
Di perusahaan Wijaya Altas sedang sibuk menyipakan segala keperluan untuk penyambutan sang CEO baru. Para karyawati bahkan karyawan ikut menggosipi CEO baru mereka. Di mana pun para karyawan berkumpul pasti sedang membincangkan Bos mereka yang katanya luar biasa tampannya. Ibel yang sedang berkemas, tak lupa pula ia juga ikut membicarakan Bos mereka dengan teman-teman sepropesinya.
Ruangan mendadak hening kala para petinggi perusahaan bersama sang CEO menaiki mimbar untuk memotong pita tanda peresmian CEO baru. Sedetik kemudian terdengar bisikan-bisikan dari semua karyawan, yang sedang menebak-nebak yang mana sang CEO.
Ketika laki-laki berpakaian jas bewarna hitam, berbadan kekar, memiliki wajah setampan dewa, gaya propesionalnya sangat kental, maju dan meraih gunting untuk memotong pita itu. Sontak ruangan tak bisa terkendalikan karena banyaknya bawahan-bawahan yang berteriak histeris sebab tebakan mereka benar.
Laki-laki itu menggunting pitanya sehingga terputus. Kala terdengar suara tepukan, pria yang belum diketahui namanya tersebut mendongak dan memberikan senyuaman tipis nyaris tak terlihat. Sedangkan ayah dari orang tersebut tersenyum bangga dan penuh kebahagiaan. Di sana juga terdapat sang ibu yang terlihat awet muda meski sudah umurnya tidak bisa dikatakan muda lagi.
Ia mendekati sang anak dengan mata yang berkaca-kaca lantas memeluk tubuh atletis itu dengan perasaan haru yang luar biasa. Namun pria itu tak membalas pelukan sang bunda. Ada rasa sedikit kecewa di hati perempuan itu bahwa pelukan yang ia berikan tak dibalas dengan putranya. Saatnya giliran sang ayah yang memeluk laki-laki itu, pelukan sang ayah sama dengan pelukan sang istri yang tidak mendapatkan balasan.
Dilanjutkan dengan seorang pemuda yang lebih dewasa dari laki-laki tersebut yang langsung menyalami sahabatnya.
"Wah selamat bro, lo udah jadi Bos sekarang. Senyum dong, nggak usah kaku gitu. Entar karyawan lo pada kabur lagi." Dive membentuk senyuman di wajah laki-laki tersebut dengan jari tangannya.
"Apaansih lo Dive. Nggak lucu tau enggak?" Selepas mengatakan itu laki-laki tersebut langsung turun dari mimbar meninggalkan staf-staf lainnya.
__ADS_1
Para karyawan mendesah melihat tingkah bosnya yang sangat terlihat sekali akan ke pisikopatan dan arogannya. Namun meskipun hal tersebut mereka masih mengagumi sang atasan.
"Wah Bel, ganteng banget bos kita. Bakal betah gue kerja tiap hari." Perempuan yang berseragam OG tersebut mengmati sang Bos dengan pandangan memuja.
"Iya, Ganteng banget. Tapi rasanya wajah tersebut familiar sekali ya. Kaya pernah liat gitu. Tapi di mana?" Gumamnya dengan mata tak lepas dari wajah laki-laki itu.
"Ah perasaan kamu kali. Masa ia kamu pernah liat bos, bos kan katanya tinggal di Inggris. Belum pernah ke Indonesia."
"Mungkin." Ibel menghela napas, "Siapa pun dia, semoga saja Bos kita yang sekarang lebih ramah. Kok gue nggak yakin ya. Liat tampangnya aja udah ngeri gitu."
Refleks perempuan yang di samping Ibel tergelak cukup nyaring. "Ha ha ha. Nggak nyangka ya, seorang Ibel ternyata bisa takut juga."
Kembali lagi kepada CEO baru yang kini telah berada di dalam suatu ruangan direkturnya. Orang-orang terdekat laki-laki itu juga berada di dalam sana. Untuk sesaat satu pun diantara mereka tidak ada yang memulai pembicaraan. Yang terjadi hanyalah ketegangan akibat sikap dingin CEO tersebut yang terus ia tampakan.
"Mama bangga punya anak kaya kamu Alex. Semoga kedepannya kamu lebih sukses lagi," harap Riana kepada laki-laki yang dipanggil Alex tadi.
__ADS_1
Ya nama driektur baru perusahaan Wijaya Altas Group sekarang bernama Alex Wijaya Altas, seorang mahasiswa lulusan terbaik dari Inggris. Kepintarannya dalam berbisnis memang tidak bisa diragukan lagi. Ia memiliki wajah selembut sutra dan sangat tampan, banyak wanita tergila-gila dengan pria itu, namun entah mengapa ia sama sekali tidak memperdulikan semua perempuan tersebut. Padahal perempuan-perempuan yang mendekati laki-laki itu bukanlah perempuan sembarangan.
"Lex. Mama dengan papa telah jodohin kamu dengan anaknya om Thomas Marcus. Kamu pasti suka dengan anaknya. Anaknya cantik, pintar, berbakat, terus juga seorang desainer. Namanya Alinta, dia pernah satu SD dengan kamu loh," ucap Riana yang sama sekali tak digubris oleh sang anak.
Alex yang mendengar permintaan orang tuanya untuk kesekian kali hanya bisa tersenyum. Sebuah senyuman yang tak ikhlas, mulutnya seakan kelu tidak bisa terbuka menimpali perkataan orang tuanya. Lagi-lagi dirinya di sini yang harus mengalah dan menerima apapun kemauan orang tuanya. Ia diperlakukan seperti boneka hidup, miris memang.
Setelah ia keluar dari rumah sakit, kehidupannya selalu diataur oleh kedua orang tuanya. Ia sekarang menjadi seorang direktur di sebuah perusahaan besar bukanlah kemauan dari dalam dirinya sendiri. Ia sama sekali tak memiliki minat akan hal itu. Tapi orang tuanya sangat pintar agar ia mau sekolah bisnis. Hatinya sangat ingin menjadi seorang seniman, ia merasa bahwa ia sangat berbakat menggambar, tapi entah mengapa orang tuanya menayatakan bahwa ia kecil dahulu tidak suka dengan hal apa saja yang berbau seni.
Alex tak dapat menerawang kembali kehidupan kecilnya seperti apa. Untuk mengingat perihal ia masuk rumah sakit dan koma berbulan-bulan karena apa saja ia tadak tau. Kepalanya selalu berdenyut hebat kala ia memaksa memorinya untuk kembali berputar mengelilingi masa lalu.
"Malam ini kita bakal makan malam dengan keluarga om Thomas sekalian membicarakan perjodohan kalian. Kamu mau kan sayang?"
"Hm."
Semoga saja pilihannya ini tidak salah langkah.
__ADS_1
____________
TBC