
Di sisi ruangan kedap suara terdapat seorang laki-laki yang sedang larut dengan pikirannya. Pandangan lelaki dewasa tersebut lurus kepada dinding kaca yang dapat menembus langsung pemandangan kota Jakarta dari ketinggian. Jangan lupakan juga sebatang rokok di mulutnya. Ia menyesap dalam rokok tersebut dan menghembuskan asapnya sehingga membentuk gumpalan. Di jauhkannya benda haram tersebut dari mulutnya dan dibuang.
Alex laki-laki itu tengah dirunduk segudang masalah yang masih menjadi misteri. Jika orang mengenal betul siapa dia, pasti akan merasakan aura-aura negatif yang terpancarkan dari tubuh laki-laki itu. Hidupnya memang penuh dengan misteri, dunia gelap sudah ia anggap sebagai candunya. Ia tak bisa jauh dengan hal yang berbau ilegal.
Pria itu duduk disalah satu kursi. Didepannya terdapat alat-alat lukis, pria itu meraih kuas dan mencelupkannya kepada cat minyak dan kemudian mengusapkan ke kanvas yang gambarnya setengah jadi. Di paletkannya kuas tersebut kepada lukisan tersebut.
Di kanvas tersebut terlukis seorang anak balita laki-laki yang mirip dengannya sedang tertawa lepas. Ia tersenyum melihat hasil karyanya, sebuah naluri lah yang membawa ia melukis bocah laki-laki tersebut. Ia hanya mengikuti alurnya saja sesuai dengan suasana hatinya.
Sudah dapat dipastikan jika orangtunya mengetahui ia sedang melukis, pasti mereka tidak akan membiarkannya. Namun apa pedulinya? Ini hidupnya dan hanya dialah yang berhak mengatur kehidupannya, meskipun itu orangtuanya sekalian. Soal ia selalu saja nurut dengan segala kemauan orangtuanya, itu merupakan bagian dari renacananya. Biarkan saja orangtuanya merasa terbang sampai di awan karena telah berhasil menjalankan hidup anak laki-laki itu sesuai dengan scenario yang mereka buat. Bila nanti ia telah berhasil menjatuhkan orangtuanya, dan disaat itulah ia akan tertawa terbahak-bahak, tidak peduli siapa dia. Jika ia sudah benci maka di mata seorang Alex semunaya adalah sama.
Ia bukanlah tipe cowok yang mempunayi hati, ia adalah seorang laki-laki yang teguh dengan prinsipnya, tidak mudah terlena dengan apa-pun termasuk seorang wanita. Wanita? Cih. Alex tidak peduli dengan mereka, permpuan di mata laki-laki itu hanyalah seonggok sampah yang paling tidak dibutuhkan kehadirannya, mereka semua hanyalah membuat susah seorang pria. Namun jauh dari pada itu ia memanfaatkan seorang wanita hanya sebagai pelampiasan.
Terdengar suara decit pintu dibuka. Laki-laki itu tak bergeming dari tempatnya dan malah mengamati lukisan anak laki-laki itu dengan lekat. Orang yang baru saja masuk menarik napas dan membuangnya dengan gusar. Dive hanya bisa tersenyum melihat nasib sahabatnya. Setelah cowok itu keluar rumah sakit yang sempat menjadi tempat penginapan laki-laki itu untuk berbulan-bulan, ia selalu saja sibuk dengan dunianya sendiri. Walau orangtuanya sudah melarang keras ia berhubungan dengan seni, tapi laki-laki itu tetap melakukannya secara diam-diam.
__ADS_1
Mendekati Alex sembari melengkungkan kedua sudut bibrnya dan mengamati lukisan yang dilukis oleh majikannya. Berada didalam posisi seperti ini membuat Dive ingin mentikan air matanya. Apa yang telah dilakukan Alex membawa dirinya mengingat hal itu kembali. Rasa sakit menjalar kembali membabat habis perasaan laki-laki itu. Dengan kekutan penuh ia menahan segala curahan air mata yang sudah tidak tahan lagi untuk menetes. Mengapa semuanya nyaris sama? Kenapa?
"Arsen," ucapnya tanpa sadar.
Mendengar gumaman nama itu membuat Alex membalikan tubuhnya. Ia mengamati tangan kanan sekaligus sahabatnya itu yang telah terbawa suasana. Ia menatap Dive dengan pandangan khas miliknya yaitu selalu datar.
"Sudah ku katakan jangan sebut aku dengan panggilan Arsen. Tidak ada Arsen, Arsen telah meninggal. Aku dengan dia berbeda. Aku alex, sekali lagi kau memanggil namaku dengan sebutan itu siap-siap saja menerima hukuman." Ia sangat tidak suka di sama-samakan seperti itu. Dirinya tetaplah dirinya dan bukan orang lain. Arsen memang sangat mirip dengannya tapi ia bukanlah Arsen. Laki-laki itu telah meninggal sejak lima tahun silam.
"Ah maaf," Dive menghapus air matanya di balik kacamata, "habisnya lo mirip banget sama dia. Keperibadian lo semuanya sama tidak ada yang berbeda, dan termasuk hobi kalian juga sama. Dia orangnya penentang sama seperti lo, jadi gue minta maaf karena sudah nganggap lo itu adalah dia. Gue tidak pernah menyangka bahwa Arsen telah pergi secepat itu, umurnya masih muda. Tapi gue juga heran, bukan kah Arsen tidak memiliki saudara kembar, tapi kenapa lo mirip banget sama dia."
Alex pergi dari ruangannya untuk keluar dari tempat membosankan ini. Laptop bukanlah hal yang membuat setersnya hilang namun itu membuatnya seakan mati rasa. Lebih baik ia mencari udara segar di luar.
'Kenapa aku merasa bahwa Alex adalah Arsen' batin Dive.
__ADS_1
Laki-laki berkulit sawo matang itu pun menagamati kepergian Alex. Sedetik kemudian ia juga ikut menyusul langkah laki-laki itu.
Sedangkan dilantai bawah seorang perempuan mengenakan seragam karyawan cafe keluar dari perusahaan terbesar di Indonesia. Raut lelah begitu terpancar dari wajah polosnya.
Di belakang, Alex keluar dari perusahaan dan menuju mobilnya yang terpakir. Kala ia berpas-pasan dengan Nisa tiba-tiba saja bunyi panggilan masuk terdengar. Alex buru-buru mengangkatnya dan menunduk kebawah melihat layar ponsel. Sedangkan perempuan itu berjongkok saat menyadari tali sepatunya terbuka hingga ia tak menyadari Alex yang lewat di samping perempuan itu.
Nisa berdiri dan ingin melanjutkan jalannya menyusul Edo yang telah menunggui perempaun itu di seberang sana, namun sebuah benda keras menyenggol dirinya. Nisa menatap orang tersebut yang tak lain adalah Dive yang sedang terburu-buru.
"Ah- maafkan saya nona." Usai meminta maaf Dive kembali mengejar Alex yang sedang membuka pintu mobil mewahnya.
Nisa menggelngkan kepala melihat sikap Dive barusan. "Dasar orang kaya."
__________
__ADS_1
TBC