Tragedi Malam Itu

Tragedi Malam Itu
Part 17


__ADS_3

Pagi yang cerah dengan matahari yang bersinar redup dan segarnya udara membuat perkampungan tersebut menjadi terasa damai dan tentram.


Banyak para pekerja yang mulai beraktivitas baik di dalam ruangan maupun di luar ruangan. Jalanan dipenuhi dengan para pelajar yang pergi sekolah, ada yang bejalan kaki dan ada pula menggunkan kendaraan. Mereka tampak teihat bahagia dan bersemangat.


Namun keadaan yang seperti itu jauh berbeda dengan wanita yang sedang duduk di depan teras sembari menggendong bayinya yang sudah berumur dua bulan. Wajah itu penuh kesedihan kala melihat anak-anak SMA maupun yang sudah berkuliah pergi ke tempat belajar mereka masing-masing. Rasa iri pun menerjang hatinya, andai saja ia tamat SMA pasti ia sekarang telah memiliki ijazah SMA dan sudah berkuliah di kampus impiannya.


Hatinya nyeri ketika kenyataan menampar dirinya begitu keras. Itu semua hanyalah khayalan, yang berlalu tetaplah berlalu dan tidak akan pernah bisa diulang kembali.


Tetsan air suci turun dan menetes pas di pipi bayinya. Sang bayi yang merasakan ada yang basah di pipinya pun kontan membuka mata mungilnya. Bayi kecil tersebut seperti dapat merasakan akan kesediahan sang ibunda. Lantas ia langsung memukul-mukul dada wanita itu.


Sang wanita tersebut langsung menghapus air matanya dan menatap bayinya yang terlihat sedang menampilkan ekspresi layu dengan permukaan mata berkaca-kaca.


"Sayang, Gabriel kenapa," ucapnya sambil menatap sang anak lamat-lamat.


Bayi yang disebut Gabriel tersebut seketika menangis kencang kala melihat air mata sang ibu kembali keluar. Kini bayi itu bukan hanya menangis saja tetapi ia juga bergerak liar membuat wanita tersebut kelelahan menghadapinya.


"Loh kok Iel nangis lagi. Duhh anak mama kenapa? Baby Iel kan pintar jadi nggak boleh nangis. Mama nggak papa kok." Ia pun mendekap anaknya penuh hangat dan cinta. Sesekali Nisa mengecupi kepala anaknya.


Al hasil dengan kasih sayang yang penuh dari Nisa pun akhirnya Gabriel perlahan mulai memelankan tangisnya.


Keluarlah perempuan yang terlihat bar-bar dengan pakaian yang acak-acakan. Ia langsung duduk di samping Nisa yang sedang menepuk-nepuk pantat baby Gabriel.


"Anak lo kenapa Sa? kencang banget nangisnya," ujar Ibel sembari mengangkat satu kakinya dan di letakan di atas kursi yang sedang ia duduki.


"Nggak tau kak, tiba-tiba aja nangis."


"Oh." Ibel mengalihkan manik matanya kedepan, "Sa lo yakin pengen ikut gue? Kok gue punya firasat buruk ya tentang keadaan lo nanti jika ikut gue ke Jakarta."

__ADS_1


Nisa mendengar pernyataan Ibel mengernyitkan alis dan menatap perempuan itu dengan bingung. Dan sesaat kemudian raut wajahnya kembali seperti semula.


"Entah lah kak. Nisa juga belum yakin, tapi kalau Nisa nggak ikut pasti tetangga pada bilangin keluarga kita. Nisa nggak mau kalian susah gara-gara Nisa, sedangkan Nisa cuman tinggal bersih aja. Sungguh kak itu bukan sifat Nisa."


Ibel yang sedari tadi mendengarkan ungkapan Nisa pun menatap wanita tersebut penuh kagum dan haru, lantas ia langsung meraih telapak tangan Nisa dan menggenggamnya.


"Sa! Gue nggak bisa mutusin gitu aja. Semua keputusan berada di tangan lo, gue percaya dengan pilihan lo nanti." Ibel mencolek-colek wajah Gabriel yang lembut dengan gemas.


"Nisa! Nama lengkap ayahnya Gabriel siapa?" Tanya Ibel sembari mengamati wajah tampan bak malaikat.


"Nggak tau," Ketus Nisa. Ia tidak peduli tentang kehidupan Arsen, baginya Arsen tidak lebih dari seorang laki-laki brengsek.


"Ha ha ha. Biasa aja dong ekspresinya, nggak usah ditekuk gitu juga kali."


"Ih... Kak Ibel." Nisa menampilkan ekspresi memalasnya, "Kak Ibel di Jakarta kerja apa?"


Sontak Ibel mengganti pusat perhatiannya kepada Nisa dan tersenyum gembira.


Nisa juga turut bahagia ketika mendengar bahwa Ibel diterima di perusahaan besar. Tidak bisa dipungkiri bahwa wanita itu sangat senang ketika Ibel begitu bersemangat menceritakan tentang tempatnya bekerja nanti.


"Kok kak Ibel bisa tau gitu?"


"Gue cari informasinya sampai ke lapisan terdalam ketika gue tau pendaftaran onlien gue diterima. Yah awalnya juga ragu sih takut kalau itu penipuan, tapi kata orang-orang itu bukan penipuan ya gue jadi kembali yakin," ujarnya begitu serius menjelaskan semuanya kepada Nisa.


"Emang kak Ibel kerja jadi apa?" Detik itu juga wajah Ibel langsung berubah dan menatap ke bawah sembari tersenyum halus.


"OG. Ya mau gimana lagi, kan kaka lo ini cuman tamat SD. Ya yang cocok pekerjaanya sama gue cuman itu, nggak mungkin lah orang seperti gue ini dapat jadi menejer di sana. Tapi tenang aja, gajih OG di sana gede loh Sa."

__ADS_1


Nisa yang sedang menimang-nimang Gabriel pun seketika melamun. Suara teras di luar ini begitu hening untuk sesaat sebelum Nisa membuka suaranya.


"Kak Ibel!" Serunya ragu-ragu.


"Apa?"


"Nisa udah mutusin." Nisa menarik napas panjang, " Nisa mutusin kalau Nisa akan tetap ikut ke Jakarta,"


Mata Ibel langsung terbelalak dan langsung mengubah posisinya benar-benar menghadap Nisa.


"Lo yakin Sa?"


"Yakin kak!" Bujuknya.


"Nggak nyesal kan?"


"Enggak kak."


Ibel menarik napas lega dengan keputusan Nisa barusan. "Kalau gitu sore ini kita berangkat."


Nisa terlonjak kaget atas penuturan Ibel yang begitu cepat.


"Kak kok cepat banget sih, Nisa belum siap-siap lagi," keluhnya.


"Yah mau bagaimana lagi."


________

__ADS_1


TBC


IG:@amandaferina


__ADS_2