Tragedi Malam Itu

Tragedi Malam Itu
Part 52


__ADS_3

3 Bulan kemudian


Di depan lorong rumah sakit, seorang laki-laki berjalan dengan cepat. Langkahnya lebar tidak mempedulikan sekitar, wajahnya tidak terlihat dengan jelas akibat ditutupi oleh masker, kepalanya mengenakan topi yang bertuliskan ARMY, ia mengenakan hodie berwarna putih  dan sepatu sport yang terlihat mahal.


Jika orang tidak mengetahui siapa dia, pasti akan mengira dia adalah anak muda yang masih berumuran 20 tahunan. Terkadang orang yang melihatnya meskipun tidak dapat melihat dengan jelas rupa laki-laki itu berpendapat bahwa lelaki itu adalah laki-laki tampan yang akan menjenguk pacarnya yang sedang sakit, dan apalagi dengan bunga dan buah yang dibawa olehnya semakin memperkuat dugaan.


Lelaki itu menghela napas saat ia telah berdiri di depan pintu yang bertuliskan MELATI 203. Ia mendorong pintu tersebut perlahan sembari melangkah masuk. Dengan pelan ia berjalan seperti orang yang mengendap menghampiri pasien perempuan yang sedang terbaring lemah, matanya terpejam selama tiga bulanan ini, selang-selang dan peralatan medis memenuhi tubuhnya.


Ia meringis kala melihat pemandangan yang sangat dibencinya itu. Namun ia bisa apa? Ini semua adalah salahnya, ia yang membuat perempuan tersebut tidak berdaya.


Laki-laki itu meletakkan buah-buahan yang ia baru saja beli di mall ke meja kecil, setelahnya ia pun membuka topi dan masker yang sengaja ia gunakan agar identitas nya tidak diketahui orang-orang, dan juga meletakkan nya di meja kecil tersebut.


Ia duduk di kursi yang berada di tepi brankar. Lelaki tersebut mengamati wajah perempuan itu yang terlihat pucat, ada kesedihan saat melihat wanita yang dicintainya sudah sejak dari kecil itu terbaring dan tidak bisa bergerak. Hatinya nyeri harus melihat pemandangan tersebut. Jika ia bisa bertukar, dia rela berada di posisi perempuan itu.


Arsen tertawa halus, terkadang ia berpikir mengapa takdir begitu aneh untuk ditebak. Ia tidak pernah menyangka takdirnya bersama  Nisa akan seperti ini, jelas ia tidak tau ternyata dengan cara malam itu tuhan menyatukan cinta mereka kembali.


Dan yang membuat Arsen tidak percaya akan dunia ini, impian nya ingin mempunyai anak bersama Nisa ternyata sudah lama dikabulkan tuhan. Dan ia juga pernah ragu akan perasaannya kepada Nisa, apakah ia mencinta Nisa sebagai Ica atau ia memiliki perasaan khusus dengan wanita itu. Tapi waktu telah menjawab pertanyaanya tersebut, ia mencintai Nisa karena tulus bukan sebagai Ica, namun yang membuat Arsen sangat bahagia ternyata Nisa dan Ica adalah orang yang sama.


Arsen melirik bunga yang dibelinya tadi. Ia sengaja membelikan bunga melati, ia tau perempuan tersebut sangat menyukai bunga itu. Dan Arsen berjuang sendiri merangkai bunga tersebut agar menjadi kesatuan yang indah. Dan dari situ pula ia mengetahui bahwa merangkai bunga adalah suatu pekerjaan yang sulit.


"Hai Princess! Kau tahu, kau dulu sangat suka jika aku panggil dengan sebutan itu. Dulu kau berjanji tidak akan pernah meninggalkan ku, tapi ternyata kau pergi dari hidup ku, dan membuat ku harus menemukan mu kembali. Aku tidak pernah berpikir akan bertemu dengan mu kembali, semuanya terasa seperti ilusi. Tapi tak apa, jika ilusi itu adalah cara ku bisa dekat dengan mu aku rela selamanya berada di dalam ilusi ini." Tidak ada sama sekali tanggapan dari Nisa, perempuan tersebut hanya berdiam tanpa ada pergerakan.


Arsen menghela napas saat tidak mendapatkan respon dari wanita itu, baru saja ia bertemu dengan cinta pertamanya kini ia bagaikan ingin dipisahkan kembali. Arsen pun meletakkan bunga melati itu ke tempat jejeran bunga lainnya yang dibelinya setiap hari untuk wanita itu. Sudah puluhan bunga yang tertata rapi di tempat itu, bahkan sudah ada yang layu, namun Nisa tak kunjung membuka matanya.


"Mau sampai kapan kamu seperti ini? Aku menyerah Sa, aku tidak sanggup melihat mu yang tersiksa seperti ini." Lelaki itu meraih telapak tangan Nisa.

__ADS_1


Ia tersenyum melihat tangan Nisa yang sangat pucat seperti tidak ada darah yang mengalir di sana. Tangannya terasa dingin dan lembut, dan ia hanya bisa menatap tangan itu dengan senyuman masam. Arsen membawa tangan itu ke bibirnya, ia mengecup tangan tersebut. Cukup lama ia mengecupnya hingga ia tidak menyadari air mata menetes dari kedua sudut matanya. Arsen tidak peduli bila orang mengatakannya bucin, lemah, dan lebay. Yang penting baginya adalah ia akan menemani Nisa sampai sadar walau itu bertahun-tahun.


Perkataan dokter beberapa bulan lalu cukup menampar Arsen.


"Ibu Nisa mengalami infeksi paru-paru, akibat banyaknya cairan kimia yang masuk ke dalam tubuhnya dan itu merusak paru-paru ibu Nisa. Kami harus melakukan oprasi, dan kemungkinan itu hanya berhasil sepuluh persen."


"Apa maksud dokter dengan cairan kimia?"


"Air yang ada di dalam tubuhnya bukanlah air biasa. Air tersebut telah dicampuri dengan cairan kimia."


Tangan Arsen mengepal ketika mengingat perkataan dokter tersebut. Namun ia sedikit cukup puas Sarga hangus bersama bom yang ia letakkan sendiri. Beruntung waktu itu ia selamat saat bom meletus dan ia telah keluar dari gedung itu. Meski ia mendapat luka bakar sedikit di bagian kakinya namun itu bukanlah hal yang serius.


Arsen menjauhkan bibirnya dari tangan Nisa.  Lalu kemudian ia membawa tangan tersebut ke wajahnya.


Arsen mendongak untuk menahan air matanya agar tidak tumpah kembali. Segenap rasa ia tahan, rasa sakit menjalar di hatinya saat harus berada di situasi ini. Usaha untuk menahan air matanya pun sia-sia saat air bening itu menetes membuat pertahanannya runtuh.


Tak sengaja saat matanya menatap ke dinding rumah sakit, ia melihat tulisan Allah. Jantung Arsen berdegup hebat saat melihat tulisan itu, sudah berapa lama ia melupakan tuhannya, sudah berapa lama ia tidak mengerjakan perintahnya, dan sudah berapa lama ia mengerjakan segala larangannya.


Kenapa ia bodoh? Kenapa ia baru sekarang ingin menghadap tuhan? Kemarin-kemarin kemana ia? Arsen melirik jam tangannya, ternyata waktu Isya telah masuk. Lantas laki-laki itu meletakkan tangan Nisa ke tempat semula. Ia berdiri dari tempatnya dan mencondongkan tubuhnya untuk mengecup dahi Nisa.


"I miss you," bisik lelaki itu.


Setelahnya Arsen pergi ke masjid untuk melaksanakan ibadah dan berdoa kepada Allah agar memberikan anugerahnya kepada Nisa berupa kesadaran perempuan itu.


"Arsen! Gabriel!" Bibir Nisa bergerak dan mengucapkan kata tersebut saat kepergian Arsen.

__ADS_1


Tidak ada satu orang pun yang mendengarnya karena di dalam ruangan itu hanya ada Nisa seorang. Gabriel pulang sebentar ditemani oleh Ibel. Berbicara tentang Ibel, perempuan tersebut telah kembali ke Jakarta saat mendengar Nisa masuk rumah sakit.


10 menit kemudian


Tidak berselang lama, Arsen kembali ke rungan itu untuk menjaga Nisa. Ia duduk di kursi yang menjadi bekas tempat duduknya tadi. Ia tersenyum melihat wajah Nisa yang masih memancarkan aura kecantikannya.


Arsen meletakkan tangannya di wajah Nisa. Ia menelusuri setiap detail bentuk wajah itu dari mata, hidung, dan bibir. Arsen menghentikan tangannya di sana, ia tersenyum lirih melihat bibir itu tidak semerah dulu, kini bibir itu terasa dingin dan pucat. Ia mengusap bibir tersebut beberapa detik, keumdian ia menjauhkan tangan itu saat ia tersadar.


"Bangun lah semua orang merindukan mu sweethart."


Arsen membaringkan kepalanya di samping tangan Nisa sembari menggenggam tangan tersebut. Ia memejamkan kedua kelopak matanya, namun tiba-tiba ia merasakan jemari Nisa bergerak di dalam genggamannya. 


Dengan cepat Arsen membuka matanya dan menatap mata Nisa. Wanita itu secara perlahan membuka kedua kelopak matanya, yang tentu saja membuat Arsen yang melihatnya langsung terkejut.


"Nisa," lirih Arsen sambil meneteskan air mata, ada senyuman kebahagiaan yang terpahat di wajah tampan itu.


"A-Arsen!!!"


"Aku merindukan mu." Arsen langsung memeluk tubuh rapuh tersebut dengan isakan tertahan di bibirnya. "Terimakasih sudah sadar untukku."


_________


Tbc


Like dan comen

__ADS_1


__ADS_2