
"Asal kalian semua ketahui, saya adalah ayahnya Gabriel Ahmad!!!"
Waktu terasa berhenti di detik itu juga. Arsen yang mengucapkan kalimat itu tanpa sadar, tak kalah tegangnya dengan orang-orang yang berada di sana. Sama dengan anak itu, Gabriel langsung menatap mata Arsen meminta penjelasan.
Para audiens yang mendengar langsung pernyataan bahwa Arsen adalah ayah dari Gabriel langsung bergegas membawa pulang anak mereka masing-masing. Mereka dapat menyimpulkan Arsen dari gaya berpakaiannya serta mobil mewah laki-laki itu, yang menujukan bahwa Arsen adalah orang yang berpengaruh, mereka tidak ingin mencari masalah lebih.
"Om Arsen beneran papannya Iel?"
Arsen menatap bocah yang tinggi sepinggangnya. Ia tersenyum untuk menutupi kegelisahannya. Laki-laki itu kebingungan sendiri harus menjawab dengan kalimat apa? Haruskah ia mengungkap kebenarannya? Tapi entah mengapa sulit sekali baginya untuk mengatakan 'YA'. Batin Arsen berteriak, ' ya akulah ayah mu yang selama ini yang kau cari.'
Tapi sayang sekali, ia hanya bisa mengatakan kalimat itu di dalam hati. Tuhan ia belum sanggup mengatakan yang sebenarnya kepada Gabriel, mengapa takdir hidupnya serumit ini. Hatinya meringis kala melihat wajah Gabriel yang penuh binaran di matanya? Ia tak tega membohongi anak itu. Dia masih polos tidak mengerti apa-apa.
"Om, tell Iel that Om is really the board Iel, come on Om Arsen. Iel has been wanting to meet daddy for a long time."
Arsen bersimpuh di depan Gabriel untuk menyamakan tingginya dengan anak itu. Melihat Arsen sedang menatap wajahnya dengan serius, semakin meyakinkan Gabriel bahwa Arsen adalah ayahnya. Dan jika itu benar, maka ia akan mengajak Arsen keliling kampung untuk memamerkan bahwa Ia memiliki ayah, dan apa yang telah orang-orang katakan ia tidak memiliki ayah itu tidak benar.
"A-aku..." Arsen terdiam tak sanggup melanjutkan kata-katanya. Hatinya masih ragu, bagaimana jika nanti Gabriel akan marah kepadanya? Bagaimana jika ia tahu bahwa Gabriel hadir karena sebuah kecelakaan yang lebih tragis dari kecelakaan yang bisa merenggut nyawa.
"Benerankan om?"
"A...aku.. b---."
"Iel om Arsen bukan ayahnya Iel," sebuah suara yang memberikan pertolongan sekaligus memberikan sakit di hati seorang Arsen.
Gabriel serta Arsen langsung menatap pada arah sumber suara. Mereka berbalik memandang seseorang yang baru saja keluar dari dalam kontrakan yang bisa terbilang sangat kecil. Melihat sang ibu yang telah bersuara membuat harapan Gabriel jatuh begitu keras menghantam apa-pun yang ada di bawah, hingga menciptakan rasa nyeri yang amat tak bisa ditahan.
Arsen dapat melihat kekecewaan yang dalam di dalam netra anaknya. Lantas laki-laki itu langsung mengangkat pandangannya kepada Nisa yang sedang berdiri di samping Gabriel. Menyadari bahwa Arsen menatapnya, Nisa melirik Arsen. Tatapan peringatan yang begitu tergambar jelas di matanya, sehingga membuat Arsen yang semula ingin sedikit memberikan protesan atas ucapan Nisa terdiam.
"Bunda jadi om Arsen bukan ayahnya Iel ya?" Imbuh Gabriel dengan ekspresi sedih.
Anak itu menatap Nisa dan Arsen secara bergantian, matanya memerah sebentar lagi tangisan akan pecah. Di hadapan kedua orang di depannya ia berusaha tegar walau dunia berkata, ia tidak akan bisa menutupi kesedihan selamanya, tapi setidaknya ia akan berusaha. Gabriel langsung berlari meninggalkan Nisa serta Arsen yang sedang terpaku dengan air mata yang baru saja meluncur dari mata anak itu. Gabriel pergi dengan membawa kekecewaan penuh, harapan akan bertemu ayah luntur hanya dalam sekejap saat kata tidak bersuara.
Brakkk
Suara bantingan pintu dari arah kontrakan begitu nyaring sehingga membuat Arsen dan Nisa memjemkan mata. Arsen menatap Nisa yang juga sedang menatapanya, pandangan mereka beradu, sesudahnya mereka Sama-sama menatap kearah pintu yang menjadi korban bantingan Gabriel. Pasti anak itu sangat kecewa sekali, karena cita-citanya tidak terwujud.
"Kenapa kau tega mengatakan itu. Suatu hari nanti, Gabriel juga harus mengetahui bahwa aku ayahnya." Arsen berujar sinis.
"Kenapa? Aku tidak boleh mengatakan itu? Aku mengatakannya karena aku tidak rela jika Gabriel memiliki ayah seperti mu." Nisa tertawa, "apa Gabriel pantas memiliki ayah yang tidak pernah menganggapnya ada? Apa dia pantas memiliki seorang ayah yang sampai sekarang tidak mempedulikannya?"
"Aku tidak pernah mengatakan bahwa aku tidak menganggap Gabriel anak ku. Aku mempedulikannya tapi hanya kau saja yang menganggap kepedulian yang aku berikan tidak bernilai di mata mu."
Nisa membuang muka, hatinya sudah amat sakit sekali. Sudah cukup penolakan yang diberikan Arsen di awal laki-laki itu mengetahui bahwa Gabriel adalah anak pria itu yang tidak diketahuinya. Masih teringat jelas saat Arsen mengatakan bahwa Nisa hanya berbohong saja saat memberitahu jika Gabriel adalah anak laki-laki itu. Tapi, ada sesuatu yang membuat hati Nisa benar-benar tidak bisa memaafkan Arsen, laki-laki itu dengan santainya mengatakan bahwa ia mengatakan itu hanya ingin memeras harta laki-laki itu saja.
Dan kini? Bolehkah ia sekarang tertawa terbahak-bahak saat mendengar nada Arsen yang begitu jelas bahwa dia begitu peduli dengan Gabriel. Kenapa baru sekarang laki-laki itu datang dan menemui Gabriel? Jika ia tadi tidak cepat-cepat memotong ucapan Arsen, entah apa yang telah terjadi sekarang.
__ADS_1
"Jika kau peduli mengapa kau baru sekarang datang dengan cara yang sengaja menemui Gabriel, kemana kau kemarin-kemarin? Apa kau telah menyesal dan menyadari bahwa Gabriel adalah anak mu? Bagaimana aku tidak sakit hati dengan mu, jelas saat kau mengetahui bahwa Gabriel adalah anak ku. Kau langsung menolak dia, bahkan kau begitu tega mengatakan bahwa dia adalah anak haram, kau juga mengatakan bahwa aku memberitahukan Gabriel anak mu, sengaja aku lakukan untuk mengambil kekayaan mu. Sungguh! Asal kau tau, sama sekali tidak ada di dalam pikiran ku untuk melakukan itu."
Arsen menunduk, ia memang mengatakan itu. Jujur saja ia kemarin belum mengetahui bahwa Gabriel adalah anaknya, dan belum mengetahui bahwa ternyata orang yang pernah diperkosanya di malam itu, ternyata adalah Nisa. Ia melakukan hal tak terpuji tersebut kepada Nisa, itu benar-benar murni. Tanpa ada unsur kesengajaan. Jadi siapa pun yang menyangka bahwa ia sengaja memperkosa Nisa karena wajah perempuan itu yang mirip dengan Ica, itu adalah salah. Ia benar-benar tidak mengetahui bahwa wanita yang diperkosanya beberapa tahun yang lalu adalah wanita yang ingin dilindunginya, dan perempuan yang mirip sekali dengan Ica.
Saat ia mendapatkan kabar bahwa Nisa sedang hamil dan ironisnya lagi, Nisa hamil tanpa memiliki suami, jujur pada saat itu hatinya hancur sekali bagai tercabik-cabik ribuan kali oleh binatang buas saat mengetahui berita tersebut. Hatinya ngilu, dan perasaan kecewa begitu menguasinya hingga setiap kali melihat wajah Nisa, emosi langsung ingin terkuak. Dan dengan kehamilan Nisa pula mengubah persepsinya bahwa Nisa adalah Ica. Icanya tidak akan pernah sudi disentuh barang sejengkal saja di bagian tubuhnya, jika Nisa hamil tanpa suami, bagi Arsen pada saat itu cukup menjelaskan bahwa Nisa dan Ica adalah orang yang berbeda. Baginya Nisa tidak lebih dari seorang ****** yang mengumbar-unmbar tubuh dengan bangganya di depan umum.
Namun keadaan berubah saat ia mengetahui kebenarannya. Ia tidak pernah menyangka jika orang menyebabkan kehamilan Nisa adalah dirinya. Itu sebuah berita yang benar-benar sakit dan lebih sakit dari luka fisik. Memang di awal ia tidak mengakui bahwa Gabriel anaknya, dan ia setuju dengan itu. Sekarang bolehkah ia memperbaiki itu semua dan menjadikan keadaan seperti semula?
"Maafkan aku. Aku memang salah Sa. Tapi aku sekarang sadar, aku tidak bisa jauh dari Gabriel. Dia anak ku. Sa apakah aku boleh menemuinya?" Tanya Arsen begitu terluka. Ini adalah sebuah rekor, ia sebelumnya tidak pernah meminta maaf. Entah apa yang akan dikatakan dunia nanti.
"Jika aku mengatakan tidak bagaimana?"
"Sa! Aku mohon izinkan aku, bagaimana juga Gabriel adalah anak ku. Kau boleh memukul ku sesuka hati mu, kau boleh memenjarakan ku. Dan aku akan menganggap lunas hutang papa mu. Tapi, jangan kau lakukan ini Sa, aku tidak sanggup. Aku ingin sekali bertemu dengan Gabriel, kau tahukan bagaimana kerinduan seorang ayah dengan anaknya, apa kau tega membohongi Gabriel terus-menerus?" Pinta Arsen, ia memandang Nisa dengan semburat kesedihan. "Apa aku perlu berlutut di bawah kaki mu, agar kau percaya bahwa aku benar-benar telah menyesal?"
Nisa langsung memandang Arsen. Tatapan nya begitu sayu, hatinya tidak sanggup melihat Arsen memohon-mohon seperti itu. Sejauh yang ia tahu, Arsen tidak pernah melakukan hal rendah seperti ini, memohon-mohon.
Hatinya bingung harus melakukan apa. Nisa menggigit bibirnya sendiri, semuanya terasa sangat membingungkan. Apakah ia mengizinkan atau tidak. Tapi, dia tidak sanggup melihat permohonan yang terdapat di dalam mata Arsen. Tuhan mengapa ia lagi-lagi dihadapkan pada situasi ini?
"Aku mengizinkan mu, tapi tidak dengan memaafkan mu," putus Nisa akhirnya.
Tidak bisa dibendung wajah Arsen yang berseri, ia begitu senang dengan hanya mendapatkan izin.
"Apa yang kau katakan adalah benar?"
Arsen tersenyum, ia memandang Nisa dengan kerutan di dahinya. "Tapi mengapa kau berada di luar? Bukan kah kau masih sakit?"
Nisa menarik napas panjang, "mulanya aku keluar untuk mencari Gabriel di luar, aku tahu jika ia keluar dari kontrakan bila tidak bersama ku, ia akan dibully oleh tetangga."
Pantas saja tadi orang-orang sedang membully anaknya. Kasihan sekali anaknya, pasti itu sangat menyakiti hati Gabriel. Arsen bersumpah, Gabriel kedepannya tidak akan pernah mendapatkan bullyan lagi. Ya dia akan meyakini itu. Tidak ada orang yang berani membully anaknya lagi.
"Ku harap kau tidak lalai lagi dengan itu. Jangan biarkan Gabriel keluar sendirian."
"Sudahlah, apakah kau tidak mau bertemu dengan Gabriel?"
Arsen tidak menjawab ia berjalan meninggalkan Nisa yang sedang mengercutkan bibir melihat sikap Arsen yang tidak mengalami perubahan.
Sedangkan di dalam kamar, seorang anak kecil sedang duduk di tepi ranjang. Tatapan nya sendu mengamati dunia luar dari jendela. Ia melihat anak-anak yang sebayanya yang sedang bermain dan berseda gurau dengan keluarga mereka masing-masing. Betapa bahagianya mereka. Timbul pertanyaan Gabriel di dalam benaknya, kapan kah ia akan bahagia seperti mereka?
Suara pintu dibuka menyadarkan Gabriel dari lamunannya. Ia berbalik melihat siapa yang telah bmembuka pintu kamarnya.
"Om Arsen," ucap Gabriel lirih. Sedetik kemudian ia kembali melihat pada pemandangan anak-anak yang sedang bermain.
Arsen melihat pada objek yang ditatap Gabriel. Setelah mengetahui apa yang telah dilihat Gabriel, lantas Arsen mengalihkan pandangannya pada anak itu. Arsen menarik napas dan mendekat kepada Gabriel, ia duduk di sebelah anak itu.
"Iel kenapa liatin mereka terus?"
__ADS_1
"Iel pengen seperti mereka om," katanya lirih, "mereka punya mama dan papa."
Arsen terdiam, ia merenung. Bukan hanya Gabriel saja yang menginginkan hal itu, ia juga sama menginginkan hal yang sama dengan Gabriel. Tapi ia tak yakin Nisa mau menerima dirinya sebagai pendamping hidup perempuan itu untuk selamanya.
"Bunda sering cerita nggak seperti apa papannya iel?"
Gabriel menoleh dan menggeleng, "enggak om, bunda jarang celita sama Iel, giaman papannya Iel. Padahal Iel pengen tau papannya Iel itu seperti apa. Tapi, Iel takut nanyain tentang papa ke bunda lagi."
Ingin sekali Arsen berteriak aku lah papa mu.
"Emang kenapa Iel tidak mau nanyain lagi tentang papa ke bunda," Tanya Arsen sembari menatap anak itu dalam.
Anak itu menunduk dan di netra nya sudah berkumpul air mata yang siapa meluncur kapan saja.
"Bunda nanti bisa nangis."
Arsen tersentak, ia semakin merasakan bersalah. Dia memang jahat, dia memang kejam. Ia tidak menyangka orang yang ingin dijaganya malah ia yang memberikan penderitaan kepada mereka. Arsen terkekeh dalam diam, dia memang tidak pantas dimaafkan.
Maafkan aku. Batinnya.
"Yaudah kalau gitu anggap aja om Arsen papannya Iel."
Iel memandang Arsen senang, "emang nggak papa om?" Tapi seketika wajah Gabriel sedih, dan itu berhasil menciptakan kerutan di kening Arsen, "kata bunda, om bukan papannya Iel."
"Maksud bunda itu, om Arsen bukan papa kandungnya Iel. Jadi anggap saja om Arsen adalah papa Gabriel untuk menggantikan papa kandung Iel untuk sementara." Walau sebenarnya aku adalah papa kandung mu. Lanjut Arsen dalam hati.
"Beneran om?" Gabriel langsung memeluk Arsen erat, sayang papa Arsen."
Hati Arsen menghangat saat Gabriel menyebutnya dengan papa. Sungguh sangat senang sekali.
"Papa tadi udah beliin Arsen Pizza."
Kebahagiaan Gabriel semakin bertambah saat mendengar nama makanan kesukaannya.
"Wah!! Ayo pa kita ke dapur makan Pizza." Gabriel menarik tangan Arsen tidak sabaran. "Pizza nya ada di dapur kan pa?"
"Iya."
Tanpa mereka sadari seseorang telah menguping percakapan mereka dari balik pintu. Sebuah air sebening kristal jatuh dari matanya, apakah ia begitu jahat telah membohongi Gabriel?
Orang itu menjauh dari balik pintu saat terdengar suara langkah kaki yang akan membuka pintu. Dia cepat-cepat menghapus air matanya, dan pergi dari sana sebelum keberadaannya diketahui.
_________
Tbc
__ADS_1