
Nisa terus berlari tanpa tujuan, di hatinya hanya satu yaitu lari sejauh mungkin dari monster mengerikan itu. Perempuan tersebut tak menghiraukan rasa penat dan sakit yang amat terasa dibagian perutnya, mau berhenti tapi takut akan tertangkap, dan ingin lanjut berlari tapi rasa sakit di perut ini sungguh menyiksa.
Air mata terus berlinang di mata indah perempuan tersebut, keringat membanjiri permukaan wajah, darah segar mengalir di pipi tanpa henti, belum lagi sakit di kaki akibat goresan dari benda-benda tajam yang ia injak.
Satu kata yang cocok dengan keadaan Nisa saat ini, yaitu menggenaskan, tubuh yang banyak terluka akibat ia yang tersandung ketika ditengah pelarian. Sandal sowalow yang ia gunakan semula entah kemana hilangnya, hingga kaki perempuan tersebut pun telanjang tanpa ada penghalangnya pabila ketika ia menginjak sesuatu yang tajam.
Luka di telapak kaki begitu dalam, hingga perempuan itu antara berlari dan berjalan akibat menahan rasa sakit yang ia rasakan.
Perempuan itu berhenti, sebab tak mampu lagi menahan rasa sakit yang ia alami. Nisa pun menolehkan kepalanya kebelakang untuk memastikan Arsen tak ada di belakang dan sedang mengejarnya.
Nisa pun bernapas lega ketika ia tak melihat Arsen berada di belakang, dirinya tidak tau berada di daerah mana, namun Nisa tak memperdulikan nama daerah ia berada sekarang. Untuk mengetahui nama daerah ia tunggu saja sampai besok pagi dan bertanya kepada orang yang lewat.
Nisa pun ingin melanjutkan perjalanannya kembali menyusuri jalanan sepi ini, namun baru saja ia berjalan beberapa langkah, dan tak sengaja gendang telinganya dipenuhi dengan suara yang memekakkan telinga dari arah jalan anatra dirinya dan Dika terjadi perseteruan tadi.
"Seperti suara tabrakan mobil?" Tanya Nisa kepada dirinya sendiri.
Wanita itu menjadi gelisah ketika ia mendengar suara tersebut dari arah Arsen yang ia tinggalkan di jalan. Perasaan wanita tersebut tidak enak, hatinya terus gelisah dan berbisik agar Nisa menghampiri sumber suara berasal, namun di sisi lain ia sangat takut ketangkap dengan Arsen jika ia berbalik kesana kembali.
Nisa berusaha untuk tidak menanggapi pendengarannya itu, ia pun menguatkan hatinya agar melanjutkan perjalanan saja dan mencari tempat berteduh dari gerimis yang melanda hati ini.
Nisa pun melanjutkan perjalananya entah kemana, yang penting ia mencari tempat peristirahatan saja terlebih dahulu. Perempuan tersebut terus berjalan di bawah guyuran air hujan yang mulai mereda, darah bercampur satu dengan genangan air yang ia injak. Tidak bisa dipungkiri jika kaki perempuan tersebut sangat pedih bagaikan teriris oleh pisau secara perlahan.
__ADS_1
Kini telah jauh perempuan tersebut berjalan tanpa arah dan mungkin ia sudah keluar dari kota Jakarta. Hari pun hampir fajar, matanya mengantuk sebab sama sekali ia belum ada tertidur, dan Nisa melihat sebuah segerombolan orang di tempat yang bisa disebut gardu, yaitu tempat perkumpulan warga kampung untuk bersantai. Lalu perempuan itu menghampiri orang-orang yang berada di gardu tersebut.
Ada rasa takut di hati Nisa ketika ia melihat orang-orang yang berada di sana semuanya berjenis kelamin pria serta tubuh mereka yang tinggi tegap bagaikan perman-preman pasar. Apa jangan-jangan mereka preman pasar lagi?
"Maaf mas, ini di daerah mana ya?" Tanya Nisa sedikit bergetar karena takut dan kedinginan.
Spontan orang-orang yang berada di sana mendengar ada seorang wanita menghampiri mereka langsung menatap Nisa yang tersenyum, dan dengan Nisa yang seperti itu, laki-laki yang jumlahnya sekitar delapan orang itu pun saling pandang dan berbisik. Lalu mereka mengahadap kearah Nisa kembali sembari menampilkan smirk iblis di wajah mereka.
Nisa menelan slivanya ketika melihat ada tanda bahaya dari orang-orang yang berada di sana, perasaan Nisa semakin bertambah takut ketika ia baru menyadari bahwa ia tidak mengenakan hijab. Semua laki-laki di sana sama persis bagaimana Arsen yang sedang mabuk waktu itu, tiba-tiba bayangan Arsen ketika memaksa dan menariknya dengan kejam terlintas di kepalanya, hingga rasa tarauma itu kembali hadir.
Nisa langsung menghindar dari mereka sembari menggeleng-gelengkan kepalanya ketika ia kembali mengingat malam kelam itu, lantas perempuan tersebut membalikan badan dan pergi dari sana secepatnya.
Namun baru beberapa langkah ia pergi dari tempat laknat tersebut, sebuah cekalan dari salah satu diantara kedelapan pria itu menahan pergerakan Nisa, refleks Nisa langsung membalikan badan dan berusaha melepaskan cekalan dari pria menakutkan itu. Di dalam hati, Nisa merutuki dirinya sendiri, bisa-bisanya ia tadi ingin bertanya kepada sekelompok orang yang tidak jelas dan bisa saja menyakitinya.
Lantas orang-orang yang berada di sana pun tertawa mendengar teriakan Nisa, suara Nisa bagaikan alunan yang indah di telinga mereka ketika perempuan tersebut berteriak meminta tolong.
"Tidak usah berteriak seperti itu cantik, nanti suara indah mu itu akan hilang. Lebih baik suara mu yang begitu indah kau keluarkan ketika sedang bercinta dengan kami." Orang-orang di sana pun terkekeh.
Nisa tidak bisa membendung rasa takutnya dan apalagi mendengar perkataan dari orang yang mencekal lengannya ini, bulu roma Nisa rasanya berdiri tegak semua.
"Dasar berengsek kalian.... Hei lepaskan aku atau aku akan memanggil warga untuk mukulin kalian yang ingin berbuat kurang ngajar kepada saya!!!!" Nisa pun berusaha melepaskan cekalan tangan orang itu yang semakin menguat.
__ADS_1
"Hak hak hak," tawa mereka.
"Hei gadis manis!! Mana ada yang akan mendengar teriakan mu itu. Penduduk di sini tidak akan pernah berani mendekati tempat tretori kami, hak hak hak," sahut orang yang berada di belakang.
"Kalian semua itu sampah masyarakat, tidak berguna!!" Teriak Nisa sembari memamerkan tatapan membunuhnya.
Nisa pun akhirnya putus asa ketika laki-laki yang mencekal tangannya ini menyeret dirinya ke tempat nongkrong mereka, lantas Nisa pun langsung menggigit pergelangan laki-laki itu sehingga dengan tak sengaja ia melepaskan cekalannya dari tangan Nisa.
Nisa yang melihat kesempatan di depan mata pun langsung berlari menjauh dari mereka, namun ternyata tenaganya sudah habis terkuras hingga ia pun berlari lemah dan sangat mudah sekali pria-pria brengsek itu menggapainya.
"Lepasinnn..." Ronta Nisa kepada laki-laki yang lebih tampan diantara mereka, namun terlihat paling dingin dan mengerikan.
"DIAMMM," marah orang tersebut seraya mendorong tubuh Nisa di dalam gardu tersebut sehingga Nisa jatuh di lantai dengan keadaan yang menggenaskan.
Nisa pun menatap mereka dengan takut-takut. Air mata terus keluar dari matanya, dan semakin bertambah lagi ketika perempuan malang itu melihat seluruh orang-orang yang melihatnya terbaring lemah dengan penuh nafsu sehingga satu diantara mereka menjilat bibirnya.
Namun tiba-tiba saja orang yang menarik Nisa tadi menghampiri dirinya dan berjongkok di samping Nisa seraya membisikan sesuatu di telinga Nisa.
"Mari malam ini kita habis kan dengan bersenang-senang sayang." Lalu laki-laki itu pun merobek pakaian Nisa dengan hanya satu detik.
_____________
__ADS_1
Tbc
ig:amandaferina6