangat menggelikan hari ini. Dia Alinta, wanita yang paling aku benci di dunia ini. Ia pikir aku telah lupa siapa dia.


Alinta, perempuan yang telah menghianati ku. Dia teman ku dari SD sampai SMP. Dia pindah ke SD ku saat dia kelas 5. Dan untuk SMP pun kami satu sekolah dan cukup dekat. Aku berpacaran dengan Alinta cukup lama dan dia adalah kekasih pertama ku, namun rasa percaya itu hilang ketika dia berselingkuh di belakang ku.


Padahal aku sungguh mencintainya sebab Alinta adalah orang yang selalu menghibur diri ku di saat aku merasa kesepian. Alinta adalah kekasih pertama ku dan tidak untuk cinta pertama ku, ada nama orang lain yang pernah mengisi hati ku sebelum Alinta.


"Ngapain kamu ada di sini?" Tanyaku seraya meliriknya sinis.


Ia menarik napas sejenak dan menjauhkan tubuhnya pada tubuhku ia memandang kearah lain.


"Alex seharusnya aku yang bertanya ngapain kamu ada di sini?" Ucap perempuan itu lalu melirik pada ku.


"Terserah aku hendak ada di mana. Itu bukan urusan kamu," ujar ku kemudian menyedekapkan dada dan menyilangkan kedua kaki ku.


"Jelas aku peduli Lex!!! Kamu tunangan aku, dan aku adalah tunangan kamu," katanya sedikit membentak kepada ku.


"Aku tidak pernah merasa telah bertunangan dengan mu. Kamu pikir aku mau bertunangan dengan penghianat? Alinta!! Kamu itu tidak lebih dari seorang ******. Jam kan itu Baik-baik."


Ia terdiam cukup lama. Mungkin mulutnya sudah bungkam dengan ucapan ku tadi. Namun sedetik kemudian ia menarik napas panjang lalu menumpahkan wine pada gelas ku. Ia memberikannya pada ku, dan aku pun hanya menyambutnya dingin.


Ku teguk air keras tersebut hingga rasa pening  pun menghampiri diriku.


Alinta yang merasakan perubahan sikapku pun, langsung ia gunakan untuk merapatkan tubuhnya lalu berusaha untuk menggodaku. Aku membiarkan saja ****** itu bermain terlebih dahulu.

__ADS_1


Cuppp


Aku terperanjat kala ia mencium dan bahkan sampai ******* bibir ku. Aku sungguh sangat geli merasakan sentuhan-sentuhan yang ia berikan kepada diriku. Dengan sekuat tenaga aku mendorong tubuh Alinta hingga ia terjatuh kesamping dengan posisi yang cukup memalukan.


"Alex," geramnya marah.


Dengan cepat aku pergi dari sana dan menahan tubuhku yang hampir saja jatuh jika aku tak menyangga dinding.


Secara pelan diriku melangkah dan mencapai parkiran, sebuah mobil SUV terparkir di sana. Aku yang hendak membuka pintu mobil reflek terhenti akibat dari suara handphone ku yang berdering.


"Arsen!"


"Hm."


"Aku ingin menyampaikan sesuatu soal mimpimu yang kau tugaskan mencari kebenarannya."


"Katakan cepat."


"Ternyata itu adalah benar. Wanita yang telah kau perkosa sejak lima tahun silam atau enam tahun yang lalu, merupakan teman satu sekolah mu sendiri. Ia bernama Anisa Ahmad dan memiliki anak dari hubungan kalian berdua yaitu Gabriel Ahmad. Nisa telah bekerja di sebuah Cafe yang tak jauh dari perusahaan mu yaitu milik Andi musuh kita. Dan untuk foto-fotonya telah aku kirim di WA."


Takkkk


Aku langsung menjatuhkan handphone dari telingaku kala mendengar informasi dari anak buahku yang kemarin aku suruh mencari tahu tentang mimpi ku itu. Aku masih tidak percaya atas apa yang telah ia katakan. Semuanya bagaikan mimpi buruk yang menamparku sekeras-kerasnya.


"Ja-jadi dia tidak berbohong?"

__ADS_1


__________


Tbc


__ADS_2