Tragedi Malam Itu

Tragedi Malam Itu
Part 62


__ADS_3

Seorang wanita terduduk di sudut ruangan, wajahnya terlihat acak-acakan. Napasnya tidak teratur, kondisi wanita itu benar-benar kacau. Iris matanya yang berwarna hitam tak lepas dari seorang wanita berhijab yang sedang berdiri di depan lemari dengan keadaan bingung.


Ia tak dapat berkata-kata lagi atau sekedar bersuara, menyaksikan dengan lelah itulah yang dilakukannya sekarang. Ia menarik napas panjang ketika melihat kamar yang paginya sangat rapi dan sekarang kamar itu seperti kapal pecah. Baju-baju berhamburan di lantai maupun di tempat tidur, barang-barang yang sebelumnya belum pernah dibongkar kini berserakan seperti barang obral.


Ibel rasanya ingin menangis melihat kondisi tersebut, bagaimana pun juga hari ini adalah tugasnya untuk beres-beres. Dia sangat yakin dan amat-amat yakin jika Nisa tidak akan mengembalikan barang-barang itu pada tempatnya. Terduduk sembari menyaksikan Nisa yang memilih baju untuk digunakan makan malam bersama orang tua nya Arsen yang mana sampai jam 7 malam wanita itu belum juga menemukan pilihan yang pas.


Mereka memang tidak mengerti fashion sehingga membuat kedua orang itu tidak tau pakaian yang seperti apa yang cocok untuk digunakan makan malam. Nisa sangat takut penampilannya nanti membuat mata kedua orang tua Arsen merasa bosan, dan berakhir dengan menyedihkan, ditolak sebagai menantu. Oh tuhan dia tidak bisa membayangkan hal itu.


"Kak Ibel! Nisa lelah, menurut Kak Ibel bagus yang mana sih bajunya! Ini apa ini?" Tanya Nisa sambil memamerkan kedua baju gamisnya namun agak lebih milenial.


"Nggak tau Sa! Bagi gue sama aja bajunya, cantik kok keduanya." Ibel berkata dengan malas. Melihat kedua warna baju tersebut saja hampir membuat Ibel mengeluarkan cairan tak sedap sari rongga mulutnya. Warna pink dan ungu bukanlah warna yang cocok dilihatkan kepadanya, ia sangat membenci kedua warna itu. 


Nisa kembali meneliti kedua pakaian itu, ia menatap muram kedua pakaian tersebut. Entahlah ia rasa pakaian itu modelnya terlihat seperti kekanak-kanakan, apalagi dengan warna itu sungguh menggelikan. Ia melempar kedua baju itu di tumpukan baju yang lainnya di atas tempat tidur. Setelahnya ia terduduk di bibir ranjang dengan wajah yang terlihat frustrasi.


"Kak Ibel, apa Nisa undur aja ya makan malam nya? Nisa kan nggak punya baju yang bagus dan mahal-mahal, atau apa Nisa nyerah aja ya?" Tanyanya memelas dan melihat tumpukan bajunya dengan sedih.


Ibel bangkit dari duduknya lalu menghampiri Nisa. Ia mendaratkan bokongnya di samping perempuan itu, dengan penuh perhatian dan sedikit kekesalan di wajahnya ia menatap Nisa. Ia mengambil tangan wanita itu lalu digenggamnya. Menyadari kernyitan di dahi Nisa, Ibel pun melebarkan senyumnya.


"Gue yakin, ibu nya Arsen pasti akan menerima lo! Sa! Ini saatnya lo untuk bahagia, lo nggak pantas selamanya merasakan sedih, lo itu berharga Sa! Mau bagaimana pun buruknya seorang wanita pasti dia memiliki harga. Hidup itu adalah tantangan, di saat itu lah Allah menguji apakah orang tersebut mampu melewati rintangan atau tidak. Asal lo tau di dunia ini diciptakan berpasang-pasangan, ada perempuan dan ada juga laki-laki, ada langit dan ada pula siang, sama halnya  kehidupan ada cobaan ada juga kebahagiaan. Jika lo nggak ngerasain keduanya maka hidup lo tidak sempurna, makanya Allah memberikan lo cobaan karena Allah ingin membuat hidup lo sempurna, namun disetiap masalah ada jalan keluarnya, Allah tidak akan membiarkan hambanya tersesat dalam kesengsaraan."


Nisa langsung memeluk Ibel dengan haru, Ibel selalu baik dengannya. Ia sangat bangga memiliki kaka yang sebaik ini. Ia berharap orang yang seperti Ibel juga layak diberikan kebahagiaan sama yang diucapkan oleh perempuan itu tadi.


"Terimakasih Kak! Nisa sayang Kak Ibel." Keduanya hanyut dalam pelukan yang menenangkan, dan tidak menyadari seorang bocah laki-laki yang melihat kejadian tersebut dari pintu masuk kamar.


Di kedua tangan anak tersebut terdapat dua buah kotak yang cukup besar. Anak itu menggaruk pipinya yang gembul bertanda jika anak itu tidak mengerti apa yang telah terjadi. Matanya jatuh kepada tumpukan baju yang berserakan. Mulutnya menganga melihat pemandangan tersebut.  

__ADS_1


"Bunda! Aunty!" Serunya sambil menghampiri dua orang itu.


Nisa dan Ibel melepaskan pelukan mereka berdua kala mendengar suara kecil dari arah pintu. Keduanya kompak melihat ke arah sumber suara tersebut. Nisa tersenyum melihat anaknya yang datang menghampirinya.


"Ada apa sayang!" Tanya Nisa selembut mungkin dengan Gabriel, ia mengusap kepala anak itu. Namun fokusnya langsung teralhikan kepada sebuah kotak yang berada di tangan Gabriel.


"Iel itu apa?" Tanya Nisa penasaran.


"Nggak tau Bun, tadi ada Om-Om yang datang ke sini dan kasih kotak ini!"


Akibat rasa penasarannya yang tinggi, Nisa pun mengambil kotak tersebut lalu membukanya. Saat penutup kotak itu telah terbuka, berapa terkejutnya mereka saat melihat is box yang sangat-sangat istimewa dan tidak pernah terbayangkan oleh mereka.


Nisa beberapakali mengerjapkan kedua matanya untuk memastikan jika itu tidak bohong. Dan sampai berkali-kali pun ia mengamati kotak tersebut, isi di dalam kotak itu tidak pernah berubah. Yang ada di dalam kotak itu hanyalah gaun mewah dengan segala desain-desain nya yang sangat  indah, lalu di kotak selanjutnya terdapat pakaian Gabriel berupa baju kemeja yang sangat berkelas.


Ia mengambil sebuah note yang terdapat di dalam kotak itu, ia membuka lipatan kertas tersebut hingga nampaklah sebuah tulisan yang makin menambah keterkejutan Nisa.


*From: Arsen Wijaya Altas


      Gunakan baju itu di acara makan malam kita. Jam 8:30 aku jemput kamu*.


"Ini serius?" Ia menatap Ibel yang berada di sampingnya yang ikut mengintip tulisan itu.


Ibel menggeleng bertanda ia juga tidak tau. Sekali lagi ia melihat kepada baju yang diberikan oleh Arsen. Dapat ia taksir jika harga baju itu senilai Jutaan rupiah.


"Kalau gitu biar gue dandani lo! Gini-gini gue juga jago ngerias wajah orang."

__ADS_1


"Emang Kak Ibel bisa? Awas ya nanti wajah Nisa kaya ondel-ondel."


"Tenang aja, wajah lo entar cantik, dan lebih cantik dari pada artis-artis Korea."


__________


Sebuah mobil terparkir di sisi jalan, tak lama keluarlah sang empu dengan segala daya tariknya. Pakaiannya begitu rapi, rambutnya ditata sebaik mungkin,  aroma khas milik laki-laki itu menguak sehingga orang orang yang berada di dekat laki-laki itu menarik napas dengan dalam hanya untuk sekedar menikmati sensasi wangi laki-laki tersebut.


Ia memperbaiki jas nya lalu sedikit menyisir poni rambutnya ke samping menggunakan jari tangan. Dengan segala pesona milik pria itu, ia mampu menarik perhatian orang banyak yang sedang berjalan di dekat apartemen. Setelahnya ia meninggalkan mobilnya dan memasuki apartemen tersebut.


Banyak orang yang menyapa laki-laki itu namun sama sekali tidak dihiraukan pria itu. Decakan kekaguman para wanita bagaikan paduan suara yang sedang mengalun di setiap perjalanannya. Tapi laki-laki itu sama sekali tidak terlihat risih dengan mereka, karena bagai laki-laki tersebut hal  semacam itu bukanlah hal asing lagi baginya.


Detik terus bergulir hingga sampailah ia kepada apartemen yang menjadi tujuan laki-laki itu.


Sebelum mengetuk pintu ia menyiapkan mentalnya sebaik mungkin, dengan melakukan menarik napas dalam lalu menghembuskan secara perlahan sedikit membuat rasa gugup dan tidak percaya dirinya hilang. Tangannya terangkat lalu mengetuk pintu apartemen itu beberapa kali.


Terdengar dari dalam derap langkah kaki orang sehingga menambah kegugupan pria itu. Jantungnya seakan mau copot saat terdengar pintu terbuka.


Dan pemandangan selanjutnya semakin menambah rasa sesak di dadanya. Ia membisu di tempat saat melihat seorang wanita berdiri dengan cantiknya di depan dirinya. Arsen  meneliti Nisa dari bawah sampai atas, memang sederhana tapi tidak mengurangi aura kecantikannya.


"Cantik," gumamnya tanpa sadar.



______

__ADS_1


Tbc


Maaf ya lagi-lagi pendek, biasa kalau malas sudah menghampiri selalu mampu merusak semua jadwal yang telah ditetapkan.


__ADS_2