Tragedi Malam Itu

Tragedi Malam Itu
Part 60


__ADS_3

Mendengar teriakan yang sangat ia kenali membuat Nisa berhenti menangis dan memegang di tempat. Ia ketakutan  mendengar nada bentakan ayahnya yang amat keras, lantas ia pun semakin mengeratkan pelukannya dengan sang ibu. Ada rasa sakit di hatinya mendengar suara tinggi sang ayah yang sangat memekakkan telinga, tiba-tiba pikirannya memutar kembali memori usang saat-saat ia masih kecil dan masalah berat belum menimpanya. Ia begitu bahagia dengan keluarganya, ayahnya sangat nenyayanginya dan selalu menjadi pembela dirinya.


Kini perlakuan manis itu sirna. Tidak ada lagi yang namanya kasih sayang, yang ada hanyalah kebencian yang tertanam, dan semua itu terjadi karena dirinya. Sakit yang amat terasa di dalam hati yang terdalam dan rasa bersalah bagaikan noda hitam di atas kertas putih membuat hati hancur bagaikan kaca yang pecah. Sebuah kepercayaan tidak bisa dikembalikan saat penghianatan memicu semuanya, yang ada hanyalah penyesalan yang selalu datang belakangan.


Jantung dan hatinya bagaikan diiris-iris ribuan belati ketika ia tidak dapat membangun kepercayaan keluarganya kembali, teriakan sang ayah yang menyebutnya ANAK DURHAKA cukup membuatnya paham. Yah Nisa tau karenanya yang merupakan butiran debu ini dan menghinggap di semua benda-benda berharga membuat benda itu seperti tak terawat, sama seperti keluarganya karena dirinya lah keluarga Ahmad hancur dan sang ibu sakit-sakitan.


Berapa dosa yang telah ia perbuat, dia yakin jika malaikat menunjukkan catatan dosanya, mungkin dia sendiri tidak bisa menghitung catatan dosanya yang begitu banyak. Dia tidak pantas ada di sini, karenanya semua orang hancur. Nisa sangat paham sekali karena sebuah kesalahan yang terjadi dengannya dahulu banyak yang menjadi korban, mulai dari keluarganya, kampungnya, sekolahnya, dan keluarga nek Miah yang terikut imbasnya. Namun yang lebih parah lagi anaknya, anaknya yang masih kecil dan tidak tau apa-apa menjadi bahan caci makian warga di tempatnya.  


Dengan goncangan jiwa yang terus mendorongnya membuat Nisa dengan pelan bagaikan pergerakan siput menatap ayahnya yang sedang terbakar luapan api kemarahan. Aliran yang tak pernah berhenti mengalir di matanya membuat pandangan matanya menjadi sedikit buram, ia sangat merindukan ayahnya dan ingin sekali memeluk laki-laki itu. Tapi keinginan hatinya tidak sama dengan keinginan ayahnya.


"Papa," lirih Nisa tertahan oleh suara isakakan yang tak berhenti. 


Dapat ia lihat pantulan ekspresi ayahnya dari cermin di dekat kamar tersebut. Ayahnya seakan menutup kedua telinga milik laki-laki itu saat ia menyeru Ahmad dengan sebutan papa. Perasaan nyeri di hati perempuan itu meluluhlantakan semuanya. Ia terdiam tidak berani bersuara karena dia tau jika sang ayah sedang marah kepadanya.


"Sudah aku katakan, jangan menyebutku dengan sebutan itu lagi. Aku bukan Papa mu, dan aku tidak menganggap mu anak. Sudah aku katakan bukan jika aku tidak mengizinkan kamu kembali! Dan sekarang kenapa kau kembali lagi ke sini?!" Ucap Ahmad dengan nada membentak dan setiap katanya terdengar tekanan yang sangat tinggi.


Teriakan tak sedap dari Ahmad dan terlihat seperti sedang membentak Nisa-nya membuat Arsen yang berdiri di samping laki-laki itu langsung mengeras. Tangannya terkepal, rahangnya semakin tegas, urat nadi yang terlihat kekar di kedua tangannya tampak menyembul di area kulit tangannya. Tanpa bisa dikendalikan lagi tangan tersebut pun melayang bagaikan ditiup angin dan menghantam rahang Ahmad.


"Arsen!!!" Teriak semua orang yang melihat tindakan Arsen yang sangat berbahaya tersebut.


Mendapatkan serangan tak diduga-duga dari arah sampingnya nyaris membuat Ahmad tersungkur jika tidak ada Habib yang menahannya. Ahmad menatap Arsen tidak percaya lalu disusul dengan tatapan kilatan petir dari Habib. Laki-laki itu langsung merubah ekspresinya saat menatap laki-laki yang merupakan saingan beratnya. Dulu Habib juga sama menyebut Arsen dengan Alex karena setahunya nama Arsen adalah Alex bahkan begitu pula dengan yang lainnya, namun setelah pengakuan dari Arsen jika dia bukanlah Alex di media, baru mereka mengetahuinya. 


"Apa-apaan kamu Arsen!!!" Teriak Habib tak terima melihat ayahnya yang tersungkur dan bahkan darah mengalir dari sela bibir Ahmad, dan hal tersebut pula lah membuat keadaan lebih dramatis dengan semakin kencangnya teriakan tangisan dan ketakutan.


"Jangan seenaknya kamu membentak dia!" Tunjuk Arsen ke arah Nisa, lalu melirikkan  matanya kepada Ahmad sambil tersenyum miring. "JIKA KAU MARAH ANAK MU HAMIL JANGAN SALAHKAN DIA!!!" Arsen mendekati Ahmad lalu terkekeh tak jelas dan sedikit mendongak ke atas sebelum akhirnya menatap Ahmad kembali. "Yang pantas mendapatkan kemarahan mu dan kehancuran seharusnya orang yang menghamili anak mu bukan dia!!! Dan orang tersebut ada di depan mu! Yaitu AKU!!! Sekarang kau boleh memukul ku sepuasnya tapi jangan dia yang kau sakiti!!!"


"Arsen!" Lirih Nisa terisak.


Jelas pengakuan yang sangat mengejutkan dan lebih mengagetkan dari berita hamilnya Nisa pun membuat mereka terperanjat. Alsya yang duduk tak jauh dari tempat ibu nya pun sangat terkejut atas pengakuan Arsen. Matanya berair dan genangan tersebut pun jatuh seperti tetesan air hujan. Dan setiap bulirnya mengandung makna yang sangat menyakitkan.


"Dasar berengsek kau!!!" Habib maju dan meninju wajah Arsen sepuasnya tanpa menghiraukan teriakan dari ibunya, Nisa dan Alsya. Sedangkan Ahmad masih dalam keadaan sok atas pengakuan yang hampir saja memisahkan jiwanya dari raganya. "Sudah aku duga dari dulu jik kau adalah orang yang jahat dan licik!!!! Kau tidak pantas hidup sialan! Tempat mu adalah di neraka!!!"


Pukulan demi pukulan dilayangkan Habib kepada Arsen sehingga Arsen terkulai lemas tidak berdaya. Namun sama sekali tidak ada perlawanan yang dilakukannya.

__ADS_1


"Sekarang kau sudah puas memukul ku?" Tanya Arsen kepada Habib lalu ia menyeringai. "Sudah aku tebak jika kau akan memukul ku sepuas mu jika aku mengatakan sebenarnya. Aku tau jika kau sangat mencintai Nisa dan rasa cinta mu kepadanya melebihi di luar batas dari seorang adik!!" Arsen bangkit dari jatuhnya lalu mencengkeram kerah baju Habib yang terlihat terdiam setelah ia mengucapkan hal tersebut. "Kenapa diam? Aku benar bukan?!"


"Arsen!!!" Bentak Nisa yang sudah melepaskan pelukannya dengan sang ibu dan ingin mendekati kedua orang tersebut untuk melerainya, namun tangannya di tahan oleh Aisyah, ia takut akan terjadi apa-apa dengan Nisa.


Nisa menoleh kepada Aisyah lalu melihat gelengan lemah dari wanita itu yang sedikit membuatnya tenang. Niat untuk melerai pun ia sisihkan sebentar. Matanya menatap Alsya yang di sampingnya. Ia meraih tangan Alsya, kemudian digenggamnya tangan adiknya tersebut sehingga Alsya pun semakin terisak dan memeluk Nisa seeratnya.


"Alsya rindu kaka," tangis Alsya pecah pelukan haru senantiasa mengiringi kesedihan dan kerinduan mereka.


"Kaka juga."


Di depan pintu Ahmad langsung ditambah sok dengan ucapan Arsen yang mengatakan jika Habib menyayangi Nisa lebih dari luar batas. Dan sangat beruntung pernyataan Arsen tersebut tidak terdengar dengan jelas oleh Nisa, Alsya, dan Aisyah. Arsen sengaja memelankannya agar Nisa tidak mendengarnya hingga Ahmad lah yang dapat mendengarnya.


"Apa maksud mu Arsen?" Tanya Ahmad lalu melirik kepada Habib.


"Tanyakan sendiri kepada anak mu ini?"


Ahmad memandang Habib, "Apa maksudnya hah?"


Namun Habib tak menjawab pertanyaan ayahnya. Ia langsung pergi dari sana meninggalkan semuanya. Setelah jauh dari tempat keributan itu pun ia mengeluarkan air mata, dan tangannya menggenggam.


Sama sekali Ahmad tidak membalas pelukan Nisa. Ia terdiam dan membiarkan Nisa memeluk tubuhnya sekencang mungkin, sebenarnya ia juga sangat merindukannya, namun ego yang teramat besar semakin membuatnya tenggelam dalam kegengsian.


"Pa! Nisa tau kalau Nisa cuman anak angkat, tapi Pa Nisa sangat sayang dengan kalian."


Semua orang terkecuali Arsen sangat terkejut saat Nisa menyebut jika dirinya anak angkat. Ahmad dan Aisyah menegang, mengapa Nisa bisa mengetahui rahasia besar itu?


"Dari mana kamu mengetahuinya?" Tanya Ahmad dan melepaskan pelukan Nisa.


"Nisa ingat semuanya. Jadi Nisa ke sini cuman mau ketemu kalian dan mengatakan jika Nisa telah melahirkan anak Nisa, jenis kelaminnya laki-laki Pa. Namanya adalah Gabriel. Kedatangan Nisa juga ingin menyampaikan jika Arsen adalah tunangan Nisa. Maaf jika kedatangan Nisa kemari membuat kekacauan di sini."


"Pasti ponakan ku ganteng, iya kan Kak Nisa?" Tanya Alsya yang telah menghapus air matanya.


"Iya. Dia juga sangat pintar dan jahil sama seperti Alsya!" Nisa memandang Aisyah yang terbaring di kasur dengan lemah, wanita itu menangis saat Nisa menyebutkan Gabriel ke mereka. "Ma! Alsya dan Papa, Nisa pamit dulu mau pulang. Pasti Gabriel lagi nungguin kami di rumah. Dan jika Nisa ada salah Nisa minta maaf ke kalian, Nisa janji nanti akan nemui Gabriel ke kalian."

__ADS_1


"Untuk pernikahan kami, kalian tunggu saja undangan dari kami, ku harap kalian semua pergi. Terutama kau Ahmad, jika kamu adalah seorang ustad tunjukkan sikap yang sebenarnya, jangan kau terlihat seperti sok alim. Ku harap kau benar-benar ustad yang sesungguhnya." Arsen berlalu sambil menarik tangan Nisa untuk keluar dari kamar Aisyah. "Assalamualaikum."


"Kak Nisa!!" Seru Alsya di belakang.


Nisa melepaskan tangan Arsen dan berbalik menatap adiknya. Alsya berlari ke arahnya dan langsung memeluk tubuhnya.


"Kak Nisa jangan pergi!"


"Maaf Alsya kaka harus pergi. Kaka tidak ingin membuat masalah lagi di sini, Kaka janji secepatnya akan ke sini lagi, nemuin kamu dan Mama."


"Mama sakit karena kepergian Kak Nisa." Alsya melepaskan pelukannya dan menatap Kaka nya yang terlihat sangat cantik.


"Maafkan Kaka!" Lirih Nisa


"Kaka tidak salah. Papa yang salah mengambil keputusan terburu-buru, Papa juga menyesal sebenarnya Kak."


"Benarkah?" Tanya Nisa dengan senyuman.


Alsya mengangguk, "Tapi jangan bilang Papa kalau Alsya mengatakan itu."


"Pasti. Kaka pulang dulu ya!"


"Kak Alsya pengen katakan sesuatu. Alsya juga sama seperti Kaka anak angkat."


Nisa semula pengen pergi langsung berhenti dan menatap tajam Alsya. "Kamu serius?"


"Iya Kak. Kaka mending pulang aja dulu cepat, jangan katakan ini pada Papa."


Nisa mengangguk tanda menyetujui ucapan Alsya. Ia pun pergi dari rumah keluarganya. Nisa tak menyangka kedatangannya menjadi malapetaka dan mimpi buruk bagi mereka, namun Nisa tidak menyesalinya, karena pertemuan tadi rindunya pun sekarang telah terobati. Ia berharap setelah masalah ini selesai ia akan membuka lembaran baru yang lebih membahagiakan.


________


Tbc

__ADS_1


Kalau rada aneh part ini jangan dibully, demi kalian aku rela nulis walau otak ku lagi ikutan terisolalsi.


__ADS_2