Tragedi Malam Itu

Tragedi Malam Itu
Part 57


__ADS_3

2619 kata dan kalian nggak Like dan komen?


Terdengar sebuah ketukan pintu dari apartemen tempat tinggal Nisa. Tidak berapa lama setelahnya keluar seorang wanita dari dalam apartemen tersebut dengan balutan casual yang senada dengan pakaian lelaki sang pengetuk pintu. Wanita yang baru saja keluar itu berdiri di depan pintu apartemen sembari tersenyum kepada laki-laki yang ada di depannya.


Melihat senyuman serta penampilan Nisa yang sangat memukau membuat  Arsen terdiam, matanya menatap penuh kagum wanita itu. Mereka hari ini memang sengaja mengenakan tema casual, yaitu temanya anak remaja zaman sekarang, dengan tujuan mengenang masa remaja mereka yang penuh dengan drama.


Hari ini mereka mengenakan pakaian couple yang mana hanya berbeda warna saja. Arsen mengenakan hoodie berwarna merah sedangkan Nisa mengenakan hoodie berwarna putih. Arsen sengaja memesan warna tersebut karena ia ingin menunjukkan kecintannya terhadap Indonesia. Sedangkan di hoodie mereka tertulis berupa kata papa dan mama.


Nisa sempat menolak dengan sablon hoodie mereka, namun ia akhirnya luluh dengan segala bujuk rayu lelaki itu. Kini hari ini mereka akan melakukan kencan untuk yang pertama kalinya.


Nisa mengenakan celana jins hitam, kacamata bulat berwarna putih, hijab pasmina berwarna hitam, dan topi bewarna putih yang dikombinasikan dengan warna hitam, lalu ia juga mengenakan sepatu sport berwarna putih. Dirinya terlihat bagaikan anak yang berumur 17 tahunan, wajahnya terlihat sangat imut dan lebih mengarah ke wajah wanita Korea.


Kekaguman terpancarkan dari mata Arsen. Ia menatap Nisa tanpa berkedip. Benarkah ini Nisa? Ia tidak pernah melihat wanita itu secantik ini, wajahnya juga terlihat jauh dari umurnya. Tanpa sadar ia tersenyum melihat penampilan Nisa.


Penampilan Arsen juga tidak jauh berbeda dengan wanita itu. Mengenakan fashion casual membuatnya bagaikan hidup di masa remaja nya dahulu. Betapa bringas dan mengerikannya waktu itu, ia bagikan tidak seperti anak remaja pada umumnya. Hari-harinya ia lalui dengan kesendirian dan penuh kegelapan. Tidak ada orang yang mau berteman dengannya, memang dia sendiri yang tidak mau memiliki teman.


Waktunya dahulu ia habiskan dengan mengikuti pertandingan tinju yang ilegal dan menggambar di atas canvas secara diam-diam. Kini dirinya telah meninggalkan segala macam kehidupan gelap tersebut, dan ia juga dengan terpaksa meninggalkan hobi menggambar nya demi masuk ke dalam dunia bisnis, yang sama sekali tak diinginkannya.


"Arsen kita mau ke mana sih? Emang harus kah kita pakai baju beginian. Kamu ini tidak mau ketinggalan saja dengan anak muda," gerutu Nisa yang merasa risih dengan pakaiannya sekarang. Jujur seumur-umur ia tidak pernah memakai pakaian beginian. Dirinya selalu dituntut oleh keluarganya agar mengenakan baju gamis.


"Kamu pikir kita ini tua? Umur mu saja masih dua puluh empat, aku bertanya apakah umur segitu tidak bisa dikatakan muda?"


"Iya aku mengalah. Dari dulu aku selalu saja kalah."


"Bagus jika kamu mengakuinya."


Nisa mengercutkan bibirnya, ia memandang Ibel yang baru saja datang bersama Gabriel anaknya. Terlihat sekali wanita itu memandang Nisa dengan menahan tawanannya. Hal tersebut menambah kecemberutan Nisa.


"Akhirnya gue lagi yang jadi baby siter. Et dah gini banget nasib gue, pacar nggak ada, yang bisa cuman liatin orang pacaran," sindir Ibel sambil melirikan matanya pada Nisa dan Arsen.


Mendengar gerutuan dari Ibel membuat Nisa berusaha mencubit sedikit lengan Ibel untuk memperingati wanita itu agar tidak berbicara yang macam-macam di depan Arsen. Ia tau laki-laki itu akan melampiaskan kekesalannya terhadap Ibel kepada dirinya.


"Lebih baik sekarang kita langsung pergi," ujar Arsen sembari menatap nyalang Ibel, setelahnya ia pergi lebih dulu menuju lift.


Ibel memutar bola matanya dengan malas kala mendapatkan tatapan peringatan dari Arsen. Ia tidak takut dengan pria itu karena dia tau jika Arsen tidak akan pernah bisa memcatnya, dan jika laki-laki itu masih berani memecatnya maka ia akan meminta perlindungan dari Nisa. Karena hanya dengan Nisa lah Arsen akan luluh.


Ia melirik kepada Nisa yang sedang menatap matanya dengan serius. "Ada apa?"


"Nisa pergi dulu ya! Jaga Gabriel ya Kak Ibel."


"Hmm. Awas ya lo pulang nangis." Nisa mengangguk, ia mendekati Gabriel yang berada di sampingnya. Wanita itu merunduk lalu setelahnya ia mencium kepala anak laki-lakinya itu.


"Bunda pergi dulu ya Iel. Iel baik-baik ya sama Aunty Ibel!" Nisa mengusap kepala anaknya dengan penuh kasih sayang, menenangkan anaknya itu agar anaknya tersebut tidak mengkhawatirkan dirinya yang nantinya pulang akan terlambat.


"Iya Bunda." Iel mengangguk patuh, lalu setelahnya ia mengecup pipi bundanya.


Hati Ibel menghangat melihat perlakuan Nisa yang sangat lembut kepada Gabriel. Ada kecemburuan yang terdapat saat melihat hal tersebut, dia sama sekali tidak pernah merasakan kasih sayang orang tua, dirinya dilahirkan dalam keadaan yatim piatu sehingga membuatnya kehilangan kasih sayang yang begitu banyak yang mana seharusnya di usianya yang seperti itu mendapatkan kasih sayang yang berlimpah dari orang tua. Ibunya meninggal ketika sedang melahirkan dirinya, sedangkan ayahnya meninggal saat ia masih dalam kandungan akibat kecelakaan lalu lintas.


"Sa! Noh si Arsen nggak cocok jadi ayahnya Gabriel, masa iya anak sendiri mau pamit nggak pamitan dulu. Lo mau aja sama dia, gue mah ogah." Ibel secara gamblang menyebutnya tanpa memperhatikan sekitar.


"Kamu pikir saya tidak akan berpamitan dengan anak saya?"


Betapa terkejutnya Ibel saat melihat Arsen yang berada di dekatnya. Dirinya kehabisan kata-kata ketika menyadari bahwa orang yang menjadi bahan pembeciraanya ternyata mendengarnya. Wanita itu tergagap, dan berusaha menyembunyikan kegugupannya, meski ia tidak takut dengan pria itu, tapi tatapan tajam milik lelaki itu membuatnya bungkam.


Tidak peduli dengan ucapan Ibel itulah yang cocok dilakukan Arsen. Menanggapi ucapan perempuan tersebut sama saja dengan menanggapi batu, dan tidak ada berujung. Ia menolehkan wajahnya kepada anaknya, lelaki itu tersenyum seraya melakukan apa yang dilakukan Nisa tadi.


Kemudian keduanya berpamitan  untuk melakukan kencan pertamanya. Ibel yang melihat kedua orang itu hanya menatap dengan gelengan kepala. Entahlah kedua mahluk tuhan tersebut seperti baru saja jatuh cinta padahal mereka telah memiliki anak.


Ibel memandang Gabriel yang tersenyum sendiri dengan sorot mata tidak lepas dengan punggung kedua orang tuanya. Anak itu terlihat sangat bahagia saat melihat pemandangan tersebut. Ibel tau jika anak itu sangat senang melihat kedua orang tuanya bersama.


"Aunty, Bunda sama Papa mau ke mana?"


"Bunda sama Papa mu mau pacaran," kata Ibel seraya melangkah masuk bersama Iel, lalu ia pun menutup pintu apartemen tersebut.


"Pacaran itu apa Aunty?"


"Tanyakan aja sendiri sama Bunda mu nanti."


_______


Sebuah mobil BMW berwarna hitam memasuki pekarangan sekolah SMAN 1 Jakarta. Kemudian mobil itu terparkir di tempat yang tidak jauh dengan teras sekolah. Di parkiran tersebut juga ada terdapat beberapa mobil, motor, dan sepeda. Memang tidak terlalu banyak, sebab hari semakin sore membuat sekolah itu semakin sepi. Yang ada hanya tinggal lah beberapa siswa yang melaksanakan ekskul.


Arsen keluar dari mobil tersebut lalu mengitari mobil itu dan membuka pintu mobil sebelahnya. Lalu keluarlah seorang wanita yang sangat cantik dan semakin cantik saat cahaya matahari sore memantul di tubuhnya. Kecantikannya tersebut mampu membuat mata Arsen terhipnotis.

__ADS_1


"Arsen kita kenapa ke sekolah kita yang dulu?"


Arsen tersenyum mendengar pertanyaan itu. Laki-laki itu mengalihkan pandangannya kepada bangunan sekolah tersebut yang sudah banyak mengalami perubahan. Dulu sekolah itu terlihat lebih tradisional dan sekarang sekolah ini terlihat lebih moderen dan canggih. Ia menatap kesekeliling, dan tidak sengaja ia melihat belakang sekolah yang terdapat ada pohon besar yang mana pohon tersebut menjadi tempatnya dulu menyendiri sambil menikmati rokok. Dan saat ini tempat itu telah menjadi taman yang begitu banyak ditanami bunga-bunga.


Nuansa sekolahnya masih sama seperti dahulu yang lebih mementingkan lingkungan dari pada bangunan-bangunan canggih. Rasanya asri sekali hingga ia memejamkan mata untuk menikmati setiap hembusan angin yang meniup tubuhnya.


"Kau tau, tempat ini banyak sekali menyimpan kenangan kita berdua. Apakah kamu tidak merindukan suasana sekolah kita dahulu."


Nisa melamun ia menatap setiap jengkal perubahan dari sekolahnya, bahkan parkiran tempatnya berdiri sekarang yang dulu nya pakai atap kini tidak lagi. Namun di sisi parkiran ini banyak sekali ditumbuhi pohon-pohon rindang sehingga dapat menaungi setiap kendaraan.


Rasa rindu di hati Nisa sangat menggebu saat menatap sekolahnya. Ia mengulang ingatan masa lalunya yang penuh dengan keceriaan, namun sayang ia tidak dapat menikmati kelulusannya. Padahal sedikit lagi, yah sedikit lagi ia akan lulus dari SMA dan mendapatkan Ijazah dan kemungkinan besar ia dapat mewujudkan cita-citanya yaitu kuliah di Universitas ternama di Korea.


Namun semua itu hanyalah angan. Semuanya lebur saat ia menerima kenyataan bahwa itu tidak akan mungkin terjadi. Ia memejamkan matanya berusaha menahan air mata yang sebentar lagi akan meluncur dari kedua bola matanya. Ia tidak akan pernah bisa mengingat masa itu, baginya itu adalah masa tersulit dan tidak mau ia ingat.


Arsen mengalihkan tatapannya kepada Nisa, ia terkesiap saat melihat mata perempuan itu memerah berusaha menahan tangisnya. Ia tau apa yang sedang wanita itu rasakan, dengan cepat Arsen membawa wanita tersebut ke dalam pelukannya. Di peluknya perempuan itu erat. Arsen tertawa miris, ini semua salahnya, ia yang telah menghancurkan masa depan perempuan itu.


Nisa menangis sejadi-jadinya di dalam pelukan Arsen. Hatinya nyeri kala mengingat ia yang hampir saja lulus sekolah dan sebentar lagi impiannya tercapai. Ia semakin mengetatkan pelukannya di dalam dada Arsen, wangi maskulin pria tersebut mampu membuat Nisa merasa nyaman.


"Menangis lah jika dengan begitu dapat mengobati luka mu. Jika kamu memiliki masa lalu yang buruk di sekolah ini lebih baik kita pulang."


Dan dengan lekas Nisa menggeleng. Ia tidak mau pulang, ia ingin menikmati sekolahnya terlebih dahulu. Ia merindukan tempat-tempat di mana yang menjadi tempatnya menguntit Arsen secara diam-diam.


Arsen melepaskan pelukannya terhadap Nisa. Lalu ia menangkup wajah itu yang memerah akibat tangisan yang baru saja berhenti hingga kin hanya terdengar isakkan yang keluar dari bibir perempuan itu. Arsen mengamati wajah Nisa, kemudian ia pun mencium kening perempuan itu lalu turun ke kedua mata wanita itu, ia mengecup nya satu persatu.


"Tapi janji jangan nangis lagi," ujar Arsen seraya mengacungkan jari kelingkingnya ke depan wajah Nisa dan dengan semangat pula Nisa menautkan jari kelingking mereka. Setelahnya terdengar tawa mereka yang renyah hingga burung-burung dan rumput yang menjadi saksi pun ikut tersenyum.


"Yaudah mari kita keliling Princess nya Arsen." Nisa mengangguk lalu ia berjalan mendahului Arsen, namun laki-laki itu mencegahnya.


"Kenapa?"


"Gandengan dong." Arsen mengeluarkan telapak tangannya di depan Nisa. Wanita itu tersenyum lalu menautkan jari-jarinya di sela jari-jari Arsen.


"Kita mau kemana dulu?" Tanya Nisa seraya mengedari ruangan-runagan sekolahnya.


"Ke kantin aja dulu."


__________


"Sekarang kamu mau kemana lagi?" Tanya Arsen sembari melirik ke arah wanita yang berjalan di sampingnya.


Nisa berpikir sambil mengetuk jari telunjukanya memikirkan yang mana tempat paling bersejarah di sekolah ini baginya. Kantin sudah, perpustakaan sudah, kelas sudah, aula sudah, lalu di mana lagi? Namun secara tak sengaja ia mengingat sesuatu yang belum dikunjunginya.


"Bagaimana kita ke lapangan basket. Aku dulu sering ngintipin kamu masin basket sendirian. Kamu kan dulu hebat main basket, di lapangan itu juga kita pernah dihukum Pak Ikhsan selama satu jam."


Arsen berpikir lalu selanjutnya ia mengangguk setuju. "Boleh juga."


Namun Nisa menghentikan jalan keduanya sehingga membuat Arsen mengernyit tak paham. Ia menatap wanita itu dengan penuh pertanyaan. Sedangkan Nisa hanya menyengir tak jelas.


"Kenapa?"


"Kaki ku pegal. Bolehkan aku meminta kamu untuk menggendong ku?" Tanya Nisa hati-hati. Dalam hatinya Arsen pasti tidak mau melakukannya.


"Tentu saja."


Arsen berjonkok mengintruksikan agar wanita itu naik ke punggungnya. Nisa yang melihat itu pun langsung naik ke punggung Arsen dengan hati-hati. Setelahnya lelaki itu berdiri dan secara pelan-pelan ia melangkahkan kakinya menuju lapangan basket yang jaraknya tidak terlalu jauh.


"Arsen aku berat nggak?"


"Tidak. Kamu itu ringan kaya nggak berisi."


"Ih kamu ini," kata Nisa dengan gemas lalu mencubit kedua pipi laki-laki itu.


Setelah menempuh jalan yang cukup melelahkan kini sampailah mereka di lapangan basket yang kebetulan lapangan itu sedang sunyi.


Arsen menurunkan Nisa dari pundaknya lalu mereka berjalan ke tengah lapangan. Nisa begitu bahagia, ia berlari sambil tertawa yang tentunya Arsen yang memperhatikan perempuan tersebut dari belakang tersenyum.


Ia mengernyit melihat wanita itu kembali mendekatinya sambil membawa bola basket di tangannya.


"Untuk apa bola itu?"


"Ajari aku main basket. Kamu kan hebat main basketnya."


Arsen menatap Nisa dengan penuh selidik lalu menarik napas dalam. "Yakin?"

__ADS_1


Wanita itu mengangguk penuh keyakinan. Arsen yang melihatnya pun jadi tersenyum. Ia mengajari wanita tersebut bagaimana caranya menggiring bola lalu menembaknya dengan tepat.


Wanita itu mengikuti setiap gerakkan yang diajarkan oleh Arsen, namun sayang ia tidak bisa memasukkan bola dengan tepat ke keranjangnya.


"Sini aku ajari."


Arsen pun mengajari Nisa dengan dirinya yang berada di belakang wanita itu. Pertama-tema ia mengajarkan bagaimana memegang bola yang benar lalu mengejarkan wanita itu menembaknya. Namun secara tidak sengaja tangan mereka bersentuhan sehingga refleks mereka berdua saling bertatapan.


Arsen tersenyum lalu dengan kilat pula ia mencium pipi wanita itu. Tentu saja perlakuan Arsen tersebut mengundang kemarahan Nisa. Belum sempat wanita itu ingin protes Arsen lebih dulu mencela.


"Jangan marah atau aku tidak jadi mengajari mu."


Dengan terpaksa Nisa meredam kemarahannya ia menghela napas berat. Lalu ia melanjutkan kembali latihannya. Mereka berdua bersiap-siap ingin menembak bola tersebut. Sedetik kemudian bola itu melayang dan masuk ke dalam ring. Nisa yang melihat hasil jerit payahnya yang berhasil pun langsung memeluk Arsen dengan senang.


"Yey aku bisa," teriak Nisa dengan girang.


"Lebih baik kita istirahat dulu."


"Di mana?" Tanya Nisa sambil mengamati sekitar.


"Di situ." Arsen menunjuk ke arah tengah lapangan.


"Maksudnya?"


Tidak peduli dengan Nisa Arsen berjalan ke tengah lapangan, lalu ia pun berbaring di lapangan tersebut. Nisa yang melihatnya pun ikut melakukan apa yang dilakukan Arsen. Ia merebahkan badannya di samping lelaki itu.


Keduanya menikmati waktu mereka, sesekali mereka tertawa saat memandang ke atas dan melihat burung-burung yang beterbangan dengan indah dan mengepakkan sayapnya penuh percaya diri.


Setelah merasakan penat yang mulai hilang. Arsen dan Nisa bangkit dari baring mereka. Arsen membantu wanita tersebut bangun, kemudian Nisa berjalan mendahului Arsen menuju parkiran. Yah mereka berdua sepakat jika lapangan basket adalah tempat yang terakhir mereka kunjungi.


Dan dengan lugas pula Arsen mencekal lengan Nisa menahan wanita itu. Nisa menolaeh dan mengernyit.


"Tutup mata mu."


"Maksud mu?"


Namun tidak banyak bicara Nisa menutup matanya dengan rapat. Dirinya tidak akan membuka matanya jika belum diperintahkan. Namun tak lama suara perintah untuk membuka mata pun terdengar.


"Buka mata mu!"


Secara perlahan ia membuka matanya. Samar-samar ia melihat bayangan sesuatu di depannya. Saat telah benar-benar terbuka betapa terkejutnya dirinya.


"Will you marry me!"


Nisa tidak bisa berkata apa-apa lagi melihat cincin berlian dengan segala macam ukirannya yang sangat indah membuatnya tanpa sadar mengatakan sesuatu.


"Yes i do."


Arsen yang mendengar pengakuan Nisa pun langsung bangkit dan berteriak mengatakan YES sekencang mungkin di udara. Ia dengan cepat memeluk Nisa erat dengan penuh kebahagiaan. Kata terimakaih tidak pernah bosan ia ucapkan.


Laki-laki itu melepaskan pelukan mereka. Arsen memandang wajah Nisa dengan seksama, setelahnya ia mendekati wajah itu secara pelan-pelan. Degup jantung mereka berlomba-lomba berdetak dengan kuat. Secara perlahan Arsen mendekatkan bibirnya kepada bibir Nisa, hingga bibir keduanya pun menempel. Nisa tidak berontak dan juga tidak membalas ciuman Arsen.


Cukup lama mereka dalam posisi itu. Arsen dapat merasakan jika Nisa sangat canggung dengan posisi itu dah bahkan dia tak membalas ciumannya. Arsen melumatnya secara dalam dan nikmat sehingga mata keduanya terpejam, dan sesekali ia menghisap bibir tersebut. Saat ia menyadari jika pasokan oksigen telah habis, ia pun menyudahi ciuman tersebut.


Napas keduanya memburu, bibir mereka berdua sama-sama basah. Mereka berdua sama-sama saling pandang.


"Terimaksih," gumam Arsen halus.


"Aku tidak hamil kan jika hanya berciuman saja?"


Sumpah pertanyaan macam apa itu? Rasanya ingin sekali ia tergelak mendengarnya, apakah Nisa tidak tau jika berciuman tidak akan hamil. Padahal wanita itu sudah pernah melahirkan, masa masih tidak mengetahui hal apa yang bisa membuat hamil.


"Tidak akan."


Arsen memasangkan cincin berlian tersebut ke jari manis Nisa yang sangat pas sekali.


________


Tbc


Puas kalian?


Sekedar info aja jika part ini terinspirasi dari darkor My id is Gangnam Beauty waktu Cah Eun Woo ngajakin Lim So Hanyang ke sekolah mereka dulu. waktu Kang Mire wajahnya belum oplas.

__ADS_1


__ADS_2