
Seluruh anggota keluarga di meja tersebut pun langsung menatap Nisa. Davit dan Ariana menegang di tempat kala mendengar nama Arsen yang sudah jarang mereka dengar. Tanpa orang sadari Davit menatap tajam Nisa seolah mengatakan 'awas aja mengatakan sesuatu.'
Nisa tidak bisa menyembunyikan rasa keget dialaminya. Sudah bertahun-tahun ia tak melihat wajah itu. Namun, wajah tersebut muncul kembali di depan matanya. Rasa sakit yang pernah ada kini telah tumbuh kembali. Di dalam hati ia berbisik kenapa ia harus bertemu kembali dengan wajah yang ia hindari selama ini?
"Maaf mbak. Mbak nggak kenapa-napakan?" Nisa akhirnya sadar dari renungannya. Ia berusaha menetralisir perasaanya seraya tersenyum kepada pelanggan tersebut.
"Maafkan saya buk," ucap Nisa ketakutan akan dimarahi oleh pengunjungnya dan sekaligus takut dengan Alex yang disangkanya Arsen.
"Yasudah mana sini buku menu makanannya. Kalau nggak bisa kerja jangan kerja dong. Gimana sih, kan jadi kotar menu makanannya. Bisa-bisanya ya cafe ini mempunyai karyawan orang jijik seperti kamu," nyinyir Ariana sembari mengamati Nisa dari bawah sampai atas.
Ia hanya diam mendengar penghinaan dari Ariana. Sekali lagi ia melirik Alex dibalik diamnya perempuan itu, disitu Alex juga menatap dirinya dengan datar.
Nisa mengambil kembali buku menu yang tadi sempat jatuh kelantai, lalu memberikannya kepada Ariana. Ibu dari Alex itu pun mengambil buku menu tersebut sambil berekspresi geli. Nisa cukup tersinggung dengan cara Arana mengambil buku menu tersebut. Di dalam hati ia bergumam apakah begini cara orang kaya memberlakukan orang miskin sepertinya.
Ia berjuang mati-matian agar tak mengeluarkan air mata ketika melihat Arsen yang padahal adalah Alex. Senyuman turut ia berikan demi memberikan keramahan kepada pengunjung cafenya agar orang tak curiga kepada perempuan itu.
Nisa juga tadi sempat melihat wajah orangtua Alex yang menatap dirinya tidak suka. Seperti saat ini, Ariana menatap wanita itu dengan intens seolah tengah menyelidiki perempuan itu. Ia membuang wajahnya ketika Nisa yang memberikan senyuman untuk menanggapi tatapan dari ibunda Alex. Wanita yang mengenakan hijab pasmina warna hitam itu pun menghembuskan napas, orang-orang di sini seperti tak menyukainya.
Maka setelah makanan yang diinginkan oleh orang-orang tersebut telah ia catat dengan cepat ia meninggalkan tempat itu. Sungguh tak nyaman berada di tengah-tengah orang yang terlihat sekali tidak menginginkan kita.
Sampai di dapur, Nisa berulang-ulang kali bernapas lega. Ia tidak ingat bermimpi apa malam tadi hingga saat ini ia mendapatkan kejutan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
__ADS_1
"Ka Cici! Bisa kesini sebentar nggak?!"
Cici orang yang dipanggil oleh Nisa itupun spontan menatap Nisa yang telah memanggil perempuan itu. Sebelum wanita tersebut pergi dari tempatnya, ia terlebih dahulu memberikan ponsel yang sempat cewek itu pinjam dengan salah satu pelayan laki-laki.
"Iya ada apa Sa?"
"Gini kak Cici. Nisa mau ke toilet bentar, jadi kak Cici aja ya ngantarin makanan di meja nomor 8. Kaka Cici nggak sibuk kan?" Tanya Nisa kepada perempuan tersebut, ia terlihat bahagia kala Cici menganggukan kepala semangat sekali.
"Di meja keluarganya Wijaya Altas itu kan? Kalau itu mah kaka pengen banget."
"Yaudah kalau gitu Nisa ke toilet bentar ya. Jangan lupa anterin."
Nisa lari ke dalam toilet terengah-engah seperti sedang dikejar seytan. Cewek tersebut masuk kedalam toilet, tak lama terdengar tangisan dari perempuan itu. Ia tak pernah menyangka bertemu dengan Arsen kembali dan orangtua dari Arsen yaitu nenek dari anak yang sedang berada di rumahnya. Begitu tega takdir yang dimainkan tuhan, ia baru saja dapat melupakan segala hal yang berbau masa lalu.
Tidak, tidak. Sampai kapan pun Arsen tidak akan pernah bisa mengambil Gabriel darinya. Ia bersusah payah mengandung Gabriel dan membesarkan anak itu, jadi ia tidak pernah sudi memberikan Gabriel dengan tangan terbuka meskipun ia akan diberikan uang yang banayak tetap ia tidak akan mau.
Nisa menghapus sisa air matanya. Ia tidak boleh seperti ini, ia harus kuat dan menghadapi dunia yang penuh dengan kekejaman. Anaknya butuh pahlawan dari segala macam ancaman.
Ketika perempuan tersebut berbalik, betapa kagetnya ia dengan sosok yang ada di depan dia sekarang. Nisa menundukan kepalanya takut dengan wanita yang ada di hadapnnya saat ini.
"A-ada apa buk," ucap Nisa takut-takut.
__ADS_1
"Kamu kenal dengan Arsen?" Ariana mengangkat dagu Nisa hingga perempuan itu menatap langsung mata biru lautan yang dimiliki Riana.
"I-iya. Ta-tapi saya nggak dekat dengan dia buk."
"Ouhh gitu. Saya minta rahasiakan apa pun tentang Arsen yang kamu ketahui dari Alex."
"Alex siapa buk?" Wanita tersebut mengernyit kala mendengar nama yang sangat asing di telinganya, bahkan ia sendiri saja tidak mengenal siapa Alex, jadi bagaiman caranya ia menceritakan tentang Arsen kepada orang tersebut.
"Orang yang tadi mirip dengan Arsen." Usai mengatakan itu, Riana pergi meninggalkan Nisa sembari berputar angkuh. "Dan satu lagi, jika kamu buka mulut. Sampai ke ujung dunia pun saya akan cari kamu. Ingat itu PELAYAN."
Hati perempuan itu tertohok kala kata pedas tersebut kena di hatinya. Air mata yang mulai berhenti kembali bersimabah keluar. Ia tak pernah berpikir bahwa nenek dari anaknya seperti seorang Ariana. Mungkin ini semua pil pahit yang harus ia telan sendirian.
Derttt
Nisa menghapus air mata, lalu mengangkat ponselnya.
"Halo ada apa bik?"
"......"
"APA!! Gabriel masuk rumah sakit?"
__ADS_1
___________
TBC