
Kebetulan ada waktu luang, Amanda isi dengan menulis. Karena tangan ini sudah gatal ingin menulis dan aku juga ingin mengobati rasa rindu kalian dengan novel ini. Thanks untuk doanya kemarin.
_______
"Lepaskan aku. Kalian salah, aku tidak bersalah brengsek. Akhhh." Alinta berteriak dan meronta saat laki-laki berpakaian polisi serta tubuhnya yang tegap membawa wanita itu dengan paksa ke dalam balik jeruji besi.
Air mata perempuan itu jatuh menetes ke permukaan wajahnya. Menyesal? Entahlah, apakah perempuan itu sekarang telah menyesali perbuatannya atau ia masih belum kunjung mendapatkan kesadarannya.
Keluarga Marcus diboyong menuju ke penjara mereka masing-masing, sebab Arsen meminta kepada polisi agar mereka di tempatkan di tempat yang terpisah. Mulanya keluarga Marcus yang mendengar keinginan Arsen tidak menyetujuinya, namun mereka bisa berbuat apa? Semuanya telah terbukti bahwa mereka bersalah. Mau menolak sekeras apa pun mereka takkan bisa.
"Hiks-hiks-hiks sudah ku katakan aku tidak bersalah! Kenapa kalian masih memenjarakan ku. Kalian sungguh jahat!!!" Teriaknya lagi-lagi, namun suara kencangnya itu tidak dipedulikan oleh orang-orang yang berada di sana, mereka sudah biasa mendengar teriakan para tahanan yang menolak dan menyangkal kesalahan mereka walaupun bukti sudah menunjukkan mereka bersalah.
"Apakah kau tidak bisa diam Alinta?" Tanya Arsen yang mengikuti polisi yang membawa Alinta ke penjaranya. Laki-laki itu sengaja mengikuti Alinta terlebih dahulu dan menjenguk perempuan tersebut di tempat barunya.
"Masuk!!" Bentak sang polisi yang membuat Alinta ketakutan dan melangkah masuk ke dalam penjara.
Suara tangis perempuan itu tak berhenti terisak. Di dalam penjara ia melihat keadaan di luar dengan pembatas besi yang cukup kokoh, ia tidak pernah berpikir bahwa ia adalah satu diantara orang yang akan bertempat di sini.
Polisi itu telah mengunci pintu penjara tersebut dan ia pun berbalik menatap Arsen beserta ada Ariana dan Davit di situ. Laki-laki berperawakan gagah tersebut tersenyum ramah kepada keluarga Altas. Meskipun agak kaku senyuman itu, namun tak ayal keluarga Altas menyambutnya dengan hormat.
"Jika Bapak ingin berbicara kepada tahanan, kami beri waktu selama lima belas menit."
"Ah baiklah, terimakasih," ungkap Ariana sembari tersenyum kepada polisi itu.
"Jika begitu saya permisi terlebih dahulu."
Polisi tersebut meninggalkan mereka, tapi ia tidak pergi jauh dari sana sebab laki-laki itu sedang bertugas menjaga tahanan di penjara. Setelah polisi tersebut pergi, Ariana dan Davit menatap sinis Alinta yang sedang menangis histeris di dalam penjara tempat barunya itu.
Alinta mengangkat kepalanya saat dirasa ada yang memperhatikannya. Benar saja saat matanya bertemu pandang dengan Arsen serta Ariana, mata kedua insan tersebut sama menatapnya sinis. Tangannya terkepal, wajahnya yang sendu dan tidak terurus itu menggambarkan marah yang amat dalam. Ia benci kepada orang yang sedang berdiri di depannya ini, andaikan saja ia tidak di penjara dapat ia pastikan dia akan membuat mereka merasakan apa yang dirasakan nya.
"Kenapa kalian ada di sini hah? Ha ha ha ha.. pasti kalian senang kan melihat ku seperti ini. Tapi kalian jangan senang dahulu, aku akan pastikan membalas kalian semua," ucap perempuan tersebut seraya berdiri dari tempatnya merosot. "Dan kamu Alex, aku akan membuat mu akan merasakan bagaimana berada di posisi ku."
"Lakukan saja jika kau bisa." Arsen tertawa sinis. "Bagaimana mungkin kau ingin membuat ku merasakan apa yang dirasakan mu. Jika kau keluar saja tidak bisa."
Mendengar penuturan Arsen membuat Alinta naik darah. Ia mendesis sembari memukuli besi-besi yang mengelilinginya. Wanita itu mengeram tidak terima atas ucapan Arsen. Ia pasti bisa keluar dari sini, yah pasti bisa, bagaimana pun caranya ia harus keluar agar dapat membalaskan dendamnya.
__ADS_1
"Tidak ku sangka, wanita yang aku anggap dulu baik, ternyata tidak lebih dari sampah. Kenapa kau tega mengkhianati ucapan dan janji mu sendiri. Gara-gara kamu aku dipandang rendah dengan teman-teman ku, apa kata mereka jika orang yang akan menjadi calon menantu ku ternyata seorang koruptor. Sungguh aku benci kepada mu," ujar Ariana menyesal dan sedih, tapi jangan lupakan nada benci yang juga terdapat di sana.
Keadaan hening kala Ariana berucap seperti itu. Arsen hanya diam tidak berkomentar, sebab laki-laki itu ingin melihat apa saja yang dilakukan oleh Alinta. Dan kebetulan ia melihat Alinta terduduk kembali di lantai yang dingin tersebut.
"Apa kau masih menganggap dirimu tidak bersalah dengan bukti-bukti yang nyata ada di depan mata mu sendiri?"
Alinta tidak memandang dan tidak pula berniat menjawab pertanyaan Arsen. Ia hanya diam bersama kesedihannya, mau bagaimana pun ia tetap bersalah dan kesalahannya itu dengan terpaksa ia ungkapkan sendiri di meja sidang saat proses persidangan dilakukan selam 1 minggu, hingga ia dijatuhkan hukuman dipenjarakan selama 5 tahun dan denda senilai 50 M.
"Om kira kau adalah wanita baik yang pantas mendampingi Alex. Ternyata apa yang telah dipercayakan kami kepada mu kau sia-siakan."
"Sudah aku pastikan jika kau akan membawa sial di hidup ku. Kini kau di penjara, namun berita yang masih beredar di luaran sana belum juga kunjung mereda," cetus Arsen. Laki-laki itu dibuat pusing karena hampir setiap harinya jika ia keluar pasti ada wartawan yang mengejarnya dan kepalanya juga dibuat pusing sebab harus mengelarkan semuanya.
Alinta yang sedari tadi mendengar ungkapan yang semuanya adalah salahnya menjadi geram dibalik diamnya. Ia tidak bersalah, sebab ia hanya sebagai korban. Yah Alinta hanya menjadi bahan ayahnya untuk merebut kekayaan Altas. Namun, ia harus kembali tertunduk sebab ia juga bersalah karena telah mau mengikuti keinginan ayahnya.
"Jika kalian hanya ingin membicarakan hal itu lebih baik kalian pulang saja." Alinta berbalik tidak ingin menatap wajah keluarga yang telah membuatnya seperti ini. Tapi tiba-tiba sebuah ide terlintas di kepalanya hingga membuat Alinta kembali berbalik.
"Tunggu!!"
Sedangkan keluarga Altas yang juga ingin pergi dari sana langsung mengernyit. Terutama Ariana yang bingung dan merasa tidak nyaman kala ia tidak sengaja mendapatkan sebuah seringaian tipis di wajah Alinta.
"Bukankah kau yang menyuruh kami agar pulang meninggalkan mu? Tapi kenapa kau memanggil kami kembali?"
Arsen menatap Alinta datar menunggu perkataan Alinta yang ingin disampaikan perempuan tersebut kepadanya. Sedangkan Alinta yang melihat respon positif dari Arsen tersenyum.
Ia memandang satu per satu wajah Ariana, Davit, dan terakhir Arsen. Cukup lama ia memandang wajah mantan tunangannya itu. Mantan tunangan? Yah Arsen telah memutuskan hubungannya dengan Alinta, hingga kini tidak ada kata lagi yang mengikat mereka dalam sebuah hubungan.
"Ketahuilah Alex, sebenarnya kau bukanlah Alex tetapi kau adalah Arsen, yaitu yang orangtua mu katakan telah meninggal dan merupakan kembaran mu. Kau telah dibodohi mereka agar kau memiliki identitas baru. Karena mereka tau bahwa Arsen orangnya susah diatur dan sangat membenci ku, karena waktu kita masih remaja kita pernah memiliki hubungan dan aku meninggalkan mu sehingga kau sakit hati dengan ku dan membenci ku. Namun mereka mencari cara agar dapat menjodohkan ku dengan mu, dan kebetulan saat kau bangun dari koma kau tidak mengingat apa-apa hingga mereka memiliki rencana mengganti nama mu dengan Alex dan membuat kepribadian mu yang baru, tapi aku cukup kagum kau tetap tidak bisa menghilangkan sifat pisikopat mu itu saat kau menggores luka ku ini." Alinta menyentuh wajahnya yang masih terdapat luka itu.
Ariana serta Davit langsung menegang. Mereka melupakan satu fakta bahwa Alinta juga mengetahui bahwa Alex adalah Arsen. Perubahan wajah mereka begitu cepat, Ariana dan Davit saling berpandangan dengan was-was lalu melirik Arsen di samping mereka yang terlihat tenang.
Kecemasan Ariana dan Davit tak luput dari jangkauan mata elang Alinta. Perempuan itu tersenyum miring melihat Ariana yang terlihat gugup, Meskipun ia tidak bisa membuat mereka hancur dengan tangan nya sendiri, tapi dengan ucapan ia bisa membalaskan semuanya. Lihatlah mereka sedang ketakutan saat ditatap Arsen dengan dingin.
"A-Alex! Apa yang dikatakan Alinta tidak benar. Ia mencari alasan agar ia dapat keluar dari penjara. Kau Alex bukan Arsen," yakin Ariana dengan gugup, dan wajah pucat Ariana saat mengatakan itu dapat dilihat Arsen hingga ia mengangkat satu alisnya, dan setelahnya ia menarik napas dalam. "Percayalah nak."
Kemudian Arsen menatap Davit, dan Davit yang mendapatkan gilirannya untuk menjelaskan, dengan tenang dan sedikit gugup ia berucap. "Apa yang dikatakan ibu mu itu adalah benar. Apakah kau percaya kepadanya yang sudah jelas adalah penjahat atau kau percaya kepada ibu mu?"
__ADS_1
"Jangan terpengaruh, kau adalah Arsen. Apa kau tidak bisa melihat wajah nenek rempong dan wajah ayah mu yang sedang ketakutan itu. Percayalah Arsen bukanlah saudara kembar mu tapi dia adalah dirimu sendiri."
Arsen memutar bola matanya dengan malas, "aku telah mengetahuinya jika aku adalah Arsen. Kalian semua saja yang bodoh tidak menyadarinya. Sudahlah aku ada pekerjaan di kantor, lagi pula ini sudah hampir lima belas menit mungkin sebentar lagi petugas akan datang."
Arsen meninggalkan semua orang yang berda di sana yang mana sedang sibuk dengan pikiran masing-masing setelah mendengar ucapan Arsen barusan.
Tapi sedetik kemudian Ariana baru menyadari saat petugas yang tadi datang kembali. Ariana memandang sang polisi dengan dingin.
"Maaf waktu berincang dengan tahanan telah habis."
"Saya sudah tau," ucap Ariana kepada polisi tersebut dengan dingin yang berhasil menciptakan kerutan di dahi sang polis itu, sebab Ariana tadi sangat ramah.
Ariana pergi berlari dari sana mengejar Arsen yang sudah jauh dari pandangan wanita itu. Ia berteriak menyeru anaknya agar mendengar penjelasannya terlebih dahulu. Tapi suara panggilannya tidak dihiraukan oleh Arsen. Entahlah apakah laki-laki itu tidak mendengarnya atau sakit hati dengan orangtuanya.
"Maafkan istri saya pak," ucap Davit kepada petugas tadi dan izin undur diri mengejar Ariana.
Sedangkan di sepanjang koridor Ariana terus berteriak memanggil nama Arsen hingga membuat petugas yang berada di dekat sana menegur sikap Ariana yang tidak dihiraukan oleh perempuan itu. Saat ia telah sampai di depan halaman depan kantor polisi ternyata mobil Arsen baru saja keluar dan menerobos para wartawan yang telah berkumpul di luar kantor menunggu Arsen keluar. Ariana yang melihat banyaknya wartawan langsung masuk kembali ke dalam kantor sebab ia tidak bodoh ingin dikejar-kejar oleh wartawan.
Namun, mata Ariana tidak sengaja melihat seorang anak kecil bersama orangtuanya. Tapi sesuatu dimiliki oleh anak itu menarik perhatian Ariana, lantas wanita itu mendekati anak kecil itu.
"Hay!" Sapa Ariana membuat orang tersebut terkejut dan refleks langsung berbalik. Ariana tersenyum, "siapa nama anak ini."
Anak itu yang seakan mengerti langsung menjawab, "Gabriel," sembari tersenyum kecil.
Ariana terpaku melihat Gabriel, senyuman, mata itu, wajah itu, membuat Ariana kembali melihat Arsen kecil. Tiba-tiba sebuah ingatan terlintas di kepala Ariana, ia baru mengingatnya. Bukankah Gabriel adalah anak di vidio itu. Menyadari akan hal itu membuat Ariana heran, kenapa anak ini berada di kantor polisi dengan seorang wanita paruh baya yang pasti bukan Nisa.
"Maaf kalian kenapa ke sini?"
"Saya tetangganya. Saya ingin melaporkan jika ibunya Gabriel sudah satu minggu menghilang." Pernyataan wanita itu membuat Ariana terbelalak, lantas Ariana melirik Gabriel yang sedang terlihat sedih.
"Ka-kamu serius?"
_________
Tbc
__ADS_1
Like dan comen
Dear para pembaca, jika kalian ketemu cerita yang mirip sama TMI dan tanggal terbitnya lebih dulu cerita saya tolong lapor. Karena menjadi seorang penulis itu tidak mudah. Jadi jika ada yang plagiat itu bisa merugikan orang.