
Gelapnya langit di luar jendela dan redupnya cahaya bulan di malam hari menjadi saksi bisu bagaimana dua insan yang dulunya bertatap muka saja tidak mau kini tertawa dengan lebar seolah dunia milik mereka berdua.
Arsen tersenyum bahagia saat ia mendengar suara tawa kecil Nisa. Baginya meskipun itu pelan, itu adalah sesuatu yang sangat langka di matanya. Hatinya damai ketika merasakan rasa nyaman saat berdekatan dengan Nisa. Arsen berpikir, mengapa ia kemarin-kemarin tega membuat Nisa menderita, padahal ia sendiri tau bahwa perempuan tersebut sangatlah mirip dengan Ica, wanita yang ia cintai.
Satu tangan Arsen menggenggam tangan Nisa. Sontak perlakuan Arsen yang secara tiba-tiba itu mengundang perhatian Nisa, wanita tersebut berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Arsen.
"Sa biarkan seperti ini." Nisa menatap sendu wajah Arsen dan ia pasrah membiarkan laki-laki itu menggenggamnya.
"Sen, kamu kenapa. Kok jadi baik gitu sama aku?"
"Sa, maafin aku yang pernah menjadi sumber masalah mu, dan maafkan aku atas malam itu. Aku tau Sa aku bukan lah orang yang pantas untuk dimaafkan, aku ini ******** dan lelaki brengsek yang bodoh." Nisa yang mendengarkan ucapan Arsen pun lantas langsung meletakkan jari telunjuknya di bibir Arsen.
Laki-laki itu menelan ludah susah payah, saat tangan mungil itu bersentuhan dengan kulitnya. Jika Nisa adalah istrinya Arsen bersumpah akan menggigit tangan itu, dan membuat Nisa tidak dapat tidur semalaman.
"Shhhh." Nisa menjauhkan tangannya dan membuat laki-laki itu terlihat kecewa. "Sen aku sudah maafin kamu kok, sebelum kamu minta maaf. Kan kita sahabat, dimana ada Arsen di situ ada Ica, kita adalah kesatuan yang tidak dapat terpisahkan. Ayo ngaku siapa yang bilang seperti itu dulu."
Arsen tersenyum mendengar kalimat tersebut, ia tidak menyangka Nisa mengingat semua kenangan mereka termasuk kalimat yang sering ia ucapkan kepada wanita itu ketika mereka masih kecil.
"Sa kamu sudah ingat semua. Kamu ingat kalau aku ini sahabat kamu?"
"Iya aku ingat. Termasuk Sarga dia adalah sahabat kita," ucap Nisa tersenyum masam kala harus mengucapkan nama itu.
Di sisi lain Arsen yang mendengar nama Sarga keluar dari mulut Nisa pun langsung berubah datar. Wajahnya bagaikan tembok yang rata tanpa ada sama sekali pahatan yang terbentuk di sana. Entahlah mengingat nama itu bagaikan kenangan buruk baginya.
Ia yang merasa sedang diperhatikan oleh Nisa pun langsung berusaha menyunggingkan senyum. Ia mengamati tangan yang berada di genggamannya, rasanya begitu hangat berbeda dengan tadi. Arsen yang melihat sikap Nisa yang sungkan kepadanya lantas melepaskan genggamannya dan meletakkan tangan tersebut di samping brankar.
"Sa! Asal kamu tau, aku sama sekali tidak menyesali perbuatan ku di malam itu. Aku bersyukur mengalami hal tersebut, karena malam itu aku dipertemukan dengan mu dan memiliki Gabriel. Anak kita."
"Kok kamu gitu? Kalau misalnya aku laporin kamu ke bapak polisi bagaimana?" Ancam Nisa membuat wajah Arsen menegang seketika, ada raut ketakutan di matanya, dan itu membuat Nisa ingin tertawa.
"Jangan lah, nanti siapa yang jagain kamu? Gimana kalau misalnya Sarga culik kamu lagi?"
Nisa yang mendengar perkataan konyol Arsen langsung memukul lengan laki-laki tersebut. Ia tertawa gelak, sembari menatap geli laki-laki tersebut.
"Yah enggak mungkinlah Arsen, kan Sarga sudah meninggal, gimana caranya dia mau culik aku lagi?"
__ADS_1
Arsen menatap mata Nisa dalam lalu setelahnya ia menyeringai membuat bulu kuduk Nisa tiba-tiba meremang. Baginya Arsen yang seperti itu sangat menyeramkan, dan lebih mengerikan saat berhadapan dengan malaikat maut.
Dada Nisa semakin berdetak dua kali lebih cepat saat ia melihat Arsen mendekatkan kepalanya ke wajahnya. Nisa memejamkan mata, saat beberapa senti lagi hidung mereka bersentuhan. Namun entah mengapa ia tidak merasakan apa-apa. Nisa yang penasaran pun menyipitkan mata untuk mengintip laki-laki itu.
"Gimana kalau misalnya arwahnya Sarga gentayangan dan culik kamu?" Kata Sarga seraya menjauhkan kepalanya.
Nisa benar-benar membuka matanya dan menghela napas panjang. "Arwahnya Sarga sudah ditahan sama Allah, nggak bisa lagi gentayangan."
Nisa langsung mengerutkan keningnya saat mendapatkan sesuatu yang tidak biasa di wajah laki-laki itu. Ia berusaha bangun dari baringnya dan duduk. Tubuhnya sudah lelah berbaring dengan begitu lama, ia ingin merasakan bagaimana rasanya duduk setelah sekian lama ia tidak bangun dari baringnya.
Arsen yang melihat Nisa kesusahan untuk bangun pun dengan sigap ia membantu perempuan tersebut, dan menyadarkan belakang Nisa di kepala ranjang.
Nisa yang mendapatkan perhatian dari Arsen pun tersenyum sebagai balasan atas bantuan laki-laki itu. Dadanya selalu bergemuruh jika berdekatan dengan Arsen, ia tidak tau apa yang salah dengannya. Apakah ia menyukai laki-laki itu? Tidak, itu adalah suatu pemikiran yang salah. Arsen tidak pernah mencintainya, laki-laki itu hanya menganggapnya sebagai teman, buktinya meski laki-laki itu tau ia mirip dengan Ica, dia masih tega menyakitinya.
Ada rasa tidak percaya di hatinya terhadap laki-laki yang ada di depannya ini. Sudah tidak dapat terhitung perbuatan Arsen yang melukai hatinya sejak dari SMA, dan yang paling fatal adalah saat ia dilecehkan oleh lelaki tersebut sehingga ia rela mengorbankan masa mudanya dengan melahirkan anak laki-laki itu. Meski rasa sakit itu masih ada, tapi ia berusaha pendam, ia yakin sakit ini suatu hari akan berubah menjadi bahagia.
Sekali lagi Nisa menatap bekas luka yang tercetak di wajah Arsen yang sangat mengganggu pandangannya. Karena bekas luka itu membuat wajah laki-laki itu sedikit berbeda dari sebelumnya.
"Arsen, apa maksudnya ini." Nisa mengulurkan tangannya menyentuh bekas luka tersebut.
Nisa yang menyadari perubahan sikap lelaki itu, lantas ia pun membuang wajahnya ke samping untuk menghindari tatapan Arsen. Ia tau pasti ada kenangan di balik laka itu. Tapi apa? Perasaannya Arsen tidak pernah memiliki luka tersebut.
"Luka ini aku dapatkan saat Sarga menembak ku, beruntung aku dapat mengelaknya. Namun, tetap saja wajah ku tergores peluru tersebut."
Nisa langsung menoleh, ia mengamati dengan lekat luka tersebut. Ternyata itu yang membuat Arsen tidak mau membahasnya. Bukan hanya Arsen, dirinya juga tidak mau mengingat kejadian itu. Soal Sarga, Arsen telah menceritakan semuanya, meski kepalanya menolak untuk mengingat itu kembali ketika Arsen menceritakan kepadanya.
Satu hal yang membuat Nisa bingung dengan kehidupan, kenapa ia tidak pernah bahagia? Nisa menatap mata Arsen sembari meraih tangan pria itu, ia mendapat melihat ketegangan Arsen saat ia menggenggam tangan tersebut. Nisa berpikir apakah ia akan membentuk cerita baru dengan laki-laki ini atau akan membentuk konflik baru?
"Maafkan aku telah mengingatkan mu dengan kejadian itu kembali. Sen aku ingin meminta satu permintaan dengan mu. Sen please jangan tinggal kan aku lagi."
"Tidak akan princess, aku tidak akan meninggalkan mu lagi, dan juga diri mu tidak akan meninggalkan ku. Kita akan selamanya bersama seperti tangan ini." Nisa melirik kepada tangan mereka yang saling bertautan dan sama-sama mengeratkan genggaman mereka, senyumnya yang tadi sempat luntur kini kembali terbit.
Ia meneliti laki-laki itu setiap jengkalnya. Ia ingin tertawa saat melihat pakaian Arsen yang berbeda dari biasanya, rasanya sangat aneh dengan perbedaan itu. Namun, pakaian laki-laki tersebut yang lebih casual tidak formal seperti biasanya tetap tidak mengurangi aura ketampanan laki-laki itu, tapi malah mengingatkannya dengan saat masa remaja mereka, Arsen sangat suka memakai pakaian seperti itu.
"Sen kok pakaian kamu beginian sih. Kaya anak ABG tau nggak."
__ADS_1
"Emang kenapa? Tidak boleh? Sa aku tau, masa remaja kita itu kurang bahagia. Dan sebab itu aku pakai fashion seperti ini untuk mengulang masa remaja kita yang tertunda, dan melaluinya dengan bahagia bersama mu."
"Ihh apaan? Oh iya Gabriel di mana Sen? Gabriel ada kan? Gabriel tidak hilang kan?" Tanya Nisa panik, hampir saja ia ingin turun dari ranjangnya ketika ia merasakan Gabriel tidak berada di sisinya. Ia sangat merindukan anak itu.
Arsen dengan cepat mencegah Nisa agar perempuan itu tidak berbuat nekat yang nantinya akan menjadi fatal.
"Sa tenang. Gabriel ada bersama Ibel."
"Hah kak Ibel? Memang kak Ibel a____" ucapan Nisa terpotong saat ia mendengar suara teriakan Gabriel dari arah pintu.
"Bunda!!!!" Anak itu langsung berlari saat melihat ibunya telah bangun, matanya terlihat cekung yang menandakan anak itu habis menangis.
"Gabriel," kata Nisa sambil menangkap anaknya yang berlari ke dalam pelukannya. Ia menangis sembari memeluk anaknya. Ia sangat merindukan anaknya. "Bunda rindu Gabriel," ucap Nisa sambil mengusap kepala anaknya.
"Iel juga bunda, hiks, bunda kenapa tidak bangun saat Iel bangunkan bunda."
"Maafkan bunda Iel."
Arsen yang melihat peristiwa tersebut pun ikut terharu, ia tidak pernah terbayang akan memiliki orang yang sangat berharga di dalam hidupnya. Mengapa ia kemarin bodoh menyia-nyiakan mereka, dan sempat tidak mempercayai jika Gabriel adalah anaknya. Mahluk mana yang mengatakan jika ia tidak bodoh atas perlakuannya terhadap mereka dulu.
"Sa aku tidak dipeluk juga."
"Kan papa sudah besar. Buat apa dipeluk bunda, kalau papa ingin dipeluk bilang sama grandma kalau papa mau minta dipeluk juga seperti bunda peluk Iel."
Laki-laki itu langsung mengercutkan bibirnya mendengar ucapan anaknya. Anaknya ini memang tega kepadanya, masa ia ingin berpelukan bersama tidak dibolehkan. Sabar Arsen.
"Tuh dengerin bos. Bos itu tidak boleh peluk adik gue, kan bukan muhrim," ejek Ibel yang lantas membuat Arsen menatap horor perempuan tersebut.
"Ha ha ha. Wajah papa lucu kalau lagi marah."
______
TBC
Like dan comen
__ADS_1
ig:amandaferina6