Tragedi Malam Itu

Tragedi Malam Itu
Part 49


__ADS_3

Suara bising kendaraan memenuhi jalanan Jakarta yang sedang terkena macet akibat adanya kecelakaan beruntun di dekat lampu merah. Arsen tidak berhenti mengeluh, ia memukul stir sambil berusaha meredam rasa marah di hatinya. Jiwanya sekarang sedang meronta, pikirannya tidak tenang. Laki-laki itu menggenggam tangannya erat. Raganya ada di dalam mobil, namun tidak dengan pikiran laki-laki itu. Lelaki tersebut kalut dengan rasa gelisah nya terhadap Nisa.


Arsen menatap datar kendaraan yang berada di depan mobilnya  yang tidak kunjung bergerak itu. Rasanya ingin sekali Arsen menabrak mobil tersebut, hatinya geram tidak sabaran. Namun baru saja ia ingin melakukan aksinya tersebut, sebuah deringan ponsel miliknya berbunyi membatalkan niat Arsen untuk menabrak mobil itu.


"Bagaimana? Apakah kau menemukan Nisa ada di mana Dive?"


"....."


"Apa maksud mu dengan Nisa diculik? Bagaimana bisa. Akhhh. Aku ingin kau menemukan Nisa secepatnya, jika kau tidak menemukan Nisa, kau tau sendirikan apa yang akan terjadi?"


"......."


"Baguslah jika kau mengerti."


Tuttt


Arsen mematikan sambungan telepon nya. Laki-laki itu membanting handphone tersebut ke sembarang arah. Lalu setelahnya pria tersebut menjambak rambutnya frustrasi. Pikirannya sekarang bercabang, sulit buat laki-laki itu menenangkan hatinya.


Arsen terkekeh dalam diam, jika terjadi sesuatu dengan Nisa. Arsen tidak akan segan-segan menguliti sang pelaku yang menculik Nisa dengan amat kejam dan akan lebih kejam dari korban-korban yang sebelumnya ia siksa dengan tangannya sendiri. Ini bukan sekedar lelucon, tapi janjinya ini benar akan dilakukannya.


"Nisa dimanakah diri mu berada. Mengapa kau tega menyiksa ku seperti ini. Aku tau aku salah sudah sering memberi penderitaan kepada mu. Namun, jangan kau siksa aku begini. Padahal aku ingin membayar semuanya termasuk malu yang kau dapatkan setelah melahirkan anak ku. Aku akan berjanji menikahi mu nanti, pasti kau senang kan? Aku tau kau dulu sangat mencintai ku, dan kau malu untuk mengungkapkannya. Maafkan aku yang bodoh ini," Arsen bergumam dengan lemah. Dirinya tidak pernah seperti ini, ia selalu kuat dan tidak sekali-pun membiarkan setets air matanya keluar. Namun tidak dengan keadaan sekarang, hatinya rapuh saat mendapatkan kabar jika Nisa-nya menghilang diculik.


Nasib baik menghampiri Arsen, pria tersebut menarik napas kelegaan ketika perlahan demi perlahan kemacetan dapat diatasi dengan baik. Arsen melajukan mobilnya dengan brutal, lelaki itu menyalip kendaraan yang dirasa menghalangi jalannya tanpa mempedulikan keselamatannya. Suara klakson serta umpatan berkobar di seluruh jalan yang ditujukan kepada Arsen. Namun laki-laki itu tidak mendengarkannya. Ini bukan saatnya untuk menanggapi ucapan orang tersebut, mereka tidak tau saja siapa orang yang berada di dalam mobil.


Saat wajah Gabriel melintas di kepala pria tersebut membuatnya semakin tidak sabaran ingin bertemu dengan anaknya itu. Pasti anaknya sangat terpukul dengan kehilangan Nisa.


Tidak sampai setengah jam, Arsen telah sampai di depan rumah ibunya. Lelaki itu keluar dengan terburu-buru dan masuk ke dalam rumah dengan langkah lebar dan laju. Saat telapak kakinya baru menyentuh ruang tamu, Arsen langsung berlari menuju kamar tamu yang mana kamar itu biasa Cilla tempati untuk menginap di rumah ibunya.


Arsen bernapas lega kala melihat anaknya bermain dengan Cilla begitu riangnya. Cilla memang berbakat membuat siapa saja lari dari kesedihannya. Anak Dive tersebut selalu bersemangat dan sangat manis jika dia sedang melawak untuk membuat orang tertawa karenanya.


Arsen tersenyum, ia membuka lebar pintu kamar itu dan memberanikan diri melangkah masuk menemui anaknya yang telah ia khawatirkan sejak dari kantor.


"Hai anak papa yang ganteng, dan keponakan uncel  yang cantik."


Sontak kedua anak tersebut langsung menoleh ke arah Arsen. Binaran mata mereka tergamabar dengan jelas dan apalagi saat wajah mereka yang terukir dengan senyuman hal tersebut membuat ia sedikit melupakan masalah. Cilla dan Gabriel langsung berlari dan berhambur di dalam pelukan Arsen.


"Hai juga uncel!" Ucap Cilla dengan antusias sebab anak perempuan itu sangat senang dengan Arsen.


"Hai juga papa!" Ujar Gabriel dengan senang walau masih terdapat sedih di matanya.


Arsen mendengar sapaannya dibalas oleh Gabriel dan Cilla pun tersenyum. Laki-laki itu mengusap kedua kepala anak tersebut. Lalu selanjutnya ia menatap Gabriel. Sebuah warna merah di mata Gabriel membuat senyuman Arsen pudar.


"Uncle! Tadi Iel nangis, katanya bundanya sudah satu minggu tidak pulang ke lumah. Iya kan Iel?"


Gabriel mengangguk dengan lemah membenarkan ucapan Cilla barusan. Anak itu kembali sedih saat harus mengingat kembali ibunya.


"Papa bisa bantu Iel cari bunda kan? Iel kangen sama bunda. Setiap pagi bunda selalu buatkan Iel sarapan, siapkan baju sekolah Iel. Tapi sekarang nggak ada yang buatin sarapan Iel sama siapin Iel baju lagi. Aunty Ibel  juga belum pulang ke Jakarta."


Hati Arsen mencelos ketika mendengar ucapan Gabriel. Ia juga sedih atas kehilangan Nisa, namun mau bagaimana lagi. Dia yang bodoh ini tidak bisa menjaga Nisa.


"Papa pasti cari bunda. Papa janji sama Iel."


Wajah Gabriel kembali bergembira saat Arsen menjanjikan akan mencari ibunya. "Papa janjikan bawa bunda pulang lagi."


"Papa janji," ucap Arsen sembari mengecup kepala anaknya.


Maafkan papa, papa belum bisa mengakui jika papa adalah ayah mu. Tapi papa janji akan membawa pulang bunda. Batin Arsen sembari tersenyum.


Di tengah keharmonisan Arsen dengan anaknya, suara dering ponsel kembali terdengar. Arsen melepaskan Gabriel yang berada di dalam dekapannya.


"Bentar ya, papa angkat telepon dulu." Arsen tersenyum setelahnya ia berjalan menuju tempat yang sedikit jauh dari Gabriel dan Cilla untuk mengangkat telepon  dari Dive.


Arsen menggeser layar hijau, di dalam hatinya ia berharap jika Dive menelponnya ingin menyampaikan kabar gembira.


Sedetik kemudian setelah ia mengangkat telepon itu, suara yang berada di seberang sana dengan cepat langsung menyambar hingga membuat Arsen terkaget dan menghela napas.


"Bisakah kau pelan-pelan menjelaskan kepada ku. Aku semakin pusing mendengar suara mu yang tidak memiliki rem itu."


"Ah maafkan aku kawan. Bagaimana dengan anak ku, dia baik-baik sajakan? Dia tidak di makan ibu mu lagi kan?"


Arsen yang mendengar pertanyaan konyol Dive memutar bola mata dengan malas.


"Berhenti bertanya Dive. Anak mu aman bersama ku. Sekarang saat nya aku bertanya, bagaimana dengan perkembangan nya, apakah kau telah mendapatkan alasan mengapa Nisa bisa menghilang."

__ADS_1


"Nisa menghilang setelah dia dikejar wartawan ketika  mengantar Gabriel sekolah. Wartawan tersebut mengatakan kepada ku jika mereka tidak menemukan jejak Nisa setelah mereka mengejarnya sampai di gang buntu. Namun saat itu mereka melihat ada bayangan seseorang di gang tersebut."


"Dive aku ingin para wartawan yang mengejar Nisa dipecat dari pekerjaan mereka. Dan satu lagi kau cari tahu siapa bayangan itu."


"Baiklah. Aku minta tolong kau menjaga anak ku."


"Hm."


Arsen mendengus karena Dive dengan lancangnya memutuskan sambungan telepon. Ia memasukan handphone nya ke dalam saku celana bahannya, lalu laki-laki itu kembali menghampiri Gabriel dan Cilla.


"Tadi siapa yang telpon uncle?" Tanya Cilla mengkagetkan Arsen hingga sampai-sampai lelaki tersebut mengusap dadanya.   


"Papaya Cilla."


"Oh papa. Papa bilang apa uncle, papa cariin Cilla enggak?"


Arsen perlu menarik napas panjang, ia menatap Cilla yang tidak hentinya memberikannya pertanyaan. Arsen rasa sifat Cilla yang seperti ini turun dari ayah biologis Cilla yang sama mengesalkannya.


"Iya. Tadi papa nanyain Cilla." Arsen menatap Gabriel dengan senyuman lembut milik pria itu. "Hari ini Iel boleh beli banyak mainan, apa-pun yang Iel mau, papa akan belikan."


Lantas Iel pun menatap Arsen, lalu anak itu menggeleng tidak mau mainan.


"Iel nggak mau pa, Iel mau bunda. Iel kangen bunda. Iel nggak punya papa, jadi Iel tidak mau kehilangan bunda juga. Nanti kalau bunda tidak ada siapa yang jagaain Iel."


Mendengar penuturan Gabriel mampu membungkam mulut Arsen. Laki-laki itu terpaku dan terdiam seribu bahasa. Ia menatap nanar anaknya. Ini semua salahnya, kenapa ia pengecut sekali tidak bisa mengatakan kepada anaknya bahwa ialah ayah yang selama ini dicari Gabriel.


Maafkan papa yang bodoh ini Iel. Papa janji akan cari mama. Ucap Arsen di dalam hati, ia meraih tubuh anaknya yang lemah serta air mata tak henti membanjiri permukaan wajah anak itu, Arsen mendekapnya dengan erat seolah tidak ingin melepaskan anak ini selamanya. Gabriel dan Nisa adalah miliknya, jadi tiada satu orang pun yang bisa menyentuh miliknya walau itu sejengkal, tidak bisa. Ia berjanji kelak di masa depan akan membuat kedua orang yang berharga di dalam hidupnya itu akan bahagia.


"Papa akan membawa bunda pulang," janji Arsen. Tanpa disadari oleh lelaki itu air matanya kembali mengalir. Rasa bersalah ini terus menghantuinya. Yang hanya ada di pikirannya ialah bagaimana caranya ia menebus rasa bersalah ini.


__________


1 bulan kemudian


Arsen masuk ke dalam rumahnya dengan keadaan yang tidak bisa dikatakan baik. Lelaki itu berpakaian acak-acakan seperti tidak ada yang mengurus. Ia dibawa oleh Dive dan dituntun untuk masuk ke kamarnya. Arsen pulang dalam keadaan mabuk, dan setiap malam lelaki tersebut selalu begitu.


Ariana dan Davit yang  selalu mendapatkan Arsen pulang dalam keadaan mabuk hanya bisa menarik napas nya dengan panjang. Lelaki tersebut kadang tidak tidur demi mencari Nisa, ia rela menghabiskan waktu bekerjanya dengan mencari Nisa yang tak pernah dapat ditemukannya. 


Arsen diletakkan di atas ranjang. Ariana menarik selimut untuk menutupi tubuh Arsen yang menggigil dan terus meracau. Stelahnya Ariana menatap Dive lalu memberi isyarat jika laki-laki itu boleh pulang.


Ariana dan Davit menatap sedih dengan keadaan Arsen yang meprihatinkan. Lelaki tersebut mulai seperti itu sejak mendapat kabar Nisa menghilang. Sama sekali laki-laki tersebut tidak pernah beristirahat untuk mencari Nisa, hingga setiap malam Arsen selalu pulang dengan keadaan yang menggenaskan.


Sedangkan Gabriel selalu menangis. Ariana dibuat pening hanya dengan satu orang, ia hanya menarik napas panjang kala Arsen tidak berhenti mencari Nisa.


Padahal dia sudah beberapa kali memperingatkan Arsen tidak usah mencari Nisa. Namun, ucapannya sama sekali tidak didengar Arsen. Terkadang Ariana kesal dengan Nisa, sebab perempuan itu membuat hidup anaknya berantakan.


"Ma lebih baik kita tinggalkan saja Arsen sendirian di sini. Dia pasti membutuhkan waktu sendiri," ujar Davit membuat fokus Ariana teralihkan kepada suaminya itu.


Ariana kembali menatap Arsen, hatinya juga sakit harus melihat anaknya dalam kondisi seperti ini.


"Baik pa."


Ariana dan Davit pergi meninggalkan kamar Arsen. Hingga tinggallah Arsen sendirian di dalam kamar tersebut.


Pagi hari


Arsen keluar dari kamarnya dengan pakaian sudah rapi. Laki-laki tersebut berjalan ke arah kamar anaknya untuk menjenguk Gabriel sebelum ia melanjutkan mencari Nisa. 


Ia membuka kamar anaknya dan mendapatkan jika Gabriel telah bangun dan sedang duduk di atas ranjang dengan boneka stroberi di dalam dekapannya.


Arsen tersenyum melihat Gabriel, dengan menatap anak itu cukup mengobati rasa rindunya kepada Nisa. Ia mendekati Gabriel lalu mendaratkan bokongnya di samping anak itu. Arsen mengamati anaknya dengan serius, lagi-lagi ia merasa bersalah sebab belum bisa menepati janjinya untuk membawa Nisa pulang.


"Iel maafkan papa ya belum bisa membawa bunda pulang. Iel boleh marah dengan papa."


Gabriel menatap Arsen dengan mata bulatnya yang memancarkan kesedihan.


"Pa! Iel minta maaf jika selama ini Iel membuat susah papa Arsen. Iel akan pergi dari rumah ini, Iel bisa cari bunda sendiri. Iel juga pengen cari papa, coba aja papa Iel sudah pulang, pasti papa Iel cari bunda juga." Tiba-tiba Arsen merasakan ada hantaman yang begitu keras di hatinya. Ia menatap wajah anak itu dengan gambaran meminta maaf.


"Kan sudah ada papa Arsen. Jadi kenapa Iel pengen cari papa lagi."


"Tapi kan papa Arsen bukan papannya Iel."


Hati Arsen meronta ingin menyampaikan, akulah papa mu.

__ADS_1


"Iel maafkan papa jika ini menyakiti hati Iel. Papa kandung Iel adalah...." Arsen terdiam ia tidak sanggup melanjutkan ucapannya," papa kandung Iel adalah....papa Arsen sendiri."


Jelas Gabriel langsung terkejut, ia melebarkan matanya tidak percaya. Ia menatap Arsen dengan pandangan meneliti, namun setelahnya ekspresi Gabriel kembali muram.


"Jadi selama ini papa kandung Iel adalah papa Arsen. Tapi kenapa papa tega bohongin Iel. Hiks-hiks-hiks. Papa jahat ninggalin Iel sama bunda berdua, papa tidak peduli dengan Iel. Bunda juga sering nangis gara-gara papa."


Arsen memeluk tubuh rapuh anaknya, namun pelukan Arsen mendapat penolakan dari Gabriel. Anak itu dengan gencar memukuli Arsen minta dilepaskan.


"Iel tidak mau dipeluk papa. Papa jahat sama Iel."


"Papa minta maaf Iel, papa tau jika papa salah. Papa janji akan bawa mama pulang dan membuat Iel bahagia." Tidak ada jawaban dari Gabriel, anak itu hanya menangis di dalam rangkuhan Arsen.


Arsen yang melihat Gabriel kembali tenang di dalam pelukannya pun menyunggingkan senyum, walau masih terdapat isakan halus dari bibir anak itu. Namun tiba-tiba suara nada dering ponsel memecahkan keheningan. Arsen mengambil handphonya, dapat ia lihat nomor ponsel yang sudah ia hapal di luar kepala tertera di sana.


"Bagaimana Dive. Apakah kau sudah menemukan siapa pelaku penculikannya?"


"...."


"Cepat katakan siapa orang itu."


"......"


Secara tiba-tiba rahang Arsen mengerat, lelaki tersebut menggeram marah saat ia mengetahui siapa orang yang telah berani menculik Nisa. Arsen memutuskan sambungan telponnya,  setelahnya laki-laki tersebut mencengkeram ponsel tersebut dengan erat sehingga terdengar bunyi retakan.


"Sargaaaa! Aku akan membunuh mu," geram Arsen, giginya saling bergesekan untuk menggambarkan seberapa marahnya lelaki tersebut.


________


Suara sunyi menghias ruangan itu. Warna hitam dan gelap mendominasi ruangan tersebut, sama sekali tidak ada penerangan. Bau anyir begitu tajam sehingga siapa pun yang menciumnya merasa mual.


Nisa membuka matanya, yang pertama menyambut penglihatannya adalah gelap. Wanita itu mengernyit, apakah ia sudah meninggal?


Ia kembali menerwang masa lalu, mengapa ia bisa sampai berada di tempat gelap seperti ini. Saat mendapat kembali ingatannya, Nisa langsung ketakutan. Ia ingat sebelum ia kehilangan kesadarannya, ia sempat dikejar-kejar oleh wartawan lalu ada orang yang membekap mulutnya hingga ia pun tidak mengingat apa-apa.


Nisa ingin kabur dari ruangan ini namun, baru saja ia ingin bergerak, tiba-tiba tubuhnya terasa remuk lalu ada tali yang mengikat tubuhnya. Memang sudah berapa lama ia tidak sadarkan diri? Bukannya orang yang terkena bius akan sadar beberapa jam kemudian? Apa dia yang salah? Lalu apa maksud dengan tali yang mengikat tubuhnya, apa ia diculik? Tidak. Nisa tidak bisa membayangka jika ia benaran diculik.


Nisa menatap ke arah suara pintu yang dibuka oleh seseorang. Orang tersebut membawa senter di tangannya dan berjalan mendekati Nisa.


"Ternyata kau sudah sadar heh?"


Nisa menatap takut orang tersebut.


"Siapa kau. Lepaskan aku, aku ingin pulang."


"Diam kau. Kau tidak tau berapa lama dirimu tidak sadar? Aku sudah lelah menunggumu sadar selama sebulan lebih. Beruntung aku belum membunuh mu."


"Kata ku lepaskan aku. Siapa kau, aku ingin pulang dan menemui anak ku."


Sarga yang tidak memiliki kontrol emosi dengan baik pun langsung mencengkeram wajah Nisa dan menyentaknya dengan kasar.


"Apakah kau benar-benar tidak mengenal ku?" Nisa menggeleng, "ternyata benar dugaan ku."


"Siapa kamu. Tolong lepaskan aku, aku ingin pulang. Apa aku ada memiliki salah dengan mu?"


Nisa meronta dengan keadaan tubuh yang terikat. Ia mengais, tubuhnya terasa sakit dan remuk, saking kencangnya ikatan Tali di tubuhnya sampai-sampai ia kesulitan bernapas.


"Tentu saja kau mempunyai masalah dengan ku. Dan aku akan membalasnya sekarang dengan mu. Apakah kau sudah melupakannya? Itu salah mu sendiri yang tidak mati setelah ditembak ibu ku Ica. Aku tak menyangka jika kau begitu pintar bersembunyi."


Mendengar ucapan Sarga, Nisa merasa kepalanya sangat pening seperti berusaha mengingat memori masa lalu.


"Siapa kau?" Nisa merintih berusaha menahan sakit kepalanya.


"Aku Sarga, anak dari orang yang telah membunuh keluarga mu dan ibu ku lah yang menembak mu Ica. Apakah kau sudah lupa dengan kejadian di saat umur mu masih enam tahun? Aku melihat dengan mata ku sendiri kau dan tante Desi yang ketakutan saat ayah ku membunuh ayah mu."


Nisa menggeleng, "tidak aku bukan Ica. Nama ibu ku bukan Desi tetapi Aisyah, aku juga tidak mengenal mu. Ibu ku masih hidup, kamu sengaja mengarang cerita. Aku tidak pernah mengalami apa yang kau ceritakan itu."


Sarga menampilkan smirknya. Ia mendekatkan wajahnya dengan Nisa. Lalu setelahnya lelaki tersebut mengamati wajah Nisa begitu lekat.


"Kau tidak tau saja jika keluarga mu yang sekarang adalah keluarga angkat. Jadi mereka tidak begitu sulit untuk memutuskan mengusir mu saat kau dihamili Arsen. Dan satu fakta yang tidak kau ketahui, jika kakak mu yang sok alim itu sangat mencintai mu. Dia sudah menyukai mu saat dia pertama kali melihat mu dibawa pulang oleh ayah mu."


"A-apa maksud mu. Aku tidak-----akhhh." Belum sempat Nisa menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba kepalanya berdenyut semakin kuat hingga warna gelap memenuhi penglihatannya.


_______

__ADS_1


Tbc


Please Like dan comen untuk memberi semangat saya.


__ADS_2