
Ketika mobil telah berhenti di depan rumah keluarga angkatnya dulu, Nisa pun menarik napasnya sedalam mungkin. Kepala kecilnya saat ini sedang diisi dengan berbagai macam pemikiran yang tidak-tidak. Apakah ia masih diterima di rumah itu? Apakah keluarganya masih kenal dengannya? Entahlah mungkin jawabannya akan ia dapatkan setelah ia masuk dan menemui mereka.
Arsen keluar dari dalam mobilnya lalu mengitari mobil tersebut dan berdiri di sebelah pintu mobil seraya membukakan pintu untuk Nisa. Wanita itu keluar dari dalam mobil dengan perasaan cemas. Dadanya tidak berhenti berdetak kala melihat rumah yang dulu menjadi tempat tinggalnya. Rumah itu banyak mengalami perubahan dan sangat berbeda dengan dulu. Cat rumahnya juga mengalami perubahan yang mana dulunya berwarna Hijau sekarang berwarna Putih dan Biru, rumah tersebut berubah lebih sedikit mewah dan besar, hampir-hampir ia saja tak lagi mengenalnya.
Ia berdiri di depan bangunan rumahnya, rasa gugup tak pernah berhenti di dadanya. Tangannya saling menggenggam untuk lebih menenangkan dirinya. Ia menebak di dalam hati, pasti keluarganya lebih bahagia saat dirinya keluar dari rumah itu. Memang dia tidak cocok berdiri di tengah keluarga itu, dirinya hanyalah seonggok kotoran yang tak berharga, berbeda dengan mereka yang merupakan sebutir mutiara suci.
"Kamu yakin ingin masuk ke dalam?" Tanya Arsen memastikan sebab ia dapat melihat raut wajah Nisa yang terlihat ragu-ragu.
Nisa menoleh ke arah Arsen lalu ia pun kembali menatap rumah tersebut dari luar pagar. Ia menelan slivanya lantas mengangguk untuk menjawab pertanyaan Arsen tersebut. Ia sangat yakin, hatinya sudah sangat rindu ingin bertemu dengan mereka apalagi dengan Alsya adik jahilnya. Sebuah pemikiran aneh menghantam Nisa, jika ibunya tidak bisa hamil lagi, lantas Alsya mereka dapatkan dari mana? Apakah anak adopsi sama sepertinya atau Alsya anak kandung mereka?
Sedangkan di samping, Arsen memperhatikan Nisa yang sedang melamun sambil memegang pagar dan mata yang tak lepas dari rumah orang tuanya. Ia menunggu reaksi Nisa apakah ia akan jadi bertemu dengan orang tuanya atau tidak. Tak berapa lama seorang satpam yang berseragam putih dan kebetulan sangat dikenali oleh Arsen pun menghampiri mereka. Satpam tersebut merupakan satpam baru di rumah ini, ya kebetulan Arsen sangat mengenalinya.
Nisa mengernyit melihat kehadiran satpam tersebut. Sebelumnya ia tidak pernah melihat satpam itu, apakah mungkin satpam yang dulu tidak bekerja lagi di sini. Ia dapat melihat satpam itu kebingungan saat melihat ke arahnya dan sedangkan saat menatap Arsen satpam itu malah tersenyum. Ia yang tidak mengerti pun melirik Arsen yang tengah membalas senyuman satpam itu.
"Bapak baru bekerja di rumah ini ya?" Kontan satpam itu memandang ke arah Nisa seraya mengangguk.
Mendapatkan jawaban dari satpam itu tidak membuat seorang Anisa puas, masih ada yang dirasanya masih ganjal yaitu tatapan Arsen kepada satpam tersebut yang mana tatapan itu seolah menggambarkan mereka sudah saling kenal. Nisa pun menatap Arsen meminta pengertian dari laki-laki itu.
Meski mengerti dengan tatapan dari Nisa, Arsen tetap tidak menjelaskan. Ia hanya menatap Nisa santai lalu memandang ke arah satpam itu kembali. Senyuman turut mengembang di wajahnya untuk menghormati satpam tersebut.
"Apa ada orang nya di dalam?" Tanya Arsen sambil menatap ke arah rumah keluarga Ahmad.
"Ada Mas Arsen. Nyonya dan Bapak ada di dalam." Arsen tersenyum memdengarnya, ia menoleh kepada wanita yang sedang berdiri di sampingnya. "Jadi bagaimana? Apakah kamu masih mau menemui mereka?"
Tentu saja mendengar pertanyaan seperti itu Nisa langsung mengangguk. Sudah ia jelaskan dari mobil tadi jika ia sangat merindukan mereka. Mana mungkin kini dia yang sudah berada di depan gerbang ingin pulang kembali.
"Aku rindu Mama," lirih Nisa yang penuh kerinduan.
Satpam itu pun menatap Nisa, ia meneliti perempuan itu dari atas sampai bawah. Di dalam pikirannya sedang mencerna, apa mungkin dia pacarnya mas Arsen? Terus mengapa wanita itu menyebut kata mama, yang mana ia sangat mengerti jika kata tersebut tertuju kepada Aisyah, atau apa mungkin wanita ini pacarnya mas Habib?
"Pengen ketemu siapa Mas? Mau ketemu tuan ya?"
"Iya."
"Kalau begitu mari saya antar." Satpam tersebut pun membukakan pagar dan membimbing kedua orang itu menuju rumah yang berdiri cukup megah di depan mereka.
Nisa dan Arsen pun berjalan beriringan. Sesekali ia melirik ke arah Arsen, ada yang aneh mengapa Arsen terlihat seperti sudah pernah ke sini. Apa mungkin Arsen mengenalnya? Tak lama ia pun ingat seauatu, kenapa ia melupakan jika Arsen pernah menceritakan kalau ayahnya pernah meminjam uang yang cukup besar kepada Arsen.
"Jadi kamu tau dengan Papa ku?"
__ADS_1
"Hm...." ucap Arsen santai sambil berjalan, dan menggandeng tangan Nisa yang terasa dingin dan bergetar. "Jangan takut, aku selalu ada untuk mu. Jika ayah mu akan menyakiti mu tenang saja, aku akan pasang badan untuk kqmu." Tak tanggung-tanggung setelah mengatakan itu Arsen langsung mencubit hidung perempuan tersebut untuk mengembalikan keceriaan wanita itu kembali.
Dan benar saja Nisa pun langsung tertawa mendengar kata Arsen yang sangat menggelikan, dan ditambah cubitan di hidungnya membuatnya terkekeh dan mencubit lengan Arsen.
"Jangan banyak bicara. Aku sangat membencimu berkata seperti itu, ini bukan di tahun sembilan puluhan." Sejenak ia bisa melupakan rasa gugup di hatinya dan tergantikan dengan tawa renyah milik perempuan tersebut hingga tanpa disadari mereka bahwa kini mereka telah sampai di depan pintu rumah ayahnya.
"Memang kata-kata seperti itu ada di tahun sembilan puluhan?"
"Jangan tanya aku, aku juga tidak tau. Mungkin ada." Arsen menggeleng kepala mendengarnya.
Pintu diketuk oleh sang satpam tersebut, dan tidak lama terdengar jawaban halus, lembut dan sangat dirindukan Nisa dari dalam rumah itu.
"Wallaikumsallam! Bentar ya pak Satpam, Alsya bukain pintunya!"
Nisa menegang mendengar suara tersebut. Air matanya ingin sekali meleleh mendengar nada suara itu, nada suara yang selalu membuatnya kesal di waktu dulu. Akankah adiknya itu masih mengenalinya?
Ceklekk
Dan keluarlah seorang anak yang sekiranya sudah duduk di bangku kuliah. Anak itu terlihat sangat menawan dan cantik, bahkan dirinya saja hampir tidak mengenali jika itu adalah Alsya, adik kecilnya. Wajahnya sangat sempurna dengan hidung yang kecil namun sedikit mancung, bibir yang kecil dan berwarna merah muda alami, bulu matanya yang lentik dan apalagi warna merah alami di pipi perempuan tersebut menambah deskripsi betapa cantiknya adiknya ini.
Alsya tersenyum melihat Arsen lah yang datang, dirinya memang sudah mengenal Arsen sejak ia duduk di bangku SMA, yang mana saat itu Arsen sering datang ke rumah nya untuk bertemu sang ayah membicarakan tentang bisnis, dan Alsya juga tau ayahnya pernah berutang dengan Arsen, namun ia tidak mengetahui mengapa Arsen tiba-tiba menganggap lunas hutang tersebut beberapa bulan yang lalu.
Arsen mengangguk lalu menoleh ke belakang memandang Nisa yang sedang ketakutan. Menyadari jika ada orang lain di belakang Arsen, Alsya pun menatap orang tersebut. Seketika wajahnya sedikit cemberut saat mengetahui jika orang itu adalah seorang wanita dan apalagi wanita itu terlihat lebih cantik darinya dan sama mengenakan hijab seperti dirinya.
"Ka Arsen, dia siapa? Pacarnya Kak Arsen ya?"
"Bukan." Mendengar pengakuan Arsen membuat hati Alsya sedikit lega. "Tapi dia calon istrinya Kak Arsen, dan karena dia pula Kaka menganggap lunas hutang keluarga mu."
"Maksudnya Kak?" Tanya Alsya tak mengerti seraya melirik Nisa yang tersenyum ke arahnya.
"Hay Dek? Kamu ingat Kaka nggak?"
Rasanya ingin sekali Nisa memeluk adiknya tersebut, namun niatnya itu ia urungkan ketika ia menyadari jika Alsya sepertinya tidak mengenali siapa dirinya.
"Kaka siapa?"
"Kaka adalah Kak Ni____." Ucapan Nisa terhenti saat sebuah suara bass yang saling beriringan memanggil Alsya dari dalam rumah.
"Alsya!!! Siapa yang datang?! Jagain Mama di dalam, jangan sampai demam Mama tambah tinggi!" Nisa terperanjat jika mengetahui bahwa Aisyah mengalami sakit.
__ADS_1
"Baik Pa, Kak Habib."
Habib dan Ahmad mendekat kepada Arsen, seraya tersenyum kepada kerabat kerjanya dulu.
"Arsen ada apa kau datang ke rumah ku, tidak biasanya kau datang jika tidak ada urusan."
"Tumben sekali kau datang kemari?" Tanya Habib sedikit sinis dengan Arsen. Bagaimana ia tidak kesal kepada lelaki itu, ayahnya sering membandingkan dirinya dengan laki-laki itu, seolah hanya Arsen lah yang hebat. "Dia siapa? Pacar mu?" Tanya Habib sambil melirik Nisa.
Nisa tidak tahan mendengar berita bahwa ibu nya sakit, bagaimana pun juga ibunya lah yang pengertian kepada dirinya dan selalu menuruti kemauannya ketika ia menyatakan jika dirinya tidak suci lagi dan sedang mengandung. Ibunya tidak pernah membentaknya dan memarahinya, karena Aisyah tau jika dia melakukan itu tetap saja tidak bisa mengembalikan semuanya.
Dan Nisa pula lah yang melarang Aisyah untuk melaporkan Arsen ke polisi, karena Nisa tau siapa Arsen dan anak keluarga dari mana, mereka tidak akan pernah menang melawan pria itu dan ia juga sangat mengetahuinya jika di akhir pasti merekalah yang akan tersiksa kembali. Orang terpandang tidak akan membuat nama mereka buruk, mereka akan berusaha untuk menutupi keburukan mereka dengan cara uang.
Ia berjalan menorobos pintu untuk menjenguk mamaya. Ia tidak mau Aisyah kenapa-napa ia ingin ada di samping wanita itu sama seperti dahulu.
Jelas kelakuan Nisa yang main seenaknya masuk ke rumah orang membuat Habib serta Ahmad kebingungan. Tatapan mereka teralihkan kepada Arsen yang terlihat membiarkan perempuan itu.
"Siapa dia?" Tanya Ahmad sedikit marah atas perilaku tidak sopan wanita tadi.
"Lihat saja nanti siapa dia." Jawab Arsen seraya melangkah masuk.
Di tempat lain, Nisa langsung membuka kamar Aisyah dan air matanya langsung tumpah saat melihat sang ibu yang telah terbaring tak berdaya di tempat tidur. Ia langsung berlari dan memeluk ibu nya dengan penuh isak tangis.
Alsya yang melihat itu langsung mengernyit heran.
"Ka-ka-mu si-siapa?" Tanya Aisyah terbata-bata.
"Hiks- Ma. Ini Nisa Ma! Hiks, hiks."
"Nis-Nisa anak Mama?" Nisa mengangguk lalu semakin menangis. Aisyah pun menangis dan memeluk Nisa erat. Matanya diponis tidak bisa lagi melihat akibat keseringan menangis hingga matanya menjadi putih. Memang Aisyah bebrapa tahun ini ia sering menangis akibat kepergian Nisa.
Mendengar pengakuan Nisa membuat seluruh orang di sana kecuali Arsen menegang. Lain hal dengan Ahmad, laki-laki itu langsung memerah mendengar jika wanita tersebut adalah Nisa.
"JADI KAMU NISA? DASAR ANAK DURHAKA KAMU!!!" Bentak Ahmad sehingga benda-benda berada di ruangan tersebut ikut bergetar.
_____
Tbc
Jadi umur Nisa dengan Alsya itu terpaut cuman 4 tahun. Nisa umurnya 24 tahun dan Alsya umurnya 20 tahun. Untuk bagian Ahmad pernah berutang dengan Arsen itu ada di bab sebelumnya.
__ADS_1