Tragedi Malam Itu

Tragedi Malam Itu
Part 54


__ADS_3

1 Minggu kemudian


Di tengah jalan raya dipenuhi dengan banyak kendaraan yang sedang berlalu lalang, tampak mobil berwarna hitam menyusuri jalanan dengan santai. Mobil itu terus melaju hingga berhenti di depan apartemen yang cukup mewah, setelahnya mobil itu pun diparkirkan di tempat khusus.


Tak lama keluarlah orang yang menumpangi mobil tersebut satu per satu. Tampak wajah mereka terlihat kaget dengan bangunan yang menjulang tinggi berdiri dengan kokoh di depan mereka. Decakkan kekaguman berapa kali lolos dari mulut mereka, pemandangan yang sangat menakjubkan.


"Bos! Jadi ini tempat tinggal kita?" Tanya Ibel dengan mata yang tidak lepas dari apartemen yang ada di depannya. "Mewah banget Bos!" Komentar Ibel sembari berjalan ke arah teras apartemen itu.


Arsen tidak mendengarkan ucapan Ibel, ia melirik kepada seorang wanita yang ada di sampingnya. Wanita itu juga sama sedang terperangah dengan apartemen yang begitu besar yang ada di depannya. Meski ia melihat dari tenah, tapi itu cukup membuat Nisa terdiam dan tidak bisa berkata apa-apa selain mengucapkan kata sempurna.


Arsen yang melihat Nisa terlihat bahagia itu pun langsung tersenyum. Hatinya melembut melihat kebahagiaan Nisa yang sudah lama hilang dari wanita itu muncul kembali. Demi apa dia harus bersumpah atas kecantikan Nisa saat rembulan menyorot ke arah wanita itu.


Pun di sisi lain, Ibel yang melihat Bosnya sedang kasmaran itu hanya memutar bola mata malas. Sudah dapat dipastikan ujung-ujung nya dirinya juga yang akan jadi obat nyamuk.


"Bos kalau suka itu dinikahin, jangan diliatin aja. Kalau gitu mah sampai kapan pun nggak akan jadi halal. Iya kan Iel?" Tanya Ibel pada Gabriel yang sedang digandengnya, dan sesekali ia mengintip ke arah Bos nya untuk menangkap ekspresi Bos nya itu.


Mendengar pertanyaan tertuju kepadanya, Gabriel hanya mengerjap-ngerjapkan matanya dengan lucu. Dan hal itu semakin membuat Ibel terlihat gemas dengan ponakannya tersebut. Lantas ia pun mencubit pipi gembul Gabriel, hingga lenguhan kesakitan dari anak itu terdengar.


"Auuu!!! Aunty sakit."


"Kak Ibel!!" Tegur Nisa dengan mata memicing ke arah Ibel dengan penuh peringatan kepada wanita itu.


"Iya, iya, Nisa. Gue cuman cubit doang. Tenang aja Iel nggak akan sampai masuk rumah sakit kok."


"Ibel, mending kamu masuk ke apartemen duluan, ajakin Iel juga. Di sini kamu hanya berucap yang tidak jelas saja membuat kepala saya pening mendengar suara mu itu. Apartemen kalian ada di nomor 127."


"Tanpa disuruh pun gue akan pergi duluan Bos! Tenang gue tau kok kalian berdua itu pengen berduaan, gue paham banget. Tapi ingat, awas kalau ada malam kedua cukup ada satu malam aja. Kalau gue dengar Nisa hamil lagi, siap-siap Bos gue gebukin," ancam Ibel seraya pergi meninggalkan mereka berdua.  Mulutnya terus berkomat-kamit sepanjang perjalanan , "Dia pikir gue baby siter apa?" Gerutu Ibel.


"Dasar wanita bar-bar, untung dia kaka kamu, kalau tidak sudah aku pecat dia dari kantor ku" umpat Arsen kepada Ibel.


"Sabar Sen, Ibel emang dia suka begitu. Jadi jangan heran lagi."


Arsen melirik Nisa, lantas laki-laki itu tersenyum melihat sahabat yang dia cintai dulu kini berdiri di dekatnya. Kebahagiaan sudah pasti dirasakannya, ia sendiri juga tidak tau harus berbuat apa untuk mendeskripsikan bahwa ia benar-benar bahagia. Semuanya terasa bagaikan fiksi semata seperti di film dan di Novel. Semunya terasa bagaikan ilusi yang tetapi ada nyatanya.


Tidak pernah terbesit sama sekali bahwa ia akan bertemu kembali dengan orang yang berharga di masa kecilnya. Arsen berjanji bahwa ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan tuhan kepadanya, tidak ada lagi kata sengsara di kehidupan mereka, yang ada hanyalah bahagia dan menjadi simbol kehidupan mereka berdua.


Nisa memang telah keluar dari rumah sakit, dokter menyatakan jika wanita itu telah dibolehkan pulang. Kondisi Nisa pun mulai membaik, dan ia juga sudah jarang mengalami sesak napas akibat infeksi paru-paru yang dideritanya. Entahlah nikmat mana yang ia dustakan sekarang. 

__ADS_1


"Nisa!"


"Hm."


"Oh iya barang-barang aku kan nggak dibawa tadi, jadi barang aku tertinggal dong di rumah sakit," wanita itu langsung terlihat panik, wajahnya berubah kusut saat menyadari bahwa barang-barang miliknya semua telah tertinggal.


Wajah Nisa yang seperti itu menjadi pemandangan yang sangat indah bagi dirinya. Ia begitu menikmati wajah kepanikan itu, terlihat memang sangat konyol, barang-barang Nisa yang hampir semua sangat dia butuhkan tertinggal dan ia malah terlihat santai.


Nisa menatap ke arah Arsen yang tidak bereaksi apa-apa saat ia kehilangan barang. Tatapan curiga Nisa begitu mengintimidasi Arsen, hingga laki-laki itu hanya bisa yang dilakukannya adalah menyerah. Dari dulu dia memang tidak pernah bisa melawan tatapan menghunus dari perempuan itu.


"Barang mu telah sampai duluan," cerca laki-laki itu santai sembari memasukkan kedua telapak tangannya di saku jas.


"Maksud mu?"


"Aku menyuruh supir pribadi ku untuk mengantarkan barang-barang mu."


"Syukurlah kalau begitu, ku kira hilang." Nisa bernapas dengan lega ketika mengetahui fakta tersebut, entahlah kalau benar barangnya hilang, Nisa tidak tau harus berbuat apa. Mungkin ia hanya bisa menangis karena di tas tersebut ada terdapat barang yang sangat berharga bagi wanita itu.


"Sa! Aku boleh nutup mata mu pakai kain ini?"


"Kamu mau apa," tanya Nisa, nadanya ada sedikit gugup ketika melirik ke mata laki-laki itu.


"Arsen kamu mau apa?" Tanya Nisa panik, namun Arsen tidak mempedulikan kepanikan di wajah perempuan itu.


"Sakit tidak?"


"Tidak."


"Bagus lah. Jangan dibuka sebelum aku perintahkan untuk membukanya, kau mengerti?"


Nisa mengangguk, dan hal itu tentunya membuat Arsen senang. Laki-laki itu menuntun sang perempuan ke arah taman yang berada tak jauh dari apartemen.


Dengan perasaan tidak enak, Nisa mengikuti tuntunan jalan Arsen, pelan-pelan ia melangkah mengikuti inturuksi yang diberikan oleh laki-laki itu. Ia tidak tau dirinya dibawa kemana. Takut? Sudah tentu ia rasakan, dadanya berdetak dua kali lebih cepat.


Meski Arsen adalah sahabat kecilnya, namun tak ayal kadang Nisa takut berada di dekat laki-laki itu. Bagaimana pun juga lelaki itu pernah berbuat asusila kepadanya. Siapa sih yang tidak takut jika berdekatan dengan orang yang telah menghancurkan kehidupan mu, meski kau telah memaafkannya, tetap kadang diri mu takut dan berjaga-jaga agar tidak terulang kembali hal yang pernah dilakukannya kepada mu.


"Apakah masih jauh."

__ADS_1


"Tenanglah, kita telah sampai."


Mendengar penuturan Arsen barusan, membuat Nisa dapat menarik napas dan mengeluarkannya dengan lega. Mudahan saja bukan hal yang tidak ia inginkan ketika ia membuka penutup matanya ini.


"Apakah aku sudah boleh membukanya?"


"Biarkan aku saja yang membukanya." Laki-laki itu secara pelan membuka tudung yang menutupi mata perempuan tersebut.


Nisa membuka matanya pelan-pelan kala Arsen telah melepaskan kain penutup matanya. Samar-samar ia melihat suatu pemandangan yang ada di depannya. Matanya membulat tidak bisa menahan keindahan yang terpancar di taman ini.


"Wah indah sekali," ucap wanita itu sembari berjalan menuju bangku taman.


"Apakah kamu menyukainya?"


"Tentu saja aku sangat menyukainya. Ini adalah pemandangan yang terindah yang pernah ku lihat."


Arsen tersenyum atas ucapan Nisa, dia bahagia melihat betapa gembiranya Nisa saat ia suguhkan pemandangan taman, yang sudah ia hias. Lampu-lampun indah bergantungan di taman tersebut menjadikan penerang serta hiasan taman di malam hari. Di setiap meja dan kursi terdapat lilin yang beraromakan mawar.


"Tutup mata mu."


"Hah lagi?" Kata Nisa sambil diiringi kerenyitan di dahi nya.


"Iya." Nisa pun memejamkan matanya dan menunggu instruksi selanjutnya yang akan diperintahkan oleh lelaki itu.


"Sekarang buka mata mu."


Nisa membelalak saat melihat Arsen berlutut di depannya sambil memegang rangkaian bunga melati yang sangat indah. Satu tangannya diraih oleh lelaki tersebut.


Sentuhan halus di area tangannya itu pun membuat tubuh Nisa bagaikan disentrum sebuah aliran listrik. Matanya ingin mengeluarkan cairan saat laki-laki itu menggenggam tangannya dengan penuh perhatian, detak jantungnya memburu tidak beratur, ada apa dengan perasaannya sekarang?


"Nisa! Aku tau aku memiliki banyak salah dengan mu, aku ingin minta maaf. Memang kau sudah memaafkan ku, tapi tidak ada salahnya jika aku mengulanginya lagi. Nisa apakah kau memaafkan ku?" Tanpa sadar Nisa mengangguk, "Terimakasih kamu telah memaafkan ku. Ada satu hal yang aku ingin sampaikan kepada mu, bahwa aku mencintai mu Nisa sejak dari kita masih kecil. Anisa Ahmad atau Ica Alura William, apakah kau bersedia menjadi wanita ku?"


______


Tbc


Sorry, aku tidak bisa membuat yang sangat romantis.

__ADS_1


Like dan comen


__ADS_2