Tragedi Malam Itu

Tragedi Malam Itu
Part 55


__ADS_3

Di malam yang menenangkan itu terlihat dua wanita yang sedang berdiri di balkon apartemen. Keduanya kompak memandang ke ara langit, entah apa yang ada di pikiran mereka ketika memandang benda-benda langit yang sedang memancarkan cahayanya itu.


Mereka sama-sama larut dalam pikiran masing-masing. Beberapa saat, Ibel tersadar dari lamunannya, lantas wanita itu memandang Nisa di sampingnya. Beberapa detik kemudian ia kembali pada objek yang menjadi bahan pemikirannya, yaitu bulan.


"Sa! Gue pernah baca artikel yang menyebutkan jika bulan akan masuk ke dalam neraka di hari akhir, apakah itu benar?" Entah dari mana pertanyaan itu berasal, Ibel juga baru saja menyadari jika pertanyaannya itu sangat konyol, mana mungkin bulan masuk neraka, mereka hanyalah sebuah benda yang tidak memiliki dosa.


Nisa menoleh ke arah Ibel, lalu ia tersenyum menatap temannya itu. "Iya. Bukan hanya bulan saja yang masuk neraka, tetapi matahari juga. Ibu ku mengatakan seperti itu."


"Ja-jadi benaran? Kok bisa?"


"Mereka itu di neraka bukan untuk disiksa, tetapi melainkan untuk menjadi bahan bakar untuk menyiksa para pendosa. Mengerikan bukan? Terkadang aku berpikir, aku tidak mungkin masuk ke Surga nya tuhan. Begitu banyak dosa yang telah aku perbuat."


Ibel memandang Nisa sembari memamerkan senyum hangat miliknya yang bertujuan untuk menguatkan perempuan itu. Ia mengusap punggung Nisa penuh dengan kelembutan, membuat sang empu merasa nyaman.


"Bukan lo aja Sa, gue juga kadang brpikir seperti itu. Sa, tadi gue lihat lo ngapain ke taman sama Bos? Awas aja kalian ngelakuin yang aneh-aneh, ingat kiamat sudah dekat."


Nisa menarik napas. Ia memandang taman apartemen yang dapat dilihat dari balkon apartemen mereka. Entahlah, tadi itu adalah peristiwa yang membuatnya bahagia atau membuatnya merasa sedih. Dirinya menatap lirih ke arah taman tersebut, sejuta kenangan terletak di situ, yang mungkin tidak dapat dilupakannya.


"Dia menyatakan perasaannya ke aku."


Refleks Ibel langsung menjatuhkan ponselnya yang sedang ia mainkan ke lantai, untung saja ponselnya itu tidak retak. Hingga Ibel pun dapat menarik napas dengan lega.


"What? Maksud lo apa? Bos nyatain perasannya ke elo? Lo terima nggak?"


Nisa memejamkan matanya seraya menggeleng lemah. Ia tersenyum kecut mengingat kejadian tadi, entahlah dorongan dari mana untuk dia menolak cinta laki-laki itu. Padahal hatinya juga sangat mencintai laki-laki itu.


"Loh kenapa? Bukannya dia teman kecil lo ya?"


Nisa meninggalkan balkon seraya masuk ke dalam apartemen. Ia menarik salah satu kursi di meja makan. Selanjutnya ia mendudukkan bokongnya di sana. Ia melamun sejenak, sebelum akhirnya ia angkat bicara.


"Dia menyatakan perasaannya untuk menjadikan ku sebagai pacar. Aku sudah berjanji tidak akan berpacaran seumur hidup ku, dan hal itu lah membuat ku tidak menerimanya, aku masih ingat saat aku kecil, ibu ku mengatakan kepada ku jika aku tidak boleh berpacaran," ujarnya sembari menerawang masa lalu saat-saat ia bersama keluarga kandungnya.


Ia sangat merindukan masa-masa itu, namun waktu berbicara bahwa ia tidak bisa mengulang ke masa lalu. Nisa tertawa miris, bahkan ia sendiri tidak mengetahui di mana kuburan orang tuanya dan kakanya. Kenapa hidupnya sangat memprihatinkan? Mempertanyakan hal itu sama saja dengan membuka luka baru bagi perempuan itu.


Hidupnya dipenuhi dengan kekerasan, pembunuhan, dan pelecehan. Yah Nisa pernah merasakan berada di posisi itu. Sampai kapan pun ia tidak akan pernah melupakan ketiga tindak kriminal yang pernah ia rasakan itu. Dan salah satu penyebab kehancuran hidupnya adalah Arsen, yaitu orang yang ternyata sangat dekat dengannya, dan karena hal itu pula lah ia belum siap menerima cinta laki-laki itu.


Ia tau Arsen sangat mencintainya. Nisa dapat melihat ketulusan di mata laki-laki tersebut saat dia menyatakan perasaannya, dan Nisa juga dapat melihat kekecewaan yang mendalam ketika ia menolak cinta laki-laki itu. Namun hatinya belum siap akan hal itu, ia harus benar-benar merasa nyaman terlebih dahulu terhadap laki-laki tersebut.


Gerakkan panah jam memenuhi ruangan tersebut. Tidak ada yang membuka suara, kedua wanita itu sangat menikmati alam khayal mereka, pancaran kesedihan begitu kentara di mata kedua perempuan tersebut. Nisa sedang memikirkan keluarga kandungnya yang sangat ia rindui saat ini, sedangkan Ibel entah apa yang mengganggu pikirannya.


Wanita itu yang biasanya terlihat kuat dan tegas, kini ia tampak seperti tak berdaya. Perasaan rapuh yang mendalam di alaminya mampu mengubah kepribadian wanita tersebut. Matanya melirik ke luar jendela, yang mana dirinya langsung bertemu pandang dengan bulan yang sedang bersinar di luar. Bagaikan ada gambaran yang menampakkan satu keluarga di sana sehingga membuat Ibel tersenyum menatapnya. Sedetik kemudian wanita itu langsung membelalakkan matanya seakan tak percaya. Apakah penglihatannya benar? Ibel menatap dengan lekat gambaran tersebut. Ia melihat orang tuanya di sana sedang tersenyum kepadanya, apakah itu benar?


"Kak Ibel lagi latin apa di bulan? Seperti serius sekali?" Nisa mengikuti arah pandang Ibel ke bulan, namun tidak ada apa-apa di sana.

__ADS_1


"Sa, gue liat orang tau gue."


"Di sana tidak ada apa-apa kak Ibel." Ia kembali memperhatikan bulan tersebut, kernyitan di dahinya cukup menjelaskan jika Nisa sekrang tidak mengerti dengan ucapan Ibel barusan.


"Jadi penglihatan gue salah ya?" Ucap Ibel dengan sedih, suaranya seperti sedang menahan tangis, "Sa, gue pengen ngasih tau jika nek Miah meninggal akibat serangan jantung."


Kontan Nisa pun langsung menatap Ibel, kendati dirinya ingin mendapatkan kabar bahagia yang dibawa pulang Ibel, ternyata malah kabar duka yang sama sekali tidak pernah singgah di pikiran Nisa yang malah ia dapatkan. Tidak lama air mata perempuan itu luruh, dia tidak tahan menahan isak tangisnya. Mengapa lagi-lagi ia dihadapkan dengan kabar buruk?  Baru saja ia mulai melupakan segala sesuatu yang tidak ia sukai di hidupnya, namun kini apa? Seakan takdir tidak membiarkannya untuk bahagia.


"Kak. I-Ib-el, beneran? Hiks."


Anggukan dari Ibel membuat Nisa langsung menangis histeris, dia tidak bisa melupakan jasa nek Miah kepadanya. Nek Miah adalah orang yang sangat berharga dalam hidupnya, nek Miah lah yang menguatkannya di saat mentalnya jatuh. Satu hal yang lebih membuat hati Nisa bagaikan diremas, mengapa ia tidak ada di samping nek Miah untuk yang terakhir kalinya.


________


Kicauan burung menyambut mentari pagi, suara penuh kedamaian bagaikan alunan musik yang menenangkan. Suara kegaduhan yang setiap paginya selalu terdengar menyenangkan kini menghiasi tempat tinggal baru Nisa.


"Bunda, nanti Iel ada lomba mengaji. Doakan ya Bun, Iel nanti dapat  menampilkan yang terbaik dan membanggakan Bunda," celoteh Gabriel sembari menegak air susu yang diberikan Nisa.


Anak itu meletakkan gelas yang isinya sudah habis itu ke meja, lalu ia mengucapkan syukur ketika perutnya di pagi ini merasa kenyang. Sentuhan di kepala yang pelakunya adalah Nisa pun membuat ia merasakan ketenangan.


"Pasti dong sayang, Bunda selalu mendoakan Iel. Semoga Iel menang ya."


"Aminnn," teriak Gabriel bangga, setelahnya ia mendekati Nisa dan tanpa disangka-sangka langsung mencium pipi perempuan itu secara tiba-tiba, hingga Nisa yang sedang mengumpulkan piring bekas pun langsung terhenti.


"Hari ini kita berangkat sama Papa kan Bun?"


"Tidak Iel," ucap Nisa membuat bibir anak itu langsung mengercut.


Gabriel beranjak dari tempatnya dan menghampiri meja belajar anak itu yang tidak jauh dari meja makan. Ia mengambil tas miliknya yang berwarna pink dan ada gambar stroberi di tas tersebut.


Ibel yang sedang keluar dari kamar dan melihat bentuk tas Iel pun spontan langsung tergelak menertawakan warna dan gambar tas bocah itu. Ia tak menyangka jika anak tersebut sangat menyukai warna yang sangat tidak disukai di kalangan kaum lelaki.


"Iel itu serius warna tas Iel seperti itu, emang nggak diejek teman-teman apa?"


Iel menoleh ke arah Ibel seraya menggeleng, "Tidak Aunty, teman Iel banyak kok yang pakai tas seperti punya Iel."


Jelas Ibel langsung kaget mendengar ucapan Gabriel yang mengatakan jika banyak teman-temannya yang menggunakan tas seperti itu. Setaunya anak kecil pun sangat geli mengenakan tas yang berwarna pink dan bermotifkan stroberi.


"Emang siapa aja teman Iel yang pakai tas seperti itu?"


"Banyak Aunty, seperti Lina, Risa, Tsya, Luna, Aninna."


Mendengar kalimat tersebut membuat Ibel dan Nisa menarik napas dalam. Anaknya itu memang sangat menyukai stroberi, entah dari siapa keanehan itu diturunkan. Yang jelas Nisa tidak terlalu menyukai warna pink,  apakah mungkin Arsen? Ah perasaannya tidak, laki-laki itu juga tidak menyukai warna tersebut, dan malah sangat membencinya.

__ADS_1


Ting tong


Iel yang mendengar bel apartemen berbunyi pun langsung berlari ke arah pintu. Kakinya begitu bersemangat saat melewati tapak demi tapak lantai. Tidak tau siapa yang datang, tapi yang pasti kedatangan orang itu sangat-sangat ditunggu oleh bocah tersebut.


"Hay Papa, jadi kan kita berangkat bareng," ucap Gabriel seraya langsung menadahkan tangannya minta digendong oleh Arsen. Dan dengan senang hati pula laki-laki itu menuruti keinginan anaknya.


Nisa yang mendengar Gabriel menyebut nama papa pun langsung menegang di tempat. Ia belum siap untuk  bertemu Arsen, setelah apa yang ia lakukan malam tadi.


"Bunda ayo kita berangkat!" Teriak Gabriel membuat lamunan Nisa buyar.


"Iel, Bunda tidak bisa Iel."


"Kenapa Bun," ucap Gabriel dengan mata yang sebentar lagi memerah.


Arsen pun akhirnya berbicara kala ia melihat ada sebuah luka di mata anaknya, ketika Nisa menolak permintaan anak itu.


"Apa kau tidak bisa menurutinya saja. Bukan kah ia hanya meminta agar kau juga ikut mengantarkannya ke sekolah? Apa susahnya jika kau menurutinya saja?"


Nisa tidak bisa berkata apa-apa. Saat ini yang ia inginkan adalah menghindar sebentar dari laki-laki itu.


"Bukan kah kau juga adalah sekretaris pribadi ku?"


Nisa menggigit bibirnya, ia bingung harus mengatakan apa. Dia memejamkan mata, semoga pilihannya ini tidak salah.


"Baiklah."


"Yey!!!" Teriak Gabriel kegirangan.


Nisa memandang Ibel yang terlihat santai menikmati roti tawar yang sedang di santapnya.


"Kak Ibel, Nisa pergi dulu."


"Hmmm."


Nisa pun mengikuti Arsen dari belakang, sedangkan Gabriel menuntun perjalanan. Anak itu menyapa setiap orang yang dilaluinya. Namun secara tiba-tiba Arsen berhenti, sehingga Nisa yang sedang fokus dengan ponselnya pun tiba-tiba langsung menabrak punggung lelaki itu.


"Auuu."


Arsen berbalik, sehingga menggetkan Nisa. "Aku tau kau sedang menghindari ku, aku tidak masalah kau menolak ku Sa. Karena aku juga tau posisi ku di mata mu, alasan mu dapat aku terima. Tapi jangan sekali-kali kau hindari aku, karena aku tidak bisa jika tidak melihat mu. Dan ingat baik-baik, aku akan berjuang mendapatkan hatimu seutuhnya, dan meyakinkan mu bahwa aku bisa menjadi pendamping mu." Kemudian Arsen mencium hikmat kening Nisa, lalu ia menggandeng tangan perempuan tersebut seraya melanjutkan perjalanan, tanpa peduli dengan ekspresi Nisa saat ini.


________


Tbc

__ADS_1


__ADS_2