
Typo koreksi
.
.
.
Di luar ruangan persalinan, para keluarga menunggu dengan cemas. Mereka takut orang tersayang mereka yang sedang berjuang antara hidup dan mati kenapa-napa. Arsen tak hentinya mondar-mandir seperti gosokan di depan pintu menunggu dokter yang menangani sang istri keluar dan membawa berita baik.
Helaan napas gusar keluar tak beraturan, hari ini terasa bagaikan 1 tahun. Yang biasanya ia merasa waktu terasa cepat kini waktu terasa lambat. Ia menggigit kuku nya was-was. Merasakan kegundahan seperti ini menyadarkan Arsen akan masa lalu. Ia membayangkan bagaimana Nisa melahirkan Gabriel dulu tanpa didampinginya.
Di depan ruangan bukan hanya ada Arsen, melainkan kedua belah pihak keluarga hadir dengan lengkap termasuk Ahmad. Pria itu duduk sedikit jauh dari pintu sambil ditemani Aisyah yang menangis dan ditenangkan Alsya.
Ariana duduk sembari memangku Gabriel yang telah terlelap di pangkuan sang nenek. Sedangkan Arsen tidak ada sama sekali duduk barang sekali. Baginya duduk sebentar adalah sesuatu yang tidak berarti.
Davit yang jengah dengan Arsen pun menghampiri laki-laki itu dan menepuk pundaknya. Sekilas Arsen melirik ke arah Davit, namun setelahnya ia tak menghiraukan kehadiran lelaki itu.
"Tenang lah nak. Papa yakin Nisa dan anak mu pasti selamat."
Arsen menatap sang ayah seraya menggeleng. Wajahnya tampak akan kesedihan yang mendalam. Jantungnya berdetak lebih kuat dari biasanya, dia sangat takut sekali jika ini adalah hari terakhirnya dengan Nisa, jika itu benar terjadi ia tidak tau mau dibawa kamana ambang kehidupannya.
"Pa Arsen nggak bisa tenang jika Nisa sedang berjuang di dalam sana. Arsen benar-benar kesal kenapa aku yang suaminya ini tidak dibolehkan masuk!"
"Mungkin agar konsentrasi mereka tidak terganggu."
"Akhh pakai acara begitu segala," ungkap Arsen histeris. Ia paling sensitif jika Nisa dalam bahaya. Dan sekarang bahaya itu benar-benar berada di depannya.
"Arsen tenanglah. Di sini tidak hanya kamu yang merasa takut. Kita semua juga takut, kita sayang sama Nisa." Suara itu adalah suara Aisyah. Meski ia tidak dapat melihat tapi ia bisa merasakan jika Arsen sangatlah tidak tenang.
Arsen memandang Aisyah sembari menghela napas. Sedetik kemudian pandangannya jatuh kepada seseorang yang berada di samping Aisyah. Ahmad. Dalam hati Arsen meremehkan, bagaimana laki-laki itu sekarang? Apakah dia telah menyesal pernah mengusir anaknya sendiri?
Pertanyaan itu tiba-tiba terbalik kepadanya. Ia sama saja dengan Ahmad, sama-sama brengsek karena pernah menyakiti wanita yang sama. Ia memandang Gabriel yang tengah tertidur. Itu Gabriel, anak yang pernah disia-siakannya.
Ceklekkk
Fokus Arsen teralihkan dengan suara dari arah pintu. Spontan ia langsung menatap sang dokter yang keluar dari ruangan. Arsen cepat menghampirinya dan memberikan pertanyaan.
"Bagaimana dengan istri saya Dok? Apakah persalinannya lancar?"
Dokter tersebut menghela napas dalam, ia tersenyum sedih sebelum menjelaskan.
"Istri Anda...."
"Kenapa Dok dengan istri saya?
"Istri Anda mengalami pendarahan cukup banyak akibat kerasnya benturan. Ibu Nisa tidak bisa melahirkan secara alami, kami harus melakukan oprasi cesar."
Pernyataan dari dokter tersebut berhasil membungkam semua mulut yang berada di ruangan itu. Arsen melirik ke semu orang melihat bagaimana reaksi mereka.
"Bagaimana dengan bayi saya Dok?"
"Bayi Anda mengalami sedikit masalah, saat ini posisi kepala berada di atas, sedangkan kakinya berada di bawah. Kondisi bayi juga sangat lemah. Jadi kami tidak ada waktu lagi, jika terlambat bisa saja keduanya tidak akan dapat diselamatkan."
__ADS_1
"Lakukan yang terbaik Dok!" Pinta Arsen memohon. "Bolehkah saya masuk ke dalam ruang operasi? Istri saya pasti membutuhkan saya. Saya mohon Dok!"
Dokter perempuan itu mengangguk membuat Arsen tersenyum lega. Ketika Nisa dikeluarkan untuk dipindahkan ke ruangan oprasi, semua orang turut mengikuti para suster yang mendorong brankar dari belakang.
Arsen menggenggam tangan Nisa yang terasa sangat dingin. wajah wanita itu sangat pucat, keringat memenuhi tubuh Nisa. Napasnya sedikit teratur ketika genggaman tangan Arsen membuatnya sedikit nyaman.
"Nisa," lirih Arsen sambil mengusap rambut Nisa yang tidak mengenakan hijab.
Seolah merespon Nisa pun sedikit menoleh dan mengulas senyum walau dipaksakan. Daya tahan tubuhnya saat ini benar-benar lemah.
"A-Arsen!"
"Iya sayang." Saking khawatirnya Arsen hingga tanpa sadar ia telah menangis. Tidak ingin terlihat lemah di depan Nisa, Arsen pun cepat menghapus air matanya.
"Ja-jangan tinggalkan aku," ucap Nisa sebisa mungkin.
Arsen menggeleng, "Aku tidak akan pernah meninggalkan kamu. Seharusnya kamu yang berjanji tidak akan meninggalkan aku."
Anggukan dari Nisa sedikit membuat Arsen merasa lebih tenang. Setidaknya Nisa telah berjanji tidak akan meninggalkan dirinya. Sungguh mimpi buruk jika ia hidup tanpa Nisa. Arsen tidak dapat menjalani kehidupan apalagi mengurus Gabriel sendirian jika wanita itu tidak ada di sisinya.
Kala memasuki ruang oprasi hanya Arsen lah yang diperbolehkan masuk untuk menemani Nisa. Jemari Nisa tidak pernah lepas dari genggaman tangan suaminya.
"Doakan aku supaya bisa melahirkan anak kita."
"Pasti sayang aku pasti akan mendoakan mu."
Kini tibalah saatnya Nisa melakukan oprasi. Khawatir, tentu saja Arsen rasakan. Suami mana yang tidak merasa khawatir jika sang istri akan berjuang melahirkan anaknya dan itu akibat perbuatannya sendiri.
_______
"Nek, dedek jahat sudah buat Bunda kesakitan. Hiks-hiks Iel nggak mau temenan dengan dedek nanti."
"Lho kenapa? Waktu Bunda ngelahirin Iel juga begini."
Sontak Gabriel melirik Ibel yang tengah duduk ditemani Habib. Ibel juga saat ini sedang mengandung 3 bulan. Pandangan Gabriel menyiratkan meminta kebenaran yang diucapkan Ibel.
"Iya ya Nek?" Tanya Gabriel pada Ariana.
Ariana mengangguk, dan Gabriel tertunduk. Anak itu menitikkan air mata karena belum ada kabar dengan Nisa yang berada di dalam.
Semuanya hanyut dalam lamunan masing-masing sehingga suara tangis bayi memecahkan suasana keheningan tersebut. Kompak semua orang langsung berdiri ketika dokter keluar.
"Bagaimana dengan bayi dan Kaka saya? Keduanya baik-baik saja kan?" Tanya Alsya langsung menyambar dan tak berpikir lebih dulu.
"Alhamdulillah keduanya baik-baik saja!"
"Apakah kami boleh masuk?
"Tentu saja boleh."
Semua orang langsung masuk ke dalam ruangan dan menghampiri Nisa yang tengah terbaring lemas dengan Arsen yang berada di sampingnya. Seorang bayi yang berada di gendongan Arsen menarik perhatian mereka.
"Sa! Apa jenis kelaminnya?" Tanya Ibel sambil melirik ke bayi merah yang telah dibersihkan.
__ADS_1
"Laki-laki lagi," ucap Arsen cemberut namun tak mengurangi rasa bahagiannya.
"Itu artinya Iel bakal punya teman main dong Pa?"
"Iya dong."
"Pa Iel mau liat dedek bayinya," rengek Gabriel. Kemudian Arsen memberi lihatkan bayi tersebut ke Gabriel dan semua orang.
"Ganteng kaya Gabriel Pa!"
Nisa tersenyum melihat ekspresi semua orang yang tampak bahagia. Namun keberadaan Ahmad sedikit membuatnya haru karena laki-laki itu telah sudi ikut hadir.
"Papa!" Lirih Nisa sambil tersenyum ke arah Ahmad.
Terlihat Ahmad mendekati Nisa lalu menangis, "Maafkan Papa telah nyakitin kamu nak. Papa memang Papa yang jahat, Papa bukanlah orang yang baik. Kamu boleh hukum Papa asalkan kamu bisa memaafkan Papa."
Nisa terharu mendengarnya. Jauh sebelum Ahmad meminta maaf, ia telah lebih dulu memaafkan Papa nya.
"Nisa maafin Papa," kata Nisa membuat semua orang yang berada di sana menghembuskan napas dengan tenang.
"Kalau begitu siapa namanya Nak?" Tanya Aisyah.
Arsen tersenyum seraya memandang anaknya yang berada di dalam dekapan nya.
"Namanya adalah Bagas Wijaya Altas."
"Hai baby Bagas," sapa semua orang ke Bagas yang masih tertidur.
Nisa tersenyum mendengarnya. Inilah akhir penderitaannya. Semua tantangan ia lalui dengan senyuman sehingga menciptakan masa depan dengan penuh kebahagiaan. Mulai saat inilah ia membuka lembaran hidup baru bersama anak-anaknya.
_______
**Ending
Penutup
Arsen Wijaya Altas**
Anisa
Gabriel Wijaya Altas
Gabriel dan Cilla
Karena mata asli mereka biru yang sesuai aku deskripsikan anggap aja mata mereka biru.
__ADS_1