Tragedi Malam Itu

Tragedi Malam Itu
Part 64


__ADS_3

Warning: aku bakal buat malam pertama mereka sesuai dengan umur ku. Nggak ada tanda merah karena, aku aja masih sangat kecil buat mengerti itu.


Setelah usai acara resepsi kini mereka pindah ke rumah baru yang telah disiapkan Arsen sejak lama yang sengaja ia buat untuk Nisa, dan surat tanah tersebut saja atas nama Nisa. Rumah mereka sangat mewah dan biaya pembangunannya saja pun senilai rutasan Miliar, Arsen sengaja memberikan kepada Nisa untuk melambangkan besar cintanya kepada perempuan itu dan mungkin rasa cintanya lebih besar dari pada rumah tersebut.


Mereka memang berdua saja yang ada di rumah ini, karena Gabriel diculik oleh Alsya karena perempuan itu sangat gemas kepada kepoanaknnya itu dan membujuk Nisa agar Gabriel ia bawa pulang. Sedangkan apartemen yang mereka diami dulu diberikan kepada Ibel. Sebenarnya Nisa sangat tidak enak meninggalkan Ibel sendirian bagaimana pun juga Ibel adalah orang penting dalam sejarah hidupnya. Ibel juga paham jika orang yang menikah wajib ikut suaminya, maka ia berusaha menyembunyikan rasa sedihnya ditinggal pergi agar Nisa tidak kepikiran nanti dengannya.


"Nisa!" Seru Arsen dari dalam kamar mandi.


Nisa yang berbaring kelelahan gara-gara kelamaan berdiri untuk menyalami para undangan tadi pun, dengan malas ia bangkit dari baringnya. Hari sudah malam, mereka datang ke rumah memang langsung mandi, bahkan Nisa saja masih menggunakan gaun pengantinnya. Perempuan itu sengaja menyuruh Arsen lebih dulu mandi.


"Iya ada apa?" Ucap Nisa sambil membuka alat-alat  pengantin yang melekat di tubuhnya, hijabnya juga ia ikut copot. Hingga menyisakan rambutnya yang masih disanggul, dan dengan pelan pula ia membuka sanggulnya itu hingga tampaklah rambutnya yang terurai yang panjangnya sedada.


"Ambilin handuk aku. Aku lupa bawa handuk nih sayang!!!" Mereka memang telah menyiapkan barang-barang di rumah ini sehingga mereka hanya tinggal menempatinya saja.


Nisa turun dari ranjangnya dan memasukkan hijabnya di dalam pakaian kotor, setelahnya ia berjalan ke meja rias dan meletakkan segala perhiasan kepala nya di sana. Kemudian baru lah wanita itu membuka lemari yang bentuknya sangat mewah namun tak mengurangi kesederhanaannya. Dibukanya lemari tersebut, dan tampaklah handuk berwarna putih yang terlipat di sana di antara banyaknya pakaian. Ia pun mengambil handuk tersebut sesuai dengan permintaan suaminya lalu membawa handuk itu ke kamar mandi.


Ia mengetuk pintu kamar mandi yang mana di dalam sana terdapat suaminya.


"Arsen buka pintunya!!" Teriak Nisa lembut dari luar. Arsen yang mendengarnya pun entah mengapa sedikit tersenyum. Bahagia sekali ternyata memiliki istri. "Kamu di dalam ada nggak yang nutupin badan kamu!!"


Mendengar teriakan itu membuat kernyitan di dahi Arsen semakin dalam. Jika tubuhnya sudah dibaluti kain buat apa ia meminta handuk dengan istrinya? Tentulah sekarang ini tidak ada satu pun alat yang menutupi tubuhnya. Ia pun melirik ke tubuhnya yang polos tidak ada sehelai benang pun yang melindungi tubuhnya, tiba-tiba timbul ide jahil di kepala Arsen, ia menarik napas sembari tersenyum miring.   


"Enggak yang!!"


Nisa menghela napas dan membuka pintu tersebut yang tidak dikunci oleh Arsen. Semoga saja saat ia membuka pintu tidak ada kejutan yang didapatkan. Saat pintu terbuka ternyata pikirannya salah, sesuatu yang berada di depannya membuatnya benar-benar nyaris pingsan.


"ALLAH HU AKBAR!!!! HUAAAA."


BRAKKK


Di dalam sana Arsen tergelak sampai-sampai ia memegangi perutnya yang sakit akibat terlalu keras tertawa. Sungguh manis sekali istrinya tersebut, ah ternyata rencananya berjalan lancar.


"Arsen sialan!!!!" Teriak Nisa dari luar.


Arsen hanya menanggapi umpatan Nisa itu dengan kekehan. Senyuman kemenangan terpancar dari wajahnya yang tampan, laki-laki itu juga baru menyadari sejak kapan ia suka menjahili seseorang,padahal dia tau sendiri bahwa kepribadiannya yang sedikit dingin dan tidak suka berbasa-basi. Ternyata kehadiran Nisa di hidupnya merubah kehidupannya.


Laki-laki yang sudah secara resmi menjadi seorang suami itu melirik pada handuk yang Nisa lemparkan ke arahnya tadai. Ia melilitkan handuk itu ke tubuh nya, lalu laki-laki itu membuka pintu yang baru beberapa menit menjadi korban bantingan Nisa.


Ia keluar dari dalam kamar lalu menghampiri perempuan yang sangat dicintainya.


"Sa!"


Merasa dirinya terpanggil, Nisa pun berbalik dan tampaklah di depannya tubuh suaminya yang sangat sempurna terutama di bagian perut yang terdapat roti sobek. Nisa tertegun melihat pemandangan itu, pipinya memerah berusaha menahan malu.


"Sudah puas yang ngamati tubuh aku? Entar kamu ngerasain kok enaknya tubuh aku!" Ucap Arsen asal dan menambah kegeraman Nisa, tapi jangan lupakan pipi Nisa yang sudah menjadi kepiting rebus.


"Apaan sih? Aku nggak ngerti apa yang kamu ucapin, lagi aku nggak ada liatin tubuh kamu tuh," kesal Nisa seraya beranjak dari tempatnya dan menghampiri lemari.


Perempuan itu mengambil beberapa helai pakaian di dalam sana dan handuk bergambarkan Doraemon. Yah Nisa belum mandi dan dia tidak akan bodoh mengganti baju di hadapan Arsen. Biar pun laki-laki itu adalah suaminya, namun tetap saja ia masih merasa malu.


"Nggak sekalian juga ambiln baju aku yang? Aku ini suami kamu loh, di dalam agama kamu wajib ngelayanin suami? Kamu mau dicap durhaka sama suami?"


Nisa menarik napas dalam lalu menghembuskan secara pelan, ia pun memaksa agar wajahnya tersenyum. Tidak mau mendengar ocehan Arsen yang sungguh tidak pernah ia lihat sisi laki-laki itu yang sangat manja seumur hidupnya. Lantas wanita itu mencarikan pakaian Arsen. Saat telah mendapatkan pakaian yang cocok, wanita itu berniat ingin memberikannya kepada Arsen. Tapi lagi-lagi pria itu membuatnya menghela napas.


"Nggak usah baju yang. Celana aja cukup, aku sudah biasa tidur nggak pakai baju."


"Arsen nanti kamu masuk angin, udara hari ini dingin tau."


"Ciehh perhatian."


"Tau ah." Kesal Nisa seraya melemparkan boxer kepada laki-laki itu, sedangkan pakaian yang ingin ia berikannya tadi ia masukkan kembali.


Nisa menatap jengkel mata Arsen. Wanita itu tidak akan menatap tubuh bagian bawah Arsen, sungguh memandang hal itu membuatnya tidak bisa menahan malu dan wajahnya yang setiap kali merona saat melihat perut dan dada sempurna milik Arsen. Tidak terlalu kekar, namun dapat menggoncang hasrat setiap orang.


Nisa dengan cepat masuk ke dalam kamar mandi dan menjalankan ritual maninya untuk membebaskan tubuhnya yang terasa sangat lengket seperti habis dilumuri getah.

__ADS_1


Di sisi lain, Arsen sungguh terpana dengan penampilan Nisa yang menurutnya tidak pernah dilihatnya seumur-umr di wanita lain. Arsen meraba dadanya yang mana sa atin jantungnya sedang mengadakan lomba berdetak, tuhan apakah itu benar istri ku?


Ia sungguh tidak percaya jika perempuan secantik bidadari tadi adalah istrinya, dan apalagi ia tadi melihat rambut Nisa yang terurai dan hal tersebut mengundang hasratnya semakin menggebu. Tanpa laki-laki itu sadari memikirkan kecantikan Nisa saja telah membangunkan Arsen junior di bawah sana. Tahan Arsen nanti kamu dapat jatah kok.


Arsen membuka handuk nya hingga tubuh laki-laki itu benar-benar polos. Kemudian lelaki tersebut memakai pakaian dalam serta boxerb nya. Ia mengambil handphoe nya, lalu membuka aplikasi Youtube dan mengetikan beberapa judul film biru untuk dijadikannya inspirasi untuk malam ini.


1 menit


2 menit


5 menit


10 menit


15 menit


Film pun berakhir, Arsen menatap ke arah kamar mandi. Dapat laki-laki itu dengar percikan air yang berjatuhan ke lantai. Ia menggigit bibirnya tak sabaran, kenapa istrinya lama sekali.


Ceklekk


Arsen bernapas lega saat pintu terbuka. Ia melihat Nisa yang sudah berpakaian lengkap dan tertutup, wanita itu mencepol rambutnya yang sudah kering. Hal tersebut semakin menambah hasrat Arsen semakin membuncah saat melihat area leher Nisa yang sangat putih.


"Sayang!" Seru Arsen seperti rengekan. 


Nisa menghampiri Arsen lalu naik ke atas ranjang dan duduk di samping suaminya yang tidak mengenakan baju. Jujur saja Nisa perlu melatih jantungnya agar terbiasa dengan pemandangan seperti itu.


"Iya ada apa?"


"Muka kamu kok merah gitu sih yang, kamu kenapa?" Arsen tak menjawab pertanyaan Nisa, malah laki-laki itu balik bertanya. Dengan jarak yang begitu dekat dengan Nisa, Arsen tidak dapat mengontrol tangannya untuk tidak menyentuh wajah menggemaskan dan merah milik Nisa.


Laki-laki itu mencubit gemas wajah kekasih kecilnya itu sehingga sang empu menjadi korban pun melenguh kesakitan. Ia tersenyum melihat wajah Nisa semakin memerah, lantas laki-laki itu pun mencium pipi Nisa tanpa diketahui oleh wanita itu.


"Ihhhh Arsen! Apa-apaan sih?"


"Mesum," gerutu Nisa.


"Mesumin istri nggak papa dong. Emang kamu mau aku mesumin istri tetangga?" Tanya Arsen sambil menaik turunkan kedua alisnya. 


"Awas aja ya kalau kamu berani mesumin istri orang, aku jadiin kamu rendang kalau kamu masih berani."


"Kenapa emangnya, cemburu ya?"


Nisa memalingkan wajahnya. Ia duduk membelakangi sang suami, sebenarnya Nisa saat ini sedang berada di tengah-tengah kegugupan. Ia takut jika Arsen meminta hak nya, ia belum siap.


"Pamali tau membelakangi suami sendiri."


"Diam kamu. Lebih kamu pijitin belakang aku, badan aku sakit-sakit semua."


"Yang mana yang sakit? Biar aku pijitin kamu sampai hilang sakitnya, aku nggak mau istri aku yang cantik ini kenapa-napa."


Nisa menunjuk pundaknya, tangannya, dan kaki nya. Mengetahui bagian-bagian yang terasa sakit di tubuh sang istri dengan cepat Arsen memijit perempuan itu yang dimulai dari kaki. Ia tau bagian itu yang paling sakit di tubuh Nisa, karena wanita tersebut cukup lama berdiri saat acara resepsi nya tadi.


Arsen memijat-mijat kaki Nisa. Susah payah ia menahan birahi nya saat kulit tangannya bersentuhan dengan kulit kaki Nisa yang sangat lembut.


Sebelum ia pindah memijit bagian tubuh yang lain, Arsen terlebih dahulu mencium kaki Nisa sehingga sang empu yang merasa langsung terkesiap sekaligus tertegun.


Arsen kemudian memindahkan pijitannya ke tangan Nisa. Cukup lama ia memijit kedua tangan istrinya hingga kegiatan memijitnya do area itu pun selesai. Sama dengan sebelumnya, sebelum ia pindah memijit ke bagian pundak, laki-laki itu terlebih dahulu mencium kedua tangan Nisa.


"Jangan nakal lagi ya, jangan buat istri gue sakit lagi. Ingat tu tangan," peringat Arsen terhadap tangan Nisa, dan malah laki-laki itu menyebut dirinya dengan embel-embel gue ketika berbicara kepada tangan wanita itu.


Nisa yang melihatnya hanya terkekeh, ia sangat geli melihat tingkah Arsen yang seperti anak kecil.


Arsen pun mengalihkan pijitannya ke pundak Nisa. Pelan-pelan ia memijit area itu. Saat melihat tengkuk Nisa yang mulus membuat nafsu Arsen kembali teruji. Ia menelan slivanya saat merasakan sesuatu yang halus di tangannya. Karena nafsu laki-laki itu yang lebih tinggi dengan sengaja lelaki itu membelai punggung Nisa.


Saat ritual memijitnya sudah selesai, dengan cepat pula Arsen mencium punggung Nisa yang putih. Tapi kali ini bukan sekedar ciuman melainkan sebuah ******* dan gigitan di tengkuk Nisa hingga meninggalkan beberapa kiss mark.

__ADS_1


"Arsen sudah. Geli ih," ungkap Nisa saat merasakan gigitan Arsen di tengkuknya yang membuatnya terasa geli dan sedikit terangsang.


"Aku sudah tandain kamu jika kamu hanya milik ku seorang. Jadi apa-pun yang sudah menjadi milik ku tidak boleh disentuh orang lain. Mengerti?"


"Iya Arsen aku mengerti," ucap Nisa pasrah.


"Bagus baby."


Nisa berpikir keras untuk menghentikan aksi Arsen agar tidak bertindak lebih jauh lagi. Hari ini ia cukup lelah dan dirinya belum siap untuk melakukan hal itu, padahal ia sudah tau jika Arsen sangat mengharapkannya.


"Arsen."


"Hm."


"Maafkan aku."


"Maksud kamu?" Tanya Arsen tidak mengerti.


Nisa menarik napas dalam lalu berucap sesuatu yang ingin ia sampaikan sebelum Arsen menyesal menikah dengannya.


"Aku pernah jatuh cinta sama seseorang sebelum menikah dengan mu, dan aku juga masih mencintai dia sampai sekarang."


Terkejut. Itulah yang sekarang tengah dirasakan Arsen, ia dapat melihat kesedihan sang istri saat berucap seperti itu. Namun sedetik kemudian wajahnya berubah datar.


"Kalau kamu mencintai dia kenapa kamu mau menikah dengan ku? Jika kamu terpaksa menikah dengan ku mengapa kamu tak mengatakannya? Sudahlah Sa, semuanya telah terlambat. Maafkan aku membuat mu sudah hancur dari kecil. Jika kau ingin pisah dengan ku, aku ikhlas Sa, yang penting kamu bahagia." Tanpa sadar lelaki itu telah menangis, dan dengan kasar pula ia menghapus air matanya. Ia tidak menyangka jika malam pertamanya akan jadi seperti ini.


Nisa yang melihat hal tersebut pun langsung tersenyum, ingin sekali ia tertawa. Namun ia berusaha menahan tawanya.


"Kalau boleh aku tau siapa 'dia' yang kamu maksud?"


Nisa tersenyum dan berhambur ke dalam pelukan Arsen sehingga membuat Arsen keheranan. "Karena laki-laki yang aku maksud itu adalah kamu."


Ucapan Nisa sontak membuat Arsen terkejut dan sekaligus bahagia. Ia mengurangi pelukan mereka lalu menatap mata Nisa tidak percaya. "Serius?"


Nisa mengangguk, sambil memamerkan sebuah senyuman yang selalu membuat Arsen jatuh cinta.


"Nakal kamu ya Sayang!" Arsen menggelitk perut Nisa hingga wanita itu terbaring dan tertawa kencang akibat serangan Arsen di perutnya yang membuat dia kegelian dan tak dapat menahan tawa.


"Nisa?"


"Iya sayang!"


"Hah? Apa? Ulangi ucapan kamu tadi."


Nisa pun mengulangi ucapannya, "iya sayang!"


"Sayang?"


"Jadi kamu nggak suka aku panggil sayang?"


"Eh suka kok. Malahan suka banget." Arsen buru-buru berucap sebelum Nisa merajuk dan enggan menyebutnya dengan kata keramat itu. "Boleh ya?"


"Apanya?" Tanya Nisa tak mengerti.


"Yang itu tu."


"Tapi..."


Arsen mencium cepat bibir Nisa, meraupnya dan ******* bibir tersebut, tidak membiarkan sang istri mengambil napas. Saat dirasa kehabisan pasokan oksigen, barulah Arsen melepaskan ciuman mereka. 


"Tenang aja sayang aku akan pelan-pelan kok." Tanpa menunggu persetujuan Nisa, Arsen telah lebih dulu mencium bibir perempuan itu, lalu ciuman tersebut turun ke leher Nisa dan menciptakan beberapa kiss mark. Dan selanjutnya hanya mereka yang tau termasuk Allah dan benda-benda di sekitar mereka yang menjadi malam kedua mereka plus malam pertama mereka menjadi suami istri.


______


Tbc

__ADS_1


__ADS_2