Tragedi Malam Itu

Tragedi Malam Itu
Part 31


__ADS_3

POV NISA


Diriku sekarang ini sedang dirundung masalah yang amat besar terjadi di dalam hidupku.  Perdana dan pertama itulah yang terjadi padaku, aku tidak bisa berbuat banyak. Langkah perlangkah aku berlari sejauh mungkin dari taman itu.  Gabriel tak henti-hentinya menangis di dalam gendongan ku. Di dalam hati yang kecil aku merasakan sangat kasihan dengan anak itu, ia masih kecil dan tidak tahu apa-apa harus ikut terkena masalah kami. Aku mengaku kepada kalian dan tuhan, semua ini adalah salah ku. Aku yang bodoh tidak bisa mencegah semuanya.


Aku menarik napas kelegaan kala melihat sebuah taksi melaju kearah kami. Aku melambaikan tanganku kepada taksi tersebut, dan taksi itu pun yang melihat lambaian tanganku menyetopkan mobilnya tepat di depan kami.


Tangisan Gabriel mulai mereda hingga tak terdengar lagi suara isak tangis, sepertinya anak itu telah terlelap karena lelah menangis sepanjang pelarian dari taman. Saat aku telah usai mengatakan yang bisa dikategorikan sebuah pengakuan kepada laki-laki brengesk itu, dengan cepat aku membawa Gabriel pergi dari sana, agar tak mendengar perkataan kasar yang bakalan ia ucapkan kepada Gabriel.


Ketika aku telah masuk kedalam taksi tersebut, aku dapat melihat wajah bingung dari pak supir, aku ikut mengernyitkan alis, tapi sesaat kemudian barulah aku menyadarinya. Pasti sang supir sedang bingung dengan wajah ku yang terluka dan banyak mengeluarkan darah.


"Pak tolong antar kami ke jalan xxxxx." Dengan canggung aku mengatakannya, lalu menghapus darah yang mengucur menggunakan kain bajuku yang baru saja aku sobek.


Ia mengalihkan pandangannya pada kaca mobil yang menggantung di depan lalu menatap depan. Ia mengangguk dan berusaha tenang meskipun sangat susah sekali untuk ia tenang. Mobil pun melaju meninggalkan pinggir jalan tempat aku berdiri tadi.  Dengan rasa penuh kelegaan aku menarik napas sembari membaringkan Gabriel pada pangkuanku.


Secara lamat ku memandang wajah anak itu yang 90 persen mirip dengan Arsen ayahnya. Tanganku terangkat dan membelai suarai Gabriel dengan lembut. Setiap usapan yang aku berikan kepada anak itu, dan begitu banyak pula aku merasakan bersalah kepada anak ku.


Arsen dipandangan ku saat sejak SMA ialah, dia merupakan seorang anak yang tampan dan merupakan laki-laki tertampan yang pernah aku lihat, semua orang mengidolakannya. Ia pindah ke sekolah kami sejak aku kelas XI dan pada saat itu aku satu kelas dengannya. Kala guru memanggil namanya dan memperkenalkan pada kami, ia masuk ke dalam kelas. Semua orang terpana dengan penampilannya, masih dapat ku ingat saat itu ada seorang perempuan yang bernama Lili pingsan secara tiba-tiba. Kelas menjadi heboh, namun aku dapat merasakan hal yang ganjal dari laki-laki itu. Ia sama sekali tidak ada tersenyum dan sangat kaku, saat Lili pingsan pun ia hanya menatap bosan kejadian tersebut.


Dan saat guru memilihkan ia tempat duduk tepat di belakang ku banyak anak murid yang iri dengan ku. Tapi mau bagaimana lagi, itu semua adalah kehendak guru, mereka hanya menatap sambil menggigit jempol. Waktu terus berlalu hingga satu bulan ia bersekolah di tempat kami, dan saat itulah sering terdengar desas-desus tak mengenakan tentang Arsen. Laki-laki tersebut digadang-gadang memiliki penyakit LGBT karena tak ada satu pun wanita yang ia suka di sekolah kami hingga menolak mentah-mentah wanita tercantik di sekolah ku.


Dan dari kejadian itu orang-orang mulai menjauhi Arsen, lagipula orang tak berani dekat dengan Arsen sebab laki-laki itu akan marah jika ada seseorang yang berani mencari masalah dengannya. Tersenggol sedikit pun, orang yang menyenggolnya ditemukan pagi besok pasti dalam keadaan babak belur.


Terkadang aku kasihan melihatnya yang tak mempunyai teman. Aku sering memperhatikannya di dekat taman belakang, ia sering melamun sambil menghisap rokok. Dari cara tatapannya saja sudah dapat aku tebak ia memiliki masalah yang besar, namun perasaan peduli sirna ketika ia melakukan hal bejat itu kepada ku.


Sebuah suara menyadarkan ku. Dengan cepat aku memandang sang supir tadi yang memanggil ku.

__ADS_1


"Iya ada apa pak?"


"Kita sudah sampai mbak," ucapnya membuatku menatap pada kontrakan yang kami diami.


Aku menghela napas, kemudian membangunkan Gabriel. Saat Gabriel telah kembali pada dunia nyatanya, kami langsung turun dan membayarkan uang perjalanan kepada pak supir.


"Nda?" Panggil Gabriel dan meremas telunjuk tanganku.


Aku meliriknya dan tersenyum pada anak itu. Ia terlihat mengemaskan di bawah sinar rembulan dan matanya yang indah bagaikan lautan yang terpantul oleh cahaya indah bulan.


"Iya sayang ada apa nak?" Tanyaku lembut.


Ia terlihat berpikir sebentar lalu mengetuk-ngeuk jarinya ke dagu. "Bunda kenapa tadi malahan dengan om Alsen? Om Arsen jahat ya dengan bunda. Kalau gitu Iel nggak mau lagi main sama om Arsen." Aku hanya menanggapinya dengan ulasan senyum masam.


"Dah yuk kita masuk," ucapku tanpa mau menjawab pertanyaan Gabriel.


Dengan santainya aku mendorong pintu reot itu. Lalu melangkah masuk tanpa ada perasaan yang tak mengenakan hati sedikit pun. Sebuah pemandangan yang tak ku sangka-sangka menghujam ku berkali-kali tanpa ampun. Kaki ku lemas untuk berdiri dan menatapnya di depan. Keringat dingin keluar dari pori-pori tubuhku.


"Om Alsen ngapain di sini Nda?" Aku menoleh sebentar lalu melihat Arsen yang tengah duduk santai di sofa sembari menatap kami.


"Bunda juga nggak tau Iel," aku menatap Gabriel yang tingginya sepingganku. "Iel masuk kamar dulu aja, biar bunda bicara sebentar dengan om Arsen ya."


"Enggak mau, nanti bunda disakiti om Alsen lagi," rajuknya.


Aku menarik napas kala keras kepalanya Gabriel kambuh lagi. "Nggak papa kok bunda nggak akan disakiti om Alsen lagi. Percaya deh sama bunda." Aku memasang wajah imut yang amat menggelikan apalagi dilihat oleh Arsen.

__ADS_1


"Yaudah Iel masuk dulu ya nda," Gabriel menarik ku untuk merunduk," entar kalau bunda diapa-apain sama om Alsen bilang ke Iel biar Iel mukulin om Alsen nya," bisik anak itu di telingaku.


Aku terkekeh mendengarnya lalu mengangguk, sebelum ia pergi aku mengusap kepala anak ku terlebih dahulu. Aku memejamkan mataku untuk menenangkan perasaan gugup ini. Ketika aku telah membuka mataku kembali langsung ku lemparkan tatapan ku pada Arsen yang tengah duduk di sana. Ia sepertinya tengah mengamati aku dan setiap sudut kontrakan ini.


Aku berusaha menyemangati diriku sendiri, dan berjalan menuju sopa. Aku duduk di sana dan berhadapan dengan Arsen. Ia terlihat sedang mabuk dan matanya merah, dan hal tersebut membuatku teringat dengan malam itu dan berusaha menjauh untuk meminta bantuan tetangga agar membantuku mengusir Arsen dari rumah ku.


"Duduk," perintahnya sambil menatapku dingin ketika aku hendak berjalan kearah luar.


Aku tercekat dengan ucapannya yang dingin bagai salju di musim dingin. Dengan reflek aku duduk kembali di sopa. Susah payah ku telah ludah untuk menahan rasa gugup.


"Jadi benar?" Tanyanya yang membuatku ternganga tak mengerti.


"Benar apanya?"


"Jadi benar aku yang telah melakukan itu kepada mu?" Aku terdiam dan berperang dengan pikiran ku, kenapa ia tiba-tiba percaya, bukankah Arsen tadi tak percaya.


"Hm. Ngapain kamu kesini?"


Ia menarik napas dan mengubah posisi duduknya.


"Kenapa kamu marah jika aku berkunjung kerumah anak ku?" What apa dia bilang? Anak ku. Tidak salah dengarkan, dia mengakuinya. Tidak dia bukan ayahnya, Gabriel hanyalah anak ku bukan anak orang lain. "Aku hanya menganggap Gabriel adalah anak ku, tapi jika kamu aku masih menganggap mu adalah orang yang akan menjadi target ku."


"Apa kamu bilang?"


"Dan satu lagi, aku telah membuatmu dipecat dari Cafe milik Andi. Dan sebagai tebusannya aku memberikanmu pekerjaan di perusahaan ku. Karena aku tahu kamu dulu sangat pintar, maka kau ku letakkan di bagian sekretaris ku atau bisa dibilang asisten pribadi ku."

__ADS_1


__________


Tbc


__ADS_2