
Pov Author
Pagi yang cerah membawa suasana yang damai dan tenteram, ayam berkokok dan matahari terbit dari arah timur. Dedaunan melambai menyapa angin pagi. Rumput-rumput hijau dipenuhi dengan guguran embun-embun pagi. Susana begitu enak sekali, tapi hal tersebut hanya terjadi pada orang-orang yang suasana hatinya sedang baik, namun tidak dengan orang yang sedang berdiri di tepi jalan. Mulutnya berkomat-kamit tak jelas. Baru beberapa menit ia menggunakan sepatu hak tinggi kakinya sudah ditimpa rasa sakit.
Mana taksi tak ada yang kunjung lewat, kakinya sudah hampir bengkak. Mulai hari ini ia akan membenci seseorang bernama Arsen. Nama tersebut bagaikan jurang jahanam yang siap melahapnya.
Nisa mengeluh karena ia harus menggunakan pakaian jauh dari pakaian sehari-hari yang ia gunakan biasanya. Mau bagaimana lagi, ia terpaksa memakai pakaian seperti itu, karena itu adalah tuntutan dari bos utama yang orangnya tak asing lagi di mata siapa pun. Menjadi sekretaris merupakan sebuah impiannya tapi ia tak pernah bermimpi ingin menjadi sekretaris seorang Arsen Wijaya Altas, dan parahnya lagi Nisa baru mengetahui nama panjang laki-laki tersebut.
Nisa menarik napas panjang saat ia melihat dari ujung jalan ada taksi yang akan melewati dirinya. Ia segera memanggil taksi tersebut dengan kencang. Kala taksi tersebut telah berhenti ia segera masuk kedalam sana. Nisa jadi teringat saat ia naik taksi untuk pertama kalinya, pada saat itu ia sedang dalam masa pelarian, wajahnya juga terluka akibat goresan karya Arsen.
Ini sudah dua minggu setelah kejadian itu, wajahnya telah diobati di rumah sakit yang cukup mahal, tentunya menggunakan uang Arsen. Nisa menggunakan baju seorang muslimah yang kemarin dibelikan oleh Arsen, kata laki-laki itu agar tak memalukannya.
Nisa terpaksa mengiyakan saja apa kata laki-laki itu. Ia sudah pening dengan segala aturan yang harus ia jalankan selama menjadi asisten pribadi seorang Arsen. Laki-laki tersebut mau memberikannya pekerjaan atau menyiksanya.
Saat taksi yang ia tumpangi telah berhenti tepat pada depan perusahaan Arsen. Nisa langsung keluar dan memberikan ongkos perjalanan dari kontrakannya ke perusahaan Arsen.
"Pak ini uangnya!" Nisa memberikan uang sebanyak lima puluh ribu, dan itu adalah uangnya sendiri bukan uang dari Arsen, lagi pula pria itu tidak ada memberikannya uang. Padahal Nisa ingin sekali naik angkot saja namun Arsen marah jika ia menggunakan jasa kendaraan itu.
Dia juga dituntut agar datang lebih dulu dari pada bosnya itu. Dalam hati perempuan tersebut bertanya apa yang Arsen mau darinya. Padahal seharusnya ia yang bersikap seperti itu bukan laki-laki tersebut.
Entahlah kepala Nisa dibuat berputar gara-gara kehendak dari laki-laki itu. Dengan langkah tak nyaman ia berjalan menjelajahi koridor perusahaan mewah milik Arsen. Banyak orang menatap kearahnya dengan heran. Nisa dapat menyimpulkan mengapa orang-orang pada meliriknya semua. Karena ia biasanya adalah orang yang akan mengantarkan ketringan ke sini, dan kini ia menjadi salah satu pegawai dari perusahaan itu. Bagaimana orang tak tercengang.
__ADS_1
"Lihat deh, itu bukannya mbak-mbak yang suka ngantarin ketringan itu kan?"
"Kamu benar Ca, sepertinya dia pengen ngelamar pekerjaan disini deh."
"Gue yakin pasti nggak diterima ama bos, kamu tau sendiri kan gimana bos itu dinginnya."
"Gue juga agak nggak yakin, mana mau bos nerima pegawai modelan kampungan gitu."
"Huyust. Jangan pada ngomongin orang. Kerja, kerja."
Yap begitulah suara bisik-bisik yang sedang membahas berita Hot tentang Nisa. Perempuan tersebut berjalan dengan santai tak mempedulikan omongan tidak bermutu tersebut. Ia menekan tombol lift menuju lantai dua puluh yaitu lantai ruangan CEO.
Ketika pintu lift terbuka, Nisa langsung melangkah keluar dan segera masuk kedalam ruangan CEO itu, namun ia harus meminta izin pada sekretaris yang ada di sana terlebih dahulu. Saat ia sudah diperbolehkan masuk, Nisa mendorong pintu ruangan CEO itu pelan-pelan. Ia mengintipnya dahulu sebelum masuk.
"Assalamualaikum pak." Dapat ia lihat Arsen yang sedang berkutat dengan laptop di depannya. Dan tak dilupakan pula kacamata yang laki-laki itu kenakan.
Arsen mengangkat kepalanya dan memandang Nisa. "Duduk." Perintahnya.
Nisa duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan Arsen, perasaannya tak enak. Dengan berani ia menyerahkan biodata-biodata yang telah ia isi semalam.
"Gimana pak?" Sungguh suara Nisa terdengar canggung kala menyebut Arsen dengan sebutan pak.
__ADS_1
"Meja kamu ada di sana," tunjuk Arsen pada salah satu sudut yang ada di sana, di situ terdapat meja yang akan menjadi tempat Nisa bekerja.
"Emang nggak di luar aja ya pak?" Tanya Nisa hati-hati, pasalnya ia tak enak sekali harus satu ruangan dengan Arsen.
"Tidak bisa. Kamu harus di sini, agar aku dapat mengawasi mu," sergah Arsen cepat.
Keadaan hening. Sebuah ketukan dari luar membuat mereka menoleh pada arah pintu. Sedangkan Arsen terlihat kesal, namun Nisa terlihat sangat senang sebab ada orang lain diantara mereka berdua. Kan kalau begitu rasa canggung agak berkurang sedikit.
"Masuk."
Perempuan OG itu melangkah masuk dengan nampan yang di tangannya berisi kopi dan air putih. Ia dengan hati-hati melangkah agar tak berbuat kesalahan patal.
Saat pandangan Nisa dan OG itu bertemu. Sontak keduanya dikejutkan oleh sesuatu yang amat tak mungkin. Sedangkan minuman yang ada di tangan perempuan tersebut terjatuh ke lantai.
Prang
"Ibel/Nisa."
_______
TBC
__ADS_1