
Padatnya manusia sore ini di stasiun bus, membuat orang banyak mengantre. Banyak masyarakat yang juga sama ingin berpergian ke kota Jakarta. Terihat rombongan Nisa yang sedang duduk di salah satu kursi untuk menunggu bus berangkat.
Tas mereka semua terlihat penuh dengan barang-barang bawaan mereka. Sedangkan Gabriel tertidur dalam gendongan Ibel. Wajahnya terlihat tentram dan menampilkan raut bahagia yang entah apa yang membuat bayi tersebut terlihat bahagia.
"Sa! Lo yakin mau ikut ke Jakarta? Emang lo nggak takut terauma kembali? Sa nggak papa kok, gue bisa kerja sendiri di sana tanpa bantuan lo." Ibel dapat melihat wajah Nisa yang penuh akan kekhawatiran, oleh sebab itu perasaanya tidak yakin dengan keputusan Nisa.
Nisa menggigit kukunya dan lantas melirik Ibel sembari menghembuskan napas panjang. Lalu kemudian wajah yang pesimis Nisa pun digantinya dengan wajah penuh ke optimisan.
"Kak Ibel kok nanya itu terus? Nisa siap kok untuk hadapin tantangan di sana. Lagi pula untuk apa Nisa berlarut-larut dengan masa lalu. Nisa sekarang nggak mikirin hal itu, tapi Nisa harus mikirin masa depan Nisa."
"Iya-iya deh Sa. Tapi awas lo entar nangis bombay sampai di sana, gue nggak akan segan-segan lempar lo ke laut entar," peringat Ibel seraya mengintimidasi Nisa.
Nisa yang melihat itu menelan ludahnya payah dan ia pun langsung membuang muka dari Ibel dan menatap ke arah lain.
Selang beberapa lama, sebuah pengumuman akan berangkatnya bus yang mereka tumpangi beberapa menit lagi pun membuat Nisa dan Ibel kalang kabut memilihi barang mereka dan membawanya ke dalam bus.
Sebelum mereka memasuki bus, Nisa dan Ibel terlebih dahulu berpamitan kepada nek Miah yang juga ikut mengantarkan mereka. Seketika suasana berubah menjadi haru dan derai air mata perpisahan.
__ADS_1
"Nek, Nisa banyak-banyak terima kasih kepada nenek yang mau nerima Nisa apa adanya. Tanpa bantuan nenek Nisa tidak tau bagaimana nasib Nisa sekarang." Wnita itu langsung memeluk badan keriput nek Miah sembari mengeluarkan air mata perpisahan. Cukup lama mereka berpelukan.
Sebenarnya nek Miah mengerti bahasa Indonesia, tapi nek Miah tidak terlalu fasih jika ia menggunakan berbahasa Indonesia.
"Jaga awak bebaik di sana lah Sa. Jahnya di intang Jakarta tu banyak kemaksiatannya, nih Nisa salah seuting korbannya, makanya bebanyak bedoa lah, jangan kada ingat sembahyang lima waktu. Bel! Jagai Nisa bebaik lah! (jaga diri baik-baik di sana ya Sa. Katanya di dekat Jakarta banyak kemaksiatannya, nih Nisa salah satu korbannya, makanya banyak-banyak berdoa ya, jangan tidak ingat sholat lima waktu. Bel! Jaga Nisa Baik-baik ya!)" Ibel memanyunkan bibirnya, neneknya ini yang cucu siapa, yang dibagi perhatian siapa.
"Hmmm," gumam Ibel malas. "Yaudah nek, kami handak tulak dahulu. Jaga diri nenek bebaik di sini lah, Ibel dahindak nenek ngapa-ngapa di sini. (yaudah nek, kami pengen pergi dulu. Jaga diri nenek baik-baik di sini, Ibel tidak mau nenek kenapa-napa di sini)."
Sang nenek pun meraih tubuh Ibel dan dipeluknya tubuh cucunya itu. Sesekali tangan sang nenek mengusap surai Ibel begitu lembut. Nisa yang melihat itu seketika hatinya melunak. Wanita itu langsung memandang Gabriel yang telah terjaga yang sudah berada di tangannya.
Hatinya bagaikan tersayat ribauan pisau jika ia selalu berpikir nasib anaknya nanti yang pasti dapat ia tebak akan bernasib buruk. Pasti teman sebaya anaknya nanti akan mengejek anaknya dengan kalimat-kalimat yang cukup menurunkan mental seseorang. Namun Nisa dapat memastikan hal tersebut tidak akan terjadi, ia akan menjadi orang pertama yang akan melindungi anaknya dari segala hujatan.
"Sa lah yok kita masuk," kata Ibel mengejutkan Nisa yang sedang melamun.
Ibel menautkan kedua alisnya dan ia pun menatap lekat wajah Nisa, lalu mendengukus, "lo kenapa Sa? Kalau nggak siap yaudah mendingan kamu di sini dengan nenek."
"Hiih Sa aei, amon balum siap di sini haja wan nenek. Amon ikam ni kada siap nayaman nenek kada jadi bemalam di rumah angah Silla. (Hiih Sa aei, jika belum yakin di sini saja dengan nenek. Jika kau belum siap enak nenek tidak jadi menginap di rumah angan Silla)."
__ADS_1
Nisa mengangkat kepalanya dan menatap Ibel dan nek Miah, lantas perempuan itu menggelengkan kepalanya lemah.
"Nggak nek, Nisa tetap ikut ke Jakarta. Nisa juga ingin ketemu mama, dan ngsih tau kalau dia udah punya cucu." Ada terselip nada sedih ketika mengatakan kalimat itu, wanita tersebut menundukan kepalanya.
Ibel menarik napas, "kalau itu mau lo gue bisa apa. Yaudah kita masuk bus, entar ketinggalan lagi."
Mereka pun berpamitan dan melambaikan tangan sebelum benar-benar meninggalkan nek Miah, namun sebelum itu mereka bertiga berpelukan untuk yang terakhir kalinya.
"Assalamualliakum," ucap Ibel dan Nisa bersamaan dan bersalaman dengan nek miah.
Lantas mereka berdua menaiki bus dan duduk di salah satu kursi yang ada di dalam bus, sedangkan barang mereka diletakan di tempat khusus.
Tak lama bus itu pun berjalan dan berangkat meninggalkan kampung halaman Ibel. Sedangkan Gabriel sedang bersama Ibel. Nisa menatap jendela memperhatikan rumah-rumah penduduk.
___________________
TBC
__ADS_1