Tragedi Malam Itu

Tragedi Malam Itu
Part 48


__ADS_3

Di sore ini matahari terlihat semakin tenggelam. Meski hari sebentar lagi akan gelap, namun tidak membuat kumpulan para wartawan menyerah untuk menunggu sang CEO perusahaan Wijaya Altas keluar. Mereka riuh di depan perusahaan tersebut, bahkan mereka rela berpanas-panasan dan menunggu lama demi mendapatkan informasi yang bagi mereka sangat berharga.


Sedangkan di dalam perusahaan tepatnya di lantai dua puluh, yang mana lantai tersebut ialah ruangan CEO. Arsen berdiri di depan kaca transparan memperhatikan para wartawan yang tiada lelahnya untuk mengejar-ngejarnya kemana-mana. Arsen menarik napas dalam dan kemudian ia membuang puntung rokok yang ada di tangannya kesembarang arah, lalu beranjak dari sana. Arsen duduk di sofa dengan pandangan lurus kepada Dive.


Dive yang melihat Arsen jauh dari kata baik pun berdecih malas. Ia mengamati sahabat sialannya itu. Bagaimana Dive tidak kesal kepada Arsen, ia jelas hampir bunuh diri ketika dulu mengetahui orang yang disangkanya Arsen ternyata Alex, dan lebih parahnya lagi yang membuat Dive semakin yakin untuk mati adalah saat ia mendengar kabar bahwa Arsen telah meninggal. Dan sekarang? Ah ia merasa kesal sekali kepada lelaki yang ada di depannya sekarang ini, bisa-bisanya ia yang seorang detektif jenius tertipu dengan laki-laki sialan yang sedang menatapnya ini.


"Kenapa kau menatap ku seperti itu. Seharusnya aku yang menatap mu membenuh seperti itu, tega sekali kau dengan ku. Membohongi ku, untung saja aku belum bunuh diri," cetus Dive dengan ketus bersikap seolah ia sedang marah.


Di sisi lain Arsen memutar kedua bola matanya dengan malas mendengar penuturan Dive yang dianggapnya sangatlah lebay. Ia bersedekap dada sembari memperhatikan sahabatnya yang terlihat masih kesal dengannya itu.


Cukup lama keadaan hening di dalam ruangan itu. Tiba-tiba kerutan di dahi Arsen tercetak ketika ia merasakan ada yang aneh dengan ruangan ini, seperti ada yang kurang. Cukup lama laki-laki tersebut berpikir menebak apa yang membuatnya terasa mengganjal. Beberapa saat kemudian Arsen menemukan jawabannya. Nisa. Kemana perempuan itu, sudah cukup lama ia tidak bertemu dengan wanita itu sebab ia selalu disibukan mengurus kasus korupsi Alinta, sehingga membuatnya menyerahkan segala pekerjaannya kepada Dive, dan mengharuskan dia tidak bertemu dengan Nisa, padahal Arsen sangat merindukan perempuan itu.


"Dive kenapa Nisa tidak ada. Kemana perempuan itu?" Tanya Arsen seraya melirik meja kerja Nisa yang terlihat kosong, "bukankah ia seharusnya sekarang sedang bekerja? Tapi mengapa perempuan itu tidak terlihat dari pagi tadi." Mata Arsen meneliti sekeliling ruangan.


Dive yang mulanya sedang larut dengan sikap kesal pura-puranya langsung tersadar dan menoleh kepada Arsen. la terdiam saat pertanyaan itu mengalir begitu saja dari mulut sahabatnya. Lidahnya seakan kelu susah digerakkan saat ia ingin meluncurkan sebuah kalimat untuk menjawab pertanyaan itu.


Ruangan tersebut terasa panas walau AC telah dihidupkan. Dive bergerak gelisah, pasalnya ia tidak tau harus menjawab dengan apa tentang Nisa yang sudah seminggu lamanya tidak masuk bekerja tanpa kabar. Hatinya sedang dilanda gelisah apakah Arsen akan baik-baik saja saat ia menyampaikan berita tersebut.


Melihat pergerakan canggung yang disertai rasa tidak nyaman Dive tak lepas dari mata Arsen. Arsen dapat membaca bahwa sedang terjadi sesuatu di mata laki-laki itu. Namun dia membiarkan saja, biarkan laki-laki itu sendiri yang akan mengatakan padanya.


"Anu... Nisa sudah seminggu tidak masuk," jawaban spontan dan singkat itu mampu membuat sang pendengar hampir saja meloncat dari tempatnya.


Arsen yang tengah menyesap Kopi nya langsung tersedak dan menatap mata Dive dengan penuh pertanyaan. Mendengar Nisa sudah seminggu tidak masuk bekerja berhasil membuat dada Arsen bergemuruh merasakan sesuatu yang tidak nyaman, ia takut jika terjadi apa-apa dengan perempuan itu. Apalagi di tengah susana yang sedang memanans seperti ini. Bisa saja ada pihak yang tidak bertanggung jawab yang memanfaatkan keadaannya dan Nisa yang tengah ditimpa dengan isu-isu miring.


Di tengah kekhawatiran nya kepada Nisa, Tiba-tiba perasaan khawatir semakin menjadi saat ia baru ingat dengan Gabriel. Anaknya. Arsen mulai merasa yang namanya serangan panik.


"Kamu tau kenapa Nisa tidak masuk Dive?"


"Tidak. Aku tidak tau. Mungkin dia ada urusan yang penting. Memang kenapa kau mencarinya?"


"Ah tidak. Tidak apa-apa."


Segenap hati Arsen meyakinkan dirinya jika tidak ada terjadi sesuatu. Sedikit demi sedikit rasa takutnya terhadap Nisa dan Gabriel mulai terkikis. Arsen berdiri dan berjalan ke arah meja kerja Nisa. Ia melihat meja tempat perempuan itu menghabiskan hari-harinya di kantor dengan datar. Mata laki-laki itu tidak sengaja terfokus  kepada sebuah kamus.


Arsen meraih kamus bahasa Jepang yang diberikannya kepada Nisa tempo hari lalu untuk perempuan itu pelajari. Ia memandang kamus tersebut dengan lirih, tidak tau apa penyebabnya. Padahal hari ini adalah jadwalnya perempuan tersebut menyetorkan hasil belajar bahasa Jepang.


Setelah mengamati buku tersebut, Arsen meletakkannya kembali di atas meja. Selanjutnya laki-laki itu mengambil benda pipih yang berada di dalam saku celananya. Suara jarum jam menghiasi ruangan hening tersebut, Arsen meletakkan ponselnya di telinga. Satu detik kemudian terdengar decak malas Arsen saat mendapatkan sambungan teleponnya kepada Nisa tidak dapat dihubungi, ia menelepon Nisa kembali dan terus menerus diulanginya, dan semua hasilnya adalah Nihil, satupun sambungan telepon nya tidak ada dijawab.


"Kau cari tau kenapa Nisa tidak masuk selama satu minggu Dive. Aku ingin kau memberikan kabar secepatnya."


Dengan malas Arsen mengangguk. Ia baru saja mendapatkan waktu senggangnya untuk beristirahat setelah mengurus perusahaan laki-laki itu yang luar biasa menguras tenaga.


"Baik. Kapan aku mulai bekerja?"


"Mulai sekarang. Tapi aku lebih dulu untuk meminta mu agar mengatur wawancara ku dengan wartawan yang ada di bawah. Aku rasa harus menjelaskan semuanya agar tidak terdapat berita yang tidak benar."


"Aku juga merasa kau memang harus mengklarifikasi masalah ini."


"Aku meminta sejam ke depan kau telah menyiapkan segalanya untuk aku mengadakan pers, jika perlu kau undang wartawan lebih dari yang ada di bawah."


"Siap bos," kata Dive dengan hormat, namun setelahnya ia menyengir geli melihat wajah cemberut Arsen saat ia mengatakan laki-laki itu dengan sebutan bos.


"Berhenti mengatakan itu. Aku tidak suka panggilan mu kepada ku, kau sebut saja aku dengan nama. Ku rasa itu bisa mengurangi canggung."

__ADS_1


"Baiklah. Arsen. Apa sudah jelas?"


Arsen tidak menanggapi ucapan Dive barusan. Ia pergi keluar dari ruangan itu. Setelah Arsen benar-benar pergi, Dive termenung di dalam ruangan, cukup lama ia kalut dengan pikirannya sebelum akhirnya dia juga pergi dari ruangan CEO itu.


________


Suara riuh menyambut kedatangan Arsen saat memasuki ruangan tempat ia melakukan konfersipers. Arsen berjalan dengan formal seolah sedang menunjukkan aura kepemimpinannya kepada para khalayak yang telah berkumpul di dalam ruangan itu. Kamera dimana-mana terpasang untuk merekam semua penjelasan Arsen nantinya.


Laki-laki itu menarik kursi sebagai tempatnya berduduk dan menjelaskan masalah video yang beredar di tengah masyarakat. Semua kamera dan pandangan terpusat kepada sang pemilik masalah. Arsen memandang para wartawan sebelum ia berbicara.


"Saya menegaskan bahwa saya dengan Alinta sekarang tidak memiliki hubungan apa-apa dan penyebab kami memutuskan tali pertunangan bukan dikarenakan ada orang ketiga, tetapi Alinta yang telah tega menghianati kepercayaan saya. Dan berita yang mengatakan jika Alinta telah mengkorupsi perusahaan saya itu adalah benar, dan hal ini lah yang membuat saya untuk segera memutuskan tunangan kami dan mempenjarakannya.  Jadi bagi kalian yang menganggap saya tidak jadi menikah dengan Alinta disebabkan oleh wanita berhijab yang ada di video itu adalah salah.


Kemudian untuk adegan kekerasan yang saya lakukan kepada Alinta, saya mohon maaf sebesar-besarnya terutama kepada keluarga Alinta. Jika boleh jujur saya ingin menyampaikan bahwa saya pada saat itu benar-benar dikuasai amarah. Dan terakhir saya mengatakan jika saya dalam hal itu telah meminta maaf kepada yang bersangkutan."


Saat mendengar penegasan Arsen, cukup membuat sebagian para wartawan merasa puas. Namun, tidak dapat dipungkiri jika ada yang tidak terima tentang Arsen yang telah terang-terangan melakukan kekerasan di depan umum.


"Kenapa bapak tidak di penjara? Seharusnya bapak juga di penjara karena telah jelas melakukan kekerasan kepada mbak Alinta. Ini namanya tidak adil," protes salah satu wartawan.


Arsen yang mendengar ucapan wartawan itu hanya tersenyum kecil. Ia hanya duduk dengan santai kala melihat kericuhan saat wartawan yang bertanya seperti itu. Banyak orang yang mensetujui ucapan sang wartawan perempuan tersebut.


"Untuk hal itu saya tidak tau kenapa hakim tidak ada membahas hal tersebut. Baik dari keluarga Alinta sendiri, mereka tidak ada melaporkan kasus ini kepada polisi."


"Dia saja memaafkan bapak. Tapi kenapa bapak juga tidak memaafkan Alinta?"


"Saya telah memaafkan perbuatan perempuan itu yang jelas telah merugikan banyak orang. Namun, tidak dengan mencabut tuntutannya. Dia harus menanggung jawab semuanya."


"Lalu siapa wanita dan anak yang ada di dalam video itu? Apakah benar anak laki-laki itu adalah anak anda?"


Arsen menarik napas ketika pertanyaan yang ditakutinya dulu dipertanyakan kepadanya. Namun rasa takut itu dirasakannya saat ia belum dapat menemukan kata yang pantas untuk menjelaskan masalah ini.


Para wartawan dan orang-orang penting yang hadir di sana berbisik-bisik kala mendengar penjelasan Arsen tentang wanita berhijab yang sangat membuat banyak orang penasaran akan sosoknya bagi seorang Arsen.  Wajah-wajah mereka cukup menjelaskan bahwa mereka sangat kaget mendengar seorang CEO terkenal di dunia dengan ketegasan dan kedinginannya ternyata telah menikah. Apalagi banyak wanita yang memimpikan laki-laki seperti Arsen yang menjadi tipe laki-laki mereka.


"Bisakah pak Alex menunjukkan bukti jika kalian telah menikah?"


Semulanya ruangan itu yang dipenuhi dengan suara kamera kini Tiba-tiba menjadi hening. Mereka menatap Arsen menunggu laki-laki itu memberikan bukti agar mereka percaya jika Nisa adalah benar istri Arsen.


Lain dengan Dive, laki-laki tersebut langsung pucat, ia memandang Arsen yang terlihat santai meski sedang di dalam keadaan seperti ini.


"Bagaimana caranya kau memberikan bukti kepada mereka. Kau tidak benar-benar menikah dengannya kan?" Bisik Dive.


"Tidak. Aku tidak pernah menikah dengannya. Aku hanya berbohong, tidak mungkin aku mengatakan yang sebenarnya bukan?"


"Lalu dengan bukti bagaimana?"


Arsen tidak menghiraukan ucapan Dive. Ia mengambil sesuatu yang telah disiapkan jika nanti dia mendapatkan permintaan seperti ini.


"Ini adalah surat nikah saya dengan Nisa."


What? Dive terkejut setengah mati, jadi ini maksud Arsen menyuruhnya membuat surat nikah palsu. Kenapa ia sangat bodoh sekali dengan masalah ini. Sudah pasti jika Arsen ingin memberhentikan pemberitaan itu dengan cara seperti ini.


"Ini buktinya. Sebelum saya menutup kegiatan ini saya ingin menyampaikan jika nama asli saya adalah Arsen Wijaya Altas. Bukan Alex Wijaya Altas. Terimakasih buat kalian yang telah datang di acara ini."


Arsen bernapas lega saat ia telah menyampaikan semuanya. Laki-laki itu memandang Dive yang sedang tersenyum tipis kepadanya.

__ADS_1


"Setelah ini kau lakukan tugas mu mencari Nisa. Jangan sampai Nisa tertangkap dengan awak media, jika sampai itu terjadi maka itu akan berbahaya buat kita."


"Baik."


Kemudian Arsen menutup acara ini. Ia keluar dari ruangan tersebut, dengan beberapa kawalan untuk menghindari para wartawan yang masih ingin mewawancarainya.


_______


Arsen yang baru saja masuk ke dalam apartemen nya langsung disuguhkan sesuatu yang saat ini sedang dihindarinya. Laki-laki itu memutar bola mata malas saat Ariana menutup akses dirinya memasuki kamar.


"Kenapa mama ada di sini."


"Karena mama tau kau tidak akan pulang ke rumah hari ini." Ariana memberikan ponselnya kepada anaknya. "Apa maksud kau yang telah menikah dengan wanita itu?"


"Karena hanya itu jalan satu-satunya untuk memberhentikan pemberitaan itu. Tidak mungkin aku mengatakan jika aku telah memperkosanya."


"Lalu bagaimana jika kalian ketahuan ternyata tidak menikah. Apa yang akan dikatakan mu kepada mereka?" Ariana menatap Arsen dengan kecewa, "kau membuat ku kecewa begitu besar hari ini dengan mu."


Arsen menghela napas saat bola matanya menangkap buliaran air mata  di wajah Ariana.


"Kenapa kau menangis. Jika kau menangis karena takut nanti aku ketahuan ternyata belum menikah dengan Nisa, ku minta kau memberhentikan air mata tersebut karena aku akan menikahi Nisa dengan secara resmi di mata tuhan dan negara."


Jelas Ariana langsung terkejut mendengar ucapan Arsen. Ia memandang tidak setuju kepada anak laki-laki satu-satunya itu.


"Apa maksud mu. Tidak. Aku tidak setuju kau menikah dengannya, dia bukan menantu yang aku idamkan. Jika kau ingin menikah bisa aku carikan wanita cantik di negara ini untuk mu."


"Aku tidak membutuhkannya. Aku hanya ingin menikah dengannya. Ica-ku teman masa kecil ku. Mama tau kan jika Nisa sangat mirip dengan Ica? Kenapa kau tidak menyukai Nisa," tanya Arsen sembari menatap ibunya dengan pandangan meminta penjelasan.


"Karena aku tau dia bukan Ica," jawab Ariana dengan ketus.


"Kenapa mama bisa menyimpulkan seperti itu? Sudah jelas bukan jika kepribadian Nisa sangat mirip dengan Ica."


Ariana menjauh dari Arsen, ia duduk di sofa dengan pandangan kosong.


"Aku sebelumnya minta maaf kepada mu telah menyembunyikan fakta jika kau adalah Arsen. Dan untuk kenapa aku tidak setuju kau menikah dengan Nisa karena wanita itu belum pasti asal-usulnya dan apakah dia benar anaknya tante Desi korban pembantaian oleh ayahnya Sarga. Setauku Ica telah dibunuh oleh ibunya Sarga karena dia dituduh membunuh suaminya-----"


"Dan sampai sekarang jasadnya tidak ditemukan." Cela Arsen cepat memotong cerita ibunya. "Dan kemungkinan besar Nisa adalah Ica. Iya kan ma? Aku akan tetap menikah dengan Nisa."


Ariana memandang Arsen dengan khawatir, air matanya mengalir. Ia tidak kuat ingin menyampaikan berita ini.


"Aku juga berharap seperti itu. Tapi bagaimana caranya kau menikah dengan Nisa jika dia telah menghilang satu minggu," jelas Ariana dengan susah payah menjaga nada seraknya.


"Apa maksud mu. Nisa menghilang?" Arsen terduduk di kursi sofa di dekatnya, "jadi ini alasan mengapa Nisa sudah satu minggu tidak bekerja. Dimana kau mengetahuinya?"


"Aku tau dari tetangganya yang melapor di kantor polisi tadi pagi bersama Gabriel."


"Gabriel dimana?" Tanya Arsen panik. Ia dapat merasakan jika anaknya sedang bersedih. Arsen tidak dapat membayangkan wajah anak itu yang dipenuhi air mata. Ia takkan bisa.


"Di rumah, bermain bersama Cilla. Aku mengajaknya untuk tinggal bersama ku terlebih dahulu."


Ariana terdiam sembari menyaksikan anaknya yang sudah pergi dan berlari meninggalkannya di ruangan ini sendirian.


_______

__ADS_1


Tbc


Like dan Comen


__ADS_2