
Visual Gabriel ada di part 67
Saat ini mereka sedang berada di ruang tengah. Usai kepulangan Ibel dan Habib dari rumah mereka Arsen tampak lega, sebab jika ada orang asing di rumahnya entah mengapa ia merasa tidak bebas. Habib datang kemari hanya untuk mengantarkan undangan pernikahannya dengan Ibel, sepasang tunangan tersebut memutuskan untuk menikah setelah pertemuan mereka satu tahun lalu.
Saat itu Habib sedang sangat patah hati dengan pernikahan Nisa dan Arsen, meski ia sudah bertahun-tahun belajar melupakan adiknya itu, namun rasa sayang tidak pernah bisa hilang dari hatinya, sebab melupakan sesuatu yang sudah lama sangat dekat dengan kita bukanlah suatu hal yang mudah. Semuanya butuh proses hingga datanglah Ibel dalam kehidupan Habib yang penuh dengan titik kegelapan dan membawa sinar kebahagiaan.
Pertemuan mereka memang tidak disengaja, ketika itu Habib sedang pergi ke rumahnya dan kebetulan di rumahnya juga ada Ibel. Awalnya pertemuan mereka bagaikan Kucing dan Tikus yang mana dipenuhi dengan pertengkaran kecil, tapi hal tersebutlah yang membuat mereka saling jatuh cinta.
Nisa sangat bersyukur Habib bisa melupakannya dan akan menikahi kaka tersayangnya yang selalu menjadi teman dikala duka melanda hati, pikiran, jiwa, dan batinnya.
Semua bagaikan anugerah tuhan yang tidak terduga, dan mulai dari sini Nisa mengerti bahwa hidup berpegang dalam dua hal yaitu cobaan dan kebahagiaan. Ia sangat, sangat, dan sangat berterimakasih kepada tuhan yang telah membuat hidupnya sempurna dengan cobaan yang diberikan kepadanya.
Nisa tidak menyalahkan takdir karena Nisa tau jika takdir tidak lah salah. Karena dari kesalahan lah ia bisa menata masa depan yang cerah. Semua bagaikan mimpi, ia merasa kisah hidupnya tidak lebih seperti novel-novel romance yang selalu menemani hidupnya.
"Terimakasih Ya Allah," batin Nisa berucap dengan penuh sinar indah dan membawa kelembutan bagi siapa-pun.
Nisa mengalihkan pandangannya ke Arsen yang tengah menatapnya dengan mata berbinar. Sekarang ini posisi mereka ada di ruang tamu, di sebelah Nisa ada Gabriel yang sedang mencemot ice cream-nya. Anak itu makan dengan belepotan sehingga di sela-sela bibir Gabriel terdapat sisa coklat.
Nisa menghela napas melihat perilaku anaknya. Ia mengambil tisu yang tersedia di ruang tamu, lalu berniat ingin menglap mulut anaknya itu, namun baru saja ia ingin membersihkan mulut anaknya, tangan Nisa terlebih dahulu ditepis oleh Gabriel.
"Gabriel nggak boleh gitu sama Bunda, Papa tidak pernah mengajari mu berbuat kasar dengan orang lain," bentak Arsen yang kekebetulan melihat kejadian tersebut. Emosinya langsung naik melihat wanita yang dicintai serta ibu dari anaknya diperlakukan kasar oleh darah dagingnya sendiri.
"Sudah Mas, Gabriel tidak salah. Jangan bentak dia, nanti mentalnya terganggu. Biarkan dia mengekspolor kemampuannya sendiri. Mungkin Gabriel tidak suka aku bersihin mulutnya. Iyakan Iel sayang?"
Gabriel mengangguk cuek, kemudian melirik mata ayahnya sebentar lalu tersenyum. Ia tau cara dia memperlakukan ibundanya sangatlah salah.
"Iel bisa sendiri Bunda. Iel tidak mau jadi anak manja, Iel pengen mandiri, biar Cilla nanti senang." Dengan cuek anak itu menambal tisu dan menyapu mulutnya yang berlepotan coklat bekas ice cream nya.
Nisa tersenyum dengan apa yang dilakukan Gabriel. Ia menguap kepala anaknya dengan sayang lalu menangkup wajah chubby Gabriel. Ia menarik napas seraya berkata, "Bunda bangga dengan kemauan Gabriel ingin jadi mandiri."
"Oh iya. Emang kamu ada hubungan apa dengan Cilla?"
"Cilla teman Iel Pa."
__ADS_1
"Tapi kenapa seperti a...."
"Stop Mas, jangan curigan sama anak, Gabriel mana mungkin mengerti dengan dugaan kamu." Arsen melembut mendengar sang istri yang tidak lelah menjadi penasehatnya.
Arsen menatap mata Nisa dengan penuh cinta, dan Nisa dapat melihat ada rasa yang begitu tulus di dalam bola mata laki-laki itu. Dada Nisa bergemuruh melihat Arsen memperlakukan dirinya dengan hangat. Laki-laki itu memeluknya seraya mengecup puncak kepalanya, kemudian Arsen pun mengusap kepala Nisa dengan penuh sayang. Tidak sampai di situ, Arsen juga mengarahkan telapak tangannya pada perut Nisa yang terlihat masih rata namun ada kehidupan di sana.
"Baik-baik ya anak Papa di sana!" Arsen berseru seraya menunduk mensejajarkan wajahnya pada perut Nisa, lalu diciumnya lah perut tersebut. "Aku tidak menyangka kamu akan hamil anak ku lagi sayang," ucap Arsen sambil terkekeh.
Nisa tersenyum tipis dan melihatkan apa yang dilakukan Arsen dengan perutnya. Tangan wanita itu membelai rambut Arsen yang terlihat sedikit acak-acakan.
"Alhamdulillah kamu senang Mas."
"Bunda! Papa! Mesra-mesraan jangan di depan Gabriel," kesal Gabriel lalu mengercutkan bibirnya. Belakang anak itu bersandar pada kursi sofa, tangannya terlipat di dada, namun matanya mengarah kepada Arsen yang masih tak bergeming meskipun telah ditegur sang anak. "Bunda! Iel bakal punya adik lagi ya?"
Nisa mengangguk membenarkan. Namun dahinya mengerut karena respon anaknya terlihat biasa-biasa saja tidak ada tanda-tanda ceria maupun penolakan. Kenapa dengan Gabriel?
"Iel senang nggak?"
"Kenapa sedih?" Tanya Arsen seraya membenarkan posisi duduknya.
"Iel sedih, Papa lebih perhatian sama adik. Huaaaaa." Tangis Gabriel pecah hingga membuat satu rumah menjadi heboh karena kencangnya suara Gabriel yang melebihi toak masjid.
Arsen tampak kebingungan melihat tangis Gabriel yang bukannya malah berhenti tetapi semakin menjadi.
"Iel nggak boleh nangis nanti adiknya di dalam perut juga ikut sedih lihat Abang gantengnya nangis." Arsen mendekat dan memeluk Gabriel erat seraya menciumi puncak kepala anaknya itu.
Gabriel tidak peduli dengan semua kata-kata yang dilontarkan ayahnya untuk menenangkan dirinya. Gabriel kesal dengan perlakuan Arsen kepada adiknya yang masih di dalam kandungan. Gabriel sungguh cemburu melihatnya.
"Papa jahat, Papa nggak sayang lagi sama Iel.. hiks hiks hiks. Iel nggak suka punya adik bayi, nanti Iel nggak disayang Bunda juga.."
"Kamu jangan salah paham Iel. Meski kamu punya adik lagi, Bunda tetap sayang kok sama Iel, Papa juga. Iyakan Mas?"
"Iya sayang."
__ADS_1
Gabriel mengusap air matanya, ketika penglihatan anak laki-laki itu mulai jelas lantas ia melirik orang tuanya satu per satu.
"Beneran Bun? Bunda nggak bohong kan?"
Nisa tersenyum sambil mengangguk, tangannya tak henti menguap kepala Gabriel dengan perhatian. Ia bahagia melihat kecemburuan Gabriel pada anaknya sendiri yang menandakan jika Gabriel sangat menyayangi mereka.
"Rasa sayang Papa masih sama kok sama Iel. Nanti jika adik bayinya sudah lahir, Gabriel bisa ajak main dedek bayi nya."
"Emang kapan baru lahir Pa?"
"Sekitar sembilan bulan lagi. Jadi Gabriel harus sabar ya."
"Kalau gitu Iel nggak jadi sedih punya adik bayi. Iel sayang kalian." Gabriel mencium pipi kedua orang tuanya.
Dan akhirnya pun mereka berpelukan bertiga dengan posisi Gabriel yang berada di tengah-tangah anatara Arsen dan Nisa. Dari sini kita dapat belajar jika hidup adalah tempat kita menjalani cobaan, dan jika kita berhasil melewatinya berarti kita akan dijanjikan kebahagiaan.
_______
Tbc
Please Komen dan Like sebanyak-banyaknya.
Arsen
Nisa
Gabriel
__ADS_1