
"Loh Sa! Lo ngapaian ada di ruangan pak Alex? Kamu ngapain ke kantor gue? Mau ketemu sama gue ya? Sa kenapa nggak bilang-bilang dulu sih ke gue tadi pagi," ucap Ibel bertubi-tubi. Padahal orang yang ditanyai pun sama sekali tak mengerti, ia juga sedang mencerna keadaan sekarang.
Nisa menggaruk dagunya lalu menatap Arsen yang ada di samping. Namun orang yang ditatap acuh tak acuh. Sebuah perasaan seperti dalam sebuah game dan dipermainkan pun ia rasakan.
"Kak Ibel ngapain kesini? Kak Ibel kerja di sini ya?" Tanya Nisa seperti orang pangling.
"Loh ini kantor gue Sa. Bukannya lo bilang mau kerja di tempatnya ikan asin itu ya. Kok nangkring di sini dulu sih, entar bos gila lo marah lagi." Sedangkan dalam hati Nisa menegak slivanya, perkataan Ibel seperti sebuah ancaman buruk baginya. Nisa berdoa di dalam hati agar ucapan Ibel bukanlah sesuatu yang membawanya ke jurang masalah.
Seakan teringat sesuatu, Nisa langsung sadar atas kebodohannya selama ini. Ia baru sadar, bukannya Ibel kerja di sebuah perusahaan yang bernama Wijaya Altas Group, yang berarti sama dengan tempat ia bekerja. Ia berdecak kagum, begitu hebat takdir melilit mereka semua sehingga terlibat pada satu masalah yang hampir sama.
Sebelum berkata Nisa terlebih dahulu melirik Arsen, lalu ia menatap Ibel yang ada di depannya. "Kak Ibel nanti aja Nisa jelaskan semuanya."
"Loh Sa kenapa?"
"Anu--ceritanya panjang banget, mendingan Kak Ib---," perkataan Nisa terhenti oleh sebuah suara bass dari sampingnya.
"Kamu siapanya dia?" Tanya Arsen sembari memasukkan kedua telapak tangannya pada celana bahan yang ia kenakan.
"Dia adik saya pak," kata Ibel mantap
"Oh. Pantasan kalian terlihat sama, ternyata seangkatan." Laki-laki tersebut melirik sinis Ibel lalu menatap orang yang ada di sampingnya sama tak kalah sinisnya.
"Maksud bapak?" Tanya Ibel tak mengerti.
"Kamu keluar," perintah Arsen tiba-tiba sama dengan tidak ada angin, tidak ada hujan namun secara mengejutkan timbul pelangi. Sungguh sebuah keadaan yang rumit.
"Ke-kenapa pak, saya belum beresin pecahan kacanya pak." Ibel berjongkok berniat ingin mengumpulkan serpihan kaca. Baru saja ia hendak menyentuh beling tersebut, sebuah larangan mengejutkannya hingga hampir saja ia tertusuk beling-beling tajam itu.
"Jangan kau bereskan, biarkan saja adik mu ini yang akan membereskannya. Cepat kau pergi sebelum ku pecat kamu."
Nisa yang tadinya hanya menonton, langsung terkaget tak percaya, mulutnya ternganga matanya membesar. Apa yang dikatakan Arsen tadi? Tidak salah apa, ia yang akan membersihkan pecahan gelas tersebut, yang pastinya itu bukanlah perbuatannya. Uhh Arsen selalu seperti itu, ternyata sikap dingin dan penyiksa tak pernah hilang pada diri pria itu. Sungguh kejutan di hari pertama kerja, ternyata pekerjaan yang ia lakukan untuk pertama kalinya di perusahaan ini adalah membereskan pecahan gelas. Ia pikir hari pertamanya bekerja akan dipenuhi dengan tumpukan-tumpukan kertas memeningkan kepala.
"Ba-baik pak saya keluar." Sebelum Ibel benar-benar hilang dibalik tembok, ia terlebih dahulu melirik Nisa. Pancaran matanya menjelaskan bahwa ia sungguh meminta maaf, atas kelalaianya.
Sesudahnya Ibel keluar, Arsen duduk di tempat kursinya bekerja. Ia menyilangkan kedua kakinya, lalu tangan dilipat di dada. Seolah sedang menunjukkan bahwa ia adalah seorang penguasa di dalam Perusahaan tersebut.
Sikap Arsen yang jelas sengaja ditujukan kepadanya, membuat ia semakin membenci pria tersebut. sesuatu terbalik ia rasakan, seharusnya ia yang marah, seharusnya ia yang bersikap seperti itu kepada Laki-laki itu, seharusnya ia yang akan memerintah Arsen semaunya, bukan dia.
Namun kembali lagi pada uang, ternyata pengaruh uang sangat besar bagi hidup seseorang. Ia ingin menolak semuanya, tapi ancaman dari pria tersebut membuat rencananya goyah. Jika ia menolak pekerjaan menjadi asisten pribadi Laki-laki tersebut, maka kemana pun ia mencari pekerjaan sampai ke pelosok pun takkan ia pernah dapatkan.
Sedangkan ia sangat membutuhkan uang untuk membiayai kehidupannya, jika ia tidak bekerja bagaimana nasib orang-orang yang memang membutuhkannya. Dilain sisi juga, jika ia menolak kemauan Arsen, maka dapat dijamin bahwa kemungkinan selamanya ia tak dapat melihat Gabriel lagi. Ia tidak mau kehilangan buah hatinya, yang menjadi satu-satunya semangat hidup dirinya sekarang.
"Cepat bereskan! Pakai bengong lagi," marah Arsen dan melemparkan tatapan marahnya pada Nisa.
Nisa menarik napas tertahan, sebuah ulasan senyuman ia berikan pada Arsen, air matanya hampir saja keluar jika ia tak berusaha menahannya. Kenapa rasa sakit berkepanjangan selalu ia rasakan. Semuanya tak adil baginya.
Nisa mengambil sebuah tempat yang bakalan ia gunakan untuk meletakkan pecahan gelas tersebut. Ia memunguti satu-satu benda kecil namun tajam itu. Dengan hati-hati ia melakukannya agar jari-jari tangan lentik miliknya tak tertusuk.
__ADS_1
"Auuu." Sebuah ringisan kecil lolos dari bibir wanita itu. Nisa berhenti sejenak, kemudian ia memegang jarinya yang tertusuk salah satu beling, darah keluar dari lubang kecil itu. Nisa meniup-niup jari telunjuknya agar mengurangi rasa sakit.
"Kenap berhenti, cepat bereskan. Jangan lelet jadi orang itu. Lambat banget sih, kamu satu spesies ya dengan keong." Nisa menatap bos nya itu yang sedang memperhatikannya.
Nisa menggerutu sebal, apa bosnya itu tidak bisa melihat apa, jelas-jelas ia sedang terluka. Nggak mungkin dong ia memilihi benda tajam tersebut dengan kondisi tangannya yang terluka seperti ini. Sepertinya bosnya itu memiliki kelainan saraf, ya Nisa yakin itu.
"Sabar pak, tangan saya sedang terluka."
"Luka kecil begitu dimasalahkan, dasar manja kamu. Cepat bereskan semua, pekerjaan mu sudah bertumpuk," ucap Arsen sambil melihat-lihat dan membolak balikan kertas yang berada di tangannya, "cepat."
"Iya, IYA, sabar ngapa pak."
Arsen mengangkat kepalanya dan melirik Nisa, kacamata yang berada sebatas hidung menambah kesan tampan pada Laki-laki itu.
"Kamu sudah berani membentak saya ya?"
Nisa geram, dengan rasa kesal yang sudah mendarah daging pada dirinya. Ia memunguti beling tersebut dan membersihkan tumpahan kopi, tanpa mau tahu dengan tangannya yang sudah meneteskan darah, yang terpenting baginya tak mendengar suara membosankan bos nya yang bisa membuat tensi wanita tersebut mendadak tinggi.
Kala benar-benar tak ada lagi beling yang tertinggal, Nisa membuang pecahan gelas tersebut pada tempat sampah yang terdapat di dalam ruangan itu. Selepasnya ia kembali lagi pada Arsen yang telah menunggunya.
Baru satu langkah ia berjalan, sebuah perkataan yang membuatnya terdiam di tempat dan tak percaya menggema di setiap sudut ruangan.
"Karena kopi tadi telah tumpah, jadi kamu harus membutakan saya kopi, dan rasanya harus sesuai dengan kemauan saya tidak lebih dan tidak kurang." Ia mengatakan ucapan tersebut sambil mengetik-ngetik data yang akan dikirim ke perusahaan lain dengan lihainya.
"Loh pak kenapa saya, kenapa tidak suruh OB atau OG saja, kan bisa," pinta Nisa dengan suara memohon.
"Ok pak, nggak usah ngomel-ngomel. Baik saya akan buatkan, tapi selera bapak maunya seperti apa?"
"Tanya aja sama OG yang ada di dapur, pasti mereka semua tau saya maunya yang seperti apa."
Sebelum beranjak dari sana, Nisa terlebih dahulu menarik napas, apes banget hari ini. Mimpi apakah ia malam tadi?
Nisa masuk ke dalam dapur yang ada di perusahaan itu. Banyak orang menatapnya, terutama orang-orang yang mengenal dia. Namun yang membuat Nisa dapat bernapas lega adalah ketidak adanya keberadaan Ibel di tempat itu. Entahlah apa yang harus ia katakan kepada wanita itu nanti.
"Maaf selera kopi pak Arsen bagaimana ya?" Nisa bertanya pada salah satu OG yang ada di sana. OG tersebut menautkan kedua alis matanya, ia tak mengerti apa maksud Nisa.
"Pak Arsen siapa? Kami tak mengenal dia?"
"Loh Direktur di sini kalian tak mengenalnya?" Kontan Nisa menggaruk pipinya, what masa ia seorang CEO yang kedudukannya paling tinggi tidak dikenal orang, sungguh aneh bukan?
"Maksud mbak, pak Alex?" Wow ternyata Nisa baru menyadari fakta menarik itu, Pantasan Ibel menyebut nama Arsen tadi dengan embel-embel Alex, ternyata laki-laki itu sedang merahasiakan sesuatu.
"Ah iya."
"Biasanya bapak suka kopi manis mbak."
"Oh terimakasih infonya."
__ADS_1
Tanpa menunda lagi Nisa langsung membuatkan Arsen kopi sesuai rasa yang disebutkan oleh OG tadi, sungguh hari yang melelahkan. Wanita tersebut kembali teringat dengan perkataan OG barusan. Alex? Buat apa laki-laki itu menyembunyikan identitasnya.
Saat kopinya telah jadi, Nisa langsung membawa kopi itu kehadapan Arsen. Semoga tidak ada komenan yang ia dapatkan dari bosnya itu. Secara penuh kehati-hatian ia membawa kopinya dan meletakkan di meja tempat laki-laki itu bekerja.
"Ini pak kopinya."
Arsen menyeruput kopi tersebut, lalu secara cepat ia menjauhkan gelas itu dari bibirnya. Nisa yang melihat itu hanya menatap bingung Arsen, ia tak mau berbicara apa-apa agar tak menambah masalah lagi. Dengan segenap jiwa ia mundukkan pandangannya.
"Terlalu manis. Buat ulang."
"Hah? Kan bapak suka yang manis."
"Cepat." Bentaknya.
Dengan terpaksa Nisa kembali membawa kopi itu lagi dan membuatkan laki-laki tersebut kopi yang baru.
Selang beberapa menit ia kembali masuk dengan secangkir kopi yang ada di tangannya. Semoga kali ini tidak salah lagi. Lantas perempuan tersebut meletakkan kopi itu di hadapan Arsen.
"Terlalu pahit. Saya tidak suka, buat lagi."
"Apa?" Nisa menarik napas lalu mengenggam tangannya di bawah sana.
Beberapa menit kemudian
"Kenapa lama?" Nisa yang baru datang langsung dilimpahkan pertanyaan oleh bosnya.
Sebelum menjawab ia menyeka keringat yang ada di keningnya. Ia hampir saja pingsan membuat kopi yang benar-benar pas di lidah laki-laki itu. "Mesinnya rusak pak."
"Sini kopinya."
Dengan lugas ia menyodorkan kopi tersebut pada Arsen. Awas aja salah lagi, ia pastikan tidak akan membutakan nya lagi.
"Gimana pak," tanya Nisa hara-harap cemas.
"Lumayan, kamu boleh duduk dan mulai bekerja."
'Akhirnya' batin Nisa
Nisa duduk di kursi tempatnya bekerja, sebelum itu memperbaiki hijabnya dahulu. Saat ia hendak mengerjakan pekerjaannya dan membuka laptop yang ada di sana. Seseorang perempuan datang dengan setumpuk berkas di tangannya. Perempuan itu meletakkan berkas tersebut di meja Nisa.
"Ini yang harus mbak kerjakan."
Nisa melirik berkas tersebut. Matanya membulat tidak percaya, berkas yang tumpukannya yang sangat tinggi itu ia harus kerjakan hari ini juga. Tidak salahkan, saking tidak percayanya kepalanya lunglai di atas meja.
"Gila, sepertinya ia ingin membunuhku."
__________
__ADS_1
TBC