
Suara kicauan burung dari ranting-ranting pepohonan di tepi rumah terdengar sangat sayahdu, suara sahutan burung-burung tersebut dapat membangunkan seorang wanita yang tengah terlelap di dalam kamarnya. Wanita itu menggeliat di tempat tidurnya, namun tiba-tiba ia merasa ada yang salah dengan dirinya. Ia merasakan seperti ada sebuah lengan kokoh yang melingkari pinggang rampingnya.
Tidak mau berpikiran yang aneh dan berharap apa yang dirasakannya adalah salah lantas wanita itu meraba sesuatu yang melingkari pinggangnya tersebut.
Deg
Jantung Nisa berdetak saat merasakan kulit tangannya bersentuhan dengan kulit tangan seseorang. Ia membuka matanya secara pelan untuk memastikan dengan matanya sendiri. Samar-samar wanita yang baru bangun tidur itu merasakan kumpulan sinar matahari yang menusuk indera penglihatannya.
Ketika mata itu benar-benar terbuka, ia pun membuka selimut yang menutupi tubuhnya. Hampir saja ia berteriak jika dia tidak menutup mulutnya menggunakan kedua tangan milik perempuan tersebut.
Matanya membelalak secara sempurna saat melihat lengan seseorang yang melingkari perutnya dan hal yang menambah dada Nisa semakin tidak karuan adalah ketika dia mendapatkan tubuhnya yang tidak tertutupi sehelai pun pakaian. Tuhan apa yang telah dilakukannya semalam?
Secara pelan ia memutar kembali kejadian malam tadi, dan ia hanya menarik napas ketika telah mengingat semuanya. Dia baru sadar jika dirinya telah menikah. Nisa bergerak secara pelan dan mengubah posisi baringnya menjadi menghadap Arsen yang tengah memeluk perutnya dari belakang.
Nisa tersenyum saat mendapatkan wajah polos Arsen yang masih tertidur. Sungguh wajah itu membuatnya selalu kehilangan akal sehat dan apa yang telah mereka lakukan kemarin semakin manambah khayalan kotor Nisa. Dengan secara pelan ia mengangkat tangannya untuk menyentuh wajah bak bayi kecil menggemaskan itu. Tangan tersebut terletak di kening Arsen, lalu secara pelan ia menurunkan tangan tersebut dan melalui bagian-bagian wajah Arsen yang sangat menakjubkan.
Dapat dirasanya saat jemari tangannya menyentuh alis tebal milik Arsen, lalu turn ke bulu mata lentik milik laki-laki itu. Ia tersenyum simpul saat mendapatkan begitu indahnya bulu mata tersebut. Nisa kembali menelusuri setiap jengkal wajah Arsen, mulai dari hidung mancung, kemudian turun ke bibir dan sampai tangannya terhenti di dada bidang milik laki-laki itu.
Sesuatu yang berdetak secara tidak beraturan di sana menciptakan kernyitan di dahi Nisa. Buru-buru ia mengangkat kepalanya dan yah.... mata Nisa bertemu dengan mata menenangkan Arsen.
Untuk sejenak Arsen mengunci pandangan mereka. Setelah sekian lama mereka bertatapan ia tersenyum miring yang menambah kegugupan Nisa. Ia mengusap kepala wanitanya begitu hangat, sehingga membuat dada Nisa kembali normal.
"Sudah puas baby menatap ku? Bagaimana aku tampan bukan?" Goda Arsen sambil mengangkat satu alisnya lalu mengedipkan sebelah matanya.
Nisa menghembuskan napas seraya membuang wajahnya. Ia saat ini tidak bisa menahan malu karena sudah tertangkap basah telah mengamati laki-laki itu. Sebuah rona merah muncul di wajahnya yang tak dapat ia tampik. Dan Arsen yang melihat pun terkekeh dibuatnya.
Lelaki itu menarik Nisa ke dalam pelukannya. Pelukan itu begitu erat dan posesif sehingga Nisa dapat merasakan tubuhnya yang hampir remuk. Laki-laki itu meletakkan dagunya di pundak Nisa. Tangan Arsen juga tidak tinggal diam, ia menguasap pelan surai Nisa yang memiliki aroma lemon.
"Jangan malu sayang. Aku ini suami mu, jadi apa pun yang kamu lakukan kepada ku semuanya adalah pahala, namun selama kau menjadi istri yang manis tentunya."
Nisa mendengar ucapan Arsen tersebut hanya tersenyum kecil, dan kemudian ia membenamkan kepalanya di dada Arsen semakin dalam untuk mencari kenyamanan di sana.
"Hm," balas Nisa kecil.
Sekian lama dalam posisi itu Arsen pun mengurangi pelukan mereka hingga wajah sempurna kedua mahluk Tuhan itu saling bertemu. Keduanya sama-sama tersenyum, dan sedetik kemudian Arsen mengecup puncak kepala Nisa lalu laki-laki itu pun mengecup bibir merah merekah milik perempuan itu.
"Morning kiss baby," ucap Arsen, lalu ia pun menunjuk bibirnya menggunakan telunjuk mengisyaratkan agar Nisa mengecup bibirnya.
Nisa yang paham pun menggelengkan kepala. Ia sungguh masih sangat malu untuk melakukan hal tersebut.
__ADS_1
"Ayolah baby. Bibir ini selalu kebas jika belum dicium oleh bibir lembut mu itu," ucap Arsen sambil memanyunkan bibirnya yang semakin membuat Nisa menggelangkan kepala.
Mendapatkan respon yang tidak diharapkan dari Nisa lantas membuat Arsen semakin menyeringai. Tiba-tiba laki-laki itu mengubah posisi tubuhnya menjadi di atas Nisa, lelaki itu juga tidak lupa memberikan seringaian maut andalan milik laki-laki itu, dan siapa pun yang melihatnya tidak dapat mencegah rasa takutnya.
"Mau apa kamu?" Tanya Nisa sedikit gugup. Dirasa ada alarm berbahaya maka Nisa bersiap-siap jika ada sesuatu yang membuat pihaknya dirugikan.
Ketakutan Nisa semakin menjadi saat ia melihat Arsen tak menggubris perkataannya. Nisa semakin mencengkeram selimutnya saat kepala Arsen semakin dekat dengan wajahnya. Untuk mengurangi kegugupan di dadanya, Nisa pun menggigit bibir bawahnya yang semakin menantang gairah Arsen.
Lelaki itu semakin tergoda saat Nisa terlihat sensual di matanya dengan menggigit bibir bawah milik perempuan itu. Arsen tidak dapat mengontorol nafsunya, apalagi yang di bawah sana telah mengeras untuk dipuaskan.
Tidak peduli dengan Nisa, Arsen mendekatkan wajahnya lalu bibir laki-laki itu menyentuh bibir wanita tersebut. Laki-laki itu memperdalam ciuman mereka, tangan kirinya menahan tengkuk Nisa, lalu tangan kanan nya turun di area payudara Nisa dan meremasnya. Hingga satu ******* yang tak tertahankan pun lolos dari bibir Nisa.
"Ahhhh." Nisa mendorong dada Arsen sehingga laki-laki itu menghentikan aksinya. Dan Nisa dapat bernapas lega walau napasnya masih tersengal-sengal. "Arsen berhenti."
Arsen kembali mendekatkan wajah nya ke wajah Nisa dan berniat ingin mengulangi perbuatannya tersebut.
"Sudah Arsen. Aku lelah."
Arsen mengecup bibir Nisa sekilas lalu tersenyum. "Kalau begitu cium bibir ku baby, baru aku akan berhenti."
"Nggak ada syarat yang lain apa?" Tanya Nisa cemberut, pasalnya ia belum terbiasa dengan melakukan hal itu. Seumur-uumur hidupnya tidak pernah melakukan hal itu karena ia sangat jarang berdekatan dengan laki-laki.
"Tutup mata mu," perintah Nisa dengan rona merah di wajahnya.
Dan dengan senang hati Arsen menutup matanya. Ketika mata itu telah tertutup, Nisa menarik napas dalam lalu mendekatkan bibirnya ke bibir Arsen.
Cuppp
Nisa Buru-buru menjauhkan wajahnya dan berniat ingin kabur setelah mencium bibir Arsen. Ia tidak tau wajahnya seperti apa, namun ia merasakan pipinya saat ini sangat panas.
"Kamu mau kemana sayang?" Tanya Arsen dan memeluk Nisa dari belakang agar wanita itu tidak kabur darinya.
Arsen menciumi punggung sang istri yang tampak mulus, dan dia pun menjauhkan kepalanya dan mengambil sedikit helaian rambut Nisa dan memilin rambut itu sesuka hatinya. Ketika menyibak sedikit rambut Nisa, Arsen langsung dibuat tersenyum saat melihat hasil karyanya di tubuh sang istri, yang merupakan kiss mark yang tampak memenuhi leher sang istri.
"Arsen aku mau mandi."
"Sebentar. Aku ingin seperti ini, tapi tidak ada kah ronde kedua hm?"
"NOOO," teriak Nisa cepat. Ia berusaha kabur dari kekangan tubuh suaminya, namun percobaan melarikan diri wanita itu gagal total saat tenaga Arsen yang dua kali lipat lebih kuat darinya menahan pinggangnya.
__ADS_1
"Arsen lepasin."
"Nanti dulu sayang. Nisa kenapa malam tadi kau tidak perawan lagi? Aku sungguh kecewa baby."
Nisa yang mendengar ucapan Arsen tersebut ingin sekali langsung memakan lelaki itu hidup-hidup. Dia pikir siapa yang membuatnya tidak perawan lagi? Dan sekarang pria itu ingin protes? Dasar menyebalkan.
"Kau pikir mengapa aku tidak perawan lagi. Salah mu sendiri. Jika kamu ingin mendapatkan jawabannya silakan berpikir sendiri Tuan muda terhormat." Selepas berkata seperti itu sebuah pukulan bantal dari Nisa melayang ke kepala Arsen sebagai hadiah laki-laki tersebut berucap seperti itu.
"Sudahlah lepaskan aku. Aku ingin mandi, menjauh dari ku. Bukanya kamu kecewa ya aku sudah tidak perawan lagi?" Nisa bangkit dan membalutkan selimut ke tubuhnya untuk menutupi tubuh telanjang wanita itu.
"Tapi aku sedikit bernapas lega sayang, karena yang mengambil keperawanan mu itu adalah Arsen Wijaya Altas. Apa kamu mengenal Arsen sayang? Ku rasa jika aku bertemu dengannya perlu menghajarnya sampai sekarat karena telah berani menyentuh istri ku yang pertama kalinya."
"Aku sangat mengenalnya. Dia adalah lelaki paling menyebalkan yang pernah aku temui di dunia ini," ucap Nisa sembari mendorong pintu kamar mandi.
"Ha ha ha. Baby apa kamu tidak mengajak ku mandi?!" Teriak Arsen yang mana setelah itu suara bantingan pintu kamar mandi menggema di dalam kamar tersebut.
"Jangan harap kau pernah mandi dengan ku!!" Teriak Nisa dari dalam kamar mandi.
Nisa sangat tau sekali jika mereka mandi bersama, mereka tidak akan pernah benar-benar mandi. Mungkin ada hal lain nantinya yang akan terjadi yang mana seharusnya waktu mandi yang tidak menghabiskan waktu selama 20 menit dan mungkin mandi bersama dengan Arsen bisa menjadi 1 jam lebih.
.
.
.
.
.
Setelah beberapa lama Nisa masuk ke dalam kamar mandi seorang yang menatap nya dari belakang merebahkan tubuhnya yang amat terasa lelah akibat perbuatannya malam tadi yang menguras tenaga.
Arsen menatap Nisa dan sedikit tersenyum kecil, ini adalah pagi pertamanya saat bangun tidur dapat tersenyum dengan tulus. Senyuman seakan tenggelam dalam hidupnya sejak sekian lama setelah ia kehilangan cinta pertamanya, namun senyum itu secara perlahan terbit mulai dari senyuman kecil hingga senyuman lebar.
Ia menelentangkan tubuhnya dan meletakkan kedua tangannya di atas kepala. Mata laki-laki itu lurus menatap ke atas, tidak ada apa-apa di sana hanya saja ia lebih nyaman kala melihat warna putih langit-langit kamarnya. Ia memejamkan mata sejenak untuk menenangkan pikiran berharap ia bisa kembali tertidur.
Kilasan masa lalu yang secara kepingan mulai memenuhi kepalanya, hingga sampailah kepingan tersebut memutar kejadian malam tadi. Ia tersenyum miris saat mengingat masa lalu yang penuh dengan kata suram, tidak ada kebahagiaan yang ada hanya penderitaan yang dirasakan secara diam-diam. Namun ia cukup lega karena Tuhan bersikap adil atas takdir hidup mereka, kini kesedihan telah terbalaskan dengan senyuman.
Pejaman mata Arsen yang mulai merasa nyaman itu pun tiba-tiba harus terganggu dengan sebuah deringan ponsel di atas nakas. Ia mendengus sebelum akhirnya lebih memilih membuka mata dan melihat siapa yang telah berani mengganggu kenyamanannya.
__ADS_1