Tragedi Malam Itu

Tragedi Malam Itu
PDBU (6)


__ADS_3

Pemandangan malam yang menenangkan tanpa adanya suara jangkrik dapat membius Gabriel yang sedang rebahan di atas sofa yang terdapat di kamarnya. Matanya lurus menatap ke atas, pikirannya jauh melayang hingga sampai ke Australia. Gabriel sedang dalam masa galau. Ia tidak tau apakah pilihannya sudah benar? Namun ia ingin menunggu Cilla pulang dari Australia.


Rasa cintanya hanyalah untuk Cilla bukan orang lain. Tapi mendengar pengakuan Cilla tidak mencintainya sedikit membuat pertahanan dan keyakinan hancur hanya dalam sekejap.


Dia memang tidak mendengar pengakuan langsung dari Cilla, namun Gabriel sangat yakin apa yang diucapkan ayahnya tidaklah salah. Gabriel menarik napas dalam, tangannya mencengkeram sisi sofa. Kenapa takdir hidupnya seperti ini sih?


Gabriel tidak bisa membiarkan begitu saja. Ia harus menanyakan langsung ke Cilla. Gabriel bangun dari rebahannya, kaki yang semula selonjoran ia lipat menjadi bersila. Cowok itu mengambil ponsel yang tergeletak di samping. Ketika ia membuka layar ponsel tersebut, tiba-tiba layar berubah menjadi panggilan masuk. Gabriel cukup terkejut saat melihat nama yang tertera di layar itu.


"Cilla." Senyum Gabriel mengembang, baru saja ia ingin menelepon wanita itu, namun sepertinya Cilla sangat pengertian sehingga apa yang sedang ia butuhkan dan dengan cepat pula disiapkan.


"Hallo Cilla."


"Hallo. Gimana kabar kamu di sana? Ok kan? Pastilah baik, kan bentar lagi tunangan. BTW selamat ya sebentar lagi kamu bakal jadi suami nih. Padahal kan baru saja kita main boneka di kamar sama-sama dulu. Ha ha ha. Waktu terasa cepat ya."


Gabriel terdiam mendengar ucapan Cilla. Sama sekali tidak ada kata sakit di ucapan itu yang ada hanya nada penuh kebahagiaan yang terdengar. Ternyata pemikiran Gabriel salah, Cilla benar tidak mencintainya. Harapan Gabriel luluh lantak, namun mau bagaimana lagi?


"Kamu senang aku mau nikah?"


"Yaiyalah. Siapa sih yang nggak senang. Eh Gabriel doain dong semoga aku cepat nyusul nih."


Gabriel tersenyum masam seraya menyadarkan punggungnya di bantalan sofa.


"Kamu nggak cemburu?"


"Apa cemburu? Ha ha ha. Gabriel ya enggak lah, kan aku nggak cinta sama kamu. Eh Gabriel sekalian nih gue mau kasih tau kamu kabar bahagia."


"Apa itu?"


"Gabriel kamu tau nggak aku baru aja lho ditembak sama cogan. Dia asal Indonesia juga tau, namanya Revan. Gue itu sudah lama ngejar-ngejar dia tapi akhirnya gue dapatin juga hatinya dia."


Gabriel sakit mendengarnya, ia menjauhkan ponsel dari telinganya. Ia tak tahan mendengar celotehan Cilla yang penuh rasa senang. Gabriel menarik napas lalu membuangnya pelan. Dia kembali mendekatkan ponsel tersebut ke telinganya.


"Cilla sepertinya aku tidak bisa berlama-lama lagi. Lagian kamu juga sudah tau jika aku sebentar lagi tuangan. Assalamualaikum, aku tunggu ya kedatangan kamu di Indonesia!"


Gabriel memencet tombol merah lalu membuang handphone itu ke sembarang arah. Dia menoleh ke arah jendela yang tidak tertutupi gorden. Malam ini sama sekali tidak ada bintang, mungkin mereka tau hati Gabriel sedang sedih maka ia tak menunjukkan dirinya.


"Cilla mungkin tidak pernah mencintai ku. Sekarang aku mengerti apa yang dikatakan Cilla dulu. Tidak ada namanya cinta di dalam persahabatan. Yang ada di dalam persahabatan hanyalah ikatan pertemanan." Gabriel mengucapkan sama persis dengan yang diucapkan Cilla dulu. "Jadi ini maksud kamu Cilla? Apa sih kurangnya aku?"


Gabriel merenung memikirkan apa kekurangannya. Di dalam kamar itu hanyalah hening, hingga suara ketukan pintu lah yang menyadarkan Gabriel. Gabriel menarik napas kemudian menoleh dengan malas ke arah pintu.


"Masuk."


Ceklek


Pintu terbuka dan masuk lah seorang anak laki-laki. Bagas berjalan menghampiri Gabriel yang duduk di sofa lalu dia pun ikut duduk di samping abang nya. Bagas duduk seperti orang sedang mengamati, kedua tangannya terlipat dan sorot mata tak lepas dari wajah abang nya yang amat terlihat sekali raut kesedihan.


"Ngapain kamu ke sini?" Ujar Gabriel sambil melirik ogah ke arah adiknya, "Kamu belum tidur? San-sana, Abang bukan penjaga kebun binatang yang harus nidurin Kancil seperti kamu. Abang nggak sudi kedatangan tamu yang sangat licik."


Bagas cemberut. Ia menatap jengkel wajah Gabriel, lalu saking gemasnya dia, dan dengan sengaja Bagas mencubit pipi Gabriel. Gabriel memandang adiknya dengan sorot membunuh, berani sekali adiknya itu menyentuh wajahnya.


"Kenapa Bang? Bagas amati wajah Abang ini seperti tampang-tampang kesedihan. Lagi galau ya Bang? Oh iya Bagas baru ingat kalau Bagas tadi sempat dengar kalau Abang baru saja telepon sama Kak Cilla. Kalau nggak salah Kak Cilla sudah punya pacar ya? Ciehhh cemburu, ciehh ngambek, ciehhh sudah pandai cinta-cintaan , cie----"


"Stop-stop berhenti ngomong yang enggak-enggak tuyul."


Bagas merubah wajahnya menjadi kesal. Enak sekali abangnya mengatakan dia tuyul.


"Kalau Bagas anak tuyul berarti Papa tuyul, Bunda tuyul, dan A-Abang juga tuyul dong. Ha ha ha. Dan kita adalah keluarga tuyul. Ha ha ha. Pantas Papa kaya banget, ternyata keluarganya tuyul."


Gabriel tak berkedip lagi mendengar pernyataan Bagas barusan. Iya juga sih, kalau Bagas tuyul berarti dia tuyul juga dong? Kan dia abangnya. Gabriel menyentuh rambutnya. Masih ada. Ia bernapas lega, ternyata kepalanya tidak botak.

__ADS_1


"Kenapa Bang nyentuh rambut? Takut botak ya Bang kaya Ipin di dekat TV itu?"


"Diam kamu!!!" Bentak Gabriel dan beranjak dari sofa menjauhi adiknya yang sudah masuk kategori orang stres di dunia. "Lagian kenapa sih kamu datang kemari?"


"Bang pinjam stick Game. Bagas mau main Free Fire nih. Stick Game Bagas rusak."


Gabriel yang baru duduk di bibir ranjang pun langsung membulat. Apa adiknya sudah bisa main begituan? Baru 9 tahun lho. Jadi selama ini Arsen membolehkan Bagas main Game?


"Bagas kamu sudah berani ya main begituan? Siapa yang ngajarin? Awas kamu ya, Abang laporin ke Papa biar kamu dilempar ke samudra Hindia. Dan entar dimakan hiu. Mau kamu?"


Bagas lantas menggeleng. Ayahnya memang tidak tau jika ia sudah bisa bermain Game. Bagas baru sadar kalau abangnya ini hobi mengancam dan ancamannya tidak pernah main-main. 


"Bagus kalau gitu masuk kamar. Jangan pernah lagi main Game, nanti Abang suruh Papa sita handphone kamu. Abang tau kok kamu bilang ke Papa kalau ponsel buat belajar, tapi malah kamu gunakan untuk hal tak penting itu. Sana keluar Abang juga nggak punya yang namanya stick."


Anak itu bangkit dari sofa. Ia memasang wajah juteknya kala melalui Gabriel. Kakinya dihentak-hentak agar Gabriel bisa mengetahui jika Bagas benar-benar kesal dengan abangnya itu.


Brakkk


"Dasar harimau, pelit, medit, mudahan rezekinya sulit!!!" Teriak Bagas dari luar.


"Dasar bocah aneh. Ngidam apa Bunda sampai anaknya jadi seperti Bagas." Gabriel mengambil boneka stroberi nya lalu memeluknya dengan erat. Gabriel tertidur bersama boneka tersebut yang menjadi teman tidurnya selama ini.


_______


Rara berjalan melewati lorong-lorong sekolahnya. Sehabis dari toilet dia langsung masuk ke dalam kelas, namun tidak langsung masuk ke kelas nya lebih dulu. Rara sempat mampir di kelas Gabriel untuk menenangkan hartanya yang terus meronta ingin melihat wajah Gabriel, ia mengintip cowok itu belajar dari jendela kelas. Tentu saja aksinya itu tidak diketahui oleh siapa-pun.


"Assalamualaikum." Rara masuk ke dalam kelasnya usai mendapatkan jawaban salam dari murid dan guru yang mengajar.


Ia berjalan cepat sambil memegang perutnya yang terasa perih. Ia duduk di bangku yang bersebelahan dengan Reza, sedangkan Adhan duduk di belakang mereka sendirian.


Kening Reza mengernyit ketika melihat Rara tak seperti biasanya. Dari raut wajahnya dapat Reza simupulkan jika Rara sedang memiliki masalah, tapi apa? Padahal tadi pagi ia melihat Rara terlihat sangat cerah tidak seperti sekarang yang redup.


Sekilas Rara melirik Reza, lalu menggeleng. Ia malu jika menceritakan ini dengan Reza, bagaimana pun Reza tetap lelaki. Jika ia menceritakan masalah ini yang ada dia dibuly habis-habisan oleh Reza dan apalagi Adhan yang mulutnya sudah seperti emak-emak kompleks.


"Lo PMS ya?"


Dengan malu Rara mengangguk. Ia memang lagi dapet makanya perut Rara sangat sakit. Namun ada rasa geli juga di dalam diri Rara ketika Reza bertanya itu kepadanya.


"Iya nih mana bocor lagi, kan gue nggak punya softex. Lo beliin ya?"


Langsung saja Reza menggeleng. Ia sangat tidak sudi membeli benda tersebut, nanti dikira orang, dia lagi yang sedang haid.


"Idih.. ogah gue. Beli aja sendiri. Kenapa nggak pakai No Drop aja? Kan no bocor-bocor."


Mata Rara melemah. Ternyata kedua sahabatnya satu habitat. Pantas saja tidak ada yang jelas, namun bukan itu yang ada di pikiran Rara saat ini, tapi apakah dia tahan terus berada di samping dua orang aneh?


"Anak-anak sebelum ibu akhiri pelajaran, apakah ada yang ingin bertanya?" Tanya ibu guru yang mengajar di bidang IPS.


Seorang siswi terpintar di kelas mereka pun mengangkat tangan. Namanya Suci dan kelakuannya juga sangat sok suci, di mata Rara.


"Ibu Benua terluas di dunia apa Buk?"


"Suci Benua terluas di dunia ialah benua tempat tinggal kita sekarang. Benua Asia jawabannya."


"Salah Buk." Semua menatap ke arah Rara yang menyangkal jawaban ibu guru yang sedang mengajar di depan.


"Kalau begitu apa jawabannya?"


Dengan percaya diri Rada berucap, "Benua terluas di dunia itu adalah benua cintanya Rara untuk Gabriel. Bahkan saking luasnya, dunia pun tak dapat menampung."

__ADS_1


Semua orang menatap ke arah Rara dengan geli. Ucapan Rara tersebut lantas menjadi objek buliyan yang paling menyedapkan.


"Huuu cewek halu. Sepertinya stres karena cintanya ditolak sama Gabriel kemarin."


"Lagi pula siapa yang mau sama cewek bar-bar kaya dia juga? Nggak ada."


"Biasa anggota haluers satu species sama Kpopers."


"Ha ha ha."


Semua orang mengejek Rara, namun sepertinya Rara tampak biasa-biasa saja. Cacian dan hinaan seperti ini sudah biasa bagi Rara ia bahkan pernah lebih diejek dari pada ini.


"Sudah-sudah. Jangan berisik, kalian mau saya keluarkan apa tidak? Kalau mau, diam semua!!!"


Kelas yang mulanya ricuh kembali tenang. Satu pun tidak ada yang berani bersuara. Guru tersebut menarik napas seraya menggeleng heran terhadap kelas ini, setiap murid memiliki kelainan masing-masing.


"Assalamualaikum."


Guru itu pun pergi dari kelas tersebut sehingga para murid juga ikut keluar.


"Lo tadi kenapa Ra? Saraf lo kembali kambuh ya?


"Reza ingat kata gue tadi, beliin gue softex. Buruan gue mau ketemu Gabriel nih." Reza mengambil uang yang diberikan Rara dengan lemah dan pergi ke warung. Adhan yang menatap kejadian itu hanya terkikik geli.


________


Hati Rara saat ini sedang berbunga-bunga. Ia berjalan dengan riang mengarah ke kelas Gabriel. Ketika melihat cowok itu keluar dari kelas dengan cepat Rara menghampiri lelaki itu.


"Hai Gabriel!" Sapa Rara seraya berjalan di samping laki-laki itu.


Gabriel menarik napas karena lagi-lagi hidupnya diganggu. Semula ia senang sekali Rara ingin menjauhinya, tapi ternyata takdir membuat mereka selalu bersama. Ia benci takdir, semuanya konyol tapi nyata.


"Mau apa lagi lo?"


"Mau ke kantin. Yuk kita barengan ke kantinnya. Bentar lagi juga kita bakal tunangan."


"Tapi gue nggak cinta sama lo."


Rara menarik napas, lagi-lagi Gabriel mengatakan itu. Dia sudah bosan mendengar setiap kali dia bersama Gabriel kalimat tersebut yang terus diucapkan cowok itu.


"Gabriel bisa nggak sih nggak usah ngucapin kalimat itu mulu? "


"Nggak bisa," jawab Gabriel kepada Rara yang berjalan di sampingnya. Cewek tersebut berusaha menyamakan jalannya dengan jalan dirinya.


"Gabriel tau nggak kalau Gabriel bagaikan jam. Kalau jam jarumnya muterin angka, sedangian Gabriel terus muterin pikirannya Rara, hingga Rara tidak bisa lagi berpikir."


Jalan Gabriel spontan berhenti mendadak. Ia memicing ke arah Rara. Tatapan dingin yang diberikan Gabriel membuat dada Rara berdegup kencang.


"Jangan pernah ngatakan sesuatu yang alay. Kalau lo terus berbicara seperti itu, entar kuping gue tuli."


Dengan takut Rara mengangguk. Ia tidak pernah bisa meluluhkan hati Gabriel. Ketika mereka kembali berjalan, seorang wanita yang mengenakan baju kesempitan dengan sengaja menghalang kakinya tepat di depan kaki Rara, sehingga Rara yang tidak melihat pun menyepaknya. Al hasil ia hampir terjatuh jika tidak ada Gabriel yang menahannya. Gabriel menarik tangan Rara sehingga kepala Rara menabrak dada keras Gabriel.


Rara mengangkat kepalanya dan Gabriel menunduk. Mereka berdua sama-sama terpana dalam keterdiaman. Mata mereka beradu pandang tanpa ada percakapan. Posisi tangan Gabriel berada di atas siku Rara. Semantara tangan Rara berada di dada Gabriel.


__________


Tbc


Bagaimana menurut kalian dengan part ini?

__ADS_1


Tolong Like, comen, dan vote jika berkenan. Terimakasih.


__ADS_2