
Warning: Alur rumit. Bagi yang pusing harap jang komentar jahat. Dan bagi yang tidak terbiasa dengan alur naik turun harap menjauh.
.
.
Terlihat seorang wanita membuka matanya sayup-sayup. Pemandangan pertama yang ia lihat adalah ruangan serba putih. Ia mengangkat tangannya lalu memijit kepala yang terasa berdenyut hebat kala ia membuka matanya. Namun dia mengerutkan keningnya saat samar-samar indera pendengarnya menangkap suara hiruk pikuk dari samping tempatnya berbaring.
Lantas Nisa menolehkan kepalanya pada sumber suara. Satu hal yang baru Nisa sadari, ternyata dia sedang berada di rumah sakit. Di netranya terdapat seorang bocah laki-laki yang sangat ia kenali. Dan dengan bocah itu pulalah senyumnya kembali terukir, Gabriel adalah satu-satunya orang yang membuatnya bertahan selama ini.
"Bunda, udah sadar?" Gabriel mendekati brankar Nisa dan mengamati mamanya dari dekat. "Bunda kenapa bisa sakit?"
Dengan prihatin Gabriel mengusap kepala mamanya lalu mendekatkan bibirnya pada kening sang bunda. Dengan hikmat ia mengecup puncak kepala sang bunda dengan durasi cukup lama.
"Gabriel ke rumah sakit sama siapa?"
"Sama om Arsen, nda."
Reflek Nisa langsung memandang seorang laki-laki yang baru saja masuk dengan seorang dokter di sampingnya. Wait, bukankah dokter itu adalah dokter tidak sopan kemarin? Nisa terus mengamati gerak-gerik kedua laki-laki tampan tersebut, hingga sampai keduanya berdiri tepat di samping Nisa.
"Ke-kenapa aku bisa ada di sini?"
Nisa menatap Arsen, lalu beralih kepada Vian. Sorot matanya penuh meminta penjelasan. Kedua laki-laki itu saling pandangan sebelum beralih menatap Nisa yang terbaring lemah di atas kasur putih.
"Kau berada di sini, karena Arsen yang membawa mu. Jadi jika kau bertanya mengapa kau ada di sini, tanyakan saja kepada laki-laki itu."
Nisa melirik Arsen yang tengah berdiri dengan kedua lengan di masukkan kedalam saku celananya.
"Kau pingsan di dalam lift," katanya dingin.
"Ke-kenapa bisa?" Tanya Nisa tidak percaya.
"Sepertinya kau memiliki masa lalu yang buruk, dan akibat kejadian buruk itu kau mengalami tarauma."
Vian meletakkan sebuah buku di meja, lalu dilanjutkan dengan mengecek keadaan Nisa. Tapi, saat Vian hendak meletakkan stetoskop di dada Nisa, tapi wanita itu menahan lengan Vian. Tatapan menghunusnya begitu kentra di kedua bola mata wanita tersebut.
"Aku tidak membiarkanmu memeriksa ku, suruh suster saja," tolak Nisa sembari mengeluarkan nada tak sukanya
Vian menghela napas, ia menjauhkan stetoskop dari hadapan Nisa. Kemudian dokter tersebut melirik kepada suster perempuan yang ada di sana. Seolah mengerti dengan lirikkan Vian, suster itu langsung mengambil alih memeriksa Nisa.
"Keadaan mu Baik-baik saja. Kau hanya perlu banyak beristirahat, dan jangan memaksa otak mu untuk mengingat masa lalu. Karena itu tidak baik dengan otak dan bisa menggangu ingatan mu, berefek bisa merasakan sakit di kepala serta mengganggu kesehatan mu." Kata Vian setelah mendapatkan hasil pemeriksaannya.
Arsen yang tadi hanya melihatkan saja bersama Gabriel pun mendekat. Ia memandang Nisa intens, dan begitu pula Nisa. Mereka berdua berpandangan cukup lama. Namun beberapa saat Nisa malah membuang muka Kesamping.
"Sepertinya kita harus berbicara berdua Sen," bisik Vian pelan.
__ADS_1
Wanita yang sedang terbaring lemah menyadari bahwa ada sesuatu diantara Arsen dan Vian. Namun, ia hanya berpura-pura tidak mengetahui.
Setelah kepergian Vian dan Arsen, lantas Nisa melirik anaknya yang sudah berada di samping. Hati Nisa kembali menghangat, melihat bocah itu yang sedang asyik bermain mobil barunya.
"Siapa yang belikan mobil ini Iel?" Tanya Nisa sambil mengelus surai Gabriel prihatin. Tapi, matanya tertuju pada mobil mainan yang dipegang Anaknya.
"Om Alsen yang belikan bun."
"Lah? Kapan sayang?"
"Kemarin bun." Gabriel mengangkat kepalanya dan meletakkan mobil mainan tersebut di meja yang ada di samping brankar, "bunda, tadi Aunty Ibel pulang kampung. Katanya nenek sakit bun?"
Elusaan tangan Nisa di surai Gabriel langsung terhenti. Ia menatap Gabriel dalam, sorot matanya seolah antara tak mengerti dan juga tidak percaya.
"Kapan Aunty Ibel perginya?"
"Tadi Aunty jenguk bunda dulu baru pulang kampung," jelas Gabriel.
Air mata terasa mengumpul di kedua kelopak matanya, mengapa ia bisa sakit disituasi saat nek Miah juga lagi sakit. Andaikan ia sekarang tak berada di rumah sakit, mungkin ia akan langsung pulang ke kampung dan menjenguk nek Miah bersama Ibel.
"Loh, bunda kenapa nangis, perkataan Iel tadi salah ya nda?"
Nisa menghapus di sela-sela matanya yang terdapat jejak air mata yang mulai mengering, kemudian ia menatap anaknya dengan sebuah senyuman khas ala emak-emak sedang membohongi anaknya.
"Nggak kok bunda Nggak nangis."
"Oh ini bukan air mata, Iel cuman kali yang salah lihat. Coba Iel kesini, ada Nggak air di mata bunda."
Gabriel pun mendekat dan mengamati dengan seksama setiap detail yang terdapat di wajah Nisa. Tak lama terdengar sebuah healaan napas lega dari anak itu. Ia mengangguk bahwa apa yang telah dikatakan ibunya memang benar.
Melihat kepolosan Gabriel membuat hati Nisa terhanyuh, mulai timbul sebuah rasa yang bergejolak di dalam hatinya. Ia merasa sangat bersalah besar telah membohongi anak itu. Tapi sudahlah, Nisa juga tidak ingin melihat anaknya ikutan sedih akibat melihat dirinya yang sedih.
________
Kedua laki-laki berwajah tampan itu memasuki ruangan tempat Vian beristirahat. Vian terlebih dahulu duduk di sopa panjang yang terdapat di sana, lalu melirik ke atas tepatnya pada Arsen yang masih berdiri.
"Apa kau lebih suka berdiri dara pada duduk?" Tanya Vian dengan maksud menyinggung Arsen.
Arsen melirik Vian sekilas, selanjutnya ia menarik napas gusar dan duduk di sopa itu. Perasaannya hari ini benar-benar kalut, tidak tau akan di bawa ke ambang mana. Semuanya terasa memberatkan hatinya. Teka-teki kehidupan Nisa sangat sulit sekali ia pecahkan.
"Kenapa dia bisa sampai pingsan?" Tanya Vian sambil menyilangkan kedua kakinya dan memainkannya.
Dengan pandangan lurus kedepan, Arsen menjelaskan, "dia pingsan setelah meneriakkan 'Tidak. Bukan aku',"
"Kenapa ia sempat mengatakan kalimat tersebut, pasti ada sebab kan?"
__ADS_1
"Sebelumnya aku tak sengaja menyebut dia dengan Ica, tak lama dia terlihat sedang mengingat satu serpihan bayangan masa lalu. Dan tiba-tiba ia berteriak ketakutan dan pingsan." Jelas Arsen kemudian melirik Vian yang sedang serius mendengar cerita laki-laki itu.
"Jika aku simpulkan dari cerita mu, ada kemungkinan besar wanita itu adalah Ica."
Mendengar ucapan Vian membuat Arsen terdiam, pandangannya terpana pada sebuah lampu besar yang bergantung di atas mereka. Tidak ada sama sekali niatan untuk membalasi perkataan Vian tadi.
Ia mengambil kopi yang sudah terhidang di sana. Arsen menyeruput kopi yang masih mengeluarkan asap itu hingga menyisakan setengah, lalu selanjutnya ia menenderkan tubuh yang lelah tersebut pada sandaran sopa.
"Aku juga merasakan hal yang sama seperti mu Vian."
Vian langsung menoleh dan mengerutkan kedua keningnya.
"Sejak kapan kau bertemu dengannya? "
Arsen menuunduk dan menarik napas dalam. Ia memejamkan mata berusaha mengingat awal-awal pertemuannya dengan Nisa.
"Aku bertemu dengan Nisa ketika aku hendak berbelanja di mini market, saat itu aku baru saja datang dari Amerika. Dia terlihat sangat berbeda, ia mengenakan hijab yang memang pada saat itu aku belum mengerti dengan hijab. Aku terus mengikuti dia sampai masuk ke dalam mini market. Kemarin aku benar-benar tidak percaya bahwa dia sangat mirip sekali dengan Ica, wajahnya, senyumnya, cara dia berbicara, semuanya yang melekat pada Nisa memang benar-benar sangat mirip sekali dengan Ica. Mulai di detik itu lah aku mencari Informasi tentang Nisa. Aku berusaha meyakinkan orangtuaku agar dapat bersekolah yang sama dengan Nisa, dan akhirnya aku berhasil. Entah mengapa pada saat itu timbul suatu pemikiran bahwa aku harus berbuat jahat kepada Nisa sehingga membuat ia membenci ku dan aku bisa melupakan Ica yang selalu dibayang-bayangi oleh Nisa, tapi aku tidak bisa sama sekali melupakan Ica dan parahnya lagi, aku selalu yakin jika Nisa adalah Ica. Jujur aku sangat takut sekali jika keberadaan Nisa akan diketahui oleh Sarga, apalagi jika Sarga mengetahui aku bersama Nisa yang pasti disangkanya Ica. Tapi sejak saat itu aku juga meyakini bahwa Nisa adalah Ica. Sahabat kecilku yang hilang bertahun-tahun sekaligus cinta pertama ku."
Laki-laki itu menadahkan kepalanya ke atas seperti sedang memohon sesuatu kepada tuhan.
Vian menepuk pundak Arsen. "Jika benar dia adalah Ica, ku harap Sarga tidak mengetahuinya. Kau tau sendirikan Sarga sangat dendam dengan Ica. Anak itu masih berpikir bahwa orang yang membunuh ayahnya adalah Ica. Dan satu yang ku harap kepada mu jauhi Sarga, ku dengar anak itu masih sinting. Mungkin saja dia masih mencintaimu, dan jika dia tau Nisa dekat dengan mu, bisa saja dendamnya kepada Ica semakin bertambah."
"Sen, aku mendapat firasat bahwa kenapa Nisa mengucapkan kalimat 'Bukan aku' diakhir kesadarannya, bisa saja kan ia sedang mendapatkan ingatan saat dituduh ibunya Sarga bahwa dia yang membunuh Suaminya. Dan aku pernah dengar saat Ica sebelum hilang, dia sempat ditembak oleh anak buahnya mamanya Sarga, dan dia berteriak ketakutan seperti itu. Mungkin saja Sarga telah menanggap Ica telah meninggal. Jadi kau jauhkan Nisa dari laki-laki ******** itu, sebelum ia mengetahuinya dan bisa saja ia nanti akan membunuh Nisa jika dia melihat Nisa sebagai Ica. Walau aku juga yakin Nisa adalah Ica"
"Sarga telah mengetahui keberadaan Nisa."
"Ha? Jadi mereka telah bertemu?"
"Hm."
"Oh." Vian berusaha memaksa tersenyum kala mendapatkan Fakta yang bisa saja menjadi konflik besar dimasa depan. "Sen kenapa anak kecil tadi mengatakan Nisa dengan sebutan Bunda?"
Arsen memandang malas Vian.
"Dia anak Nisa sekaligus anak ku."
"Hah? Maksudmu? Ja-jadi kau..."
________
TBC
Jadilah readers yang budiman, tinggalkan jejak di novel ini. Like dan comen.
Jujur memang membingungkan, aku aja nulisnya berapa kali Revisi supaya kalian ngerti, tapi kalau Nggak ngerti ya sudahlah, baca aja diulang-ulang sampai ngerti.
__ADS_1
Jika bingung, ikuti saja terus ceritanya. Setiap misteri pasti ada jawabanya.