Tragedi Malam Itu

Tragedi Malam Itu
Part 35


__ADS_3

POV Nisa


Ketika mendengar suara adzan berkumandang, aku segera membuka kedua belah mataku yang masih setia terpejam. Secara pelan ku buka kedua kelopak mata yang terasa lengket seperti ada lem yang merekat. Samar-samar ku tatap ruangan yang tak asing lagi di mataku, ini bukannya di dalam kamar diriku sendiri ya?


Aku menghela napas, sepertinya aku malam tadi tertidur di dalam mobilnya Arsen. Mengingat nama Arsen dan laki-laki tersebut telah mengantar ku, dan aku yang tertidur. Dengan cepat aku bangun dari posisi tidur ku lalu melirik sakujur tubuhku. Melihat semua pakaian yang masih lengkap membuat diriku menarik napas lega, untung tidak terjadi apa-apa  dengan diriku. Jika sempat hal itu terjadi kembali, maka aku tak salah menyebut diriku bodoh.


Ku lirik ke samping, seorang bocah laki-laki meringkuk dengan wajah damainya. Aku tersenyum, lalu mengusap anak itu dengan hati-hati agar tidak membangunkan Gabriel yang masih bersama mimpinya. Saat hendak kembali mengalihkan pandangan, sebuah jas hitam yang terletak di samping Gabriel serta banyak bagian kasur yang banyak tidak terisi membuatku kebingungan.


Apakah Arsen tidak membawa pulang jasanya?  Bukankah jas itu sangat mahal? Ah masa bodoh lah, orang kaya mah bebas mau dibuang pun baju mahal yang mereka punya, mereka biasa-biasa aja. Tapi satu yang mengganggu pikiran ku, yaitu masih banyak muatan kasur di samping Gabriel, seperti bekas seseorang tidur. Tidak mungkinkan Arsen, apa mungkin kak Ibel?


Tidak mau ambil pusing dengan hal itu, aku menyingkap selimut yang membalut tubuh ku lalu turun dari ranjang. Sejenak ku berdiri dan melepas hijab yang ku kenakan, kemudian hijab tersebut ku letak pada keranjang pakaian kotor.


Saat hendak masuk ke dalam kamar mandi, aku mengambil handuk lalu setelah itu membuka gelang jam yang ada di tanganku. Aku melangkah keluar menuju kamar mandi yang terletak di luar kamar. Samar-samar aku mendengar suara percikan air dari dalam kamar mandi seperti ada orang yang sedang malakukan ritual mandi pagi.


Saat orang tersebut keluar, aku melemparkan senyuman kepada orang tersebut. Kak Ibel yang mendepat senyuman dari ku bukannya membalas tetapi malah membuang muka. Sontak kejadian itu membuat diriku terheran-heran. Sebelum masuk ke dalam, aku sempat berpikir apa penyebab kak Ibel marah kepada ku, apakah aku ada melakukan kesalahan terhadapnya? Tapi seingat ku, aku tidak ada membuat masalah dengan kak Ibel. Mungkin mood nya saja yang membuat kak Ibel berbeda hari ini.


Aku menarik napas lalu mencebik bibir ku, kemudian masuk ke dalam kamar mandi untuk melaksanakan kegiatan rutin yang selalu ku lakukan di pagi hari, mandi dan mengambil wudu. Saat telah selesai, aku keluar dari dalam kamar mandi dan sudah mengenakan pakaian lengkap. Baju yang aku kenakan saat ini sungguh sangat indah, desain-desainnya terlihat sangat unik, tapi yang pasti harganya sangatlah mahal melintir. Mungkin jika aku belikan ke makanan untuk satu bulan, takkan habis.


Saat hendak menuju ke dalam kamar untuk melaksanakan sholat subuh, aku bertemu dengan Gabriel di tengah jalan. Anak tersebut berjalan dengan mata terpejam menuju kamar mandi. Aku yang melihatnya ingin sekali tertawa gelak melihat tingkah anak itu yang ada-ada saja.


"Iel jalannya jangan sambil pejaman mata, entar nabrak," nasehat ku lalu mendekat pada anak tersebut.


Ia dengan cepat membuka matanya dengan malas ketika mendengar suara ku. "Eh bunda," cengirnya seraya menampakkan sederet giginya, namun di bagian tengah terdapat giginya yang ompong, tidak terlalu banyak tapi cukup bisa membuat orang tergelak melihatnya.


"Cepat mandi, atau bunda yang akan mandikan Iel?" Dapat aku lihat reaksi anak ku saat aku mengucapkan kalimat tersebut. Anak itu lantas menggeleng cepat tidak ingin dimandikan oleh ku, sungguh menggemaskan sekali.


Gabriel segera berlari ke dalam kamar mandi ketika aku hendak menangkapnya. Dengan pandangan penuh kebahagiaan aku melihat tingkah anak tersebut, di dalam lubuk hati yang terdalam aku sangat bersyukur telah mempunyai anak tersebut yang selalu penuh dengan keceriaan.


Aku kembali melanjutkan perjalanan. Sesampainya di depan pintu kamar, aku mendorong pintu tersebut seraya masuk ke dalamnya.


Aku mengambil mukenah di lemari beserta sejadahnya, lalu kemudian melaksanakan kewajiban ku seorang muslim. Setelah salam aku terlebih dahulu bertasbih dan melantunkan ayat suci Al-Qur'an. Sebulir air mata jatuh ke permukaan wajah ku, di sini aku menghadap tuhan, yang mana ialah telah menciptakan diriku dan dia pula lah mengatur takdir diri ku. Aku merasa diriku tak suci lagi, apakah pantas dosa-dosa ku ini dimaafkan olehnya, aku merasa hina di depan nya.

__ADS_1


Aku kembali meletakkan Al-Qur'an di tempatnya dan membereskan alat-alat yang aku gunakan tadi untuk menghadap tuhan. Sesaat kemudian aku berdiri di depan cermin. Secara seksama aku memperhatikan penampilan ku. Namun, tiba-tiba saja aku merasakan seperti ada seseorang menarik-narik tangan ku di bawah sana. 


"Bunda! Ambilkan baju Iel di atas sana," tunjuk Gabriel pada lemari bagian atas.


"Baiklah."


Aku mengambilkan baju seragam TK nya lalu membantu anak itu mengenakannya. Aku berdiri setelah selesai memakaikan anak tersebut baju, lalu barulah aku mengenakan hijab dan sedikit berdandan.


Ku lirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kiri, sepertinya sebentar lagi taksi yang aku pesan tadi akan datang. Aku berjalan mendekati rak sepatu dan mengambil salah satu dari jejeran sepatu itu.


Sebuah getaran di hp yang berada di dalam saku jas, membuat pergerakan ku terhenti. Aku melihat ponsel tersebut, lalu segera berlari keluar sebab aku tadi mendapatkan notif  bahwa taksi yang aku pesan ternyata telah sampai.


"Kak Ibel!! Tolong anterin Iel ke sekolahnya ya, Nisa harus cepat nih," teriak ku sambil menutup pintu kontrakan.


"HMM!!!!"


__________


Derap langkah kakinya terdengar cepat, semua orang menatap dia. Ada sebahagian orang menatap sekilas, dan ada pula yang menatap perempuan tersebut  sembari menggeleng kepala. Nisa berlari menuju lift, namun sebelum itu ia mengisi absen kehadiran terlebih dahulu.


Perempuan itu terlihat gelisah sekali, dan tambah dibuat gelisah ketika ia menekan-nekan tombol lift namun lift tersebut tak kunjung terbuka. Keringat membasahi di sekitar wajahnya, rasa gugup dan takut menghampiri perempuan itu.


Ting...


Ia menarik napas kelegaan saat mendengar dentingan dari lift tersebut. Nisa masuk ke dalam lift, di dalam dirinya hampir saja luruh ke bawah akibat lelah yang ia rasakan. Napasnya tersengal-sengal tak beraturan. Pintu lift terbuka yang menyatakan bahwa Nisa telah sampai pada lantai yang menjadi tempat tujuan perempuan itu.


Wanita itu melangkah seperti biasa tidak terlalu santai dan tidak pula terlalu terburu-buru. Selangkah demi langkah ia berjalan hingga sampailah pada pintu yang menjadi pembatas antara sekretaris dengan ruangan CEO.


Sekretaris tersebut menyapa Nisa dengan sebuah senyuman terbaiknya, ia juga memanggil Nisa dengan suara yang ramah. Kontan Nisa yang mendapatkan perlakuan baik itu langsung merespon semua perlakuan sekretaris tersebut juga dengan baik. Sebelum mendorong pintu, ia terlebih dahulu membenahi segala penampilannya agar ia nanti tidak dicap memalukan oleh Arsen, mau tidak mau ia harus menuruti segala peraturan yang telah laki-laki itu buat untuknya selama menjadi asisten pribadi pria tersebut.


Terkadang ia berpikir, mengapa orang kaya itu semena-mena? Mereka menganggap kehidupan adalah sesuatu yang sepele dan sebuah permainan. Bagaimana tidak ia berpikiran seperti itu, menurut dari novel-noevel yang telah ia baca, sering kali orang kaya selalu berperan antagonis, mereka melakukan apa saja termasuk membunuh demi mencapai keinginan mereka yang bisa dianggap egois.

__ADS_1


Mungkin apa yang ada di dalam novel hanyalah Fiksi, namun wanita tersebut beranggapan bahwa, apa yang orang kaya lakukan di dalam Novel sewaktu-waktu bisa terjadi, atau bahkan memang sudah terjadi. Dan dari itu pula pikiran Nisa memproses, atau jangan-jangan Arsen tidak ada bedanya dengan laki-laki kaya di dalam novel. Sepertinya hal tersebut benar.


Persetanan dengan itu semua, buat apa dia memikirkan orang yang tidak memikirkannya. Menghabis-habis kan waktu saja mencerna semua itu. Lebih baik dia masuk ke ruangan itu saja secepatnya sebelum bos besar sok berkuasa seperti raja itu mengamuk-ngamuk dan memakinya.


Kala pintu dibuka, sebuah pemandangan membuat Nisa mengernyitkan keningnya. Sepertinya Arsen sedang kedatangan tamu, Nisa ingin keluar tidak mau membuat pembeciraan seperti rahasia itu terganggu karenanya. Tapi, niatnya ia urungkan ketika mendengar suatu Fakta yang sedang ia cari.


"Mengapa kau masih saja menjadi Alex Wijaya Altas, menurut ku menjadi orang lain bukan lah hal yang menyenangkan. Dan membuatku tak habis pikir mengapa kau bahkan menutup kebenarannya kepada Dive, bukankah dia orang yang setia dengan mu Sen? Atau kau lebih senang dengan nama barumu itu?" Tanya Vian sambil menyilangkan kedua kakinya, ia menyesap dalam rokok yang ada di tangannya.


"Tidak ku sangka seorang dokter bisa merokok, aku kira dokter hanya memikirkan kesehatan, menurut ku kau sungguh tidak cocok memiliki profesi itu. Ternyata kau tidak berubah juga Vian."


"Sudahlah Sen, lebih baik kau jawab saja terlebih dahulu pertanyaan ku. Aku tau ini tidak benar, dan mungkin lebih pintar pasien ku dari pada aku sendiri."


Arsen terkekeh, "tak ku sangka kau mau mengakuinya." Ia menarik napas sejenak, "pada saat itu aku bangun dari koma ku yang memakan waktu sebulan lamanya. Waktu itu aku tidak mengingat apa-apa bahkan mengingat satu menit yang lalu saja aku sangat susah sekali. Mereka orangtua ku datang, ketika mengetahui aku telah sadar. Aku melihat mereka seperti sangat bahagia, namun aku juga mendapatkan sebuah hal yang sangat mengganjal.


Mereka menyebut nama ku pertama kalinya dengan sebutan Alex, dan mulai dari situ aku berpikir mungkin nama ku adalah Alex. Hari-hari ku jalani seperti biasa dan tak merasakan kecurigaan apa-apa. Ketika aku hendak masuk ke dalam suatu ruangan seperti ruang rahasia, aku menemukan banyak sekali barang-barang atas nama Arsen. Tidak sampai disitu, aku mencari tahu siapa Arsen, dan aku menemukan sebuah kenyataan yang membuat ku tak percaya, ternyata Arsen adalah anak dari orangtua ku. Aku yang merasa heran waktu itu segera menanyakan siapa Arsen dan siapa aku. Mereka mengatakan bahwa Arsen adalah saudara kembar ku, mereka tiba-tiba berubah sedih namun hal itu terlihat sekali hanyalah akting.


Mereka mengatakan bahwa Arsen telah meninggal akibat kecelakaan. Karena aku merasakan sesuatu yang aneh, maka aku berinisiatif untuk mencari semua kebenarannya. Ternyata tak ku sangka aku mendapatkan sebuah kenyataan yang membuat ku tidak percaya, sebuah kenyataan yang tidak pernah terbayangkan di benakku, ternyata Arsen adalah diriku sendiri. Mereka sengaja memanfaatkan hilang ingatanku dan mengganti nama ku menjadi Alex, tujuan mereka adalah ingin membuat hidup ku yang baru, mereka tau bahwa aku sangat membenci mereka, dan juga mereka tau bahwa aku tidak ingin dijodohkan apalagi perempuan itu adalah Alinta. Mereka melakukan perjodohan  hanya untuk bisnis. Lain itu juga mereka membenci Bakat ku menjadi seorang pelukis, mereka ingin aku menjadi pebisnis. Maka dari itu ia melakukan hal tersebut kepada ku, mengganti nama menjadi Alex, mereka belum mengetahui bahwa aku telah mengetahui semuanya, jadi itu lah penyebab aku merahasiakan semuanya termasuk kepada Dive. Biarkan mereka merasa menang terlebih dahulu dan merasa telah berhasil memengaruhi otak ku. Maka aku membiarkan saja mereka masih menganggap ku Alex dan tidak tau bahwa aku telah mengetahui bahwa diriku adalah Arsen. Aku sengaja menyimpan identitas ku di Indonesia ini, satu-satunya orang yang mengetahui itu hanya kau Vian. Jika kau berani membocorkan, maka aku tak segan-segan membuat mu tak dapat melihat matahari besok." Jelas Arsen panjang lebar, membeberkan apa maksudnya masih menyamar menjadi Alex, dan memakai namanya jika ada orang yang tidak mengetahui siapa Alex, contohnya Nisa.


"Wow. Ku akui kau, memang pintar. Tapi sayang aku lebih pintar dari mu," kata Vian dengan wajah percaya dirinya.


Arsen memandang Vian dengan geli, "pede sekali kamu," ucap Arsen sinis.


"Sepertinya ada orang lain di tengah-tengah kita." Arsen langsung menatap ke arah pandangan Vian.


Nisa terperanjat ketika Vian mengucapkan itu, ia segera keluar dari persembunyian dan memberanikan diri mencairkan susana dengan seulas senyum.


"Ngapain kamu di situ?" Tanya Arsen membunuh.


________


TBC

__ADS_1


__ADS_2