Tragedi Malam Itu

Tragedi Malam Itu
Part 39


__ADS_3

Warning: Sarga seorang laki-laki pengidap penyakit LGBT


.


.


.


Di malam yang penuh dengan kegelapan. Jalan-jalan diterangi oleh lampu-lampu listrik. Suara bising dari kendaraan berderu memecahkan kesunyian malam. Sebuah mobil sedan melaju kencang membelah jalanan, entah siapa pemilik mobil itu. Tapi, yang jelas sang pemilik adalah orang yang bergelimang harta. 


Mobil itu berhenti tepat di sebuah rumah yang kental sekali dengan arsitektur luar negri. Tak lama keluar seorang laki-laki yang mengenakan sepatu hitam, celana hitam, dan jaket hitam yang amat terkesan misterius. Ia turun dari mobil sembari membuka kacamata hitamnya lalu diletakkan di kerah baju kaosnya.


Dia berdiri di sana cukup lama mengamati rumah besar dan megah itu. Dengan mata terarah kepada rumah tersebut,  ia mengeluarkan smirk yang tidak diketahui apa maksudnya. Laki-laki itu berjalan mendekati teras rumah.


Saat ia telah menapak atas teras rumah tersebut, laki-laki itu berdiam diri terlebih dahulu. Matanya memindai keadaan sekitar penuh dengan amatan. Ia mengulum senyum penuh kegembiraan, sudah lama ia tak bertemu dengan pemilik rumah ini. Beberapa pertanyaan timbul di benak, pria itu. Bagaimana kabarnya? Dan seperti apa reaksi mereka melihat kedatangannya? Mungkin jawaban itu akan terjawab jika ia sudah mengetuk pintu rumah yang besarnya bak raksasa.


Tangan pria itu terangkat mengetuk pintu tersebut. Cukup lama ia mengetuknya barulah ia mendapatkan respons dari orang yang ada di dalam sana. Suara gesekan pintu terdengar mengalun di depan wajahnya. Saat mereka telah bertemu pandang dengan sang pembuka pintu, laki-laki tersebut menyapa orang itu dengan sebuah senyuman. Namun,  berbanding terbalik dengan sang pembuka pintu, ia terdiam bagaikan patung, matanya tak berkedip dan menegang.


Sang pembuka pintu langsung sadar dari lamunan panjangnya, wanita paruh baya namun masih awet muda itu langsung menutup pintu kembali saat telah menyadari siapa tamunya.


Melihat pergerakan yang dilakukan oleh orang itu, laki-laki tersebut buru-buru menahan pintu dengan lengan berototnya agar orang itu tak menutupnya dan membiarkan ia yang baru datang berdiam di teras.


"Hai bibi sudah lama kita tidak bertemu. Mungkin sudah hampir dua belas tahun kita lamanya tak bertemu setelah tragedi itu. Ku rasa kau masih menganal ku. Oh Bibi apakah kau tak ingin menyuruhku masuk dahulu, kaki ku sangat pegal berdiri di sini."


"Sa-Sarga. Mau apa kamu kemari?" Ariana mengamati Sarga dari atas sampai bawah, "sungguh aku tidak sudi menerima tamu seperti mu. Lebih baik kau pulang saja, kedatangan mu hanya menambah masalah saja."


Ariana yang merupakan ibunya Arsen itu, menatap sinis Sarga. Setelah mengatakan ucapan tersebut kepada laki-laki itu lantas ia menarik pintu buru-buru menutupnya. Namun tangannya hanya menggantung di udara saat Sarga kembali berucap.


"Begitukah cara mu, memperlakukan seorang tamu bibi? Sungguh cara mu, itu tidak sopan. Well, kedatangan ku ke sini, hanya ingin berkunjung ke tempat bibi ku yang tercinta. Dan tentunya aku ingin bertemu dengan Arsen. Di mana anak laki-laki mu itu bibi? Apakah dia masih sama bandelnya seperti dahulu, suka menghilang tanpa sepengetahuan mu bibi." Sarga berucap dengan nada angkuhnya, dan itu membuat Ariana yang mendengarkan sangat muak.


Wajah wanita tersebut tidak bisa dideskripsikan saat menatap Sarga penuh dengan kebencian yang sudah dicampuri dengan kejijikan. Ia bergidik melihat keponakkannya itu, ternyata Sarga masih sama gilanya seperti dahulu. Apakah Tiara tidak ada berkeinginan mengobati anaknya itu?


"Stop Sarga!! Arsen tidak ada di rumah ini, lagi pula namanya tidak lagi Arsen tetapi Alex. Kau harus menyebutnya dengan Alex jika bertemu dengan anak ku. Sudahlah kau itu masih tidak waras sama seperti dahulu, aku tidak akan pernah sudi merestui kau mencintai anak ku. Lusinan wanita di lauran sana, apakah kau tidak tertarik hm?"


Sarga menatap Ariana dengan malas. Selalu saja begini, Ariana bibi kesayangannya itu tidak pernah menyetujuinya untuk berhubungan dengan Arsen tetapi wanita tua itu akan memberikan ceramah tentang wanita yang sudah bosan di telinganya.


Tapi ada satu hal yang mengganjal dengan perkataan Ariana tadi. Sarga tersenyum miring kepada Ariana. Ternyata keluarga penuh drama itu memiliki suatu rahasia. Ah ia tahu betul bahwa beberapa tahun yang lalu, Arsen pernah kecelakaan dan mengakibatkan laki-laki itu hilang ingatan, dan namanya diganti dengan Alex oleh bibinya, agar mereka dapat membuat lembaran hidup baru dengan nama Alex dan menjadikan Arsen sebagai boneka mereka. Miris sekali, pikirnya. Jelas Sarga mengetahui itu karena ia memiliki badan intelijen rahasia, dan menyuruh mereka untuk mencari informasi tentang Arsen dan keberadaan laki-laki itu. Dan yeah berakhir di sini, Arsen ditemukan di Indonesia.


Sarga sempat tidak percaya bahwa sanya Arsen akan menetap di sini, ia kira laki-laki itu akan tinggal di negara-negara maju. Namun pikirannya itu ternyata salah besar.


"Kau telah dibohongi oleh Arsen bibik," ucap Sarga sambil terkekeh.


"Maksudmu Sarga?" Tanya Ariana tak mengerti.


Sarga tidak langsung menjawab, ia lebih suka menatap wajah bibinya yang dipenuhi dengan kebingungan dan pertanyaan. Sungguh sangat nikmat sekali melihat pemandangan itu.


"Apakah kau belum menyadari?" Laki-laki itu langsung merubuh rautnya menjadi kagum, "tak ku sangka Arsen memang pintar menyembunyikannya. Ku akui anak mu itu memang benar-benar jenius bi."


Ariana memutar bola mata malas, ia menatap jengah Sarga di hadapannya. Ingin sekali ia mengunci Sarga diteras dan meninggalkan anak itu. Sungguh jika bersama Sarga energinya akan terkuras menghadapi Sarga yang keras kepala. Andai saja Davit suaminya ada di rumah, mungkin ia akan meminta pembelaan dan menyuruh suaminya itu mengusir anak gila ini.


"Berhentilah mengumpat ku di dalam hati mu bi," kata Sarga sembari memasukkan kedua tangan di dalam saku celana. Matanya melirik ke dalam rumah melalui celah-celah pintu yang terbuka seperti sedang mencari sesuatu.

__ADS_1


"Ba-bagaimana bisa?"


"Tentu aku bisa dengan hanya melihat tatapan tak suka mu kepada ku."


Wanita itu menatap bengis Sarga, "jika kau tau aku tidak suka kepada mu, kenapa kau tak pergi saja dari sini. Mata ku sakit sekali melihat dirimu berdiri di depan ku, lebih baik kau pergi dari rumah ku sebelum aku mengusir mu dengan cara yang tak lazim."


Dibalik gelap malam, Sarga tersenyum miring mendengar ucapan Ariana yang sudah terang-terangan memberitahu bahwa ia tak menyukai dirinya.


"Lakukan saja bi, aku dengan senang hati menerimanya. Lagi pula aku akan pergi sebelum kau mengusir ku. Tapi aku akan memberitahukan mu sesuatu terlebih dahulu......"


Apalagi ini? Kepalanya sudah pusing dengan ocehan Sarga, dan laki-laki itu ingin  menambah ocehan lagi. Oh tuhan bermimpi apakah ia malam tadi, hingga ia dihadapi dengan anak ini.


"Cepat katakan atau aku akan meninggalkan mu di luar."


"Asal kau tau bi, Arsen telah mengetahui semuanya. Ia sudah tau bahwa ia bukan Alex tetapi dirinya adalah Arsen. Kalian saja yang telah dibodohi dengan anak itu, dia sengaja membiarkan kalian tidak mengetahui bahwa dia telah mendapatkan ingatnya kembali dengan utuh. Arsen juga telah merencanakan sesuatu kepada kalian, tapi sayang rahasianya telah terbongkar dengan mulut ku."


Ariana mendadak bisu. Mulutnya bungkam tak dapat mengeluarkan baik sepetah kata pun. Ia tak percaya dengan apa yang telah diucapkan Sarga. Tidak mungkin Arsen tahu, buktinya sekarang tidak ada terjadi apa-apa. Iya ini pasti omong kosong pria gila itu. Ariana menatap sengit Saraga.


"Pergi kau dari rumah ku, aku tak sudi lagi melihat wajah mu. Dan jangan pernah sekali pun kau menampakkan diri di depan mata ku. Dan berhenti beromomg kosong, aku muak mendengarnya."


"Kau akan menyesal bibi. Baiklah aku akan pergi, dan sampaikan kepada Arsen, bahwa aku mencintainya."


"Dasar anak sinting kau!!! Arsen sudah memiliki tunangan bernama Alinta, jadi ku harap kau mundur.  Lebih baik sepulang dari sini kau langsung pergi ke rumah sakit dan obati penyakit tak karuan mu itu!!!"


Sarga tak menanggapi teriakan Ariana. Namun satu nama yang selalu ia ingat di benaknya setelah paska teriakan Ariana, yaitu Alinta.


Saat telah berada di dalam mobil, Sarga mengambil ponselnya lalu melakukan panggilan.


Setelah mengatakan itu Sarga mematikan panggilannya. Pria tersebut terdiam sebelum ia menghidupkan mesin dan meninggalkan kediaman Arsen.


_________


Seorang dengan wajah yang diliputi dengan kelelahan, memaksa dirinya untuk terus bekerja. Ia terus bergulat dengan laptop nya hingga larut malam. Waktu terus berputar hingga jam menunjukkan waktu 00:00 WIB. Seharusnya ia telah Stop bekerja di jam segini, namun justru ia menghabiskan malamnya dengan bekerja.


Ya mau bagaimana lagi, ia terpaksa melakukan itu agar dapat mengetahui dalang korupsi di kantornya. Entahlah siapa yang telah berani melakukan itu di kantornya. Tapi, yang pasti orang tersebut akan mendapatkan sesuatu yang tak biasa darinya nanti.


Saat ia sedang sibuk bekerja, sebuah panggilan masuk mengusik kegiatan Arsen.  Dan membuat laki-laki itu menjadi geram. Namun, sedetik kemudian ia menarik napas panjang.


"Halo ada apa Dive?"


"Satu di antara anggota yang ikut terlibat dengan kasus korupsi itu telah tertangkap. Sekarang aku berada di tempat biasa."


"Jangan apa-apakan dia dahulu sebelum aku yang akan menginterogasi nya sendiri. Kau dengar itu Dive?"


"Baiklah, aku akan menunggu."


"Bagus. Jangan sampai dia kabur, kau tau sendirikan apa yang akan aku lakukan nanti jika dia kabur?."


"Hm."


Arsen menggesek layar merah, ia menarik napas. Sedikit demi sedikit bebannya telah berkurang.

__ADS_1


Dia memang sendiri di sini, dan mungkin hanya ia yang tersisa di kantor ini sendirian. Nisa tidak masuk bekerja, memang ia yang melarangnya. Laki-laki tersebut memahami kondisi Nisa yang belum seratus persen telah sembuh.


Laki-laki itu menutup laptop nya. Ia berdiri sembari mengambil jas dan mengenakan di tubuhnya. Dengan penuh kewibawaan ia berjalan meninggalkan ruangan.


Ia berjalan terburu-buru menghampiri mobilnya yang terparkir. Dengan cekatan Arsen menekan tombol khusus di tangannya hingga mobil itu berbunyi. Setelahnya laki-laki tersebut ingin membuka pintu namun ada sesuatu seperti ada yang menahannya.


Lantas pria itu melirik pada sesuatu yang menahannya itu. Menyadari bahwa itu adalah tangan manusia, Arsen pun melihat pada orang yang telah berani menghentikan kegiatannya.


"Kau..." geram Arsen dengan gigi yang digesekkan, "mau apa kau kemari?"


"Who santai dong. Kita baru saja bertemu, apakah kau tidak rindu kepada ku Sen?" Tanya Sarga memastikan.


"Tidak. Aku tidak merindukan mu, aku malah bersyukur telah hidup tanpa mu."


Raut wajah Sarga tampak kecewa.  Namun, beberapa detik kemudian ia kembali tersenyum yang membuat perut Arsen bergejolak tak tahan ingin masuk kedalam toilet.


"Kau begitu tega Sen meninggalkan ku tanpa alasan. Apa karena Ica kau bersikap seperti ini kepada ku? Ternyata anak itu belum mati." Sarga menatap Arsen, "kau tahu apa yang bisa aku lakukan kepada Ica Sen?


Sontak Arsen mengangkat kepalanya menatap Sarga yang sedang menyeringai.


"Apa yang kau lakukan? Mencoba mengancam ku hm?"


"Kedengarannya seperti itu."


"Sudahlah Ga, aku muak dengan mu sudah sejak dahulu, ini bukan karena Ica. Tetapi memang aku yang normal tidak seperti mu yang gila."


Arsen beranjak ingin masuk kedalam mobil, namun lagi-lagi Sarga mencegahnya. Netra mata itu penuh dengan kesenduan.


"Mau apalagi kau? Aku sedang banyak urusan."


Sarga menghela napas. "Aku mencintaimu, apakah kau tak melihat perjuangan ku. Sen, asal kau tau aku yang selalu ada di samping mu di saat kau memiliki masalah. Kau tidak tahu betapa sakitnya hati ku, saat aku kau jadikan wadah curhatan mu tentang Ica. Ica, Ica dan Ica yang selalu kau ucapkan setiap saat. Apa kau tidak bisa melihat kebusukan wanita itu, ia yang membunuh ayah ku."


"Terserah pada mu. Tapi, ayahmu meninggal bukan karena Ica tapi dia yang bunuh diri."


Arsen membuka pintu mobil dan berniat ingin pergi dari sini. Ia malas bertemu dengan Sarga.


Saat tubuh Arsen baru setengah masuk kedalam mobil, dengan kilat Sarga menyambar Arsen dan menariknya.


Arsen sangat terkejut saat Sarga menciumnya, dengan mata yang membulat, laki-laki itu menyentak mendorong Sarga menjauh. Kemudian dengan amarah yang memuncak Arsen memukul wajah Sarga.


"Sinting kau!!!!" Arsen mengelap bekas jejak ciuman Sarga. Ia menatap Sarga yang tersungkur dengan jijik.


"Dirimu bagiku kurang lebih seperti ******. Sayang sekali padahal wajahmu sangat tampan." Arsen berjalan meninggalkan Sarga. Ia masuk kedalam mobil dan menjalankan mobilnya meninggalkan Sarga sendirian.


"Akhhh. Sialan kau Ica!!! Lihat saja nanti, aku akan membunuh mu dan mungkin lebih sadis dari seperti dahulu." Gumam Sarga.


_______


Tbc


Komentar dan Like, biar aku tetap semangat melanjutkan cerita ini.

__ADS_1


__ADS_2