
Malam mulai menyapa, angin berhembus menyapu dedaunan. Kendaraan di jalan raya mulai berkurang. Sebuah mobil BMW hitam melaju kencang menyusuri jalanan yang sunyi. Sang pengendara yang sedang mabuk pun beberapakali ingin mengatup matanya yang terasa berat namun ia menahannya agar terus terbuka, bagaimanpun ia sekarang sedang menyupir. Teman sekaligus atletnya duduk bersandar pada sofa mobil sembari memejamkan mata. Laki-laki itu menikmati perjalanan sambil merasakan alkohol berdesir di dalam tubuhnya.
Putaran demi putaran ban mobil berlalu, keadaan hanya aman-aman saja tanpa ada sesuatu yang dialami oleh pengendara maupun penumpang yang duduk di belakang. Sedang asik dengan pikiran masing-masing tanpa mereka sadari ban mobil yang sedari tadi berputar pun meletus. Mobil terasa oleng dan miring. Sang supir menghentikan mobilnya dan turun dari mobil tersebut.
Orang yang duduk di belakang dapat menatap kekesalan orang yang turun tersebut. Ia menyatukan alis tebalnya kala melihat pemandangan itu. Ia juga ikut turun dengan semboyongan menghampiri temannya.
"Ada apa Dive?" Tanya laki-laki itu dan juga ikut menatap kepada objek yang membuat orang yang dipanggil Dive menjadi kesal.
Ia menarik napas panjang lantas melirik Dive yang sedang bersandar pada pintu mobil resah. Laki-laki itu juga ikut kesal dengan situasi yang dialami mereka.
"Pasti ada yang sengaja melakukan ini. Gue pikir ini ada sangkut pautnya dengan Fomale. Pasti dia memecahkan ban mobil kita, dasar anak itu tidak habis akal ingin mendapatkan apa yang sudah menjadi kemenangannya." Ia menendang ban mobil sembari menyumpahi orang yang ia anggap telah memecahkan mobil laki-laki itu.
"Kalau lo marah dengan dia, biar gue yang bakalan ngebunuh Fomale dengan cara sadis. Atau perlu malam ini juga gue bakal lakuin," ucapnya manatap tanpa ada keraguan sama sekali ketika ia mengatakan kalimat cukup ekstrim tersebut.
Dive memandang kepada remaja yang berada di depannya. Sebuah gelengan kepala turut ia lakukan untuk menjawab keinginan yang laki-laki itu hendaki.
"Tidak. Tidak usah membunuhnya. Biarkan saja dia Arsen, jika lo ngebunuh dia mungkin kita akan dapat masalah baru. Itu bukan sebuah ide yang bagus, gue tidak menyukainya. Biarkan kita bermain cantik untuk membalas semua ini."
Arsen membuang napas kasar lalu menatap ban mobil yang sudah tidak memiliki fungsi lagi. "Baiklah. Kalau begitu kita cari bengkel saja di dekat sini," usul cowok itu seraya memasukan kedua telapak tangannya kepada jaket hitam agar dapat mengurangi rasa dingin yang menghampiri laki-laki tersebut.
"Lo benar Sen. Kita harus cari bengkel di dekat sini." Dive yang ingin masuk kedalam maobil pun langsung berhenti dan membalikan badan. "Tapi lo nggak bisa ikut. Bannya bocor semua, lo tinggal di sini saja, jangan kemana-mana."
"A-apa bocor semua?" Tanyanya tak percya. Mulut pria itu hanya bisa diam saja kala mendengar ucapan sahabatnya. Ia menyaksikan dari jauh ketika mobil itu berjalan meninggalkan dirinya seorang di tengah jalan yang tak berpenghuni ini.
Menghela napas sambil berdiri menunggu kedatangan Dive. Satu jam ia lalui dengan kegiatan yang membosankan, perasaan jenuh melanda pemuda itu. Ia merasakan kakinya yang sudah lelah menompang berat badannya dan apalagi ia sekarang dalam keadaan mabuk. Biasanya saat-saat seperti ini ia habiskan dengan berbaring di kasur sambil menunggu pening di kepalanya mulai mereda.
__ADS_1
Mungkin hari ini adalah hari ditetapkan kesialannya, hingga cowok itu tak tahan lagi menahan semuanya. Ia tak pernah merasakan di posisi seperti ini. Saat laki-laki bernama Arsen ingin pergi dan mencari taksi, sebuah lolongan suara memanggilnya. Suara itu adalah suara seorang perempuan. Karena dengan ton suara yang menyerupai perempuan itu membuat laki-laki tersebut menyimpulkan yang menyapanya adalah seorang wanita. Ia tidak ingin menghiraukan panggilan itu karena ia sangat membenci wanita.
Semakin dekat dan dekat suara tersebut sangat jelas mendengung di telinga pria tersebut. Tiba-tiba rasa sakit di kepalanya hadir tanpa diundang. Ia tak tahan dengan suara perempuan itu. Semakin wanita tersebut mendekat dan semakin gencar pula rasa sakit yang amat hebat menghantam kepalanya. Kepalanya berputar, keaadaan sekeliling berasa jungkir balik di netra cowok itu.
Dengan sigap ia menghadap kepada perempuan tersebut dan mencekal lengan kecil itu. Ia dapat melihat kilatan ketakutan dari manik gadis itu ketika ia semakin mengikis jarak diantara mereka.
"Mari bersenang-senang dengan ku baby malam ini." Usai mengatakan kata-kata membuat bulu kuduk perempuan itu meremang, Arsen langsung membawanya menjauh dari tempat itu.
Namun cowok tersebut cukup kesulitan karena serangan brutal yang bertubi-tubi ia terima. Arsen melirik wanita itu dengan seringaian di wajah pahatan dewa Yunani tersebut.
"Sok suci lo hah!" Marah Arsen sembari melirik pada hijab yang dikenakan perempuan tersebut. Cuih!! ****** jaman sekarang ternyata tidak hanya yang tak mengenakan hijab, tetapi yang menggunkan hijab ternyata juga cukup banyak. Hasrat ingin menyentuh wanita tersebut menggebu di dalam dirinya kala melihat wanita munafiq di hadapan. Ia benci dengan wanita dan benci, wanita bisa memberi kebahagiaan tetapi juga bisa memberikan luka.
"Arsen lepasinnn!!!!" Ia tak peduli dengan terikakan-teriakan menyedihkan tersebut.
Di dalam gubuk Arsen menghempaskan tubuh wanita itu ke ranjang berumur dengan kuat. Ringisan perempuan tersebut terdengar jelas di telinganya. Cowok itu langsung membungkam bibir wanita tersebut dengan ciuman yang memabukan. Lumatan-luamtan ia berikan tanpa hendak memberikan kesempatan sang wanita mengambil oksigen. Tangannya membuka semua kancing seragam dikenakan gadis tersebut dengan terburu-buru.
________
"Jadi begitu ceritanya. Aku tidak dapat mengenali wajah perempuan itu dan sama sekali tidak bisa mengingatnya."
"Arsen. Ah maaf Alex. Apa masih banyak kejadian yang hadir di mimpimu atau yang kamu dapat mengingatnya? Mungkin dengan begitu kamu dapat mengingat kembali semuanya. Ceritakan saja kepadaku agar aku mudah menyembuhkanmu dan membuatmu mengingat kembali." Pria berseragam dokter tersebut memperbaiki letak kacamatanya sambil memeriksa data yang ada di tangan dokter tampan itu.
"Panggil saja aku Arsen. Akau mengingat semuanya, hanya kejadian itu yang sama sekali tak dapat kuingat. Aku merasa telah memperkosa perempuan tersebut. Tapi wajahnya samar sekali sehingga aku tidak mengingat apa-pun. Vian aku hanya takut jika perempuan itu memiliki anak dari kelakuan bejatku." Lirihnya sembari menunduk sedih.
"Jadi kamu mengingat semuanya?" Arsen mengangguk. "Berarti kamu tau jika kamu bukan Alex? Lantas mengapa kau masih menyimpan identitasmu dan tidak memberitahukan kepada semua orang. Dive pasti sangat merindukanmu. Dulu saja ia hampir gila karena mendengar kamu kecelakaan."
__ADS_1
"Biarkan saja mereka larut dalam permainanku. Aku sengaja merahasikannya dari semua orang maupun Dive. Anggap saja orang tidak mengetahui apa rencana dibalik aku melakukan semua ini. Vian! Aku ingin membalaskan dendamku kepada Alinta. Dia merubah aku menjadi seperti ini, dan dengan tanpa rasa bersalah pula ia datang kembali dan ingin menikah denganku." Vian memandang Arsen dengan sedih, ia tahu berapa patah hatinya Arsen dengan Alinta. Alinta adalah cinta pertama Arsen dan sekaligus orang pertama yang menyakiti Arsen.
"Sen. Aku akan menyelidiki keluhanmu tadi, nanti jika aku telah menemukan masalahnya biarku hubungi kamu kembali. Maafkan aku belum bisa mengetahui apa gangguan yang sedang kau alami."
"Ah Vian tidak apa-apa. Baiklah sepertinya aku harus kembali ke kantor," ujar Arsen dan melihat arjoli yang melingkar di tangan kiri laki-laki itu.
"Kalau begitu terimakasih telah berkunjung."
Arsen keluar dari ruangan Dokter Vian yang merupakan sahabatnya dulu. Dengan raut datar ia melangkah di koridor rumah sakit. Teriakan-teriakan memekakan telinga dari perempuan-perempuan genit menggema di telingannya.
Namun pada saat ia melewati sebuah taman rumah sakit, sebuah pemandangan membuatnya mengernyit. Ia mendekat kepada taman itu, lalu menghampiri bocah yang duduk di bangku sambil menangis.
Hati Arsen melembut kala berdekatan dengan anak kecil. "Hay boy!! Kamu kenapa?" Anak laki-laki itu mengangkat kepalanya dan menatap Arsen dengan tak berkedip.
Arsen juga sama menatap anak di depannya tanpa kedipan. Sebuah pikiran-pikiran buruk menghampirinya kala memandang wajah itu.
"Kamu kehilangan mamamu?"
"Iya om," ucapnya sedih dan kembali mengeluarkan air mata. Arsen menyeka air mata tersebut. Hatinya sakit melihat air mata yang dikeluarkan anak itu. Dadanya berdegup hebat saat ia berdekatan dengan anak ini, ia tidak tau apa yang sedang terjadi dengannya.
"Nama kamu siapa?" Tanya Arsen sembari berjongkok di depan anak laki-laki yang mirip seperti ia waktu kecil dulu.
"Gab-riel om. Nama om siapa?"
______
__ADS_1
TBC