
Suasana pagi begitu terasa saat samar-samar suara kicauan burung terdengar dari ranting pohon, kendaraan mulai memadati jalanan. Satu per satu kendaraan dijalankan saat lampu merah berganti dengan hijau. Salah satu kendaraan tersebut terdapat sebuah taksi yang mana penumpangnya adalah seorang wanita dan anak laki-laki.
Perempuan itu berusaha memasang dasi anak laki-laki itu. Setelah serasa rapi ia tersenyum melihat hasil karyanya di kerah baju TK sang anak.
"Bunda! Nanti bilang ke papa jemput Iel pulang sekolah ya bun!" Ucapnya memohon dan jangan lupakan kedipan matanya membuat Nisa sulit untuk menolak permintaan anak kecil itu.
"Tapi, papa sibuk Iel." Ujar Nisa sehalus mungkin untuk meyakinkan anak itu. "Iel jangan sebut lagi om Arsen dengan papa."
Seketika wajah Gabriel mengalami perubahan, ia menunduk memutus kontak matanya anatara sang ibu. Sebelum tatapan anak tersebut beralih, dapat dilihat jika ada kekecewaan yang cukup besar di matanya kala menatap sang ibu. Dan hal itu dapat dirasakan oleh Nisa.
Nisa merasa bersalah ketika dilihatnya Gabriel membuang wajah ke kaca mobil menikmati pemandangan dengan kedua air mata meluncur. Tidak ada niatan sama sekali ia berbalik saat suara Nisa terdengar sedang memohon agar dapat memaafkan atas ucapan yang tanpa disengaja perempuan itu terlontar, jika dipikir Gabriel memang pantas dan memang seharusnya menyebut Arsen dengan papa.
Tapi, hatinya tidak ikhlas mendengar Gabriel menyebut Arsen dengan sebutan papa. Ia tau apa yang telah dilakukannya sekarang adalah salah, tapi tidak bisa kah ia hidup bahagia tanpa bayang-bayang Arsen. Jika mengatakan nama itu ia selalu teringat dengan kejadian beberapa tahun yang lalu. Sangat salah jika kalian menganggap Nisa telah melupakannya. Sampai kapan pun ia tidak akan pernah melupakan malam itu, malam yang telah membuatnya kehilangan semuanya.
Namun tidak bisa dipungkiri juga ada rasa nyaman tersendiri bagi Nisa saat dekat dengan Arsen, dan perasaan itu telah ia rasakan sejak masih duduk di bangku SMA. Masih disimpannya ingatan awal pertemuan mereka, saat itu ia sedang membawa buku dengan jumlah lumayan banyak ke perpustakaan. Akibat matanya tertutup dengan buku yang susunannya tinggi membuat Nisa sangat kesulitan untuk berjalan. Dan tanpa disengajanya hari itu ia menabrak seorang laki-laki yang digadang-gadang adalah Most Wanted sekolah. Saat ia ingin memungut buku yang berceceran tersebut, dan tidak sengaja tangan mereka bersentuhan yang Sama-sama ingin mengambil buku yang terjatuh itu.
Mata mereka bertemu, dengan cukup lama ia dan Arsen dalam posisi itu, jujur Nisa terhepnotis dengan warna bola mata biru lautan yang menenggelamkan itu. Namun saat tatapan mereka saling menubruk, dapat Nisa rasakan ada sebuah rasa rindu yang entah apa maksudnya. Dimana rasa yang ingin memeluk laki-laki itu erat, tetap terus berada di sampingnya. Tiap kali ia dekat dengan Arsen dapat dirasanya ada sebuah kenyamanan yang mana sudah lama hilang dari hatinya. Semua apa yang dirasakannya kepada Arsen berkurang kala laki-laki itu mengambil mahkotanya, dan perasaan tersebut berubah benci, hingga sampai sekarang.
"Iel bunda minta maaf sudah bilang seperti itu. Bunda janji deh om Arsen akan jadi papannya Iel selamanya." Tepat Nisa mengucapkan kata terakhir, anak itu langsung berbalik dengan mata penuh kesenangan yang mendalam.
Nisa mengulum senyum melihat binaran mata kebahagiaan milik Gabriel, anak tersebut memeluknya erat dan bergumam terimakasih kepada Nisa. Nisa mengusap kepala Gabriel penuh kasih dan sayang, inilah yang membuatnya selalu tabah menghadapi segala ujian di dunia.
"Sama-sama Iel."
Sedangkan di depan mereka sang supir yang sudah dari tadi mengamati keluarga kecil itu tersenyum, baru pertama kali ia mendapatkan penumpang yang berinteraksi dengan keluarga mereka sehangat seperti ini. Senyumnya pudar kala supir tersebut baru menyadari sesuatu saat melihat wajah Gabriel serta Nisa di kaca spion. Ingatannya melayang kepada suatu berita yang sedang hot-hot nya dan viral.
Dimana berita tentang Nisa dan Arsen yang memiliki hubungan gelap di belakang sang tunangan hingga memiliki seorang anak. Supir itu juga saat membaca artikel tersebut langsung menyumpahi Nisa dengan penuh kebencian, dan tidak disangkanya pagi ini ia membawa penumpang yang sudah disumpahinya itu.
Rasa memuji keluarga tersebut langsung hilang di dalam hatinya, dan digantikan dengan perasaan benci dan jijik melihat Nisa.
"Maaf mbak, tujuan mbak sudah sampai," ucap supir taksi tersebut tidak rela saat lawan bicaranya adalah seorang yang sedang diberitakan buruk.
Tanpa diketahui Nisa bahwa ia menjadi buah bibir masyarakat sebab ia dianggap orang yang tidak memiliki norma dan etika telah merebut Arsen dari Alinta, dan parahnya lagi ada akun gosip yang mengatakan bahwa Arsen diguna-guna olehnya hingga laki-laki itu kepincut dan menuruti segala perintah Nisa.
"Oh, iya." Nisa dan Gabriel turun dari taksi tersebut. "Tunggu sebentar ya pak, saya mengantar anak saya terlebih dahulu ke depan, nanti tolong antar saya ke perusahaan Wijaya Altas."
Nisa sadar saat ia berucap seperti itu dapat dilihatnya supir tersebut antara menanggapi bicaranya dan tidak. Ia merasa ada yang aneh dengan supir itu, padahal tadi supir tersebut masih baik tidak menunjukkan tanda-tanda tidak sukannya kepadanya. Entahlah ia tidak mau ambil pusing dengan hal tersebut.
"Maaf mbak saya minta uang perjalanannya dibayar sekarang," ucap supir tersebut seolah memaksa Nisa agar cepat membayar uang tersebut.
"Pak uangnya bisa dibayar nanti setelah sampai di perusahaan. Tenang aja pak saya tidak akan kabur, saya orang baik kok. Saya cuman mengantar anak saya ke depan sana," tunjuk Nisa ke arah depan gerbang TK.
"Maaf saya tidak bisa mbak." Nisa tersenyum lantas mengeluarkan uang seratus ribu pemberian Arsen untuk biaya taksi yang ia gunakan ke kantor, sebab laki-laki tersebut memerintahkan Nisa jika pergi ke kantor harus menggunakan taksi.
__ADS_1
"Ini pak uangnya. Tolong tunggu saya sebentar." Nisa beranjak dari sana dan berjalan menuntun Gabriel menuju Gerbang TK tersebut.
Nisa mengernyit heran kala banyak pasang mata tertuju kepadanya, jika menunjukkan rasa kagum ia masih dapat tenang, tetapi ini semua orang menatapnya dengan sinis. Nisa menanggapi itu hanya dengan tersenyum kikuk.
"Belajar yang rajin ya," ucap Nisa seraya mendaratkan sebuah kecupan di dahi Gabriel.
"Iya bunda."
"Iel masuk aja gih, nanti telat loh."
"Baik bunda."
Gabriel berlari meninggalkan Nisa yang berdiri di depan Gerbang, perempuan tersebut pergi dari sana. Menuju perjalanannya di mana taksi yang ia tumpangi tadi terparkir, tak sengaja ia mendengar pembicaraan para wali murid yang berdiri tak jauh darinya.
"Lihat itu, bukannya dia wanita yang ada di vidio itu kan."
"Betul jeng, dia itu kan yang menjadi perusak hubungan pak Alex dengan Alinta."
"Kenapa pak Alex bisa tertarik ya, bahkan cantikan lagi Alinta dari pada dia."
"Biasa jeng, kalau santet telah berbicara, apa pun yang tidak mungkin bisa menjadi mungkin."
"Oh sepertinya begitu ya jeng."
Mata Nisa membelalak kala para wartawan mendekat ke arahnya.
"Sudah berapa lama mbak berhubungan dengan pak Alex?"
Nisa tidak tau apa yang harus ia katakan untuk menjawab pertanyaan dari wartawan tersebut, dia cukup bingung dengan situasi saat ini, mengapa tiba-tiba wartawan datang berbondong-bondong menghampirinya dan jangan tinggalkan dengan kamera yang mereka bawa membuat Nisa ketakutan setengah mati.
"Apakah mbak telah menikah dengan pak Alex?"
"Apakah benar anak kecil di video itu adalah anak kalian sesuai dengan pengakuan pak Alex di dalam video tersebut?"
Video? Maksudnya apa, ia tidak mengerti dengan apa yang telah dikatakan oleh wartawan tersebut.
"Maaf sepertinya kalian salah orang," ucap Nisa dan segera menjauh dari kerumunan para wartawan.
Ia berlari sekencang mungkin menghindari kejaran dari para wartawan. Ia berlari menuju taksi tadi, namun kakinya terhenti di tempat dan lemas hampir merosot ke tanah kala ia tidak mendapatkan lagi taksi tersebut. Nisa berlari kecil ke jalan dan melihat bahwa taksi itu telah jauh meninggalkannya. Nisa rasanya ingin menangis saja berada di posisi seperti ini, dilihatnya ke belakang para wartawan sedang mengejarnya dan hampir dekat dengannya.
Karena ia takut dengan para wartawan tersebut, Nisa berlari menerobos jalanan yang dipenuhi dengan kendaraan. Suara klakson mobil dan motor saling bersahutan ketika Nisa tiba-tiba melintas di depan mereka. Nisa terus berlari hingga tanpa disadarinya telah masuk ke dalam gang kecil. Kembali lagi ia menoleh ke belakang dan wartawan belum juga hilang dari belakangnya dan parahnya lagi, wartawan itu sangat dekat dengannya.
Sedangkan Nisa telah tersengal-sengal. Ia tidak sanggup lagi berlari, kakinya tidak sanggup untuk melangkah. Dia telah putus asa.
__ADS_1
Nisa semakin panik saat suasana teriakan wartawan terdengar jelas di gendang telinganya, namun tiba-tiba dari belakang ada orang yang membekap mulutnya dan menyeret Nisa menjauh dari sana.
"Hmmmptttt!!!"
__________
Di dalam sebuah ruamah yang cukup besar terdengar gelak tawa penghuni rumah tersebut. Suara mereka sedang menandakan bahwa penghuni rumah itu sedang bahagia.
Alinta beserta orangtuanya sedang tergelak kala melihat di TV dan Sosmed berita tentang dirinya dianiaya oleh Arsen sedang menjadi bahan pembicaraan.
"Pasti Davit melihat berita ini akan marah, dan dia akan memajukan tanggal pernikahan kalian sebab tidak enak dengan keluarga kita. Ha ha ha."
"Benar pa, akting papa membentak om Davit tadi juga sangat keren," ucap Alinta menimpali, dan tidak peduli dengan beberapa luka di wajahnya.
"Jika kamu menikah dengannya jangan lupa memeras harta kekayaan mereka. Ha ha ha akhirnya kita menjadi kaya, dan dendam kita akan terbalaskan." Kali ini sang ibu yang bersuara.
"Tidak sia-sia aku mengorbankan wajah ku ini."
Di ruang tengah hanya dipenuhi dengan suara mereka. Sebenarnya bukan hanya ada mereka saja yang ada di dalam ruang tengah itu tetapi melainkan ada orang-orang yang ikut adil dalam rencana mereka.
Tok
Tok
Tok
Suara ketukan pintu dari arah luar membuat mereka berhenti tertawa dan melirik pintu tersebut.
"Firman!! Tolong kau buka pintu." Firman pun mengangguk dan segera menuju pintu.
Saat mereka sedang larut menikmati minuman-minuman berkadar alkohol yang cukup tinggi tiba-tiba ada segerombolan laki-laki berbadan kekar berpakaian polisi mengacungkan senjata api ke arah mereka.
"Kalian semua kami tangkap atas tuduhan penggelapan uang di perusahaan Wijaya Altas."
"Tapi pak, kami bisa menjelaskan...."
"Jelaskan di kantor saja, sekarang kalian ikut kami." Ucap komandan poslis, "kalian semua borgol tangan mereka!"
"Baik ndan," kata anak buah sang komandan polisi, lalu melaksanakan tugas mereka.
______
TBC
__ADS_1