Tragedi Malam Itu

Tragedi Malam Itu
Part 67


__ADS_3

Beberapa Bulan kemudian


Huek huek huek


Nisa berdiri di depan cermin seraya menatap wajahnya yang pucat seperti mayat. Ia memandang lirih dirinya dari pantulan cermin toilet, beberapa hari ini ia sering merasakan sakit perut yang disertai dengan pusing. Entah ada apa dengan dirinya akhir-akhir ini.


Nisa membenarkan letak hijab yang sedang ia kenakan, pasalnya hijab nya itu dalam keadaan menggenaskan, akibat korban dari kebrutalan Nisa memuntahkan isi perutnya ke wastafel.


Ia mencuci wajahnya lalu memasukkan air ke dalam mulut untuk membersihkan rongga mulutnya dari cairan-cairan bekas muntah wanita itu sendiri. Dirasa tubuhnya lebih mendingan dari sebelumnya, Nisa pun beranjak dari sana meninggalkan toilet untuk menyiapkan makan malam.


Setelah itu juga ia harus menunggu suami serta anaknya pulang dari sekolah. Arsen menemani Gabriel di acara ayah dan anak yang diadakan oleh sekolah anaknya itu. Maka dari itu dirinya tidak ikut ke acara tersebut, sebab suaminya lah yang perlu menghadiri acara itu.


Gabriel sekarang telah berumur 7 tahun, meskipun di usianya bisa dibilang sangat kecil, anak itu sama sekali tidak terlihat seperti anak-anak pada umumnya. Gabriel lebih terlihat dewasa dari umurnya, dan entah kenapa pula sejak anaknya berulang tahun ke 7 tahun, anak tersebut lebih terlihat sifatnya mendominasi ke arah Arsen terutama sifat Arsen yang dingin dan jarang banyak bicara.


Setahunya Arsen memiliki sifat tersebut karena di masa kecilnya memiliki masalah dan sama sepertinya. Jika begitu dapat ia simpulkan jika Gabriel sedang memiliki masalah. Tapi masalah apa? Ia lihat selama ini anak itu Baik-baik saja. Apa mungkin Gabriel berubah gara-gara ditinggal Cilla ke Australia? Mungkin alasan tersebut lebih masuk akal, sebab hanya Cilla lah selama ini yang menjadi teman Gabriel.


Nisa membuka pintu toilet yang bahannya terbuat dari kaca, ia pun melangkah keluar untuk menghampiri meja riasnya dan sedikit memoles wajahnya dengan make-up, agar wajah pucatnya itu tidak terlihat. Sungguh Nisa tidak mau wajahnya yang seperti ini diketahui pembantunya di rumah dan membuat mereka merasa panik. Dia tau jika Arsen mengetahui dirinya dalam kondisi seperti ini laki-laki itu bakalan memarahi para pembantu di rumah habis-habisan karena menjaga nyonya-nya sendiri saja tidak becus.


Namun saat ia baru beberapa langkah, perutnya kembali merasakan seperti ada hantaman. Lagi-lagi ia merasakan mual yang terus menyiksa dirinya. Nisa memuntahkan cairan bening yang membuatnya keheranan cairan apakah itu. Ia memegang perutnya yang merasakan sakit, perlahan ia menggerakkan tangan tersebut di atas perut. Nisa tercekat saat merasakan sesuatu seperti benjolan di dalam sana.


Apa jangan-jangan ia terkena tumor? Yah di pikiran Nisa saat ini hanyalah penyakit jenis itu. Ia takut itu benar-benar tumor, dia tau seberapa ganas nya penyakit tersebut. Bahkan beberapa hari lalu tetangganya ada yang meninggal karena penyakit itu.


Nisa meneguk ludahnya, ia menggigit jari telunjuknya, berpikir bagaimana caranya ia menyampaikan masalah ini ke Arsen. Tapi jika dia merahasiakan penyakit tersebut juga sangat salah sekali.


"Ya Allah, ada apa dengan ku? Kenapa akhir-akhir ini aku merasa pusing? Jika benar ini penyakit, tolong angkatlah penyakit ini," lirih Nisa sambil meneteskan air mata.


Ia memegang perutnya sekencang mungkin saat merasakan isi perutnya yang seperti diaduk-aduk. Nisa tidak dapat membendung tangisan nya lagi, sakit ini benar-benar menyiksanya dan bahkan rasa sakitnya melebihi dari sakit akan melahirkan Gabriel dahulu.


"Hiks- ada apa Ya Allah dengan ku?"


Huek huek huek


Nisa menangis sejadi-jadinya di dalam kamar mandi tersebut dan tidak ada sama sekali yang mendengar rintihan kesakitan wanita itu di dalam toilet. Rasa pening bercampur mual terus menggerogoti kepalanya hingga Nisa tidak bisa lagi menahan keseimbangan tubuhnya dan jatuh ke lantai dengan posisi terduduk.


Perlahan ia menstabilakan perasaannya supaya lebih tenang. Nisa menarik napas pelan dan menghembuskan secara perlahan. Ia bersandar di tembok toilet sembari memang perutnya yang terus merasa mulas, namun sejak ia mengatur napasnya ia mulai merasakan rasa sakit yang berkurang.


"Huh___ Mas cepat pulang," pinta Nisa pelan terdengar seperti lirihan.


Ia mengusap perutnya yang entah kenapa dia tiba-tiba merasakan perutnya itu ingin diusap oleh Arsen. Entahlah kenapa sikapnya ini membingungkan sekali, bahkan dirinya sang pemilik tubuh pun susah mengenali dirinya sendiri beberapa belakangan ini.

__ADS_1


Ia tersenyum ketika dengan membayangkan Arsen mengusap perutnya, dia mulai merasa hangat di area perutnya. Sedetik kemudian Nisa langsung tersentak oleh sesuatu yang menelusup di pikirannya.


"Apa jangan-jangan aku hamil?" Nisa membeo dengan polos.


Ia langsung melirik pada perutnya yang memang terlihat lebih membuncit. Untuk lebih meyakinkan lagi Nisa pun mulai mengingat kapan terakhir dia haid? Ia membulatkan matanya ketika ia menyadari jika bulan ini ia tidak ada haid alias telat.


"Semoga ini benar tuhan," kata Nisa sembari berdiri dan keluar dari kamar mandi.


Ia mengambil testpack yang pernah ia beli waktu dulu yang mana sejak saat itu ia menyangka dirinya hamil, namun kenyataan berkata tidak, ternyata dirinya hanyalah mengalami sakit perut biasa karena salah makan. Beruntung sekali Arsen membelikan testpack dengan jumlah yang banyak.


Nisa kembali masuk ke dalam kamar mandi untuk memastikan dugaanya itu benar, namun tak bisa dipungkiri juga Nisa merasakan ragu sebab ia masih trauma dengan kajadian hari itu yang ternyata hasilnya negatif.


Wanita itu di dalam sana sedang memejamkan mata sejak selama 10 menit berlalu setelah ia melakukan test urine. Nisa menarik napas sedalam-dalam mungkin dan menyiapkan mentalnya jika saja hasil itu adalah negatif.


Ia menyipitkan matanya lalu membukanya secara pelan. Dan Nisa langsung tidak dapat menarik napas saat melihat hasilnya....


"Tuhan apakah ini benar?" Ucap Nisa sambil menangis, karena rasa haru tidak bisa ia sangkal lagi. Ia merosot di lantai sambil menggenggam testpack sekuat mungkin untuk menyalurkan perasaannya.


"Ja-jadi sekarang aku hamil?" Yah hasilnya adalah positif.


Nisa menyingkap bajunya dan tampaklah perutnya yang putih mulus. Wanita itu sambil menahan isakan seraya mengusap perutnya yang terdapat calon adiknya Gabriel.


Nisa berdiri seraya membersihkan mukanya yang terlihat seperti monster. Ia tidak mau di hari bahagia ini berpenampilan terbalik dengan suasana hatinya. Ia harus berdandan secantik mungkin agar Arsen yang datang merasa lebih segar ketika menatap wajahnya.


_________


Nisa tak hentinya menyunggingakan senyum. Bahkan pembantu-pemabantu di rumah yang melihat tingkah Nisa tersebut sangat keheranan. Nisa tidak peduli dengan pikiran mereka, yang terpenting saat ini dia harus menunggu Arsen dan Gabriel pulang dan memberikan mereka kejutan.


Ia duduk di ruang tamu sambil membaca majalah. Ia membalikan lembaran-lembaran majalah tersebut dan sama sekali tidak membacanya. Ia hanya melihat majalah-majalah itu dengan bosan. Di pikiran Nisa saat ini tidak sabar menunggu orang tercintanya pulang. Dia tidak akan menyampaikan berita bahagian ini ke orang lain sebelum Arsen dan Gabriel mengetahuinya.


Nisa menghela napas dan menutup majalah itu. Ia pun melemparkan majalah tersebut ke meja sambil memajukan bibirnya kesal. Merasakan sangat lama sekali mereka datang Nisa pun melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


17:04 WIB


"Huh lama sekali mereka."


Tok


Tok

__ADS_1


Tok


Mendengar ketukan pintu Nisa pun menjadi kembali semangat lagi. Ia langsung berdiri dan berjalan menghampiri pintu dengan penuh semangat. Setiap kakinya melangkah seakan langkah itu menyiratkan kebahagiaan tiada tara.


"Itu pasti mereka."


Nisa pun melirik testpack yang berada di tangannya sebelum menarik napas dan membuka pintu tersebut. Hingga terlihatlah dua orang sedang berada di luar sana yang saling bergandengan.


Nisa mendengus kecewa ketika mengetahui siapa mereka, "Oh. Ka ibel, Ka Habib. Ada apa kalian kemari?"


"Kok adik Kaka ngomongnya gitau, nggak suka ya kalau Kak Habib yang datang?"


Seketika Nisa langsung gelagapan. Ia menggaruk tengkuknya, "Eh suka kok." Nisa melirik ke tangan Ibel dan Habib yang saling bertautan. "Kenapa kalian gandengan? Kalian kan masih tunangan? Bukan muhrim tau."


Ibel memutar bola mata malas dengan komentar Nisa. Ia melepaskan genggaman tangannya dari Habib.


"Ye eleh Nisa, lu aja tunangan dengan Arsen aja gandengan tangan terus dan bahkan lo pernah cerita ke gue kalau lo sampai ci---"


"Stop..." potong Nisa sebelum Ibel membongkar semuanya di depan Habib, ia sungguh malu.


"Emang mereka kenapa Bel?"


Ibel menatap wajah Nisa yang pucat, "nggak papa kok." Tatapan Ibel turun ke tangan Nisa dan ia sangat terkejut melihat benda itu yang menunjukkan garis dua dengan jelas. "Astaga lo hamil lagi Sa?"


"Hah? Eh itu...."


"Apa? kamu hamil sayang?" Ucap sebuah suara dari belakang Ibel dan Habib. Orang tersebut yang tak lain dan tak bukan adalah Arsen yang sepertinya baru saja datang.


______


Tbc


Like dan Comen


Kenapa umur Gabriel 7 tahun?


\=> Jadi waktu Gabriel datang ke Jakarta umurnya 5 tahun. Terus sewaktu Nisa nikah umurnya 6 tahun lebih, nggak mungkin dong Gabriel umurnya netap terus? Lalu di atas ada keterangan kan "Beberapa bulan kemudian" kemudian umurnya Gabriel nambah lagi jadi 7 tahun.


Gabriel

__ADS_1



__ADS_2