
Warning: Teman-teman tolong bantu saya vote novel ini di Forum Proyek Pencarian Suara agar nanti novel ini bisa dibuat Audio, minimal Vote nya 50 orang. Namun tidak ada pemaksaan, hanya siapa yang mau saja.
"Arsen kita mau ke mana lagi?" Tanya Nisa dengan memelas.
Matanya melirik pada jari manis nya yang sekarang terpasang cincin nan sangat indah dan bentuknya sama dengan cincin milik Arsen, tanpa sadar ia mengulas senyuman indah miliknya. Dirinya tidak menyangka jika pilihan hatinya adalah teman masa kecil nya sendiri. Begitu hebat takdir mengikat mereka, seakan dunia ini sempit tidak ada orang lain lagi di bumi ini selain mereka, sehingga kemana pun ia pergi maka ia pasti akan dipertemukan lagi dengan Arsen.
Nisa menatap Arsen yang sedang memperhatikannya sedari tadi. Mata mereka pun beradu pandang dengan cukup lama. Angin berembus dengan kencangnya sehingga dedaunan di dekat mereka berterbangan, namun mata meraka tak kunjung berhenti bertatapan.
Satu buah daun yang beterbangan itu pun menempel di hijab Nisa tanpa disadari oleh wanita itu. Arsen yang melihatnya pun langsung bergerak cepat dan maju satu langkah. Tangannya terayun mengambil daun tersebut dari kepala Nisa. Ia mengamati daun itu yang sudah berada di tangannya, entah kebetulan atau tidak, daun yang sudah mulai layu itu bentuknya sangat menyerupai hati.
Ia pun mengulum senyum, lantas dia pun mengangkat kepalanya menatap Nisa yang berdiri di depannya dan terdiam dengan mata yang menyorot ke arahnya. Lalu Arsen pun menyerahkan daun tersebut kepada Nisa.
"Buat kamu. I love you."
Mendengar ucapan kasih sayang dan cinta dari Arsen membuat Nisa ingin menangis. Rasanya baru sekarang dia diperlakukan semanis ini. Tuhan apakah ini adalah awal dari segala kebahagiaanya? Yah semoga harapannya itu terwujud. Melihat perlakuan Arsen seperti ini semakin membuatnya yakin jika Arsen lah pendamping hidupnya.
Nisa menatap mata Arsen seraya mengambil daun tersebut. Matanya fokus pada mata biru lautan itu, dan ia pun mengukir senyuman terbaiknya untuk laki-laki itu.
"Tahnk you. I like it and i love you more," Nisa memeluk Arsen dalam. Rasa syukur tak hentinya berkumandang dari mulutnya. Tak terasa air mata nya menetes akibat saking bahagianya ia hari ini.
Arsen yang merasakan tubuh Nisa bergetar serta sebuah isak tangis terdengar membuatnya melepaskan pelukan itu. Tangannya ia bimbing untuk membersihkan sisa air mata yang berada di sela-sela mata bulat perempuan tersebut.
"Hey kenapa menangis?"
"Aku bahagia," ungkap Nisa dengan tulus, ia memandang Arsen dengan penuh binaran. Entah dorongan dari mana, tangan Nisa terangkat dan mengambil tangan Arsen yang berada di wajahnya. Setelahnya wanita itu menyelipkan jari kelingkingnya di kelingking Arsen. "Janji jangan tinggalin aku lagi."
Arsen pun tersenyum. "Janji."
Tak lama setelah kata sakral terucap dari mulut mereka tiba-tiba angin bertiup semakin kencang. Suara petir menggelegar dari atas langit, awan-awan yang semula terang menjadi gelap. Sebuah rintikan hujan membasahi bumi, sehingga kedua mahluk tersebut dengan terpaksa melepaskan tautan jari kelingking mereka.
Arsen pun dengan cepat membawa Nisa ke tempat teduh untuk menghindar dari hujan. Ia meletakkan telapak tangannya di kepala perempuan tersebut agar dapat melindungi wanita tersebut dari basah. Lalu mereka pun berlari menuju koridor sekolah.
"Arsen baju kamu nggak basah kan?" Tanya Nisa khawatir, pasalnya laki-laki itu melindungi dirinya dari hujan sedangkan diri laki-laki itu sendiri dia tidak hiraukan.
"Tenang saja baju ku tidak terlalu basah." Arsen mengusap kepala Nisa dengan penuh sayang, kemudian ia pun mengecup kepala itu di depan para siswa yang kebetulan berkumpul di sana juga yang mana sama-sama menunggu hujan reda.
__ADS_1
Para siswa yang melihat adegan tersebut pun saling bisik. Sesekali mata mereka terarah ke arah pasangan itu. Tatapan binaran dari para kaum hawa tidak lepas dari sosok Arsen. Mereka mengamati laki-laki itu dengan penuh minat, bahkan mereka pun sekarang sedang mengadakan taruhan siapa yang berhasil meminta nomor ponsel Arsen maka ia lah pemenangnya.
Satu orang wanita yang parasnya tidak bisa diragukan lagi berjalan mendekati Arsen dan Nisa. Saat telah pas berada di belakang pria itu ia menoleh kembali ke belakang menatap teman-temannya. Teman-temannya pun menganggukkan kepala yakin dan menyemangati wanita tersebut semoga berhasil meminta nomor ponsel Arsen.
Dengan segenap keyakinan serta tarikan napas, ia pun mencolek punggung Arsen. Ketika Arsen telah berbalik, perempuan tersebut dibuat tidak bisa bernapas akibat melihat paras Arsen yang di luar dari ekspektasi mereka. Ketampanan Arsen benar-benar membuat wanita itu kesulitan untuk bernapas, namun ia tak menyerah. Ia pasti bisa menyelesaikan tantangan dari teman-temannya.
"Ada apa?" Tanya Arsen dingin kepada anak remaja tersebut.
Namun sepertinya mendengar ucapan sexy dari Arsen membuat wanita itu mengkhayal tinggi bahkan mata perempuan itu benar-benar terlihat bernafsu semakin ingin memiliki pria di depannya itu.
"Boleh saya minta nomor ponselnya?" Tanyanya dengan baik-baik.
Saat Arsen ingin membuka suara, sebuah suara yang sangat dikenali oleh pria itu lebih dulu mencelanya. "Buat apa kamu meminta nomor ponsel nya?" Tanya Nisa dengan dingin. Rautnya datar dan terlihat tidak menyukai wanita tersebut, ia memandang sinis wanita itu lalu bergidik ngeri saat melihat anak remaja seperti perempuan itu sudah dipenuhi dengan polesan make-up, sangat tidak cocok sekali dengan umurnya.
Seharusnya wanita itu pergi ke sekolah bukan untuk pamer kecantikan namun untuk belajar. Sekolah itu adalah kesempatan buat kita untuk menimbulkan bakat kita bukan untuk ajang kecantikan. Huh, memang anak zaman sekarang, kecantikan lebih penting dari pada kepintaran, sangat miris sekali generasi ini.
"Gue nggak nanya sama lo. Tapi gue nanya pada Kaka ini. Ditanya siapa yang jawab siapa," utara wanita itu sambil membalas tatapan sinis dari Nisa, lalu kemudian ia pun kembali mengalihkan pandangannya kepada Arsen.
"Jaga mulut kamu. Kamu siapa?"
"Seharusnya gue yang nanya sama lo! Anak baru ya? Gue aja nggak pernah liat lo sebelumnya di sekolah sini. Dasar murahan."
Sedangkan Arsen hanya bersandar di tiang sekolah seraya menikmati pertunjukan tersebut. Dalam hatinya tersenyum, ia tau jika Nisa sekarang sedang terbakar api cemburu dengan wanita itu.
"Ya jelas lah lo murid baru. Lo aja masih muda kaya gue. Mana mungkin lo istrinya, lagian mana mau dia sama lo."
"Kalau saya memang istrinya bagaimana?" Tanya Nisa dengan menatap tajam wanita itu, matanya memicing berusaha membuat wanita yang tidak tau diri di depannya ini terintimidasi.
"Mana mungkin, gue nggak bakalan percaya."
"Apa kamu tidak bisa liat jika kami mengenakan hoodie dengan tulisan PAPA MAMA, oh iya dan cincin ini. Cincin ini adalah cincin pernikahan kami, jadi saya ingatkan jangan pernah berani-beraninya kamu mendekati suami saya. Jam kan itu." Nisa menarik tangan Arsen untuk menjauh dari sana. Dadanya terasa panas saat wanita itu berani berkata kasar kepadanya, yang mana notabenya ia lebih tua dari pada wanita bar-bar itu.
Sedangkan siswa perempuan itu menegang di tempat. Kenapa ia tidak menyadari hal tersebut jika wanita itu adalah istri dari pria tadi. Bahkan bukti terpampang jelas di wajahnya jika menunjukkan bahwa Nisa adalah istri dari pria tersebut.
Wanita itu menolehkan kepalanya ke belakang dan menatap teman-temannya itu dengan tajam. Gara-gara teman sialannya tersebut ia harus menerima malu besar, dan apalagi cukup banyak orang yang menonton adegannya tadi.
__ADS_1
"Awas kalian!!!" Teriaknya kepada teman-temannya tersebut. Namun para kawannya itu lebih dulu melarikan diri.
Di tempat lain Nisa berjalan dengan laju di bawah gerimis sembari menarik tangan Arsen menuju mobil. Mulutnya tak berhenti mengumpati wanita tadi, ingin sekali dia memukul mulut wanita itu.
"Aku tadi tidak salah dengarkan, jika kamu menyebut ku suami mu? Coba ku ingat, kapan aku menikahi mu," kata Arsen saat mereka telah berada di dalam mobil. Dengan sengaja ia memperagahkan jika ia sedang mengingat.
Mendengar ucapan Arsen yang lebih tepatnya terdengar seperti sindiran membuat wajah Nisa memerah. Ia memalingkan wajahnya ke samping untuk menyembunyikan rona merah di wajahnya.
"Aku rasa aku tidak pernah menikahi mu!" Gumam Arsen halus dengan menatap ke samping, yang mana di sampingnya itu adalah Nisa.
"Memang tidak pernah," cetus Nisa dengan ketus. Laki-laki itu sengaja menggodanya akibat kebohongan yang sengaja ia lakukan untuk membuat wanita tadi jera.
"Terus kenapa kamu mengatakan jika aku suami mu hm?"
"Sudahlah lebih baik kita pergi dari sekolah ini. Lagian juga sebentar lagi kamu akan menjadi suami ku," jawab Nisa dengan berusaha menahan rasa gugupnya saat mengatakan kalimat tersebut.
"Baiklah Princess aku akan diam dan tidak akan mengatakan itu lagi. Tapi ada syaratnya...." Arsen menunjuk bibirnya, yang tentunya Nisa sangat paham dengan kode tersebut.
"Dasar laki-laki mesum. Tidak tau dengan dosa apa?"
"Di lapangan tadi kau menikmat nya."
Nisa terdiam, memang ia tadi sangat menikmati ciuman tersebut. Dan kini ia menyebutnya sendiri jika hal itu adalah dosa, lantas kejadian beberapa menit lalu di lapangan basket tadi disebut dengan apa? Akhh memang dirinya tidak bisa mengendalikan hawa nafsu, ternyata godaan setan sangat susah dilawan.
"Ta...tadi.. tadi itu khilaf. Aku tak sengaja melakukannya," jawab Nisa terbata-bata dan diselingi dengan rona merah di wajahnya yang semakin menjadi.
"Baiklah yang khilaf," ucap Arsen seraya menghidupkan mesin mobilnya dan menjalankan mobil tersebut ke arah apartemen Nisa, namun wanita itu menahan lengan Arsen yang sedang fokus menyetir. "Ada apa?"
"Sen! Aku ingin ke rumah keluarga aku yang dulu. Aku ingin menemui mama dan Alsya, sekaligus juga aku ingin mengenalkan mu ke mereka, kamu mau kan? ."
"Kamu yakin!"
Nisa mengangguk, ia sangat yakin. Rasa rindu mampu mengalahkan segala macam keraguan di hatinya. Melihat Nisa yang benar-benar siap, Arsen pun memutar arah balik menuju jalan ke rumah Nisa dulu.
__________
__ADS_1
Tbc
Jangan lupa like dan comen. Teman-teman tolong bantu saya vote novel ini di forum Proyek Pencarian Suara agar nanti novel ini bisa dibuat Audio, minimal Vote nya 50 orang. Namun tidak ada pemaksaan, hanya siapa yang mau saja.