Tragedi Malam Itu

Tragedi Malam Itu
Part 27


__ADS_3

Di seberang jalan terdapat sebuah taman anak-anak yang selalu ramai dengan pengunjung. Gabriel dengan cekatan berlari ke arah taman tersebut, ia tak menghiraukan ibunya nanti  yang panik karena tingkahnya.  Dengan lihai ia menyetopkan kendaraan dan ikut menyeberang bersama pejalan kaki lainnya.  Mereka membantu Gabriel agar anak itu tak melakukan kesalahan yang patal kala sedang menyeberang.


Anak tersebut mampu membuat orang-orang yang berada disana nyaris saja jantungan. Bagaimana tidak? Ia begitu berani berlari di tengah padatnya kendaraan seolah ia telah terbiasa.


Gabriel seketika berbinar saat ia telah berhasil menyebrang dan matanya langsung disuguhan dengan suatu tempat yang menjadi objek anak itu berlari. Dengan langkah kecilnya ia berjalan menuju taman dengan boneka stroberi warna merah muda yang ada di tangannya. Ia begitu terlihat bahagia ketika bocah tersebut melihat suatu bangku kosong yang ada di sana.


Dengan lugas ia mendekati bangku itu dan duduk di sana. Ia terdiam beberapa menit. Matanya yang bulat menyapu pada pandangan sekeliling lalu mata itu berubah sedih. Dengan wajah penuh kesedihan dan tangan yang memeluk boneka, Gabriel mengamati anak-anak sebanyanya yang tengah bermain ditemani oleh keluarga mereka masing-masing dan lengkap. Ia tak pernah merasakan hal itu, dia juga ingin bermain bersama ayah dan ibu seperti mereka. Tapi kapan?


Gabriel terdiam mengamati sekitar penuh rasa sedih yang mendalam. Ia selalu bermain bila akhir pekan hanya bersama sang ibu dan aunty tersayangnya. Gabriel juga ingin merasakan bagaimana rasanya bermain dengan keluarga yang lengkap. Jangankan keluarga, teman saja selama ini Gabriel tak punya. Tak ada seorang pun yang mau berteman dengan bocah laki-laki itu. Ia tak mengerti saat orang-orang mengatakannya anak haram. Ia tak tau apa anak haram itu?


"Ya Allah. Kapan Iel bisa ketemu dengan papa? Iel kangen ya Allah. Kata mama, papa pelgi cali uang buat beli mainan Iel. Ya Alloh Iel nggak butuh mainan banyak, tapi Iel butuh papa ya Alloh. Tolong kabulkan pelmintaan Iel, Amin." Gabriel mengusapkan kedua telapak tangannya tadi yang ditadahkan ke atas langit ke wajah imutnya.


Ia kembali melamun dan sesekali tertawa saat melihat sebuah keluarga yang tertawa bahagia. Ia juga ikut bahagia walau sebenarnya hati Gabriel rapuh. Saat matanya melihat sang anak yang tertawa lepas dipandangannya ia juga ikut terbahak.


"Yeyy!!! Papanya kalah," pekik Gabriel senang dan bahkan ia sampai melompat-lompat kala melihat anak tersebut berhasil menangkap sang ayah.


Lalu bocah tersebut menatap boneka pink di tangannya dan tersenyum. Anak itu mencium boneka stroberinya dengan senang.


"Stlobeli kapan-kapan kita main gitu juga ya dengan Papanya Iel."


"Hay boleh ikut main nggak?" Tanya seorang bocah perempuan yang sangat cantik. Rambut panjangnya digerai, bola mata coklat terang terlihat indah. Baju selutut yang anak itu guanakan sangat cocok dengan tubuhnya yang kecil.


Gabriel mengangkat pandangannya hingga mata mereka sanling bertemu. Gabriel terperangah melihat anak perempuan yang berada di depannya. Hati Gabriel seketika berteriak bahagia saat ada orang yang hendak berteman dengannya. Dengan semangat ia menganggukan kepalanya memperbolehkan anak perempuan kecil itu ikut bermain dengannya.


"Boleh."


Anak gadis itu langsung menarik kedua sudut bibir mungilnya. Ia duduk di samping Gabriel lalu melirik heran pada boneka stroberi yang ada di tangan Anak laki-laki tersebut. Ia ingin tertawa geli kala membayangkan seorang anak laki-laki bermain bersama dengan boneka warna pink pula. Biasanya seorang bocah laki-laki lebih menyukai robot-robotan ketimbang dengan boneka.

__ADS_1


"Kamu kenapa suka boneka?" Tanya perempuan tersebut sembari menatap kepada boneka yang ada di tangan Gabriel.


Gabriel sesaat melihat pada bonekanya lalu melirik lagi perempuan itu dengan cengiran kuda yang terlihat sangat menggemaskan.


"Suka aja. Nama kamu siapa?"


"Cilla. Nama kamu siapa?" Tanya Cilla balik.


"Gabriel," jawab Gabriel singkat, "oh iya nama kamu bagus."


"Terimakasih," ucap Cilla malu-malu. "Kamu tadi kenapa sedih liat mereka bahagia. Kamu nggak suka liatnya ya?" Cilla menunjuk pada keluarga yang membuat Gabriel menjadi sedih sekaligus senang.


Gabriel menggeleng lemah. Ia menundukan kepalanya. Kaki anak itu menjuntai dan diayun-ayunkannya. Ia seperti tak ingin menjawab apa-pun. Gabriel takut, saat ia mengatakan yang sebenarnya Cilla tidak akan mau lagi berteman dengannya. Ia ingin merasakan bagaimana memiliki teman walau sesaat.


"Kok Iel jadi sedih."


Gabriel menatap aneh Cilla. Boneka stroberi yang sempat terjatuh akibat kerasnya tarikan tangan Cilla ia pungut kembali lalu membersihkannya.


"Cilla kenapa talik tangan Gabriel sih," gerutu anak tersebut seraya menggelembungkan kedua pipinya.


Cilla yang melihat wajah Gabriel bertambah kali lipat tampannya kala sedang cemberut pun berdecak kagum. Ia tak pernah sebelumnya melihat wajah yang begitu indah parasnya seperti Gabriel.


"Cilla!!!!!" Teriak suara berat dari arah belakang.


Sontak keduanya melemparkan pandangan kepada orang yang memanggil nama Cilla. Cilla yang telah mengetahui siapa orang yang telah memanggilnya pun langsung tersenyum dan mengahmabur ke dalam pelukan orang itu.


"Uncle!!!"

__ADS_1


"Cilla dari mana aja sih, uncle panik loh cari Cilla kemana-mana." Orang itu membalas pelukan Cilla dan menciumi wajah anak perempuan tersebut berkali-kali.


"Cilla main sama teman baru uncle. Sini Cilla kenalin," ucap Cilla lantas menarik Arsen mendekat dengan Gabriel.


Mata Gabriel bertemu pandang dengan mata Arsen. Keduanya hanyut dengan senyuman masing-masing. Sedetik kemudian Gabriel mendekap Arsen yang memang sudah merentangkan tangan memebrikan Gabriel kesempatan untuk mendekap tubuhnya.


"Om Alsen Gabriel kangen," rengeknya manja.


"Om juga," ucap Arsen dan meraih tubuh Cilla dan dipeluknya kedua anak itu.


Arsen, Cilla dan Gabriel duduk di bangku taman.


"Gabreil kehilangan mama lagi ya?" Tanya Arsen seraya mengusap surai Gabriel.


Ia tidak tahu mengapa hatinya selalu menuntun dia untuk melakukan hal-hal yang manis kepada Gabriel. Dan bahkan malam tadi sulit sekali ia tertidur karena wajah Gabriel selalu terbayang di benaknya. Hatinya menghangat saat berdekatan dengan Gabriel dan mengetahui bahwa anak itu aman-aman saja.


"Enggak om. Mama kerja dekat cafe sebelang."


"Oh."


Sebuah teriakan membuat semua yang ada di sana berbalik.


"GABRIELL!!!"


________


TBC

__ADS_1


__ADS_2