Tragedi Malam Itu

Tragedi Malam Itu
Part 50 Flashback 2


__ADS_3

Dengan tenaga yang tersisa, Sarga bangkit dan berdiri tegak. Badannya terasa remuk semua akibat pukulan Arsen yang sangat keras sehingga beberapa anggota tubuhnya terasa tidak berfungsi lagi. Sarga menatap Arsen dan Ica yang terlihat kecil di pandangnya. Tangannya terkepal menatap tangan Arsen dan Ica yang saling bertautan, mengapa mereka tega menyakitinya? Apakah salah jika ia mencintai Arsen?


Sarga rasa itu tidaklah salah, manusia berhak bahagia dengan cara mereka masing-masing. Tapi mengapa semua orang menganggapnya gila? Tidak, Sarga tidak gila. Namun gara-gara Ica sialan itu ia harus dicap gila oleh banyak orang. Sudah lama ia menahan rasa bencinya dan berusaha menerima Ica sebagai temannya demi ia dapat berdekatan dengan Arsen.


Kini apa? Arsen sama sekali tidak melihat sebutir pun kebaikannya, jelas ia yang berada di samping Arsen saat laki-laki itu berusaha melawan masa sulitnya. Ia merasa telah dimanfaatkan dengan mereka, ini semua gara-gara Ica. Andaikan Ica tidak datang dalam kehidupan mereka berdua, mungkin Arsen telah menerima dirinya. Ia tau ini adalah masa dimana dirinya tidak diperbolehkan mengenal cinta. Tapi rasa ini tumbuh begitu saja di hatinya dan bahkan mewabah hingga rasa itu menjadi sebuah obsesi.


"Ica aku akan membalas semuanya. Lihat saja nanti," ucap Sarga dengan seringaian di wajahnya.


Ia memang tergolong anak kecil, tapi tidak dengan pemikiran dan tingkah lakunya. Sama sekali tidak ada mencerminkan sifat kekanak-kanakan yang biasa dimiliki anak seusianya. Saraga berjalan meninggalkan taman tersebut, ia berjalan seperti merayap saat rasa sakit di seluruh tubuhnya menggerogoti dirinya.


Sarga menuntun jalannya sambil diringi air mata yang meleleh di kedua sudut matanya. Ia masih tidak terima atas penolakan Arsen yang langsung bahkan tak segan dia memukulnya, padahal apa salahnya, apakah ia tidak boleh menyatakan perasaannya seperti orang-orang di luaran sana. 


Dunia memang kejam, benar kata orang tuanya ia tidak boleh mengalah jika tidak ingin dikalahkan. Ia akan bangkit dan membuktikan jika ia adalah seorang anak kecil dan lebih sadis dari pada orang dewasa.


Sarga berjalan gontai menuju pekarangan rumahnya. Ia menatap para pengawal rumahnya dengan datar, dan orang tersebut langsung menunduk takut dan membuka pintu rumah mepersilakan tuan muda mereka masuk.


"Silakan tuan," ucap pengawal itu.


Sarga menatap malas pengawalnya itu, mata dingin dan wajah yang selalu datar menjadi ciri khas seorang Sarga, siap pun yang melihatnya langsung menundukkan kepala, tidak terlalu tampan tapi aura menakutkan begitu terasa jika berdekatan dengan tuan muda kecil mereka.


"Di mana ayah ku?"


"Ayah tuan ada di dalam."


Ia langsung berjalan masuk ke dalam rumah mencari ayahnya. Keadaan Sarga yang sangat memprihatinkan itu menjadi tatapan bingung banyak pengawal? Apalagi saat Sarga berjalan yang teratih-atih hampir terjatuh membuat mereka meringis.


Sarga yang sedang berusaha berjalan semaksimal mungkin itu pun tiba-tiba dihampiri seorang laki-laki paru baya yang tak lain seorang tukang kebun belakang rumah mereka yang terkenal sangat akrab dengan Sarga. Sarga menoleh kepada orang itu, tatapannya dapat diartikan oleh tukang kebun itu yaitu adalah tatapan kesedihan.


"Tuan, apa saya boleh membantu tuan."


"Ya. Anton apa kau bisa menemaniku bercerita di taman belakang," tanya Sarga seraya memperbaiki poni rambutnya yang jatuh ke depan hingga menutupi sedikit mata anak kecil itu.


"Tentu saja bisa tuan." Anton menatap Sarga penuh arti, "biar aku saja yang membantu tuan berjalan."


Sarga mengangguk mengizinkan. Ia menuntun anak tauannya tersebut menuju taman belakang yang menjadi tempat strategis buat Sarga menghabiskan waktunya bercerita dengan Anton. Di rumah ini Sarga hanya dekat dengan Anton, bahkan dengan orang tuanya saja Sarga tidak terlampau dekat, kecuali jika mereka hanya sekedar berbicara penting barulah mereka berinteraksi.


Sesampainya di tempat tujuan mereka, Anton membimbing Sarga untuk duduk di kursi. Dengan hati-hati ia melayani tuan kesayangannya itu agar memberikan rasa nyaman kepada Sarga.


"Tuan, sebentar saya ambilkan obat dulu." Baru saja Anton ingin pergi, dengan sigap Sarga mencekal tangan laki-laki itu.


"Ada apa tuan?"


"Tidak usah. Aku bukan anak manja, dengan luka sedikit seperti ini harus diobati dan merengek."


"Tapi kan luka tuan tidak sedikit."


"Kata ku tidak, tidak usah Anton."


"Baiklah jika itu mau tuan." Anton duduk di samping Sarga, ia menatap intens tuannya meneliti setiap jengkal tuan muda kecilnya itu.


Sarga yang sadar dengan tingkah tukang kebunnya tersebut hanya mendengus, ia menatap hamparkan hijau taman. Pandangannya kosong seolah tidak ada kehidupan lagi di sana.


"Apakah aku salah jika mencintai seseorang. Aku tau aku masih kecil, tapi bukan berarti anak kecil seperti ku ini tidak bisa merasakan cinta," ucapnya dengan gumaman kecil namun dapat didengar, matanya tetap lurus ke depan.


Anton menoleh, ia menatap tuannya tersebut dengan penuh senyuman di wajah renta itu.


"Tuan tidak salah, tapi jika tuan berpacaran diumur seperti ini itu yang salah, tuan masih kecil dan belum pantas mengenal cinta. Tapi tuan, mengapa keadaan tuan seperti ini? Siapa yang berani menyakiti tuan?" Tanya Anton sedikit panik, ia tau tuannya memang suka berkelahi, tapi seumur-umut hidupnya ia belum pernah melihat Sarga kalah walau satu kali, tapi keadaan tuannya yang seperti saat ini tentu menjadi tanda tanya bagi Anton.


"Arsen."


Mata Anton langsung membulat sempurna, ia tidak percaya jika orang yang sangat dekat dengan tuannya itu tiba-tiba secara mengejutkan membantai Sarga hingga membuat anak itu nyaris tak terlihat lagi rupanya akibat warna merah dan biru ditambah bengkak menghiasi wajah tampan tuan mudanya.


"Loh kenapa tuan?"


"Dia membenci ku karena aku menyatakan perasaan cinta kepadanya, padahal apa salah ku jika aku ingin mengtakan jika aku menyukainya?"


Ucapan Sarga yang ini semakin menambah membuat Anton terkejut. Ia menggelangkan kepala saat menatap wajah tuannya yang terlihat muaram, Anton merasakan jika ia sudah gagal mendidik tuannya sehingga Sarga memiliki penyakit Homo gen.

__ADS_1


"Itu memang salah tuan, tidak dibenarkan jika kita menyukai sesama jenis. Wajar jika Arsen membenci mu dan memukul mu. Maafkan saya taun telah lalai mendidik mu, gara-gara saya  tuan telah mengenal cinta, seharusnya di usia tuan yang seperti ini adalah belajar bukan mengenal cinta, dan apalagi tuan mencintai sesama jenis," ujar Anton membuat Sarga yang mendengarnya tidak terima.


Sarga langsung menatap Anton yang berbeda pendapat dengannya. Ia menatap Anton dengan datar, ternyata semua orang tidak sependapat dengannya, semua orang menggapnya aneh.


"Apa kata mu? Ternyata kau sama saja seperti mereka tidak mengerti diri ku, aku kira kau lah yang paling mengerti dengan ku, ternyata aku salah." Ada nada kekecewaan di sana saat Sarga mengucapkan kalimat tersebut.


Bak ada hantaman kayu besar di dada Anton saat ia mendengar ucapan sinis Sarga kepadanya. Dan sialnya lagi ini adalah untuk pertama kalinya Anton mendengar ucapan Sarga penuh kekecewaan  terhadapnya.


Anton tercekat atas ucapan Sarga yang kena di hatinya. Ia tidak percaya jika masukkan nya untuk tuannya itu dianggap Sarga sebagai tidak menyayangi anak itu.


"Maafkan kata-kata saya tuan. Saya tidak bermaksud untuk menyakiti perasaan tuan."


"Aku kecewa dengan mu Anton, ku kira kau akan mendukung ku. Sudahlah aku akan mengadukan kepada ayah ku untuk membuat keluarga Ica sengsara. Aku tidak ingin kalah saing dengannya."


"Maksud tuan apa? Ini tidak benar tuan, non Ica itu teman tuan."


"Diam kau jika kamu tidak ingin dipecat dan jangan pernah sebut nama sialan itu lagi di depan ku."


Usai mengatakan itu Sarga kecil meninggalkan Anton yang tengah terdiam bersama dengan pikirannya. Anak itu melangkah sendirian dengan tegarnya, ia sama sekali tidak mau dibantu saat Anton menawarinya bantuan. Keadaannya yang jauh dari kata baik itu tentu saja menjadi perhatian banyak orang, terkhusus para maid yang bekerja di rumah tersebut.


Namun saat ia ingin masuk ke dalam lift rumahnya, ternyata ayahnya keluar dari dalam lift itu hingga tidak membuat repot Sarga harus naik ke lantai atas untuk menemui ayahnya.


"Ada apa dengan mu sayang? Kenapa kau bisa terluka?" Tanya ayahnya Sarga dengan sedikit penekanan.


Laki-laki itu mengeras saat melihat anak semata wayangnya dalam kondisi buruk, tentu ia tidak bisa membiarkan orang yang telah berani melukai anaknya itu hidup dengan tenang.


"Cepat katakan kepada ayah, siapa yang berani melukaimu?"


Sarga mengangkat pandangannya, tanpa ragu ia menatap langsung kedua bola mata sang penguasa di rumah ini. Bibirnya bergerak dengan susah untuk menjawab pertanyaan ayahnya tersebut.


"I-Ica yah. Dia memfitnah Sarga menyakitinya, kepada Arsen. Hingga Arsen memukul ku. Tapi yah, Arsen tidak bersalah. Yang bersalah adalah Ica yah. Sarga mohon ayah menghabisi keluarga mereka semua termasuk Ica. Apa ayah tidak marah melihat kondisi ku yang seperti ini?"


"Tidak. Ayah tidak bisa melihat mu seperti itu. Ayah janji akan membunuh mereka jika itu mau mu. Itu bukanlah perkara mudah bagi ku?"


Sarga tersenyum miring mendengar ucapan ayahnya. "Terima kasih yah."


"Lebih baik kau masuk ke dalam kamar. Obati luka mu bersama bi Astrid. Ayah akan membunuh mereka malam ini juga."


Malam yang menenangkan dan suara jangkrik saling bersahutan. Di sebuah ruang tamu di rumah sederhana tetapi elegan itu sedang dipenuhi dengan suara khas anak-anak yang sedang berebut mainan Barbie. Orang tua mereka hanya mengawasi dari sofa, sesekali mereka tertawa saat melihat tingkah lucu anak bungsu mereka yang sebentar lagi memasuki umur ke 7 tahun.


"Pa! Tidak terasa Ica sudah besar ya, dulu Ica masih di dalam kandungan bunda," ucap Desi dengan sorot mata tak lepas dengan kedua putri mereka yang usianya hanya terpaut dua tahun.


"Apa yang dikatakan bunda betul. Coba bunda perhatikan Vyu dan Ica terlihat mirip bukan, mereka seperti saudara kembar."


Desi mengernyit lalu menarik napasnya. Senyumnya mengembang kala menyaksikan anak-anak mereka yang telah tumbuh dan aktif. Namun ucapan Rifan barusan membuat Desi memperhatikan kedua putrinya dengan lekat.


"Apa yang dikatakan mu benar sayang. Mereka terlihat seperti kembar, dia mirip dengan mu."


Rifan melirik istrinya, "kenapa wajah mu cemberut? Apa karena hanya sedikit kemiripan mu dengan mereka sehingga membuat mu seperti itu?"


Desi hanya menggeleng sebagai jawabannya, entahlah ia merasa ini adalah moment terakhir mereka bersama keluarganya, apakah hanya perasaannya saja yang seperti itu ataukah perasaannya ini menandakan sesuatu yang buruk?


"Jadi kenapa kau terlihat murung sayang?"


"Bunda! Papa! Ka Vyu jahat ih, dia curang. Ka Vyu ngambil semua Barbie nya Ica." Suara rengekan bocah umur enam tahun itu membuat Desi maupun Rifan mengalihkan pembicaraan mereka.


"Enggak bunda, Vyu tidak ada mengambilnya. Ica saja yang tidak bisa bermain dan kalah terus lawan ka Vyu."


"Kak Vyu harus mengalah dengan adiknya. Berikan saja satu Barbie ke Ica."


Permintaan Desi tersebut jelas membuat Vyu menatap jengkel adiknya, ia menatap horor sang adik dan dibalas oleh Ica.


"Tuh dengarkan kak Vyu, kak Vyu harus bagi Ica satu barbie lagi," ucap Ica bersemangat.


Belum sempat Vyu memilih barbie yang akan diberikannya kepada Ica, tiba-tiba Ica terlebih dahulu sudah mengambil barbie yang paling cantik diantara semua koleksi barbie nya Vyu.


"Jangan yang itu. Itu barbie kesayangan ka Vyu."

__ADS_1


"Tidak. Ica tidak mau balikkin barbie nya. Barbie ini besok Ica bawa main sama kak Arsen."


Tanpa peduli dengan penolakan Ica, Vyu langsung beranjak dari tempatnya dan merebut barbie tersebut dari tangan Ica.


Ica tidak mau tinggal diam, perempuan kecil itu dengan cepat menahannya. Hingga terjadilah tarik menarik dan rebutan. Desi dan Rafin yang melihat situasi semakin memanas tersebut pun langsung meleari.


"Ica berikan barbie itu ke ka Vyu. Biar besok bunda belikan yang lebih cantik la----..."


DORRRRR


Suara tembakan dari luar, membuat Desi terkejut. Sedangkan Rafin keluar untuk melihat apa yang telah terjadi di luar rumah mereka. Untuk mengurangi rasa takut mereka, Vyu, Ica dan Desi saling berpelukkan.


Tak lama mereka mendengar suara tembakan itu kembali terulang, hingga Ica dan Vyu yang mendengarnya menjerit ketakutan. Desi dibuat panik saat tak mendapatkan suami nya kembali lagi ke ruang tamu.


"Bunda Ica takut...."


"Vyu juga bunda."


"Tenanglah semuanya pasti akan Baik-baik saja," yakin Desi meski hatinya juga belum yakin semuanya akan baik-baik saja sesuai ucapannya kepada sang anak.


Tak lama mereka mendengar suara jeritan. Dan suara tersebut sangat ia kenali, yaitu suara suaminya. Desi tercekat di tempat saat banyak orang berpakaian hitam menghampiri mereka, namun bukan itu yang membuatnya kaget setengah mati, tapi saat ia melihat sang suami yang sedang ditahan dengan banyak lumuran darah di pakaian suaminya.


"Rafinnnn!!!!!"


"Papa!!!"


Tiba-tiba orang yang berbaju hitam itu menangkap Desi. Desi memberontak saat orang tersebut menahannya, namun ia langsung terdiam saat timah panas tersebut bersarang di dadanya, wanita itu kembali lagi merasakan timah panas di tangannya. Hingga ia tidak sanggup menahan kesadarannya, ia melihat maut telah di depannya. Perempuan itu menutup matanya untuk selamanya.


"Bunda....." pekik Vyu dan Ica bersamaan.


Ica tidak terima melihat ibu tercintanya disakiti. Maka anak itu berusaha menyerang pengawal yang menembak ibunya tadi.


Ia langsung berhenti saat laki-laki yang sangat dikenalnya beridir di depannya. Ia tau siapa dia, dia adalah ayahnya Sarga.


"Kenapa kau bunuh bunda. Hiks-hiks-hiks."


"Diam kau anak ingusan," bentak ayahnya Sarga. "Kenapa kau memfitnah anak ku hah? Kau mau mencari mati? Lihat ibu mu, dia telah menemui ajalnya akibat kau telah berani memfitnah anak ku."


"Tidak om. Ica tak pernah memfitnah kak Sarga."


"Bohong kau, lihat anak ku di rumah dia sedang dirawat akibat kau. Jika berani kau berbohong, maka nyawa ayah, adik, dan kau taruhannya."


Ica kembali memutar memorinya saat ia bersama Sarga. Anak itu terisak saat ia mengingat jika Sarga dalam keadaan buruk waktu ia meninggalkannya bersama Arsen.


"Tidak om. Ica tidak bohong..." tolak Ica, ia jelas tidak ada memfitnah Sarga.


"Tembak mereka berdua."


Senjata api pun diarahkan kepada Rafin yang telah lebih dulu sekarat akibat tembakan di perutnya. Bunyi peluru yang menghantam jaring-jaring  kepala Rafin pun menggema sehigga laki-laki itu mati tersungkur dan aliran darah tidak henti keluar dari mulutnya.


"Papa!!!" Teriak Vyu melihat kedua orang tuanya dibunuh di depannya. "Hiks-hiks-hiks bunda."


"Kak Vyu cepat lari," teriak Ica. Tapi belum sempat Vyu lari, anak itu lebih dulu ditangkap anak buah papannya Sarga.


Tidak lama setelahnya Vyu di bawa ke tepi jendela, orang yang membopong Vyu itu pun menjatuhkan Vyu dari lantai tiga yang lumayan tinggi, hingga beberapa detik kemudian terdengar seperti ada benda jatuh di depan rumah.


"Kak Vyu..." tangis Ica pecah di dalam dekapan orang yang bertubuh besar siap mengeksekusi anak itu. "Lepaskan Ica.... kalian semua jahat. Tolong lepaskan Ica."


"Untuk anak ini, biar aku sendiri yang akan menembaknya." Ayahnya Sarga merebut salah satu pistol milik anak buahnya.


Ia mengangkat pistol tersebut dan dirahakan kepada Ica yang telah memejamkan mata siap menerima peluru yang menembus organ tubuhnya. Laki-laki itu menarik pelatuk pistol tersebut dan......


______


TBC


Like dan comen

__ADS_1


Manda double up sebab sekolah online jadi ada waktu ngetik sedikit.


Flash back nya ada satu lagi ya.


__ADS_2