Tragedi Malam Itu

Tragedi Malam Itu
Part 36


__ADS_3

Warning: Alur rumit. Bagi yang pusing harap jangan komentar jahat. Dan bagi yang tidak terbiasa dengan alur naik turun harap menjauh.


.


.


.


.


"Sa-sa. Saya, tadi baru saja datang Pak," jawab Nisa terbata-bata dan berusaha berbohong  senatural mungkin agar kedoknya mengintip tadi tidak diketahui, apalagi pembicaraan yang ia dengar adalah sebuah pembicaraan rahasia.


Mata Arsen memicing pada sekretaris nya tersebut, lalu menghela napas panjang. Ketika mendengar jawaban Nisa membuatnya sedikit lega. Setidaknya perempuan itu tidak mengetahui hal tersebut. Ia yang mulanya berdiri langsung duduk kembali di sofa. Ia mentapa Vian dalam seperti mengisyaratkan agar laki-laki itu keluar sebelum dicurigai oleh Nisa.


Vian yang mengerti dengan pandangan Arsen kepadanya, menghela napas lalu bersikap formal kepada pria tersebut. Raut wajah Vian yang mula terlihat akrab kepada Arsen berubah datar, senyuman tipis ia tujukan kepada Nisa agar mengurangi rasa canggung diantara mereka.


"Kalau begitu aku pergi dulu," ujar Vian sembari bersalaman kepada Arsen, "semoga kerja sama kita berhasil."


Namun, sebelum ia benar-benar melepas jabatan tangannya pada Arsen, ia memeluk pria tersebut lalu membisikkan sesuatu, "ku lihat wanita itu mirip sekali dengan Ica."


Arsen menampilkan senyum miring, "kau benar Vian, aku juga merasakan itu."


"Ku harap DIA tidak mengetahuinya." Laki-laki itu melepaskan pelukan mereka. Lalu menepuk bahu Arsen, dan pergi dari sana.


Saat hendak melewati Nisa, Vian berhenti sebentar dan menatap perempuan tersebut seperti menilai. Nisa mengernyitkan alis ketika Vian memandangnya seperti itu, ia tersenyum kikuk kepada Vian dan dibalas oleh pria itu. Vian menampilkan smirk nya lalu pergi dari sana sambil berjalan angkuh, kedua tangannya ia masukan ke dalam saku celana.


Di dalam hati, Nisa menggerutu dengan sikap Vian yang dinilai sangat lancang kepadanya. Sepertinya orang tersebut tidak memiliki pendidikan moral, hingga tidak tau cara melakukan orang dengan baik, dan terlebih apalagi dirinya adalah seorang wanita.


Saat Nisa tidak mendapati Vian lagi dipandangnya, lantas wanita tersebut kembali melempar lirikkan matanya pada Arsen. Dilihatnya laki-laki itu tengah memandangnya intens, mata dingin ditujukan Arsen untuk mewakili segala introgasinya yang ingin ia berikan kepada Nisa.


"Saya boleh bekerja pak?"


"Tidak," jawab Arsen dengan nada kulkas.


"Loh bukannya saya datang ke sini untuk bekerja ya pak?" Tanya Nisa heran lalu meletakkan tas selempangnya di atas meja kerja wanita itu.


Arsen memandang Nisa dengan tatapan yang amat susah sekali untuk di deskripsikan. Laki-laki tersebut duduk dengan gaya angkuh nya dan tidak memiliki keinginan menghiraukan Nisa yang sedang diambang kebingungan. Arsen meraih sebuah map dan membacanya dengan teliti, kemudian laki-laki itu menandatangani map yang telah ia baca tadi.

__ADS_1


Nisa tidak tau harus berbuat apa-apa. Ingin beranjak dari sana takut salah. Tetap diam dan berdiri di sana apakah Arsen memperdulikannya, Nisa dibuat bingung atas sikap Arsen. Mungkin laki-laki tersebut tidak memperdulikannya lagi, mendingan ia pergi dari sana dan duduk bekerja, mengerjakan apa-apa yang menjadi tugasnya.


Kala kakinya baru lima kali melangkah dan hampir mencapai tempat duduknya, sebuah suara menghentikan keinginan dirinya untuk mendudukkan diri di atas kursi yang cukup empuk itu. Helaan napas berat serta senyuman paksa, ia tampilkan di tempatnya berdiri. Lalu kemudian wanita itu memalingkan tubuhnya menghadap Arsen.


"Ada apa ya pak?"


"Saya tidak ada menyuruh Mu duduk," tukas Arsen Sambil memandang Nisa dalam.


Perempuan tersebut terdiam, pandangan matanya tak luntur dari manusia yang ada di depannya. Ingin sekali ia menghujat orang itu terang-terangan jika diperbolehkan. Batinnya kesal atas perlakuan Arsen yang seperti tengah mempermainkan dirinya. Ia tidak tahu mengapa Arsen selalu bersikap lebih benci dengan dirinya dari pada kepada orang-orang lain, mungkin laki-laki tersebut sedang mengidap penyakit hati, karena ia melihat Arsen sama sekali tidak memiliki perasaan baik kepada wanita, apa jangan-jangan rumor tentang Arsen seorang Guy adalah benar.


Nisa menatap Arsen dengan pandangan pasrah.


"Terus saya harus ngapain pak?"


Arsen membuka kacamatanya dan meletakkan di atas meja. Ia memandang Nisa cukup lama sebelum mengeluarkan suara.


"Kenapa kamu tadi terlambat?" Pungkas Arsen sambil menunjuk Nisa menggunakan pensil.


Nisa menunduk, memang ia yang salah telah terlambat, tapi mau bagaimana lagi ia sudah mengusahakan untuk datang tepat waktu. Tapi mungkin tuhan berkehendak lain, hingga usahanya tersebut tidak membuahkan hasil yang manis. Taksi yang ditumpangi Nisa tadi tiba-tiba mogok ditengah jalan dan terpaksa ia harus memesan taksi lagi. Tapi, nihil sama sekali ia tidak menemukan taksi atau ojol yang sedang tidak ada penumpangnya, ingin naik taksi ditemuinya ditengah jalan tapi, semunya telah penuh. Dan terpaksa ia menggunakan cara terakhir, jalan kaki.


"Taksi saya mogok pak," lirih Nisa sembari menatap tangannya yang sedang ia remas, untuk mengurangi rasa resah.


"Alasan," ujarnya sinis.


Laki-laki itu mengambil sesuatu dari dalam laci meja kerjanya. Sebuah buku besar dan sangat tebal ia ambil dan meletakkan di meja kerja perempuan tersebut. Sontak Nisa bingung melihat buku tebal itu. Apa maksud Arsen memberikannya buku tebal tersebut.


Nisa mengambilnya dan melihat cover dan judul buku itu. "Kamus dan Cara Berbahasa Jepang." Nisa memandang Arsen dengan penuh tanya," apa maksudnya ini pak?"


"Satu minggu kedepan kamu sudah bisa menguasai bahasa Jepang dengan sempurna."


"Ha? Satu minggu, tidak salah pak saya harus belajar bahasa Jepang dengan waktu sesingkat itu. Maksud bapak apa!!!" Nada bicara Nisa mulai meninggi, ia memandang Arsen dengan sinis. "Salah saya apa pak? Saya selalu menuruti apa saja yang bapak inginkan. Beginikah cara bapak meperlakukan saya." Ia terkekeh, "Seharusnya saya yang meperlakukan bapak seperti ITU, BUKAN bapak. Bapak tidak pantas memperlakukan saya seenaknya, tidak punyakah bapak malu kepada saya, orang yang telah bapak perkosa. Seharusnya bapak sekarang tengah bersujud di hadapan saya!!! Seharusnya bapak sekarang DIPENJARA!!!!"


"SAYA AKAN BERSUJUD DI DEPAN KAMU, DAN ITU AKAN TERJADI JIKA KAU SUDAH TIDAK SAYANG LAGI DENGAN KELUARGA MU. Aku tahu keluarga mu semua yang ada di Jakarta. Baiklah kita akan buat perjanjian, aku akan menyerahkan diri kepada polisi dan bersujud di bawah kaki mu. Tapi, asalkan kau rela adikmu ku jual, dan keluarga mu aku buat hidup mereka kesusahan. Kamu pasti tidak tau Ahmad memiliki hutang dengan perusahaan ini dengan nominal cukup tinggi."


"Jika kau ingin melaporkan perbuatanku ini kepada polisi, maka aku akan senang hati menerimanya. Aku tidak peduli dipenjara, asalkan aku dapat melihat dirimu yang selalu tersiksa."


Nisa terperanjat kaget ketika mendengar ucapan Arsen. Apa? orangtuanya memiliki hutang dengan perusahaan Wijaya Altas. Dan jumlahnya cukup banyak, Kenapa ia tidak tau. Air mata Nisa tiba-tiba jatuh, kepalanya menggeleng berharap apa yang diucapkan Arsen adalah bohong. Ia merasakan badannya yang semakin melemah dan nyaris terjatuh ke lantai. Nisa menatap cowok tersebut dengan tajam. Ia mendekati pria tersebut dan memberikan sebuah tamparan di wajah Arsen cukup keras.

__ADS_1


Plakk


"Jika aku tidak bisa memenjarakan mu, setidaknya aku bisa menampar wajah mu." Nisa pergi dari sana dan berjalan kasar, ia duduk di meja kerjanya dan mulai mempelajari bahasa Jepang agar laki-laki itu puas telah menanam masalah pada hidupnya begitu banyak.


Arsen menyentuh wajahnya yang ditampar oleh Nisa. Mulutnya terbuka ingin memprotes perbuatan Nisa. Namun, ia mengantup mulutnya kembali ketika terdengar ponselnya bergetar.


Ia menggeser layar hijau di ponselnya.


"Iya ada apa?"


"......."


"Apa? Sarga ada di Indonesia. Dive tolong kau rahasiakan keberadaan ku darinya, aku sedang malas bertemu dengannya. Dan kirimkan anak buah ku yang lain ke perusahaan sekarang dan perketat penjagaan ."


"......."


Arsen mematikan sambungan secara sepihak. Wajahnya merah padam melambangkan kemarahan telah membara di dalam tubuhnya.


'Suatu saat kau akan tau mengapa aku selalu bersikap seperti itu kepada mu' batin Arsen sambil melirik pada Nisa yang sedang fokus dengan buku di depannya.


__________


"Bos!!" Panggil seseorang kepada bosnya. "Arsen telah mengetahui keberadaan anda di Indonesia. Apa yang harus kami lakukan?"


Laki-laki yang sedang berdiri di tepi jendela kaca yang langsung menghadap kepada pemandangan kota Jakarta dari ketinggian pun sontak membalikkan tubuhnya lalu memandang orang yang telah memberikan informasi itu. Laki-laki tersebut tersenyum miring seperti sedang membayangkan sesuatu.


"Biarkan dia mengetahuinya dan terus awasi dia. Aku ingin melihat wajahnya yang panik ketika mengetahui keberadaan ku."


"Baik bos."


Orang itu membuang ****** rokoknya lalu menginjak ****** rokok itu. Senyuman kemenangan tak pernah luntur dari wajahnya.


"Aku datang Arsen. Apakah kau masih mengenalku?" Ia tertawa, "ha ha ha, aku tak sabar melihat wajah mu yang ketakutan seperti kemarin."


_______


Tbc

__ADS_1


__ADS_2