Tragedi Malam Itu

Tragedi Malam Itu
Part 28


__ADS_3

Waktu terasa berhenti didetik itu juga. Pandangannya melemah, wanita tersebut hampir saja merosot jika saja ia tak berusaha menopang berat badannya. Sekujur tubuh Nisa bergetar seperti habis disengat listrik. Sebuah butiran bening dan cair keluar dari bola matanya yang indah. Tuhan apakah semua ini adalah benar, beri ia jawaban sekarang juga. Mengapa akan secepat ini? Kenapa? Haruskah dia memberontak kepada tuhan agar takdir tak jelas ini diubah dari hidupnya. Wanita tersebut terkekeh pilu di dalam diamnya kala merasakan ia memang sebagai mainan lezat bagi kehidupan.


Dengan segenap rasa ia mengangkat tangannya kemudian mengusap cairan asin tersebut. Dia harus kuat melawan takdir tuhan. Ia bukan seorang wanita lemah tapi dirinya adalah wanita yang akan membuktikan bahwa takdir dapat diubah dengan sebuah keberanian. Tetesan air mata luruh membasahi selendang yang ia kenakan sekarang. Ia memperbaiki tas selempang yang ia gunakan lalu berusaha akting seperti tidak terjadi apa-apa. Nisa tersenyum sinis penuh kesenduan, ia merasa tak yakin bahwa Arsen masih mengenal siapa dia. Lihat saja penampilan laki-laki itu terlihat sangat berkelas tidak seperti dirinya yang hanya seorang pelayan.


Nisa berusaha melangkahkan kakinya menuju mahluk yang sedang bercengkerama asik. Doa dan pejaman mata cukup menjelaskan berapa rapuh perempuan tersebut. Hentakan demi hentakan terdengar pelan seolah menyerasikan dengan perasaannya yang entah hendak dibawa kemana. Ia ingin membuka suaranya, tapi mengapa terasa berat sekali? Seperti lidahnya kelu tak mampu mengeluarkan suara walau satu kata.


Tidak ia harus bisa, jika dia diam saja maka Gabriel anaknya akan diambil dengan mudahnya oleh Arsen. Siapa laki-laki itu? Ia tak mengenalnya. Yang ia tahu hanya laki-laki tersebut adalah orang yang menjadi sumber disetiap masalahnya. Dengan suara serak ia berteriak menahan rasa sakit di dada yang tersa sekali hingga hampir saja membuatnya akan mati di detik itu juga.


"GABRIEL!!!!" Ia merasa bahwa tadi merupakan suatu teriakan suaranya yang amat buruk sekali. Ia tak pernah berteriak dengan tidak sempurna. Namun, tadi apa? Terdengar sekali suara tersebut diusahakan sekuat mungkin tapi tak mencapai nada tinggi. Memalukan sekali.


Ia dapat melihat hampir semua orang menatap kepadannya. Susah payah Nisa menegak ludahnya sendiri yang terasa sangkut di tenggorokan. Tiba-tiba rasa gugup menerjangnya hingga hampir saja ia merasa sakit jantungan yang akan segera memporak porandakan hidupnya. Ia dapat melihat wajah Gabriel terlihat berubah ceria dari sebelumnya. Oh Gabriel kenapa ekspresi mu tak bersersahabat dengan perasaan sang bunda.


"Bundaaa!!" Teriak Gabriel seraya berlari ke arah Nisa lantas memeluk tubuh lemah itu erat-erat. Nisa tidak tahu harus berbuat apalagi, mungkin diam dan membiarkan saja Gabriel memeluknya bisa membuat Nisa mencari makna dari kejadian pada hari ini.


Gabriel begitu girang di dalam rengkuhan sang bunda, hingga tak menyadari sebuah air mata menghancurkan semua momen pada hari ini. Ia begitu menyayangi sang bunda, hingga Gabriel mengusap bagian pinggang Nisa yang tingginya sama dengan tinggi Gabriel dengan begitu lembut, dan tersisip penuh makna. Bocah kecil tersebut melepaskan pelukannya lalu menatap Nisa yang sudah bersih dari air mata. Senyuman manis yang terpancar turut membuat hati Nisa beberapa saat dapat melupakan semuanya. Nisa berusaha tegar di hadapan Gabriel walaupun kenyataan yang sebenarnya berbanding terbalik.


Ia bersimpuh mensejajarkan tinggi badannya dengan puncak kepala Gabriel. Perempuan tersebut menangkup wajah kecil Gabriel, lalu menatap mata bocah indah warna biru lautan yang bisa membuat siapapun hanyut dalam pesona dari seorang Gabriel. Anak laki-laki polos itu mengernyitkan alis kala sebuah air mata Nisa yang tak bisa dibendung gugur dari mata perempuan itu semakin deras.


"Bunda," lirih Gabriel lalu mengusap air mata Nisa yang sudah keluar sekian banyak. "Unda kok nangis. Entar bunda nggak cantik lagi kalau nangis nda." Gabriel mendekatkan wajahnya pada kelopak mata Nisa lalu menciumnya hikmat.

__ADS_1


Nisa menggeleng bahwa dirinya tidak terjadi apa-apa. Perempuan tersebut tersenyum meyakinkan Gabriel. "Nggak. Bunda nggak nangis kok. Gabriel cuman salah liat, liat mata bunda nggak merah kan?"


Anak tersebut mengamati betul mata Nisa. Ia menggeleng bahwa memang mata bundanya tidak merah.


"Alah. Kalau nangis itu bilang aja, nggak usah pakai bohongin anak-anak. Drama kaya gitu udah nggak jaman lagi di zaman sekarang." Nisa melirik kepada sang pemilik suara lalu tersenyum sinis.


"Siapa kamu?" Tanya Nisa berpura-pura tidak tau.


Arsen nama laki-laki tersebut menyunggingkan senyum meremehkan kala mata mereka sama-sama bertatapan. Nisa tersentak dengan tatapan dalam dan sangat mengintimidasi itu kembali hadir di dalam netranya dari sekian lama. Arsen mendekat dan hal itu memang tak bagus bagi kesehatan jantung wanita itu, langkahnya begitu mengejek Nisa. Di dalam hati Nisa bertanya-tanya apakah Arsen masih mengenalnnya?


"Cilla!" Panggil pria itu dan memandang Cilla dengan sebuah kedutan senyuman dan raut lembut berbeda saat tadi memandang Nisa. "Kamu main dulu ya dengan Gabriel, uncle pengen bicara sesuatu sama bundanya Gabriel. Kamu nggak papa kan sayang?" Cilla menangguk lantas menarik Gabriel menuju tempat permainan yang ada di sana.


Dengan lekas Nisa mengejar Gabriel sebelum keburu anak tersebut terpisah jauh dengannya. Bisa sajakan Arsen akan menculik anaknya. Jika memang hal tersebut banar, maka dirinya sampai titik darah penghabisan tidak akan pernah membiarkan itu terjadi.


Nisa langsung meraih pergelangan tangan Gabriel lalu menarik anak itu menjauh dari sana. Sedangkan anak tersebut yang ditarik paksa tidak mengerti sama sekali.


"Bunda kenapa? Kan Iel masih mau main sama Cilla nda."


"Gabriel jangan melawan bunda. Bunda nggak suka kamu main dengan orang asing. Mereka semua orang jahat Gabriel," lirih Nisa, "ayo kita pulang, dan jangan pernah main lagi dengan mereka. Iel kalau mau main lapor dulu siapa temannya."

__ADS_1


"Tapi nda, Cilla sama om Alsen orang baik. Mereka semua baik dengan Iel nda. Bunda dia itu om Alsen yang Iel certain kemarin. Bunda! Iel baru dapat teman balu loh, kok Iel disuluh pulang. Iel masih mau lama-lama sama Cilla nda. Bunda pliss," pinta Gabriel yang mampu membuat pertahanan hati Nisa melemah.


"Iellll!!! Dengerin bunda. Kalau bunda suruh pulang, ya pulang Gabriel," bentak Nisa tanpa sadar.


Gabriel menunduk, baru pertama kalinya ia mendapatkan bentakan dari sang bunda. Sebelumnya ia tak pernah dibentak Nisa dengan nada sekeras ini. Nyalinya menciut di tempat. Air mata jatuh kala suara bentakan terngiang di telinga bocah tersebut.


"Gabriel Maafkan bunda. Bunda tidak sengaja membentak Gabriel. Tapi kita harus pergi dari sini sebelum mereka culik Gab_____," ucapan Nisa terhenti ketika sebuah suara memotong ucapannya.


"Jangan kau pengaruhi otak anak kecil. Biarkan dia memilih kemauannya sendiri." Nisa geram ia ingin sekali mengangkat Arsen dan melemparkannya ke laut. Wanita tersebut menarik napas berat lalu menolehkan matanya pada Gabriel dan Cilla memberi isyarat agar mereka menjauh dahulu.


Arsen tersenyum devil lalu berjalan mendekati Nisa. Sebuah kekehan mengerikan dikeluarkannya, sejenak ia memandang Nisa sesksama. Kemudian menghampiri wanita yang masih bergeming di tempat.


"Jadi itu anak kamu?" Tanya Arsen dan memandang rendah Nisa. "Aku hampir saja menyukai anak tersebut, untung tuhan menujukan siapa anak itu sebenarnya. Dari pencarian yang dilakukan anak buahku mengatakan bahwa anak dari Anisa Ahmad adalah hasil hubungan di luar nikah. Ia diusir dan menjadi seorang gelandang dan sekarang telah bekerja sebagai pelayan Cafe. Kadang aku berpikir kenapa kamu masih mau bekerja sebagai pelayan, bukankah gajih seorang ****** itu lebih banyak. Berhenti heh jadi ******?"


"Apa maksud anda. Siapa anda? Saya tidak mengenal anda, jadi jangan sok tau dengan hidup saya." Sebenarnya hati Nisa tertoreh dalam kala Arsen mengatakan sesuatu yang benar dan juga salah.


"Kamu pikir saya tidak tau siapa kamu? Dan kamu pikir saya sudah lupa dengan orang yang masih menjadi incaran saya. Kamu Nisa yang sok pura-pura berani dengan saya, dan juga orang yang telah membuat saya lumpuh dan hilang ingatan. Asal kamu tau sampai kapan pun jika sasaran saya belum berhasil, maka saya akan mencari dia sampai ke ujung dunia. Cih!! Dasar ****** murahan." Arsen mendekatkan wajahnya pada Nisa. Dekat semakin dekat, dan.......


__________

__ADS_1


Tbc


__ADS_2