Tragedi Malam Itu

Tragedi Malam Itu
Part 51


__ADS_3

Di dalam ruangan nan kedap tanpa suara, berdiri seseorang dengan pandangan terarah ke luar jendela. Tatapannya kosong seperti menahan sesuatu, penampilannya sama sekali tidak mencerminkan seorang CEO walau sebenarnya ia adalah CEO di perusahaan ini. Asap menggumpal keluar dari mulutnya saat laki-laki itu menghembuskan asap tersebut ke permukaan.


Lantai tempatnya berdiri dipenuhi dengan puntung rokok yang berserakan. Tidak ada seorang pun yang berani menegur atasan mereka yang dinilai sangat kotor itu. Namun, laki-laki itu tidak peduli dengan ucapan orang yang di luar sana menilai dirinya, meskipun perubahan Arsen telah mencapai angka 180 derajat, karisma nya menjadi seorang lelaki tampan masih terjaga.


Tidak ada yang menarik dari objek dilihatnya, di bola mata lelaki itu hanya tergambarkan  pemandangan jalan raya yang sedang terkena macet. Ia beranjak dari tempatnya saat mengetahui rokok yang sedang ia gunakan telah habis, namun saat tangannya ingin kembali mengambil satu rokok di dalam kotaknya, tiba-tiba suara pintu dibuka membuatnya meletakkan kembali rokok itu.


Ia menatap orang tersebut dengan datar, susah untuk dijelaskan. Arsen tidak bergeming, saat lelaki yang baru saja masuk malah menduduki sofa yang ada di dalam ruangannya dan tidak berniat menghampirinya.


"Ada berita apa yang kau dapatkan Dive?" Tanya Arsen seraya melipat kedua tangannya di dada. "Ku harap kau menyampaikan berita bagus."


"Sepertinya keinginan mu itu akan ku kabulkan. Aku hanya ingin menyampaikan jika jejak Nisa telah aku dapatkan."


Arsen memutar bola matanya dengan bosan. Lelaki tersebut menghampiri Dive dan duduk di sampingnya. Ia menatap Dive dengan penuh arti di matanya.


"Tidak usah berbelit-belit, kau tau aku tidak menyukai itu bukan? Langsung saja ke intinya."


Dive yang mendengar penuturan dingin sang petinggi pun menghela napas. Namun saat matanya mengedar, suatu pemandangan yang sangat jarang dilihat olehnya pun ia dapatkan. Lantas laki-laki itu menatap Arsen meminta penjelasan atas puntung rokok yang berserakan, tapi belum sempat ia bersuara, ia kembali dibuat menghela napas oleh kancing baju Arsen yang paling atas terbuka dan laki-laki itu tidak mengenakan dasi.


"Berhenti menatap ku seolah kau belum mengetahui keadaan ku. Bukan kah kau sudah sering melihat ku yang tidak ter-urus seperti ini. Tidak bisa kah kau menjawab pertanyaan ku tadi hm?"


"Baiklah bos. Aku hanya menyampaikan jika aku menemukan tempat Nisa disekap Sarga."


"Dari mana kau mengetahui tempat tersebut?"


"Melalui GPS yang terpasang di kalung Nisa yang kau berikan beberapa bulan lalu kepadanya. Apakah kau melupakan itu Sen?"


Arsen hanya menarik napas dalam, mengapa ia melupakan fakta itu. Ia ingat pernah membelikan Nisa kalung ketika membelanjakan perempuan itu di mall. Saat itu ia membelanjakan Nisa karena tidak ingin melihat perempuan tersebut bekerja  di perusahaan nya menggunakan pakaian yang di bawah standar.


Waktu itu ia pernah membelikan Nisa kalung dan sengaja meletakkan GPS di kalung tersebut agar ia dengan mudahnya melacak wanita itu. Tapi sekarang kenapa ia bisa melupakan hal itu, andaikan ia sadar telah lama dengan GPS yang pernah diselipkan di bandul kalung tersebut. Mungkin sekarang ia telah bersama Nisa.


"Kenapa aku bisa melupakannya," gumamnya dengan lemah.


"Sudah ku tebak kau melupakannya," ujar Dive meremehkan, "sudahlah ini bukan saatnya untuk membahas hal itu. Ada yang lebih penting dari itu, kita harus menyelamatkan Nisa."


"Kau benar Dive. Tapi di mana lokasi penyekapannya?"


"Di gedung tua di daerah Bali."


"Ku ingin kau menyiapkan beberapa bodyguard saat pergi ke sana. Aku sangat yakin jika dia tak sendiri di sana, pasti ada pengawal yang menjaganya."


"Aku juga berpikir seperti itu. Baiklah aku akan undur diri jika begitu."


"Hm."


Setelahnya Dive pergi dari sana untuk melaksanakan perintah yang diberikan Arsen.


Arsen hanya menatap punggung Dive, kemudian matanya terarah ke puluhan puntung rokok yang yang berhamburan. Umpatan pun keluar dari mulutnya saat ia merutuki kesalahan yang sangat fatal dilakukannya.


Lelaki itu meraih telepon lalu menelepon sekretasnya.


"Nia bisa kau suruh OB ke ruangan ku."


"...."


Arsen pun meletakkan kembali teleponnya dan menarik napas dengan panjang. "Ku harap aku dapat menyelamatkan mu Nisa."


________


Di dalam ruangan yang ditutupi oleh gelap pun tiba-tiba cahaya masuk menembus ruangan gelap itu, meski tidak terlalu terang tapi itu cukup bagi Nisa yang sedang terisak di tempat  duduk nya dengan keadaan terikat.

__ADS_1


Sarga menyeringai lalu menghampiri Nisa dengan bekal senter di tangannya. Ketika ia telah dekat dengan Nisa, Sarga pun mengarahkan senter tersebut ke wajahnya agar perempuan itu dapat menatap dengan jelas rupanya.


"Apa kau mengingat ku Ica?" Tanya Arsen sembari membongkokan tubuhnya agar sejajar dengan Nisa.


Nisa melihat wajah Sarga yang begitu dekat dengannya pun memberontak. Ingin sekali ia menampar wajah itu, namun keinginannya sepertinya tidak terkabulkan sebab tangannya diikat dengan rantai dan digembok. Sedangkan mulutnya ditutup oleh lem isolasi besar berwarna hitam.


"Hmmm. Emmmm. Hiks hiks hiks," tangis Nisa sembari berusaha melepaskan tangannya yang diikat.


Suara kursi yang bergoyang pun memenuhi ruang hening tersebut. Nisa menangis sembari terisak pilu, ia tidak dapat berteriak, ia tidak dapat bergerak. Keadaan ini membuatnya membenci dirinya.


Sarga yang bosan melihat Nisa tidak dapat berbicara itu pun menarik lem tersebut dari mulut Nisa dengan kuat sehingga membuahkan teriakan wanita itu yang cukup kencang akibat rasa sakit di mulutnya.


"Kau jahat Sarga. Kau telah membunuh keluarga ku. Kamu membunuh kakak ku, dan kau juga membunuh orang tua ku. Hiks- aku akan melaporkan mu mu ke polisi."


Sarga tersenyum miring mendengar ujaran Nisa yang dianggapnya sangat konyol itu. Ia hanya menikmati wajah Nisa dengan penuh kemenangan. Ia akan membunuh wanita ini yang telah menghancurkan kehidupannya.


"Ternyata kau telah mengingatnya." Sarga menarik dagu Nisa untuk mendongak, "aku cukup terkejut melihat penampilan mu yang sok suci seperti ini. Aku tidak pernah membunuh keluarga mu. Yang membunuhnya adalah ayah ku. Cih!! Kau menyebut ku pembunuh lantas diri mu yang membunuh ayah ku apa sebutannya?"


Nisa tidak terima dengan ucapan Sarga. Tidak, bukan dia yang membunuh ayahnya Sarga. Ia dapat mengingatnya saat itu salah satu pengawal Martin melihat tikus dan tidak sengaja menyenggol lengan ayahnya Sarga hingga dia tertembak kepalanya sendiri. Lalu kenapa semua orang menyalahkannya?


"Sudah aku katakan aku tidak membunuhnya."


"Cukup Ica!!! Saat ini aku tidak mau mendengar alasan mu. Kau tau Ica sebentar lagi kau akan menemui ajal mu, lebih baik kamu lebih banyak berdoa agar kau ditempatkan di surga. Tapi aku rasa kau tidak akan pernah masuk surga, mana mungkin orang yang tidak suci dan pembunuh seperti mu itu akan masuk surga."


Nisa tidak menjawab, ia sudah lelah menanggapi omongan Sarga yang tidak berujung itu. Yang bisa dilakukannya saat ini adalah berdoa kepada tuhan semoga mendapatkan keajaiban. Tangisan dan isakan pilu keluar di bibir ranumnya, bahkan bibir itu terlihat bergetar.


"Kau tau di mana tempat ini Ica?"


Nisa mengedarkan matanya ke segala penjuru arah yang dapat dijangkau penglihatannya. Ia baru menyadari jika dirinya berada di tengah-tengah kolam renang yang kering, sama sekali tidak diisi air.


"Mau apa kau meletakkan ku di sini?" Tanya Nisa ketakutan.


Nisa membelalak, tiba-tiba jantungnya berdenyut kuat. Dia bukan takut mati, tapi ia belum siap harus meninggalkan Gabriel untuk selama-lamanya. Di saat seperti ini lah ia memprotes akan takdir tuhan untuknya. Mengapa ia diciptakan hanya untuk merasakan pedihnya dunia? Apa salahnya, ia hanya ingin bahagia seperti orang di luar sana.


"Sarga aku mohon jangan. Aku rela melakukan apa pun yang kau perintahkan. Tapi jangan kau lakukan ini kepada ku. Hiks-hiks-hiks. Gabriel, Arsen tolong aku."


"Berhentilah menangis Ica. Mereka tidak akan menolong mu. Kamu tau Ica? Tidak ada satu orang pun yang mengetahui tempat ini, bahkan diri mu saja tidak mengetahui kau ada di mana."


Nisa terdiam, ucapan Sarga ada betulnya. Bahkan ia saja tidak tau ia ada di mana. Ia merasa ini memang hari akhir hayatnya.


"Sepertinya kau sudah siap untuk dieksikusi."


Sarga berjalan ke tepi kolam renang dan naik ke permukaan. Ia duduk di kursi yang terletak di tepi kolam renang itu. Di tangannya terdapat remote, jika ia menekan tombol on maka otomatis air pun masuk ke dalam kolam renang tersebut.


Ia duduk dengan posisi kaki satu dilipat, wajahnya penuh dengan kegembiraan saat melihat Nisa yang berusaha melepaskan rantai yang mengikat tubuhnya. Sarga pun menekan tombol on di remote nya, dan secara perlahan air pun masuk sedikit demi sedikit ke dalam kolam tersebut.


Nisa yang melihat air kolam yang tingginya selututnya pun menangis histeris. Ia dengan sekuat tenaga melepaskan rantai yang melilit di tubuhnya. Namun usaha perempuan itu sia-sia, dia hanya pasrah saat air sudah sampai di dadanya dan sebentar lagi akan menenggelamkan dirinya. Percuma saja ia berusaha jika usahanya tidak akan pernah berhasil, dan malah yang ia dapatkan adalah rasa sakit.


Air pun masuk ke dalam rongga mulut dan hidungnya saat air tersebut telah mencapai kepalanya dan sebentar lagi ia benar-benar tenggelam dan mati dengan cara yang tragis seperti ini.


Nisa pun merasa jika di dalam tubuhnya sudah dipenuhi air. Air kolam itu telah menenggelamkan dirinya dan membuat kesadarannya menghilang.


Sarga yang melihat itu dari tepi kolam pun tertawa. Tawanya begitu kuat hingga tidak menyadari jika senjata telah terfokus ke tangannya yang memegang remote.


Dorrrr


Satu peluru menghantam kuat ke kulit tangan Sarga hingga remote tersebut terlepas dari tangannya. Ia menoleh ke arah peluru berasal. Sarga dibuat tersenyum atas kedatangan Arsen.


"Ternyata kau cukup berani menyekap seseorang tanpa pengawalan yang ketat."

__ADS_1


"Aku tidak seperti mu Arsen yang datang kemari dengan membawa rombongan. Tapi aku cukup puas hari ini telah membunuh Princess mu. Lihat lah ia telah lemas di dalam air kolam itu." Arsen melirik kolam yang dimaksud Sarga.


Arsen menatap anak buahnya agar menyelamatkan Nisa dari sana. Sarga yang menyadari itu dengan cepat mengambil sanapan untuk menembak orang yang di suruh oleh Arsen. Baru saja ia ingin menekan pelatuknya Arsen dengan cepat mencegah sehingga peluru panas pun menembus perutnya. Ia menerjang Sarga hingga laki-laki itu terjatuh dan sanapan yang ia pegang terlempar sedikit jauh darinya.


Arsen berusaha menahan sakit di perutnya yang telah dilumuri darah. Ia berjalan sembari memegang perut yang ditembak oleh Sarga dan mengambil remote itu dan melemparkannya kepada Dive untuk memberhentikan air itu masuk semakin dalam ke kolam dan meluap ke permukaan.


Namun setelahnya sebuah peluru panas kembali bersarang di punggungnya. Arsen berbalik dan melihat sang pelaku adalah Sarga yang telah berhasil berdiri dengan mengacungkan sanapan.


Arsen tidak tinggal diam, ia juga mengeluarkan pistol dari balik saku celananya lalu mengacungkannya juga ke arah Sarga. Arsen berjalan mendekati Sarga, namun peluru dari sanapan Sarga melesat tepat di bola matanya. Namun dengan kilat Arsen mengelak sehingga peluru tersebut sedikit tergores di pipinya dan mengeluarkan darah yang cukup banyak. Ia merebut sanapn Sarga dengan mengeluarkan karate yang pernah dipelajarinya.


Sanapan tersebut terlempar dan dengan gesit pula Arsen menembak dada Sarga sehingga laki-laki itu mengerang. Sarga tidak menyerah, ia pun mengeluarkan ilmu bela diri yang dimilikinya dan menerjang kaki Arsen dengan cukup keras saat laki-laki itu lengah. Arsen pun terjatuh dan pistolnya terlempar beberapa meter. Ia merasa kakinya seperti patah, namun pada saat Dive menawarkan bantuan kepadanya, Arsen menolaknya.


"Kita buktikan siapa yang lebih kuat di antara kita. Aku memang menyukai mu, tapi aku juga penasaran dengan kekuatan mu, apakah masih sama seperti dahulu."


Arsen berdiri dan meletakkan kedua tangannya yang mengepal di depan dada seolah ia telah siap bertarung. Sarga yang melihat itu tersenyum, ia pun membuka pertarungan itu dengan memukul rahang Arsen, namun dapat dielak oleh laki-laki itu.


Arsen pun menerjang dada Sarga yang tertembak tadi sehingga lelaki tersebut termundur beberapa meter dan mengeluarkan cairan berwarna merah dari mulutnya dan memuntahkannya. Arsen yang merasa itu adalah waktu kelemahan Sarga pun berusaha mengambil sanapn Sarga yang berada di samping kakinya. Ia memfokuskan sanapn tersebut ke kepala Sarga dan menembakkan sehingga warna cairan putih keluar dari kepala itu.


Lagi-lagi Sarga masih merasa kuat, ia mengambil balok di sampingnya dan melemparkan ke kaki Arsen yang tertembak. Arsen yang tidak menyadari jika ada kayu besar yang akan mengahantamnya pun akhirnya terkena dan suara retakan tulang pun menggema. Mereka berdua sama-sama dalam darurat. Arsen berusaha mendekati Sarga yang sedang terbaring di tempatnya dengan dipenuhi darah. Laki-laki itu tidak dapat berdiri hingga ia pun mengesot.


Sarga menatap Arsen yang di sampingnya, ia kesulitan untuk bernapas akibat kehabisan darah dan luka tembak di dadanya yang mengenai paru-parunya. Tangan kanannya tidak berfungsi dengan baik akibat ditembak.


"Meski aku tidak akan bertahan lama lagi, tapi yang penting aku telah membuat Ica mu mu itu mati."


"Maksud mu apa Sarga? Dia bukan Ica tetapi Nisa."


"Nisa adalah Ica. Dan Ica adalah Nisa. Mereka sama, ibuku membuangnya ke Indonesia dan ia diselamatkan oleh pengasuh anak panti. Lalu dia diadopsi oleh keluarga Ahmad yang sok alim itu."


"Hentikan omong kosong mu itu Sarga."


"Aku tidak berbohong Arsen. Coba kau lihat gelang segitiga bekas pecahan koin ini. Ini adalah gelang persahabatan kita bukan, kau dan aku juga memilikinya. Gelang ini aku ambil saat menyekapnya. Jika kau tak percaya bandingkanlah gelang ini dengan punya kita." Sarga membuka gelang yang melingkar di tangannya lalu menyerahkannya kepada Arsen. Arsen pun menyatukan pecahan koin itu dan hasilnya adalah benar.


"Meskipun kau adalah sahabat ku, aku tetap tidak akan mengampuni mu. Begitu banyak penderitaan yang kau berikan kepada Ica." Arsen menatap Dive dan mengangguk. "Bunuh dia."


Sarga yang mendengar instruksi itu pun dengan cepat mengaktifkan bom lalu melemparkannya dan bertepatan dengan tembakan di kepalanya.


"Dorrrr"


Sarga pun telah menemui ajalnya. Dan ia meninggal dalam keadaan mata terbuka.


"Arsen ku rasa kita harus keluar dari gedung ini secepatnya. Sarga telah melemparkan bom di sini."


"Bagaimana dengan Nisa Dive?"


"Ia telah dibawa ke rumah sakit terdekat."


Mereka keluar dari gedung tersebut, sedangkan Arsen dibopong oleh Dive menuju pintu keluar sebelum bom meledak.


Tiga


Dua


Satu


Duarrrrrr


______


TBC

__ADS_1


Like dan komentar teman-teman.


__ADS_2