
Sorry kemarin naskahnya terkirim 2×
Nisa melambaikan tangannya kepada mobil yang telah bergerak jauh meninggalkan halaman apartemennya. Ia berbalik dan berjalan menuju apartemennya. Baru saja beberapa langkah ia berjalan, tanpa diperintahkan air matanya turun dengan begitu derasnya. Sudah dari dalam mobil tadi ia menahan agar air sialan ini tak menetes, ia tidak mau membuat Arsen yang melihatnya menjadi panik dan kesetanan.
Enatahlah apa hari ini bisa disebut hari bahagianya atau hari terburuknya. Begitu banyak goresan luka di hatinya, hingga tidak dapat terhitung lagi jumlahnya. Ia merasa lelah dengan keadaan ini, padahal ia sangat berharap jika datang ke rumah itu ia telah dimaafkan dan diterima, namun itu hanyalah sekedar harapan hampa. Tidak mungkin ia mendapatkan maaf dari mereka terutama ayahnya dengan begitu mudahnya. Pastilah ada rintangan yang dapat ia tebak akan membuat mentalnya menciut.
Dengan kasar ia menghapus air mata yang mulai mengering di kedua sudut matanya, setelahnya ia menyusri jalanan dengan hentakan demi hentakan kaki yang terlihat kasar. Ia berjalan memasuki apartemen dan menghampiri lift. Saat lift terbuka, ia menekan tombol lantai yang akan ditujunya, dan tak lama sampailah ia pada apartemen yang ia diami.
Nisa menekan bell beberapa kali hingga beberapa detik kemudian pintu apartemennya terbuka dan terlihatlah sang pembuka pintu yang sedang terpaku dengan air mata yang berada di mata Nisa. Untuk beberapa detik hanya heninglah yang tengah dialami kedua orang tersebut.
Merasakan Nisa datang dalam keadaan tidak baik-baik saja, lantas membuat Ibel pun langsung menarik Nisa ke dalam pelukannya, tangis Nisa pecah dan semakin menjadi saat merasakan usapan semangat di punggungnya. Saat merasakan Nisa mulai tenang, Ibel menjauhkan Nisa dari tubuhnya dan dengan segala perhatiannya ia mengusap air mata sang adik.
"Lo kenapa Sa? Apa kata gue, kalau lo pulang dalam keadaan nangis, gue bakal buat si Arsen jadi gado-gado. Terus dagingnya gue goreng dan gue kasih kan ke anjing. Pasti Arsen kan yang buat Lo kaya begini?" Tanya Ibel dengan tegas dengan harapan Nisa dapat berkata jujur.
Nisa menggeleng. Ia melangkah masuk dan seperti tidak ada niatan ingin menjawab pertanyaan dari Ibel. Ia menghempaskan tubuhnya di sofa yang terdapat di ruang tamunya. Perlahan demi perlahan wanita itu mulai bisa mengontrol dirinya, tangisn wanita itu pun mulai mereda.
Dengan usaha ia mengembangkan senyum di wajahnya dengan melihat cincin yang diberikan oleh Arsen, yang mana dihadiahkan sebagai tanda jika mereka telah bertunangan.
Ibel yang duduk di samping Nisa mengikuti arah pandang wanita itu. Dirinya cukup terkejut saat melihat ada cincin mahal yang tersemat di jari manis adiknya tersebut. Ia melirik Nisa yang sedang tersenyum, dan hal itu pula lah mengundang rasa penasaran Nisa yang amat tinggi. Bagaimana tidak ia merasa penasaran dengan wanita itu, jelas tadi Nisa sedang menangis dan kini wanita itu sedang tersenyum, tentu hal itu menjadi tanda tanya bagi Ibel.
"Lo kenapa sih Sa? Jawab pertanyaan gue dong. Kalau Lo nggak cerita ke gue, gue nggak bakal tau apa masalah lo!" Ucap Ibel dengan kesal pasalnya ia belum bisa memprediksi ekspresi Nisa dari matanya.
Nisa menoleh ke arah Ibel lalu sedikit mengembangkan senyuman di wajahnya. "Nisa nggak tau hari ini disebut dengan hari paling bahagia di hidup Nisa atau hari yang paling buruk? Tapi Nisa berusaha menjadikan hari ini adalah hari yang paling baik di hidup Nisa." Jawab Nisa sedikit sumringah untuk membangkitkan semangatnya kembali.
Yah walau kedatangannya di rumah itu sangat ditolak oleh mereka dan kejadian itu masih terngiang-ngiang di benaknya, Nisa dengan usaha sebisa mungkin melupakan hal tadi.
__ADS_1
"Maksud lo apaan Sa? Gue nggak ngerti sama lo. Bahasa lo terlalu tinggi, gue nggak ngerti buat menyimpulkannya."
"Kak, tadi Nisa dilamar sama Arsen dan____."
"Hah serius lo dilamar sama Pak Arsen? Terus lo terima nggak? Lah tadi kok lo nangis sih? Dia pasti bohongin lo kan? Emang dasar bos nggak punya hati, enak sekali dia mempermainkan hati adik kesayangan gue. Noh orang kayanya belum pernah negarasaain bogeman gue yang bisa ngantar dia sampai ke planet Mars sih, awas aja nanti Pak Arsen, nggak perlu pakai pesawat ataupun segala macamnya gue bakal ngantar noh orang ke planet mana pun pakai tendangan gue."
Nisa menarik napas panjang mendengar serta melihat praktek tendangan Ibel yang sangat tampak seperti anak-anak. Entahlah ia harus bersyukur atau tidak memiliki kaka yang sejenis Ibel ini.
"Kak Ibel dengerin Nisa dulu. Nisa belum selesai ceritanya."
"Emang ada lagi sambungannya?" Tanya Ibel dengan bodohnya yang membuat Nisa lagi-lagi harus menarik napas panjang dan mengeluarkan secara tenang, agar emosinya tidak meluap dan berakhir dengan meninggalkan Ibel sendirian.
"Iya Kak Ibel. Nisa itu tadi habis dilamar sama Arsen pulangnya kami berkunjung dulu ke rumah keluarga angkat Nisa yang jagain Nisa dari kecil. Bagaimana pun juga mereka berhak mengetahui tentang Gabriel dan pertunangan Nisa dengan Arsen, ibaratnya minta restu sama mereka. Tapi, Nisa sedih mereka nggak kenalin Nisa, Mama sakit gara-gara Nisa, terus tadi Papa masih sama benci sama Nisa. Nisa sedih Kak, tapi Nisa usahain tetap senang."
"Nisa harus kuat. Papa Nisa pasti maafin Nisa kok nanti. BTW adiknya Nisa cantik nggak?"
Nisa mengangkat kepalanya dan menatap Ibel dengan senyuman, ia pun mengangguk sambil mengingat wajah rupawan sang adik yang sangat luar biasa cantiknya.
"Alsya sangat mirip dengan orang Turki, Nisa suka dengan wajah Alsya."
"Berarti cantik dong? Nggak kaya gue yang jelek begini. Ha ha ha," tawa Ibel berusaha menghibur Nisa, namun suara tawanya hanya membuat heran Nisa. Ada apa dengan Kak Ibel?
"Kak Ibel kenapa ketawa?"
"Nggak papa senang aja."
__ADS_1
Nisa ber-oh ria seraya menatap ke arah kamar yang pintunya terbuka. Senyuman tulus yang selalu menemani perjalanan hidup Nisa turut mengembang saat melihat malaikat kecilnya yang tengah meringkuk di atas kasur yang sedang terlelap.
"Iel udah lama ya tidurnya?" Mengingat hari sudah cukup malam pastilah anaknya tadi sangat mengkhawatirkan dirinya, dan beruntung pula hari ini ia sedang halangan jadi tidak diwajibkan baginya untuk menunaikan sholat.
"Baru aja."
"Oh."
Saat Nisa ingin beranjak sebuah getaran dan suara bertanda ada notif masuk pun langsung menghentikan segala rencana Nisa. Ia mengambil handphonya dan membuka pesan masuk dari nomor yang sangat dikenalnya.
Nisa membaca pesan tersebut sambil mengernyit dan terlihat sangat kaget. Ia membelalak dan segera mematikan layar ponselnya sambil menggeleng tak percaya.
"Ada apa Sa?"
"Arsen..."
"Ada apa dengan Arsen Sa?"
"Dia mau ngajakin aku besok makam malam sama Gabriel buat ketemu orang tuanya. Gue takut Kak." Ucap Nisa tak percaya diri saat mengingat betapa tidak sukanya Ariana dengan dirinya.
________
Tbc
Jangan protes kalau dikit, beruntung aku mau up.
__ADS_1