
Baru saja ujung jari telunjuk Martin yaitu ayahnya Sarga menarik pelatuk tersebut, tiba-tiba salah satu pengawalnya yang melihat tikus merayap di samping kakinya langsung memekik dan tidak sengaja tersenggol lengan Martin yang sebentar lagi akan menembakkan peluru panas ke arah Ica, dan pistol tersebut pun terarah ke dirinya sendiri dan menembak kepalanya.
"Akhhh....."
"Bossss!!!!" Teriak anak buah Martin saat melihat tuan mereka tertembak kepalanya sendiri.
Orang yang mencekal lengan Ica itu pun sontak melepaskan anak tersebut dan menghampiri tuannya yang sudah berhadapan dengan malaikat maut. Ica tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, ia berlari keluar rumah demi mencari pertolongan. Namun baru saja ia ingin menuruni tangga rumahnya, salah satu anak buah Martin melihat aksi Ica. Lantas orang tersebut langsung berlari dan menangkap Ica kembali.
"Hiks-hiks-hiks lepaskan Ica. Tolong!!! Tolong!!!" Ica berteriak sekuat mungkin agar tetangganya mendengar teriakan minta tolongnya. Namun sepertinya percuma, sebab rumah Ica yang letaknya jauh dengan keramaian, dan jaraknya cukup jauh dengan rumah selanjutnya hingga menyebabkan tiada satu orang pun yang mengetahui pembantaian tersebut.
"Diam kamu bocah!!!" Bentaknya yang membuat Ica ketakutan, "kau harus kami bawa menghadap nyonya, karena kau telah berani membunuh tuan besar."
Mendengar imbuhan dari orang itu, perempuan kecil itu langsung menggeleng dan menangis histeris. Dia bukan menangis karena takut mati, tetapi ia menangis karena gara-gara dirinya keluarganya harus terkena imbasnya. Mengapa mereka jahat sekali kepadanya, padahal dia masih kecil dan belum mengerti apa-apa, tapi kenapa mereka bisa percaya ucapan Sarga yang sengaja memfitnah dirinya. Dia tidak tau mengapa Sarga yang dikenalnya sangat baik tega melakukan hal itu kepadanya.
Ica tau apa pun keinginan anak itu pasti orang tuanya menuruti, apalagi soal bunuh membunuh. Itu bahkan telah menjadi hobby mereka, ayah dan ibunya Sarga cukup terkenal di kota ini. Siapa yang tidak tau dengan mereka, mereka adalah orang terkaya nomor 1 di kota California, lalu disusul dengan ayahnya Arsen, Davit. Selain menjadi orang yang terkaya, ayahnya Sarga juga dikenal sebagai Mafia terkejam di kota ini. Sebab itu lah ayahnya selalu melarangnya berteman dengan Sarga, namun ia selalu membantah peringatan ayahnya. Dan kini Ica merasakan sendiri dampak dari berkawan dengan Sarga.
"Papa, bunda kak Vyu. Hiks, Ica takut," lirih Ica sembari terisak, matanya Tak pernah lepas dari kedua jasad orang tuanya. Ingin sekali ia menyentuh wajah kedua orang tuanya untuk terakhir kalinya. Ica ingin keluar untuk melihat kakanya yang telah merenggang nyawa di sana akibat dijatuhkan dari lantai yang cukup tinggi.
"Lepaskan Ica. Kak Arsen tolong Ica!!!!!"
"Percuma kau teriak, bocah itu takkan mendengarnya."
"Kalian semua jahat, kembalikan ibu ku," ucap Ica dengan tangannya yang selalu memukuli dada orang itu yang sedang menggendongnya.
"Malik lebih baik kau bawa anak itu ke mobil, dia sangat berisik sekali. Dan untuk jasad keluarganya kau buang saja mereka ke laut lepas, dan buang di pulau-pulau terpisah," perintah komandan mereka.
"Baik ndan," ucap mereka serentak.
"Pastikan peristiwa ini tidak deiketahui siapa pun apalagi polisi."
"Ndan, lalu bagaimana dengan jasad tuan?"
"Aku bisa mengurusnya."
Setelahnya mereka mengerjakan pekerjaan masing-masing yang sudah dibagi oleh komandan mereka. Malik membawa Nisa ke dalam mobil sesuai dengan perintah atasan mereka.
"Ica tidak mau ikut kalian. Ica mau liat bunda, papa dan kaka. Ica tidak mau. Lepaskan Ica."
"DIAM KAU. Jika kau masih berteriak, maka kau akan selamanya tidak bisa melihat orang tua mu."
Tentu Ica langsung diam, ia ingin melihat orang tuanya. Malik pun mengulum senyum saat melihat ada tatapan takut ketika diancamnya seperti itu. Cih dasar bocah polos, gampang sekali dibohongi. Tentu saja Ica takkan bisa bertemu orang tuanya lagi.
_________
Keadaan hening. Tiara yang melihat jasad suaminya sudah di depan matanya pun menangis, ia terisak pilu melihat tubuh suaminya yang selalu menemani hari-harinya terbujur kaku di atas pembaringan. Tidak, ini bukan suaminya, ini pasti bohong.
Wanita itu tidak bisa mengeluarkan satu kata pun, ia memeluk Sarga anaknya yang juga sedang menangisi ayahnya. Ia tidak tau, jika ayahnya juga ikut meninggal saat membantai keluarga Ica. Sarga menolehkan kepalanya ke arah Ica yang belum berhenti menangis, di samping anak itu dikawal oleh beberapa pengawal pilihan almarhum ayahnya. Tangan Sarga mengepal, napasnya memburu ketika melihat Ica. Lantas anak itu berdiri dan menghampiri Ica.
Plakkkk
Tanpa diduga-duga Sarga langsung menampar wajah Ica dengan sangat keras. Ia menatap Ica penuh kebencian, sampai kapan pun Ica harus menderita, ia tidak akan membiarkan Ica hidup tenang. Sarga akan membuat hidup Ica jauh dari kata bahagia.
"Hiks kak Sarga sakit." Ica menangis pilu saat mendapatkan tamparan yang begitu dahsyat di wajahnya. Anak itu memegang pipinya yang keluar darah akibat tamparan Sarga yang begitu kuat.
"Bagaimana sakit?" Tanya Sarga sembari menunjukkan seringaian devil di wajahnya.
"I-iya ka Sarga."
"Itu adalah imbalan untuk mu karena telah membuat ayah ku meninggal." Sarga mendekatkan wajahnya ke telinga Ica lalu membisikkan sesuatu, "dan kau yang telah berani merebut cinta Arsen dari ku."
Nisa tidak mengerti dengan ucapan Sarga. Ia hanya menatap bingung anak laki-laki yang ada di depannya. Meskipun Sarga telah menggores luka di dadanya, namun tak ayal Ica juga masih menganggap Sarga sebagai teman.
"Tapi ayahnya kak Sarga bunuh bunda, papa, dan kaka."
"Untuk itu keluarga mu memang pantas mendapatkannya. Sudahlah, kau sebentar lagi juga akan menemui ajal mu." Sarga pergi meninggalkan Ica yang sedang larut dalam pikirannya.
__ADS_1
Anak itu selalu dibayang-bayangi dengan wajah keluarganya. Keinginan Ica saat ini hanyalah satu yaitu ingin bertemu dengan orang tuanya dan kumpul bersama seperti dahulu. Tidak pernah sama sekali terbesit di pikirannya jika moment ia berebut boneka bersama Vyu menjadi momen terakhirnya bersama keluarganya.
"Ica ingin pulang," isak Ica sembari mencengkram rok nya.
Rambutnya yang panjang terlihat tidak tertata dengan baik, bajunya yang berwarna putih sudah penuh dengan lumrah darah, wajahnya juga sangat menggenaskan, siapa pun yang melihatnya akan menatap jijik.
"Kak Arsen kenapa tidak tolongin Ica," gumam anak tersebut yang terlihat sangat menyedihkan. Hanya tinggal dirinya yang tersisa di keluarganya, ia tidak tau nasibnya bagaimana kedepannya.
Tiara yang sudah puas menangisi suaminya pun menatap Ica yang duduk di sudut ruangan. Hatinya memanas kala melihat anak itu, ini semua disebabkan oleh anak tersebut. Wanita paru baya itu berdiri dan menghampiri Ica lalu ia duduk di kursi yang berhadpan dengan Ica.
Ia menatap sengit anak perempuan tersebut dan menelitinya dari atas sampai hawah. Emosi yang sudah mendidih di dalam jiwanya pun semakin berkobar saat Ica tanpa rasa takut menatap matanya.
"Siapa nama mu?" Tanya Tiara dingin, wajahnya datar bagaikan tembok.
"Ica."
Ica ketakutan saat melihat mata Tiara seperti mata elang. Air matanya kembali menetes jika harus mengingat kembali bagaimana keluarganya dibunuh dengan cara yang sangat sadis.
"Berani sekali kamu membunuh suami ku anak kecil," ujar Tiara dipenuhi dengan emosi di setiap katanya.
"Tidak. Bukan Ica yang membunuhnya."
"Bohong," ujar Malik sang pengawal dengan cepat menimpali ucapan Ica.
"Kamu dengar sendirikan jika kau berbohong. Ternyata anak kecil seperti mu sudah mau menjadi jagoan."
"Tidak tante, Ica tidak membunuhnya." Ica menangis, bukan Ica yang membunuh ayahnya Sarga.
"Jangan sebut aku tante, aku bukan tante mu. Aku tidak sudi disebut tente oleh pembunuh."
"Ica bukan pembunuh," anak itu berteriak sekencang mungkin, ia menyatakan dia bukan pembunuh. Jelas ayahnya Sarga sendiri yang menembak kepalanya, lalu kenapa mereka tega menfitnahnya.
"Kamu telah membunuh suami ku anak sialan."
"Bukan, bu-kan aku yang membunuhnya, tetapi dia tadi yang menembak kepalanya sendiri," lirih seorang bocah itu sambil mendekap tubuhnya.
Satu tamparan mendarat mulus di pipi anak perempuan tersebut hingga anak itu tersungkur di lantai sambil menahan isakkannya.
"Bu-kan Ica yang membunuhnya," kata anak itu dan terus mengulang-ulang kalimat tersebut.
"Tembak anak itu," perintah sang wanita kepada anak buahnya.
Dorrr
Seketika Ica pun langsung terjatuh ke lantai dan menutup matanya. Sarga yang melihat itu, terlihat sangat puas, ia tersenyum miring. Sesungguhnya sama sekali di dalam diri Sarga tidak merasa sedih saat ditinggal pergi oleh sang ayah, ia malah merasa bangga ayahnya sudah tiada. Sudah lama Sarga ingin melenyapkan sang ayah, ia tidak pernah senang dimanjakan ayahnya. Ia tau Martin bukanlah ayah kandungnya, Martin yang telah membunuh ayahnya demi mendapatkan cinta sang ibu. Dan hal itu pula lah yang memicu Sarga mencintai sesama jenis, ia merasa jika semua perempuan itu tidak bisa setia sama seperti ibunya. Yang menyebabkan Sarga menyimpang adalah karena ibunya yang telah tega ikut bersama dengan Martin membunuh ayahnya. Dari situlah Arsen mulai tidak menyukai perempuan.
"Malik tolong kau buang jasad Ica ke Indonesia agar tidak dapat tercium oleh polisi."
"Baik nyonya."
_________
Panti asuhan yang terletak di Jawa Barat di kota Bandung itu selalu ramai dikunjungi oleh donatur yang ingin menyumbangkan sedikit rezeki mereka ke panti asuhan tersebut. Namun tidak pula mengurangi para orang tau yang ingin mengadopsi anak di panti asuhan tersebut.
Sebuah mobil sederhana yang berwarna hitam masuk ke dalam parkiran di panti asuhan itu. Tidak lama setelahnya keluar satu keluarga yang terlihat sangat bahagia. Mereka membawa anak laki-laki yaitu adalah anak mereka. Kemudian keluarga tersebut berjalan ke ruangan pengasuh anak-anak panti itu.
"Ma! Habib pengen adik perempuan yang cantik ya."
Mendengar celotehan Habib yang baru berumur 10 tahun membuat senyum Aisyah mengembang. Ia mengusap kepala anaknya sembari mengangguk.
"Nanti Habib pilih sendiri saja, mau adik perempuan yang seperti apa," tutur Aisyah membuat Habib yang mendengarnya sangat kegirangan.
"Boleh pa? Boleh ma?" Tanya Habib begitu antusias.
"Tentu saja boleh sayang," ujar Ahmad sembari mengusap kepala anaknya.
__ADS_1
Yah kedatangan mereka ke panti asuhan ini adalah bertujuan untuk mengadopsi anak perempuan. Mereka terpaksa mengadopsi anak disebabkan Aisyah yang diponis oleh dokter tidak bisa hamil lagi. Sedangkan Habib terus meminta kepada mereka adik perempuan, Ahmad yang tidak tega dengan Habib pun terpaksa mereka harus mengadopsi anak.
Tak berselang lama sampailah mereka di ruangan pengasuh panti tersebut. Keluarga Ahmad itu pun disambut hangat oleh sang pengasuh panti itu.
"Persilakan duduk pak, buk. Saya ke belakang dulu sebentar," ucap pengasuh panti itu.
"Baik," balas Aisyah sembari tersenyum.
Mereka duduk di sofa tersebut sembari menunggu kedatangan sang pengasuh panti itu. Keluarga itu saling melemparkan senyuman bahagia mereka.
"Ma, Habib tidak sabar ingin melihat adik perempuan Habib nanti."
Tidak lama setelah Habib berbicara, sang pengasuh panti pun datang sambil membawa nampan yang berisi air teh. Senyumnya merekah dan meletakkan gelas yang berisi air tersebut ke atas meja.
"Silakan di minum pak, buk."
Mereka pun meminum air yang diberikan oleh pengasuh panti itu. Lalu setelahnya Ahmad menatap sang pengasuh panti dengan serius.
"Perkenalkan nama saya Ahmad, dan ini istri saya Aisyah, dan ini anak saya Habib," cetus Ahmad memperkenalkan keluarganya.
"Oh. Perkenalkan nama saya Aminah. Ada apa dengan kedatangan kalian kemari?"
"Kami ingin mengadopsi anak perempuan buk."
Aminah menatap keluarga tersebut satu-satu. Hatinya lega saat melihat keluarga itu terlihat adalah orang baik-baik. Aminah tidak akan menyerahkan anak-anak kepada orang yang salah.
"Kalau begitu bapak dan ibu bisa melihat-lihat anak perempuan yang ingin diadopsi. Mari ikut saya ke ruangan sebelah."
"Ah. Iya," ujar Aisyah sembari menggandeng tangan Habib.
Mereka mengikuti Aminah dari belakang. Sesampainya di ruangan yang dimaksud Aminah, Aisyah berdecak kagum saat melihat anak-anak panti di sana yang sedang belajar. Hatinya teranyuh melihat pemandangan tersebut.
"Ibu bisa memilih satu di antara mereka."
Keluarga Ahmad memperhatikan betul satu-satu anak panti yang sudah berbaris untuk dipilih. Sedangkan Habib tidak terlalu fokus memperhatikan, matanya tidak sengaja menatap kamar yang pintunya terbuka. Di sana ia melihat ada anak perempuan yang terlihat sangat cantik, rambutnya berwarna coklat madu, kulitnya seputih salju, bibirnya berwarna cherry buah favoritnya. Habib tidak pernah melihat mahluk yang mengemaskan seperti itu.
"Habib ingin adik perempuan yang seperti apa?" Tanya Ahmad kepada Habib untuk memilih satu di antara mereka.
"Habib ingin adik perempuan yang seperti dia," tunjuk Habib ke arah kamar tersebut.
Mereka mengernyit atas pilihan Habib, Aisyah yang penasaran lantas menoleh kepada anak perempuan yang dimaksud Habib. Ia tidak percaya Habib memilih anak perempuan yang sedang terbaring di atas ranjang dengan lemah, matanya tertutup, selang dan infus melekat di tubuhnya.
"Tidak bisa Habib. Dia kan masih sakit," bujuk Ahmad agar tidak memilih anak tersebut.
"Tidak mau. Habib mau dia papa," rengek Habib. Matanya berkaca-kaca. Ia ingin adik yang seperti itu.
Aisyah pun melirik ibu panti itu dengan penuh arti, "bagaimana bu, apakah kami bisa memilihnya?"
"Bisa saja, jika ibu sanggup membayar pengobatannya."
"Memang dia sakit apa buk?" Tanya Ahmad serius, matanya tak lepas dari anak perempuan tersebut, anak perempuan itulah yang paling cantik diantara anak yang lainnya.
"Sebulan yang lalu kami menemukan anak tersebut di bawah jembatan. Kami telah melaporkannya ke polisi, namun polisi tidak dapat menyelidiki kasus ini. Dia rasa anak perempuan itu bukan lah berasal dari Indonesia. Karena tidak menemukan titik terang polisi pun mengakhiri kasus ini, dan kami diminta merawatnya. Saat kami menemukan dia, ada peluru yang bersarang di perutnya. Dan sudah sebulan ini dia belum bangun, dulu kami hampir mengira jika dia telah meninggal. Karena kami yang tidak memiliki biaya terpaksa harus merawatnya di sini."
"Jika begitu kami memilih dia buk. Untuk surat-surat adopsi nanti kami akan mengurusnya."
Flashback of
______
TBC
Banyak yang tanya: Kok kecil-kecil sudah gay Thor? Pikiran Dewasa? Psikopat?
\=> Bagi kalian yang Hobby baca cerita pisikopat hal ini nggak asing lagi dan sudah biasa. Kebetulan aku suka baca yang begitu dan kemarin beli novelnya yang jadi pisikopat umurnya masih 5 tahun. Saya maklum sih di sini cerita begitu memang nggak banyak. Ada-ada tapi nggak semendetail kayak di lapak sebelah yang diceritakan secara rinci. Aku pengin rinci di sini tapi nggak boleh.
__ADS_1
Like dan comen.