
Di malam hari yang gelap gemilang, Nisa telah mengalami pembukaan terakhir, kini wanita itu tengah berjuang hidup dan mati di dalam ruangan persalinan. Wajah tegang dari nek Miah dan Ibel begitu terlihat jelas yang sedang menunggu Nisa di luar ruangan.
Tidak ada penyemangat bagi seorang Anisa saat ia tengah bertaruh nyawa. Begitu miris hidupnya, ketika ia ingin melahirkan, tidak ada seorang suami yang mendampingi wanita itu.
Air mata perempuan tersebut luruh dari kelopak matanya kala saat ia merasakan rasa sakit yang luar biasa. Sedangkan sang dokter dan suster terus menginstruksikan Nisa agar melakukan segala hal yang mereka perintahkan.
Kini tibalah saatnya ia merasakan rasa sakit yang sesungguhnya hingga perempuan itu berteriak sekencang mungkin. "Aaaaaaaaaa."
"Oek oek oek." Nisa tersenyum samar ketika mendengar suara tangis bayi dari anaknya.
Tak pernah disangka perempuan itu bahwa diusianya yang masih muda akan mengemban amanah sebagai seorang ibu. Air matanya semakin mengalir penuh kebahagiaan. Meskipun ia harus menerima sakit namun ada hikmah dibalik rasa sakit itu.
"Selamat buk, anak ibu jenis kelaminnya laki-laki." Nisa membekap mulutnya ketika mendengar perkataan dokter. Rasa bahagia terpampang begitu jelas diwajahnya.
"Beneran dok? Alhamdulillah ya a
Allah."
__ADS_1
"Kalau begitu anak ibu kami bawa terlebih dahulu untuk dibersihkan."
"Baik buk." Selepas itu barulah dokter tersebut pergi dari sana. Nisa menatap langit-langit sembari menggumamkan puji-pujiannya kepada tuhan.
Tak lama kepergian dokter, Ibel beserta nek Miah segera masuk kedalam ruangan tersebut dengan tergesa-gesa hingga mengagetkan Nisa yang sedang melamun.
"Panyajah anaknya? (apa anak nya? [Maksud: jenis kelamin] " Nisa langsung disambar pertanyaan dari nek Miah. Ia pun tersenyum, sebab cukup lama ia tinggal bersama nek Miah dan secara pelan-pelan ia sudah bisa mengerti dengan bahasa Banjar.
"Laki-laki nek!"
"Beneran Nisa? Wah selamat buat lo. Aduh kayanya gue harus kerja ekstra nih." Ibel memasang wajah terlukanya pura-pura bersedih.
"Apaan sih Sa, orang bercanda doang, kok dianggap serius kek gitu. Anak lo mana sekarang?" Ibel pun mendudukan dirinya di samping brankar sembari mencek keadaan Nisa.
"Lagi dibersihin sama dokter." Wanita lemah itu pun menggenggam lengan Ibel dan nek Miah. Lantas ia pun tersenyum tulus penuh kebahagiaan. dan haru, "Makasih nek dan kak Ibel, tanpa kalian, Nisa nggak tau bagaimana nasib Nisa sekarang. Jadi kalian adalah merupakan orang yang berharga bagi hidup Nisa."
Nenek Miah beserta Ibel pun seketika raut wajah mereka berubah menjadi sedih kala mendengar ucapan Nisa yang berterimakasih kepada mereka. Tak pernah terbayangkan olehnya akan merawat keadaan seseorang yang seperti Nisa.
__ADS_1
"Nggak usah gitu Nis! Gue ikhlas jagain lo. Lo jangan pernah berpikiran yang enggak-enggak tentang kami. Kami selalu terbuka untuk lo."
"Nenek sayang banah wan Nisa. Nisa jangan suah mikr amon kami ne kada ikhlas wan Nisa. Nisa! Hidup ni pasti beisi masalah, tinggal kitanya haja mampukah menjalaninya, kadakah. (nenek saya banget dengan Nisa. Nisa jangan pernah berpikir jika kami ini tidak ikhlas sama Nisa. Nisa! Hidup ini pasti memiliki masalah, tinggal kitanya saja mampukah menjalaninya, tidakkah)."
"Makasih Bel, nek."
Tak lama seorang dokter yang menjadi dokter Nisa tadi masuk kedalam dengan bayi laki-laki di gendongannya. Dokter tersebut pun menyerahkan bayi tersebut kepada Nisa.
"Ini buk bayinya." Nisa dengan sigap mengambil bayi yang berada di tangan dokter itu.
Ketika Nisa melihat wajah dari anaknya, alangkah terkejutnya wanita itu melihat rupa dari anaknya begitu mirip dengan ayahnya, Arsen. Dunia begitu tak terasa adil, jelas-jelas ia yang mengandung berbulan-bulan dan dengan segudang masalah gara-gara bayi itu, namun kemiripan dirinya dengan anaknya hanya ada beberapa bagian, tapi Arsen yang hanya menanam benih mendapatkan begitu banyak kemiripan hingga mereka terlihat kembar.
"Namanya siapa Sa?" Lamunan Nisa buyar ketika mendengar pertanyaan dari Ibel.
"Gabriel Ahmad."
"Wellcome baby Gabriel," kata Ibel diikuti dengan seulas senyuman.
__ADS_1
__________
Tbc