Tragedi Malam Itu

Tragedi Malam Itu
Part 56


__ADS_3

Hanya keheningan yang terjadi di dalam lift, kedua insan tersebut entah mengapa Sama-sama tidak mau membuka perbincangan. Satu sibuk dengan handphone yang berada di tangannya dan yang satu disibukkan dengan memandang wajah sang wanita yang terlihat serius. Ia begitu menikmati wajah itu, dan tanpa sadar dirinya tersenyum saat melihat kerutan kecemberutan wanita tersebut.


Sebuah ide terlintas di pikirannya, bagaikan tidak mau kehilangan momen berharga ini, maka secara diam-diam ia mengeluarkan hanphonenya, lalu yang dilakukannya adalah memotret wajah wanita itu secara diam-diam.


Ia mengembangkan senyum saat melihat hasil jepretan dari ponsel mahalnya yang begitu sempurna. Agar tidak diketahui aksinya itu dengan cepat ia memasukkan handphonenya  ke dalam saku celana. Sekali lagi ia mengamati wajah itu, dirinya begitu mengagumi perempuan tersebut sampai-sampai ia kehabisan kata-kata untuk memuji wanita itu.


Mata mereka bertemu pandang saat perempuan  itu mengangkat kepalanya. Ia tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut, dengan cepat ia mengunci pandangan mereka dan hingga dapat ia lihat wanita itu terintimidasi dan berusaha menahan debaran jantungnya. Ia tersenyum saat melihat wanita itu salah tingkah dan berusaha menyembunyikan rona merah yang terdapat di pipi perempuan tersebut.


Tak berselang lama sebuah dentingan lift pun menyadarkan mereka. Sang wanita entah harus bersyukur atau tidak ketika pintu lift terbuka, namun ia berjalan mendahului atasannya untuk mengurangi rasa tak nyamnnya. Ia mengetahui jika atasannya itu sedari tadi memperhatikannya begitu intens.


Namun baru beberapa langkah ia berjalan, tiba-tiba lengannya dicekel dari belakang oleh pria itu. Spontan ia pun langsung berbalik dan menatap atasannya tersebut dengan kerutan penuh di keningnya. 


"Ada apa?"


"Sudah ku katakan jangan menghindar," tegas pria itu tidak suka saat melihat sang wanitanya yang sangat terlihat berusaha menghindari dirinya.


"Maaf Pak, saya sedang tidak menghindar."


Ia semakin mempertajam matanya saat mendengar kata-kata formal keluar dari mulut perempuan itu. Ia mendengus, ia tidak suka mendengarnya. Entah mengapa wanita itu sangat susah dibilangkan, padahal ia sudah mengatakan dari mobil tadi bahwa perempuan tersebut harus menyebut dirinya dengan nama bukan embel-embel pak.


Ia merasa risih mendengar perempuan itu menyebut dirinya dengan itu. Panggilan pak hanya pantas disematkan kepada orang yang asing di dalam hidupnya. Tapi perempuan di depannya ini siapa? Bukankah mereka sudah saling kenal saat mereka masih di dalam kandungan? Sungguh menggelikan mendengar wanita itu menyebutnya dengan sebutan pak.


"Jangan panggil aku dengan pak, aku bukan ayah mu."


"Aku tau jika kamu bukan ayah ku, tapi panggilan pak sangat pantas untuk kita yang berada di kantor. Ingat kita ini lagi di kantor bukan di luar, panggilan pak adalah panggilan sopan untuk kita."


"Sayangnya aku tidak menyukai panggilan itu. Sebut aku dengan Arsen, atau kau ingin menyebutku dengan panggilan sayang juga tak apa."


"Dasar bos genit."


"Tapi kau menyayangi ku."


"Berisik," ucap Nisa asal dan berusaha untuk menjauh dari lelaki tersebut.


Kala ia ingin berjalan kembali, Arsen yang masih mencekal lengannya pun langsung menahan perempuan itu. Dengan helaan berat Nisa menatap datar pria yang ada di depannya sekarang.


Arsen mengangkat satu alisnya sembari menyeringai. Ia tersenyum penuh makna kepada Nisa, namun wanita itu tidak menyadari apa maksud dari senyuman Arsen, perempuan itu hanya melihatnya dengan kosong menunggu lontaran apa lagi yang akan di dengarnya dari pria itu.


"Ada apa?" Tanya Nisa kesal karena tak kunjung mendengar apa maksud laki-laki itu menahannya lagi.


"Ada yang perlu aku bisikan kepada mu."


"Apa tidak bisa disampaikan nanti di dalam ruangan?" Nisa mengedarkan matanya ke sekeliling takut-takut ada orang di sini. Tidak mungkin ia berbisik di tengah orang banyak, nanti apa kata mereka dengan dirinya. "Maaf saya tidak bisa di sini." Tolak Nisa, memang tidak ada orang, namun ia tetap tidak mau. Bisa sajakan nanti ada orang yang datang tiba-tiba dan memergokinya sedang berbisk, dan orang itu pasti bisa salah mengira dan menyangka yang aneh-aneh.


"Tidak ada penolakan ini adalah perintah atasan, apakah kau sekarang sudah berani membantah perintah bos mu?"

__ADS_1


Nisa menghela napas, dirinya memang tidak bisa berbuat apa-apa jika pria itu telah membawa-bawa gelarnya. Dengan tanpa curiga sedikit pun Nisa mendekatkan telinganya ke mulut Arsen, dirinya menunggu apa yang lelaki itu ingin sampaikan hingga sampai-sampai tidak bisa dibicarakan di dalam ruangan saja.


Melihat rencananya berjalan dengan lancar, lantas laki-laki itu tersenyum atas rencana gilanya tersebut dan tidak peduli bagaimana nanti marahnya perempuan itu. Menghadapi singa betina bukan lah sesuatu yang sulit bagi Arsen, ia mempunyai cara tersendiri untuk menengakan amukan para perempuan.


Ia mendekatkan wajahnya ke telinga wanita itu secara perlahan. Semakin dekat, semakin dekat dan semakin.....


"Arsen buruan, atau aku akan meninggalkan mu."


Cup


Nisa tersentak dengan apa yang dilakukan oleh laki-laki itu. Dirinya terpaku di tempat tidak bergerak bagaikan patung pajangan. Degup jantungnya memburu tidak terkontrol bagikan ia baru merasakan jatuh cinta. Kecupan di pipinya membuat perempuan itu kehilangan akal nya, bahkan sekarang dengan bodohnya ia malah menginginkan yang lebih.


Suara ponsel terjatuh lah membuat kesadaran perempuan itu kembali ke raganya. Ia menggelengkan kepalanya untuk mengusir pikiran bodohnya, setelahnya wajah wanita itu mengeras saat menyadari jika dirinya dijebak oleh lelaki itu. Tangannya mengepal sambil menatap sang pelaku yang telah melarikan diri.


"Awass kau!!!!" Nisa menarik napas untuk menenangkan perasaannya. Dengan rasa kesal yang masih tertanam di dadanya perempuan itu mengambil handphonenya yang terjatuh.


__________


Arsen masuk ke dalam ruangan kerjanya dengan sebungkus nasi di tangannya. Ia tersenyum saat masuk ke dalam ruangan itu dirinya disambut oleh seorang wanita yang bekerja tak jauh dari mejanya. Wanita itu masih setia memasang wajah cemberutnya, bahkan ia yang kini telah berdiri di depan wanita itu pun sama sekali wanita tersebut tidak mengangkat wajahnya.


"Tidak sopan jika kau tidak mempedulikan atasan mu."


Mendengar suara orang yang sangat tidak mau ia temui itu membuatnya mau tidak mau mengangkat kepala dan menatap orang itu dengan datar, matanya memicing menandakan bahwa kehadiran laki-laki itu sedang tidak diharapkan.


Arsen yang menyadari itu hanya melihatkannya saja. Meski ia sadar jika Nisa sedang marah kepadanya namun ia tidak peduli, wanita tersebut tidak akan sanggup marah dengannya terlalu lama. Yah Arsen mengetahuinya.


Arsen meletakkan sesuatu di tangannya tersebut yang tak lain adalah sebungkus nasi padang yang merupakan makanan favorit perempuan itu. Nisa melirikkan matanya kepada pemberian Arsen, ia langsung menelan ludah kala mencium aroma nasi padang yang sangat harum dan membuatnya tergila-gila dengan makanan itu.


"Yakin kau masih masih marah? Jika kau marah aku akan memakannya sendirian."


Dengan sigap Nisa mengambil sebungkus nasi padang tersebut saat melihat Arsen yang ingin meraih kembali nasi itu.  Ia tidak akan membiarkan laki-laki itu mengambilnya, dia akan berjuang sekeras tenaga mempertahankannya demi nasi padang.


"Tidak bisa. Kau tidak bisa mengambilnya kembali, apa pun yang telah kau berikan kepada ku tidak akan pernah bisa ditarik kembali. Kau tidak tau ya, jika kamu telah memberikan sesuatu dan ingin mengambilnya lagi, siku mu akan buruk."


"Aku sangat takut mendengarnya," ujar lelaki itu dengan nada yang dibuat-buat setakut mungkin.


Wanita itu hanya menatap bos nya dengan pandangan geli. Perutnya ingin muntah atas respon yang diberikan laki-laki itu. Entah lah lelaki tersebut seperti anak kecil, namun sayang lelaki itu tidak menggemaskan seperti anak kecil pada umumnya.


"Hentikan ekspresi mu, aku tidak menyukainya. Sudahlah lebih baik dirimu pergi, kau tidak ingin siku mu buruk kan?"


"Namun sayang aku tidak memberikan mu nasi padang itu sepenuhnya. Aku membelinya untuk kita nikmati berdua."


Sontak perkataan Arsen membuat Nisa membelalak, "Bukan kah kamu orang kaya? Kenapa kau membelinya hanya satu? Dasar pelit," maki Nisa tidak terima, jelas ia tidak mau berbagi nasi padang tersebut. Ia tidak akan pernah puas jika memakan nasi padang hanya sedikit dan berbagi pula.


"Karena jika aku membelinya hanya satu bungkus aku dapat menikmati nasi padang itu sepiring dengan mu."

__ADS_1


"Aku tidak mau, kamu harus menggunakan piring yang lain."


"Tapi aku tidak mau. Jika kau tidak setuju maka aku pun tidak jadi memberikannya kepada mu dan nasi itu akan ku buang di tempat sampah."


Nisa langsung melotot kan matanya, ia tidak setuju dengan perkataan semena-mena lelaki itu. Mentang-mentang orang kaya, makanan berharga saja mereka buang. Padahal di luar sana banyak orang yang kelaparan karena tidak bisa membeli makanan.


"Hey itu mubazir."


"Aku tau, jadi kau mau atau tidak? Kau tidak melupakan kan jika aku akan berjuang mendapatkan hati mu. Aku akan membuat mu nayaman di sisi ku dengan cara seperti ini."


"Sungguh cara mu sangat konyol."


Tanpa banyak bicara Nisa langsung berjalan ke sofa dan membuka bungkusan nasi tersebut, lalu meletakkannya di dalam piring yang telah tersedia di sana dan lengkap kebutuhan makan yang sudah ada seperti sendok dan air.


Mereka berdua menikmati makanan tersebut sepiring berdua dengan hikmat. Nisa apabila sedang makan nasi padang yang tidak bisa mengingat sekelilingnya dan tidak mempedulikan penemapilannya tersebut pun menjadi bahan Arsen  untuk menambah kenikmatan makanannya.


Laki-laki itu terus menatap wajah Nisa yang sangat menggemaskan ingin sekali ia mencubit wajah itu. Namun perhatiannya teralihkan dengan sebutir nasi yang menempel di bibir perempuan tersebut, lantas ia pun mengangkat tangannya dan mengusap sisi bibir perempuan itu, namun jari tangannya terhenti saat tak sengaja ia menyentuh bibir wanita itu yang terasa sangat lembut.


Merasakan sengatan yang tidak biasa di bibirnya, Nisa mendongak. Namun matanya malah bertemu dengan bola mata biru lautan yang sangat menenangkan. Mereka Sama-sama berpandangan cukup lama dengan tangan Arsen yang masih menyentuh sisi bibir Nisa.


"Tidak usah memandangi ku terlalu dalam. Jika kau menyukai ku bilang saja. Maka besok kau bangun tidur kamu akan mendapatkan ku datang ke rumah mu bersama penghulu," ucap Arsen balak-blakan sembari menjauhkan tangannya dari area bibir Nisa.


"Idih percaya diri sekali jika aku sedang memandangi mu. Kamu sendiri kenapa memandangi ku?"


"Itu karena aku menyukai mu. Tidak seperti dirimu yang diam-diam tapi mau." Arsen menatap Nisa pura-pura sinis. Arsen mengulum telunjuknya yang menyentuh bibir Nisa tadi, "Manis."


"Apa kamu bilang?" Tanya Nisa tidak terima dengan satu kata yang keluar dari mulut lelaki itu. "Arsen kamu itu ya! Bagaimana jika ada orang yang melihat?"


"Aku tidak peduli. Orang-orang di luar sana mengetahui jika kau adalah istri ku."


Mengetahui fakta tersebut membuat kening Nisa mengernyit. "Apa maksud mu?"


"Aku mengatakan jika kamu adalah istri ku di media saat wawancara untuk menyelesaikan kasus video yang beredar kemarin. Apa kau mau menerima malu jika Gabriel adalah buah dari perbuatan bejat ku di masa lalu jika aku mengatakan yang sebenarnya ke media?"


"Lancang sekali kamu mengambil keputusan. Dasar gila kamu." Nisa mengangkat tangannya dan melayangkan ke arah laki-laki itu untuk memukulnya  sebagai hadiah untuk pria tersebut yang telah mengambil keputusan tanpa sepengetahuannya.


Namun, tangan Nisa ditangkap oleh Arsen dengan santainya, ia mengusap tangan tersebut seraya tersenyum lalu melepaskan tangan Nisa. "Tangan mu tidak cocok kau gunakan untuk kekerasan."


"Terserah mu saja. Tapi aku sedang marah dengan mu sekarang."


_________


Tbc


Maaf ya teman-teman aku gak up kemarin, karena aku kehabisan inspirasi. Diam di rumah terus membuat ku jadi bosan dan pikiran jadi sempit.

__ADS_1


Semoga kita sehat selalu. Jangan bosan untuk terus cuci tangan.


#salamsehat


__ADS_2