Tragedi Malam Itu

Tragedi Malam Itu
Part 66


__ADS_3

Buat kalian yang ingin melihat visual mereka bisa dilihat di part 65,64,63,62


Setelah beberapa lama Nisa masuk ke dalam kamar mandi Arsen yang menatap nya dari belakang pun merebahkan tubuhnya yang amat terasa lelah akibat perbuatannya malam tadi yang menguras tenaga.


Arsen menatap kamar mandi yang terdapat Nisa  dan sedikit tersenyum kecil, ini adalah pagi pertamanya saat bangun tidur dapat tersenyum dengan tulus. Senyuman seakan tenggelam dalam hidupnya sejak sekian lama setelah ia kehilangan cinta pertamanya, namun senyum itu secara perlahan terbit kembali mulai dari senyuman kecil hingga senyuman lebar.


Ia menelentangkan tubuhnya dan meletakkan kedua tangannya di atas kepala. Mata laki-laki itu lurus menatap ke atas, tidak ada apa-apa di sana hanya saja ia lebih nyaman kala melihat warna putih langit-langit kamarnya. Ia memejamkan mata sejenak untuk menenangkan pikiran berharap ia bisa kembali tertidur.


Kilasan masa lalu yang secara kepingan mulai memenuhi kepalanya, hingga sampailah kepingan tersebut memutar kejadian malam tadi. Ia tersenyum miris saat mengingat masa lalu yang penuh dengan kata suram, tidak ada kebahagiaan yang ada hanyalah penderitaan yang dirasakan secara diam-diam. Namun ia cukup lega karena Tuhan bersikap adil atas takdir hidup mereka, kini kesedihan telah terbalaskan dengan senyuman.


Pejaman mata Arsen yang mulai merasa nyaman itu pun tiba-tiba harus terganggu dengan sebuah deringan ponsel di atas nakas. Ia mendengus sebelum akhirnya lebih memilih membuka mata dan melihat siapa yang telah berani mengganggu kenyamanannya.


Dengan malas-malasan Arsen bangkit dari rebahannya lalu duduk di tepi ranjang. Tangannya yang tampak terlihat gagah itu pun ia ulurkan untuk mengambil handphone Nisa yang terus berdering.


Ketika telah melihat sang penelpon Arsen hanya berdecak kesal. Saat ia ingin menggesek layar merah, namun sebuah suara dari dalam kamar mandi membuatnya menghela napas dan berpikir dua kali untuk mematikan panggilan yang sialnya tidak lelah berdering.


"Arsen tolong angkat telepon aku dulu, siapa tau penting!!" Seru Nisa dari dalam kamar mandi.


Dan Arsen yang mendengarnya hanya menatap datar layar ponsel yang terpapar dengan jelas tulisan berupa kata HABIB. Untuk apa Habib menelepon istrinya? Ia tau niat Habib ingin menelepon Nisa, pasti laki-laki itu ingin menyelesaikan masalah tentang perasaan pria itu dengan istrinya.


Arsen tidak akan membiarkan mereka berbicara, ia cukup senang atas tindakan yang diambil oleh Nisa untuk menghindar lebih dulu dari laki-laki itu.


"Telepon ini dari nomor tidak dikenal baby! Apa kamu masih ingin mengangkatnya?" Teriak Arsen sambil melirik ke pintu kamar mandi.


"Angkat saja siapa tau penting!!"


Tidak sesuai dengan perintah Arsen malah menggesek layar merah dan mengabaikan perintah istrinya yang meminta mengangkat telepon itu. Ia tersenyum senang atas rejekan yang ia berikan, Arsen pun mengirimkan pesan kepada Habib yang berisikan tentang larangan laki-laki itu menemui istrinya, kemudian ketika pesan telah terkirim lantas ia pun menghapus pesan tersebut.


"Arsen siapa yang menelepon?"


"Dia mengatakan salah sambung baby. Apa ku bilang nomor itu tidak penting!!"


"Oh," balas Nisa singkat. Setelahnya tidak ada lagi suara dari dalam kamar mandi itu yang ada hanyalah suara percikan air.


Arsen menghela napas lalu melanjutkan kegiatan rebahannya yang terganggu akibat telepon sialan itu. Namun sebelum matanya benar-benar terpejam, ia lebih dulu menyunggingkan senyum halus seraya memejamkan mata.


________


Arsen yang telah mandi pun duduk di tepi ranjang, sedangkan Nisa duduk di depan meja rias. Wanita itu sedang merias dirinya, namun saat ia ingin menyisir rambutnya sebuah ide melintas di kepala perempuan tersebut.


"Arsen..!!" Seru Nisa sambil menatap pantulan laki-laki itu dari cermin.


Arsen yang sedang berkutat dengan laptop nya pun menghentikan jemari tangannya yang sedang mengetik. Ia menatap Nisa lalu bertanya kepada wanita itu, " Ada apa baby? Ada yang bisa ku bantu?"


"Tolong dong kamu riaskan wajah aku. Kan aku dandan buat kamu, jadi hanya kamu yang tau bagaimana cantik yang kamu inginkan!!"


"Nggak dandan pun kamu tetap cantik sayang!" Ucap Arsen sambil melanjutkan ketikan di laptop nya, laki-laki itu sedang meneliti pengeluaran dana di perusahaanya di bulan ini.


Nisa mendengus mendengar jawaban spontan Arsen yang terlihat lebih mangacuhkan dirinya. Ia mencengkeram kuat sisir yang sedang dipegangnya, dia sangat geram kepada lelaki tersebut. Baru saja sehari mereka menikah dan respon lelaki itu sudah seperti itu? Bagaimana nanti kedepannya?

__ADS_1


"Jadi kamu lebih mentingin laptop kamu itu dari pada aku? Baiklah, jika kamu lebih mentingin laptop, maka jangan salahkan aku laptop mu itu nanti hanya tinggal bangkai," ancam Nisa yang terdengar di telinga Arsen sangat mengerikan.


Arsen tidak membiarkan Nisa melakukan sesuatu kepada laptop kesayangannya itu. Di dalam laptop tersebut sangat banyak tersimpan data-data penting, bisa bahaya data perusahaanya jika terjadi apa-apa dengan laptop nya.


Arsen menarik napas sejenak, ia harus paham bagaimana sikap perempuan. Ia tau perempuan sangatlah sensitif, maka untuk menghindari pertengkaran ia harus menuruti segala apa yang diperintahkan oleh para wanita demi menjadi suami yang manis bagi istrinya. Ia pun menutup laptop nya dan menyampirkan laptop tersebut ke meja nakas.


Laki-laki itu beranjak dari tempatnya lalu menghampiri Nisa di depan meja rias. Dapat ia lihat wajah wanita itu yang sedang menyembunyikan senyuman nya. Ah Nisa selalu malu-malu kucing dari dulu, namun ia sangat menyayangi wanita itu.


"Jadi mana alat rias nya? Sini suami mu ini yang akan mendandankan kamu." Arsen menarik kursi kosong yang ada di sana lalu ia pun menjatuhkan bokong nya di sana.


Dengan senang hati dan perasaan yang membuncah Nisa meletakkan semua alat-alat rias nya di depan Arsen lalu menyuruh laki-laki itu agar memilih sendiri alat rias untuk mendandani wajahnya seperti apa.


Arsen hanya meneguk ludah dan memegang kepala yang pening melihat alat-alat haram untuk dipegangnya. Sumpah melihat dari bentuk dan warna pelangi dari alat make-up tersebut ingin membuatnya mual, kini perutnya sudah berkobar ingin mengeluarkan sesuatu dari dalam sana.


"Baby tidak bisa kah kau memilih nya sendiri, aku tidak mengerti dengan semua ini. Aku saja tidak tau apa kegunaan setiap benda itu," tunjuk Arsen geli dengan semua jenis alat make-up di depannya.


"Terserah mu ingin merias wajah ku seperti apa? Walaupun seperti ondel-ondel aku rela, itu kan hasil karya kamu jadi kamu sukanya seperti itu."


"Aku takut baby nanti melihat wajah mu yang berubah jelek atau seperti tante-tante akibat tangan ku sendiri, lebih baik kau berdandan sendiri biar aku yang akan melihatkan mu yah!" Pinta Arsen sambil memasang pupy ayes nya yang membuat Nisa melihat hal itu merasa sangat gemas, namun ia berusaha agar tidak luluh dengan permintaan suaminya itu.


Nisa semakin tidak tahan dengan kedipan mata Arsen yang sengaja dibuat laki-laki itu sangat lucu dan membuat siapa saja yang melihatnya ingin menyentuh wajah lelaki itu. Oh Tuhan ku sampai kapan aku bisa bertahan?


"Arsen hentikan, aku sangat mual melihat wajah mu yang seperti itu, sangat menggelikan."


"Lantas apa bedanya dengan aku yang mendandani wajah mu? Padahal sama-sama menggelikan."


"Itu beda sayang, banyak kok perias wajah laki-laki," ucap Nisa sedikit merengut pasalnya ia sangat sedih dengan penolakan oleh pria itu.


"Baiklah aku menyerah sayang, aku tidak pernah bisa membantah ucapan mu."


Arsen mulai melihat alat-alat kecantikan yang berada di depannya, ia tidak tau apa saja namanya. Lirkan mata Arsen jatuh kepada bedak tabur My Baby, ia pun menatap wajah sang istri yang putih tidak perlu banyak polesan lagi.


Ia menarik napas lalu mengambil bedak tersebut, mungkin istrinya akan lebih cocok menggunakan bedak tersebut ketimbang alat kecantikan yang lain. Mungkin bedak ini tidak akan membuat wajah sang istri jerawatan, pikirnya.


Arsen menaburkan bedak tersebut ke tangannya, dirasa cukup Arsen pun meletakkan kembali bedak itu pada tempat awal.


"Tutup mata mu," perintah Arsen agar mempermudah dirinya memoleskan bedak itu ke wajah sang istri.


Ia pun memulai kegiatannya yang menaburkan bedak ke wajah istrinya lalu meratakan bedak tersebut agar wajah Nisa putihnya tidak terlihat bertabul-tabul. Ia tersenyum, istrinya sedikit lebih berubah.


"Sudah selesai baby. Jadi apa yang harus aku lakukan lagi?"


"Lipstik."


Arsen memandang bibir Nisa yang sudah memiliki warna merah alami. Ia berpikir buat apa istrinya itu memakai lipstik lagi? Padahal Arsen tidak suka melihat wanita yang terlalu menor.


Namun tidak ingin membantah, Arsen pun menatap satu per satu warna lipstik milik perempuan itu, ia mendengus melihat banyaknya warna. Tapi sebuah warna lipstik yang dirasanya sangat mirip dengan warna bibir Nisa pun menarik perhatiannya. Ia mengambil lipstik yang berwarna cherry tersebut lalu membuka tudung lipstik itu yang berbentuk seperti liptint.


Sebelum memoles, Arsen terlebih dahulu melihat lekat wajah sang istri dan menyerangi devil. Ia mendekatkan wajahnya berpura-pura ingin memoles bibir sang istri, namun kejadian selanjutnya yang di luar nalar Nisa, laki-laki itu malah mencium bibirnya.

__ADS_1


"Ih Arsen kenapa kamu mesum sekali sih?" Tanya Nisa sambil mengercutkan bibirnya.


"Jangan protes baby. Yang jangan dimajukan lagi bibir mu jika aku tidak ingin menciumnya lagi." Nisa cepat mengondisikan bibirnya tersebut seperti semula, ia tidak ingin dicium oleh mahluk mesum itu lagi. "Good baby."


Arsen pun memoleskan lipstik tersebut ke bibir Nisa. Ia mengulas senyum melihat hasil tangannya tersebut, Nisa sedikit berbeda dan jauh lebih cantik dari sebelumnya.


"Sudah sayang, aku tidak suka melihat orang yang terlalu menor. Kamu sudah cantik dengan wajah alami mu, aku lebih suka melihatnya dari pada kebanyakan make-up."


"Baiklah jika itu mau mu." Nisa menatap sedih botol-botol kecantikan yang sengaja ia beli dengan berbagai jenis agar laki-laki itu dapat memilihnya yang dia suka saat merias wajahnya, tapi ternyata laki-laki itu tidak suka dengan wajah kebanyakan make-up.


"Sayang kita akan berbulan madu ke California Amerika Serikat, aku ingin mengajak mu ke makam orang tua kandung mu."


Nisa yang semula menatap cermin langsung berbalik dan menatap suaminya yang sudah memangku laptop kembali.


"Kamu serius?" Tanya Nisa seraya berjalan mendekat ke arah suaminya


"Yes baby! Aku tau kamu sangat ingin ke sana."


Nisa duduk di samping Arsen, lalu menyenderkan kepalanya ke pundak Arsen, sedangkan kedua tangannya ia lingkaran di pinggang pria tersebut.


"Terimakasih." Nisa terdiam sejenak, "Aku tiba-tiba teringat dengan Sarga."


Refleks Arsen langsung menoleh kepalanya menatap Nisa tidak suka.


"Jangan mengingat dia lagi, mengingat dia sama saja dengan mengulang masa lalu yang suram. Aku tidak suka kau mengingatnya, berhenti mengucapkan nama laki-laki brengsek itu. Kau mengerti?"


Nisa menatap lekat mata suaminya dengan penuh arti, " kau mengkhawatirkan ku?"


"....."


Nisa tersenyum melihat respon Arsen yang terkesan mengabaikan ucapannya. Ia mengecup pipi pria tersebut lalu mengetatkan pelukannya di tubuh sang suami. "Terima kasih."


"Hm."


"Arsen." Panggil Nisa sambil memandang layar laptop laki-laki itu.


"Yes baby."


"Aku ingin mengambil Gabriel dari Alsya. Aku merindukan dia."


Arsen menarik napas lalu menghentikan ketikannya, ia sungguh sangat tidak suka dengan permintaan Nisa. Padahal ia sudah sangat senang anak nya itu dibawa oleh Alsya, jadi tidak ada yang mengganggu waktu berduanya dengan Nisa. Arsen akui dia memang egois. Maafkan ayah mu ini nak, batin Arsen berucap.


"Tidak bisakah besok saja? Mereka pasti masih sangat merindukan Gabriel, biarkan Gabriel bersenang-senang dulu dengan mereka," ucap Arsen yang tampak berusaha menunda kepulangan darah dagingnya sendiri. "Lagi pula kita nikmati saja dulu waktu kita berdua."


"Terserah mu saja lah."


Mendengar jawaban Nisa, batin Arsen berteriak senang. Diam-diam ia tersenyum, rencananya berjalan dengan mulus. Di pikiran Arsen saat ini hanya satu, yaitu membuat Nisa hamil lagi secepatnya.


_______

__ADS_1


Tbc


Pesan: Buat para istri di rumah, saya membuat setiap part sebenarnya ada makna tersendiri atau bisa dibilang di setiap partnya itu adalah curhatan saya. Saya ingin jika saya menjadi seorang istri suatu hari nanti, saya ingin dia yang mendandani saya setiap hari sesuai dengan keinginan dia bagaimana cantiknya saya, sedangkan jika di luar saya ingin berdandan biasa-biasa saja. Intinya berdandan lah untuk suami jangan berdandan untuk orang banyak, diri ini hanya untuk satu orang bukan untuk orang banyak.


__ADS_2