Tragedi Malam Itu

Tragedi Malam Itu
Part 42


__ADS_3

Angin berhembus sepoi-sepoi dari arah timur, rumput-rumput bergoyang mengikuti irama tiupan angin. Tampak manusia memadati salah satu taman terbesar di Jakarta, yang setiap harinya tidak pernah sepi pengunjung. Dari kejauhan terlihat seorang wanita yang duduk di salah satu bangku yang terdapat di taman tersebut.


Sorot matanya tak lepas dari sesuatu yang tepat berada di depan matanya. Sebuah ukiran senyuman yang sangat sempurna timbul dibalik celah-celah kedua sudut bibirnya. Jika orang tidak mengetahui siapa perempuan itu, pasti mereka menyangka dia adalah anak sekolahan yang mampir di taman untuk  berkencan.


Tanpa perempuan itu sadari banyak pasang mata yang tertuju ke arahnya,  tidak hanya para lelaki yang mengagumi paras yang tercipta sempurna tanpa ada kecacatan sama sekali itu, namun para wanita juga ikut memuji kecantikan wanita itu, hingga diantara mereka ada yang merasa iri.


Wanita tersebut duduk sembari mengawasi sang anak yang sedang bermain di taman. Perempuan yang tak lain adalah Nisa itu tidak hanya datang berdua saja bersama Gabriel. Namun, ia datang bersama orang yang paling ia benci di dunia ini, siapa lagi kalau bukan si Arsen.


Nisa menyunggingkan  senyumnya saat melihat Gabriel yang sedang tertawa lepas akibat serangan gelitikan bertibi-tubi dari Arsen. Ia hari ini begitu merasa bahagia, dan mungkin hari ini adalah hari yang terindah yang pernah dialaminya. Dengan melihat keceriaan Gabriel yang sama sekali tak pernah dilihatnya, cukup membuatnya merasakan apa artinya bahagia. Jika diperhatikan mereka sekilas tampak seperti sebuah keluarga kecil.


Sedangkan Arsen sedang asik bermain-main dengan Gabriel. Laki-laki itu tak ada henti-hentinya menjahili sang anak yang sudah tepar akibat kejahilan Arsen yang tidak dapat dihindari oleh anak itu. Arsen punya segala macam trik untuk membuat Gabriel kewalahan dengan permainannya.


Namun rasa iba muncul di dalam manik mata biru lautan itu. Ia tak tega melihat Gabriel yang sudah dibanjiri oleh keringat dan terbaring di atas rumput hijau. Anak itu terlihat ngos-ngosan, buliran air terus keluar dari pori-pori kulitnya, yang bertanda anak itu tak sanggup lagi melanjutkan permainan yang mereka lakukan di taman ini.


"Pa, Iel nyerah. Iel nggak sanggup lagi." Gabriel mengusap perutnya yang terasa sakit akibat kuatnya gelitikan yang diberikan Arsen. Napasnya memburu tak beraturan, lantas bocah berumur lima tahun itu menolehkan kepalanya menatap Arsen memohon.


Melihat tatapan Gabriel yang seperti itu kepadanya, membuat Arsen menampilkan senyuman kemenangan. Tak lama laki-laki  itu tersenyum miring yang tidak dapat dimengerti oleh Gabriel.


"Kalau Iel nyerah berarti harus terima hukumam dong?" Tungkas Arsen mengingatkan perjanjian mereka di awal sebelum dimulainya permainan.


Sedetik kemudian wajah anak itu berubah murung. Ia kira Arsen sudah lupa dengan perjanjian itu, dan dengan terpaksa ia tersenyum. Anak itu bangun dari baringnya dan duduk di atas lembab nya tanah. Pandangnya sayu agar Arsen terharu kepadanya dan tak jadi menghukum dirinya. Namun, tatapan memelas Gabriel sama sekali tidak memengaruhi Arsen untuk menghukum anak itu.


"Yah papa kok gitu sih. Yaudah Gabriel terima hukuman apa-pun asalkan  hukumannya nggak berat-berat."


"Nggak kok, hukumannya nggak berat," ucap Arsen seraya menyeringai.


Mendengar kalimat yang dikatakan Arsen membuat Gabriel berbinar. Ia menatap Arsen penuh harap. Sedangkan orang yang berada di belakang mereka yang terus mengamati kedua insan tersebut mendengus, tatapan nya nyalang kepada Arsen agar laki-laki itu tidak memberikan hukuman yang aneh-aneh kepada anaknya.


Arsen yang sempat melirik Nisa dan melihat tatapan maut dari perempuan itu memamerkan senyuman yang entah apa artinya. Ia menatap Gabriel lekat, lalu mengangkat jari tangannya menuju pada bibirnya.


"kiss me," perintah Arsen kepada Gabriel sebagai hukuman kekalahan anak itu.


Namun yang merasa kaget di situ bukanlah Gabriel, tetapi melainkan Nisa. Mendengar pernyataan Arsen barusan membuat matanya membulat, jantungnya sedikit lagi akan copot dari tempatnya saking tidak percaya atas apa hukuman yang harus anaknya terima.


"No!!! No!! Aku nggak setuju. Apa-apaan sih kamu Arsen," marah Nisa dan beranjak dari tempatnya ingin mencegah Gabriel agar tidak melakukan apa yang diucapkan oleh laki-laki itu.


Arsen melirik Nisa, pandangannya benar-benar sekali tergambar sedang meremehkan  perempuan itu. Dibalik tatapan matanya sedang membandingkan apakah Gabriel lebih memilih Nisa atau dirinya. Tapi laki-laki itu berharap Gabriel lebih menurut kepadanya.


"Gabriel jangan dengerin om Arsen.."


"Kalau anak laki-laki itu harus mau menerima tantangan apa-pun supaya Iel nggak disebut anak cemen nanti. Jadi cium papa atau enggak?" Yakin Arsen menghasut Gabriel.


Anak itu terlihat berpikir sendiri. Ia menatap Nisa lalu kemudian manatap Arsen. Di pandangan itu terselip sebuah kebingungan, ia tidak tahu harus lebih menurut ke siapa, bunda atau papa? Kedua orang itu merupakan orang yang benar-benar disayanginya. Ia tidak mungkin memilih satu diantar mereka, sebab itu bukanlah suatu hal yang adil.


Di tengah kegelapan pikirannnya tiba-tiba terlintas sebuah ide. Gabriel tersenyum tipis dibalik keheningan, tiada satu-pun yang tahu anak itu sedang tersenyum. Ia melirik Nisa dan Arsen bergantian sebelum mebuka suara.


"Bunda sini!!" Seru Gabriel mengajak Nisa agar mendekat.


Mendapatkan seruan dari Gabriel,  lantas perempuan yang merasa terpanggil itu mendekat dan berjongkok di samping anak itu yang sedang duduk di atas rumput.


"Ada apa Iel?" Tanya Nisa sehalus mungkin kepada anak tersebut.


Arsen mengekerutkan keningnya kala  merasakan sesuatu yang tidak beres dengan Gabriel. Ia dapat merasakan walau sedikit aura-aura kecurigaan yang terdapat pada bocah laki-laki itu. Entah apa itu, Arsen juga tidak tau. Namun bukan hal tersebut yang sekarang ada di dalam pikirannya, tapi dari mana cara anak itu belajar hendak melakukan hal-hal yang curang, jika kecurigaanya benar-benar terbukti.  

__ADS_1


"Kenapa Gabriel?" Tanya Arsen tidak mengerti.


"Pa! Bun! Gabriel tidak mau cium papa. Tapi sebagai gantinya, Gabriel pengen kalian berdua yang cium Gabriel."


Nisa mengernyit, permintaan Gabriel sangatlah mudah. Ia tidak masalah mencium anak itu, asalkan Gabriel tidak mencium bibir Arsen. Sebenarnya tidak apa-apa sebab anak itu masih kecil, namun di pandangan Nisa itu adalah suatu hal yang menggelikan. Jika di pipi tidak masalah, tapi ini...?


"Yaudah bunda atau om Arsen duluan yang cium Iel?"


"Bunda! papa bukan om," ralat Gabriel sambil mengercutkan bibir, pasalnya ia tidak menyukai Nisa menyebut Arsen dengan sebutan Om.


Nisa menarik napas, ia melirik Arsen lalu menatap anaknya. Dengan berat hati ia menyebut Arsen dengan papa, walau mulutnya sangat berat sekali untuk mengucapkan kata itu.


"Iya Iel. Papa Arsen. Apa sudah benar ucapan bunda?"


Sebuah senyuman tampak terlihat di wajah Gabriel. Ia bertepuk tangan begitu gembira,  ketika mendengar Nisa menyebut Arsen dengan papa, hingga membuatnya berasa memiliki seorang ayah.


"Sudah bun. Andai aja papa Arsen benar papannya Iel," lirih anak itu membuat Nisa maupun Arsen terkesiap dan saling pandang.


Mendengar harapan dari Gabriel membuat Nisa benar-benar merasakan sebuah perasaan bersalah. Ia tidak tau apakah tindakannya ini sudah benar, dia tidak ingin Gabriel mengetahui Arsen memang asli ayahnya, namun ia juga tidak tega membohongi anak itu.


Tatapan mata Arsen begitu tajam mengawasi gerak-gerik Nisa yang terlihat tidak nyaman setelah mendengar ucapan Gabriel. Ia menghela napas sejenak, dan membayangkan jika Nisa mau mengatakan kepada Gabriel jika dia benar ayahnya, lalu mereka menikah dan membangun sebuah keluarga kecil.


Deg


Kenapa ia bisa berpikir sejauh ini. Tidak tau apa yang telah terjadi dengannya hingga bisa berpikir yang tidak-tidak. Arsen semakin kesal karena dengan membayangkan hal itu yang tanpa disengaja bisa mengguncang dadanya hingga berdetak hebat. Apakah ia memiliki penyakit jantung atau ada masalah lain? Hingga jantungnya susah sekali ditenangkan.


Dengan susah payah Arsen menstabilka detak jantungnya yang semakin tak karuan, tenang Arsen, tenang, tenang. Arghh!!! Kenapa susah sekali. Entah lah mungkin dia hari ini benar-benar konslet.


Laki-laki itu menatap Gabriel tersenyum, ia menggelengkan kepalanya.


"Papa tidak kenapa-napa kok sayang."


"Pa boleh nggak kalau hukumannya diganti?"


"Tidak bisa. Perjanjian nya Gabriel harus nurut apa-pun yang disuruh papa."


Gabriel merengut, lantas anak itu melirik sang ibu. "Tapi nanti bunda iri kalau Gabriel cuman cium papa. Giaman kalau misalnya papa sama bunda cium pipi Gabriel aja tapi sama-sama," usulnya diringi dengan sebuah senyuman.


Nisa memandang Arsen, ada rasa ragu ingin memenuhi permintaan Gabriel, tapi dia tidak ingin membuat kecewa Gabriel. Arsen mengangguk meyakinkan Nisa, netranya memandang Nisa seolah mengisyaratkan 'lakukan demi kebahagiaan Gabriel'.


"Baiklah," kata Nisa.


Dengan rasa canggung ia mendekatkan bibirnya kepada pipi kiri Gabriel, sedangkan Arsen di pipi kanan. Gabriel tersenyum dan memejamkan mata, rencananya berhasil. Membutuhkan waktu yang cukup lama buat Gabriel menunggu merasakan kecupan yang selama ini diinginkannya, namun beberapa detik barulah ia merasakan sesuatu yang basah di kedua pipinya, harapannya terkabul.


Terimakasih Ya Allah. Batin Gabriel berucap.


Dengan cepat Nisa menjauhkan bibirnya dan memlumat bibirnya sendiri. Rasanya sangat gugup sekali berada di titik seperti ini, apalagi ia harus mencium Gabriel dan bersamaan dengan Arsen. Jujur tidak pernah kejadian seperti ini terbayang di pikirannya.


"Iel mau Ice cream nggak?" Tanya Nisa yang ia gunakan untuk mengalihkan pembicaraan, dan menjauh dari sini agar kecanggungan tidak berkuasa.


Mendengar nama ice cream membuat Gabriel terlihat bersemangat. Anak itu cepat berdiri dari duduknya dan menarik tangan sang ibu menuju tempat penjualan ice cream yang tak jauh dari taman.


"Mau bunda!!"

__ADS_1


"Iel benaran mau? Kalau gitu Iel pilih aja ice ceram kesukaan Gabriel sebanyak-banyaknya, biar papa yang teraktir."


"Waw benaran pa Iel boleh beli banyak-banyak?"


Arsen mengangguk.


Melihat anggukan Arsen yang bertanda Iya, membuat Gabriel melompat-lompat, pasalnya ia belum pernah mendapatkan penawaran yang seperti diajukan oleh Arsen.


"Pa! Boleh nggak Iel minta satu permintaan lagi?"


"Apa itu?"


"Nanti jalan ke toko ice cream, papa dan bunda harus gandengan tangan. Biar orang nanti liat kalau papa beneran ayahnya Iel. Bolehkan pa? Bun? Boleh ya?"


"Tapi..." kata Nisa ingin memprotes.


Perempuan itu merasa ini adalah pilihan yang sangat sulit. Dia menggigit bibirnya harus bgaimana menjelaskan kepada Gabriel, tidak mungkin ia berpegangan tangan jika ia dan Arsen tidak memliki hubungan apa-pun dengan laki-laki itu, lantas ia harus bagaimana?


"Tapi kita tidak bisa pegangan tangan Iel. Allah nanti marah." Nisa berusaha meyakinkan anak itu agar permintaan anehnya tidak ia penuhi yang nantinya bisa menjadi dosa.


"Yah... jadi tidak boleh ya nda?" Ucap Gabriel sedih, ia menundukkan kepalanya menyembunyikan rasa kecewanya agar tidak diketahui oleh Arsen maupun Nisa.


"Boleh kok," pungkas Arsen yang membuat Gabriel langsung berubah ceria.


"Beneran pa?"


"Iya."


"Yey  asik..." teriak Gabriel kegirangan dan melompat-lompat.


Tidak dengan Nisa, perempuan itu bertolak belakang dengan Gabriel. Ia merasa sangat tidak setuju dengan ucapan Arsen. Enak sekali laki-laki itu mengambil keputusan seenaknya tanpa persetujuannya terlebih dahulu.


"Maksud kamu apa?" Tanya Nisa sedikit berbisik dan menggeram.


"Udah biarain aja."


Gabriel meraih tangan Nisa dan menautkannya dengan tangan Arsen.  "Jangan dilepas ya bun."


Setelahnya Gabriel berjalan berdahuluan memimpin perjalanan.


Nisa melirik kepada tangannya yang digenggam oleh Arsen. Ada yang salah, laki-laki itu menggengamnya begitu erat. Hingga usahanya ingin melepaskan tautan mereka sangat susah sekali. Ia melirik Arsen tajam.


"Ingat kata Gabriel jangan dilepas," peringat Arsen, lalu menarik Nisa menjauh dari sana  dan berjalan santai menuju toko ice cream.


Saat ditengah perjalanan mereka, tiba-tiba ada seseorang wanita yang menghentikan perjalanan menuju toko ice cream yang dipimpin oleh Gabriel. Di depan mereka saat ini ada seorang wanita yang berpakaian modis dan gayanya terlihat angkuh. Ia berdiri sambil meneliti satu per satu ketiga orang tersebut, lalu setelahnya ia menyeringai.


"Alinta..." lirih Arsen.


"Wow jadi siapa mereka?"


________


TBC

__ADS_1


__ADS_2