Tragedi Malam Itu

Tragedi Malam Itu
Part 63


__ADS_3

Warning: 2877 kata. Harap Like dan komen.


Hanya suara mesin mobil lah yang mengalun menghiasi perjalanan mereka menuju rumah orang tuanya Arsen. Semuanya terlibat dalam kecanggungan, dengan tambahan kegugupan semakin membuat keadaan tegang seakan di mobil itu tidak berpenghuni lagi. Sepanjang perjalanan yang seharusnya terasa nikmat dan menyenangkan kini berbalik menjadi kesunyian akibat perasaan tak nyaman masing-masing yang diderita kedua orang tersebut.


Gabriel yang berada di tengah-tenagah mereka yang mana saat ini posisi mereka ada di depan bagian mobil. Di samping kiri Gabriel terdapat Arsen yang sedang menyetir, dan di samping kanannya ada ibunya yang terlihat gelisah. Anak tersebut dengan segala kejahilannya mengambil satu tangan Arsen sehingga membuat laki-laki itu melirik sebentar anaknya, namun setelahnya ia membiarkan saja anak itu menguasai tangannya yang sedang tidak menyetir.


Kemudian Gabriel juga meraih tangan ibu nya, tapi sepertinya wanita itu tidak merasa terusik sama sekali dengan kelakuan anaknya. Mendapatkan respon positif dari kedua orang tuanya membuat senyuman Gabriel mengembang. Ia menggenggam kedua tangan itu sambil berbisik di dalam hati, ia ingin selamanya seperti ini.


Brberapa detik kemudian Gabriel pun memulai aksinya yang tidak disadari oleh kedua orang tersebut. Ia meletakkan tangan Nisa di atas tangan Arsen sehingga tangan itu tampak menyatu. Sontak kedua pemilik tangan tersebut langsung menatap seorang balita yang berada di tengah-tengah mereka, namun hati keduanya langsung melembut saat melihat apa yang dilakukan selanjutnya oleh anak itu.


Anak tersebut meletakkan tangan mungilnya di atas tangan kedua orang tuanya. Ia tersenyum melihat jalianan tangan yang saling bertautan.


"Iel harap kita selalu begini ya Bun, Pa."


Nisa yang mula ingin menjauhkan tangannya dari tangan Arsen pun mengurungkan  niatnya. Wanita itu hanya mengulas senyum terbaik milik perempuan itu seraya mengusap kepala Gabriel dengan penuh kasih sayang.


"Iel tenang aja, Bunda janji kita bakal kaya gini selamanya. Iya kan Sen?" Seketika Arsen langsung mengangguk menyetujui ucapan Nisa. Ia janji akan membawa mereka ke dalam masa kebahagiaan yang belum pernah disentuh oleh kedua orang tersebut.


Waktu terus berlalu meninggalkan kenangan manis setiap detiknya. Pernahkah kalian berpikir setiap detik yang kalian lalui pasti detik itu akan menjadi sebuah masa lalu. Kini tanpa mereka sadari, mereka telah sampai di rumah orang tuanya Arsen. Arsen keluar dari dalam mobil, lalu ia mengitari mobil tersebut dan membukakan pintu mobil untuk kedua mutiara nya yang masih berada di dalam mobil.


Nisa keluar dan tersenyum kepada Arsen yang telah baik hati membukakan pintu mobil untuk mereka. Lalu kemudian ia berbalik menghadap ke dalam mobil untuk membantu Gabriel keluar yang mana masih berada di dalam mobil.


Kala benar-benar berada di depan rumah keluarga Altas dada Nisa berdegup kencang. Pikirannya kalut dan tenggelam dalam pemikiran yang menyesakkan, bagaimana orang tuanya Arsen tidak menyukainya? Nisa tau betul orang kaya akan memilih-milih calon menantu mereka sesuai dengan di novel-novel yang dibacanya dan sinetron yang selalu ia tonton. Nyali Nisa seakan turun jika membayangkan hal-hal buruk yang selalu dibaca serta dilihatnya. Apakah mungkin orang sepertinya mendapatkan kedudukan yang pantas di keluarga Altas?


Enatahlah ia tidak tau apa yang akan terjadi ke depannya nanti saat ia mendapatkan pertanyaan-pertanyaan yang aneh dari keluarga Arsen. Mungkin ia hanya bisa pasrah dan menunggu keajaiban tuhan terhadap dirinya. Saat kakinya semakin melangkah, tiba-tiba terdengar bisik-bisik dari iblis yang memintanya agar berhenti dan tidak meneruskan niatnya. Tidak mau terpengaruh dengan bisikan tersebut, Nisa mengibaskan tangannya seolah mengusir iblis jahil tersebut.


Doa-doa ia lapalkan di dalam hati berharap tidak akan terjadi apa-apa di dalam nanti. Dadanya semakin bergemuruh hebat saat kakinya semakin dekat melangkah dan mencapai teras. Harap-harap cemas itulah yang tengah dirasakan wanita berumur 24 tahun itu. Namun sebuah genggaman yang berasal dari tangan mungil membuatnya sadar dari pemikiran buruknya. Ia memandang ke bawah tepatnya kepada anaknya yang menggenggam jari telunjuknya laksana anak itu mengetahui isi hatinya yang sedang diwabah gelisah.


"Bunda!"


"Iya Iel."


"Iel pernah loh tinggal di sini. Nenek Riana baik banget dengan Iel, dia suka kasih Iel mainan dan jajanan yang banyak." Kontan ucapan Gabriel tersebut mengundang keheranan wanita berhijab itu, untuk menemukan jawaban dari pertanyaan yang tidak dimengerti olehnya ia pun menatap Arsen untuk meminta pencerahan atas ucapan Gabriel tersebut.


Arsen hanya mengulas senyum ketika mengetahui Nisa sedang menatapnya dengan penuh kerutan di dahi wanita itu.  Ia mengangguk membenarkan jika ucapan Gabriel memang betul, namun ia kembali menatap ke depan seraya menarik napas. Mulutnya terbuka bak ingin mengucapkan sesuatu.


"Dulu waktu kamu diculik Sarga. Aku membawa Gabriel ke rumah ku. Tidak mungkin aku membiarkan anak ku tinggal sendirian. Aku tidak bodoh dalam hal itu."


Nisa mulai mengerti mengapa Gabriel berucap seperti itu. Di detik berikutnya ia tersenyum, tidak dapat dipungkiri jika perempuan itu sangat bahagia dan merasa lega. Yang terpenting Gabriel baik-baik saja selama ia tidak ada, pikirnya.


Namun kelegaan tidak berlangsung lama dan berubah menjadi ketegangan saat melihat beberapa pelayan menyambut kedatangan mereka. Nisa menatap mereka satu per satu yang sedang menundukkan kepala. Ia mulai merasa risih dengan sikap para pelayan tersebut. Ia merasa jika ia tidak pantas mendapatkan penyambutan yang begitu terhormat. Ia adalah orang biasa dan bukan siapa-siapa.


Berusaha menjadi orang yang pengertian, Arsen tentu mengerti dengan ketidak nyamanan Nisa. Hatinya tersenyum, dia memang tidak salah memilih calon istri. Arsen teringat akan tragedi malam itu, malam yang mempersatukan nya dengan Nisa, ia tidak pernah menyesali perbuatannya tersebut dan malah ia sangat bersyukur malam itu terjadi walau harus mengorbankan satu orang yang tersiksa. Tapi ia tidak peduli siapa yang tersiksa yang penting baginya itu adalah  jalan menuju kebahagiaan. Sebut saja ia egois, sebab ia juga mengakui hal itu. 


Arsen menatap tajam para pelayannya agar pelayan itu tidak bersikap terlalu formal kepada Nisa namun tidak mengurangi rasa hormat mereka. Tinggal dan bekerja bertahun-tahun  bersama keluarga Altas tentu membuat para pelayan paham dengan segala kode yang diberikan oleh orang yang menggaji mereka, dan mereka pun mengangkat kepala dan melemparkan senyuman kepada Nisa.


Dan senyuman itu dibalas hangat oleh Nisa.


"Nisa lebih baik kita langsung ke ruang makan, ibu ku dan ayah ku sudah menunggu di sana." Kegugupan semakin menjadi-jadi di hati Nisa. Semua yang ada di dunia berasa tidak berguna lagi baginya, yang dipikirannya saat ini adalah bagaimana cara mendapatkan simpati kedua orang tua Arsen, mana lagi tadi sebelumnya ia tidak ada latihan bagaimana bersikap yang manis di depan calon mertua. Apa ia perlu browsing dulu di Internet atau di mbah Google? Ah sepertinya itu akan kelamaan.


Pasrah. Kata tersebutlah yang cocok disematkan kepada seorang Anisa. Ia akan menerima apa pun yang akan terjadi selanjutnya. Berjalan dan terus berjalan hingga sampailah ia di dekat meja makan yang berbentuk panjang dan banyak jejeran kursi-kursi. Namun yang menjadi fokus nya saat ini bukanlah meja, kursi dan segala pernak-pernik yang tidak dapat ia hitung harganya saking mahalnya. Tapi yang sedang mengganjal di hatinya adalah orang tuanya Arsen yakni Davit dan Ariana yang sedang mengamatinya dengan tatapan datar.  


Nisa menarik napas dengan dalam saat melihat tatapan yang tidak dapat ia terjemahkan artinya tersebut. Ia mencengkeram gaungnya dengan kuat untuk mengurangi rasa takutnya, tuhan apa yang harus ia lakukan? Namun seolah tuhan menjawab pertanyaanya, Gabriel yang berada di sampingnya berlari ke arah Davit dan Ariana. Anak itu mencium serta memeluk kedua orang tuanya Arsen begitu erat, terlihat seperti sudah akrab. Pemandangan tersebut cukup menimalisir perasannya. Yah dia yakin dapat memerangi perasaan gundah ini.


"Nisa kenapa kau berdiri di situ saja? Mari duduk, aku ingin melihat calon menantu ku yang cantik ini lebih dekat," seru Ariana membuat Nisa tersentak dan salah tingkah.


"Ba-baiklah." Nisa menuruti perintah Ariana, ia duduk di salah satu kursi dan di depannya terdapat Ariana dan Davit yang tengah memangku Gabriel.


"Dan kau Arsen kenapa masih berdiri. Ayo duduk di samping calon menantu ku, sepertinya ia sedang gugup. Bisa kah kau memenangkannya terlebih dahulu."


Arsen duduk di samping Nisa dan mengulas senyum yang begitu menenangkan. Di bawah sana tangannya meraba telapak tangan Nisa dan digenggamnya tangan tersebut. 


"Tenang saja ibu ku tidak akan berbuat jahat kepada mu. Dia sangat baik kepada semua orang."


"Ta-tapi."


"Sudah tidak ada tapi-tapian. Apakah kau tidak berhasrat ingin menyantap makanan lezat yang berada di depan mu itu hm? Sebut saja aku pasti akan mengambilkannya untuk mu." 


Nisa menoleh ke depannya. Benar saja segala macam jenis makanan sudah tersaji di depannya. Namun satu jenis makanan menarik perhatiannya, Kimchi. Ia sudah lama ingin memakan makanan itu, makanan khas Korea yang sudah lama ia cita-citakan, hingga-hingga makanan yang bukan Kimchi namun menyerupai Kimchi yang sering ia olah disebut-sebutnya Kimchi.

__ADS_1


"Aku ingin itu." Tunjuk Nisa kepada jenis makanan yang bernama Kimchi tersebut.


"Yakin kamu bakalan suka dengan itu?" Tanya Arsen, pasalnya laki-laki itu sangat membenci makanan yang memiliki nama Kimchi tersebut, ia selalu geli melihat bentuk dan cara pengolahannya.


Nisa mengangguk. Ia sering sekali makan Kimchi di restoran Korea bersama keluarga Ahmad. Ayah nya dulu sangat menyayanginya sampai-sampai segala kemauannya selalu dituruti oleh sang ayah. Ah memikirkan hal tersebut selalu membuatnya ingin menangis, ia tidak sanggup membayangkan keadaannya sekarang, yang mana posisinya sekarang di keluarga itu sangat tidak diharapkan.


Arsen mengambilkan makanan itu dan dengan segala perhatian dan kehangatan yang merupakan sisi lain dari seorang Arsen membuat Nisa tanpa sadar tersenyum. Seakan dunia milik berdua mereka sama sekali mengindahkan sekitar. Ariana dan Davit serta Gabriel memperhatikan tingkah mereka. Ariana hanya menggelengkan kepala, dari dulu mereka berdua selalu begitu, padahal belum ada perintah untuk makan, dan bahkan ia belum mempertanyakan sesuatu.


Arsen mencegah Nisa ketika wanita itu ingin menyuap makanan yang ada di hadapannya, ia tidak pernah bisa menahan nafsu jika di depannya adalah Kimchi.


"Biar aku saja yang menyuapi mu." Nisa mengulas senyum mengizinkan laki-laki itu untuk menyuapinya.


Baru saja Arsen ingin memasukkan makanan tersebut ke dalam mulut Nisa, sebuah daheman menghentikan kegiatan kedua sejoli itu. "Akhem akhem."


Gabriel cekikikan ketika berhasil membuat momen mereka rusak karenanya. "Cieh Bunda disupain Papa." Gabriel meletakkan kedua sikunya di atas meja, dan kedua telapak tangannya menopang kedua pipi gembulnya.


"Apaan sih Iel." Nisa susah payah menahan malunya di depan orang tuanya Arsen. Ia baru menyadari kehadiran kedua orang tuanya Arsen yang padahal sudah ada di meja makan sebelum ia datang.


"Mungkin lebih baik kita makan terlebih dahulu. Sepertinya Nisa sudah tidak tahan ingin makam manakanan tersebut," ucap Ariana penuh pengertian.


"Ternyata kau masih sama seperti dahulu, sangat menyukai Kimchi. Kau tidak pernah berubah. Dahulu ayah mu sering bercerita kepada ku jika dia sampai kehabisan uang untuk biaya membelikan makanan bernama Kimchi itu untuk mu," ujar Davit sambil mengingat masa lalu mereka ketika tinggal di Amerika.


Davit dan Rifan ayah kandungnya Nisa adalah sahabat. Rumah mereka saling berdekatan dan Davit sering berkunjung ke rumah mereka dan membawa Arsen. Dari situlah Arsen dan Nisa mulai dekat dan sering bermain bersama hingga tak lama mereka mengenal Sarga yang ayahnya merupakan rekan kerja Davit juga, dan Arsen sering mengajaknya bermain ke rumah Sarga.


"Om kenal dengan Papa?" Tanya Nisa dengan Polos nya. Padahal ia sendiri mengetahui jika ayah nya memang bersahabat dengan Papa nya Arsen, hal itu ia ketahui dengan ingatan masa kecilnya yang dapat ia ingat kembali.


"Sekarang jangan sebut aku dengan Om. Panggil aku Papa, aku telah berjanji kepada ayah mu agar menjaga mu. Dan sekarang kau ingin menikah dengan anak ku, maka tidak ada salahnya bukan jika kau menyebutku dengan Papa."


"Baik Om. Eh Papa maksudnya."


"Aku dan papa mu adalah sahabat, apakah kau belum mengingat bagian itu? Desi ibu mu juga sahabat istri ku." Nisa memandang Ariana.


"Betul itu Ica! Ah aku bingung harus memanggil mu Ica atau Nisa?"


"Panggil saja Nisa tante."


"Sebut aku juga dengan Mama. Nisa maafkan aku dulu telah membenci mu."


"Terimakasih sayang." Nisa mengangguk penuh senyuman. Ariana memandang ke arah piring yang berisi Kimchi di depan Nisa. Ia melihat tangan Nisa sedang mengaduk-aduk pelan Kimchi tersebut menggunakan sendok. Dan hal tersebut menyadarkan dirinya. "Bagaimana kita langsung makan saja?"


Akhirnya Nisa dapat bernapas dengan lega saat mendengar jika diperboleh kan makan. Ia menyuapkan Kimchi tersebut ke dalam mulutnya. Lagi-lagi kegiatannya itu terhenti oleh suara Gabriel.


"Sebelum makan kita baca doa dulu."


Mereka pun berdoa yang dipimpin oleh Davit. Ketika doa telah usai, Nisa yang ingin menyendok makanannya telah didahului oleh Arsen yang merebut sendok makannya dan mendekatkan sendok tersebut ke mulut Nisa.


"Buka mulut mu," perintah Arsen yang lantas dituruti oleh Nisa.


Nisa pun akhirnya makan disuapi oleh Arsen, saking hikmatnya mereka berdua hingga Nisa makan sampai belepotan. Arsen tersenyum melihat sisa makan di sudut bibir wanita-nya itu. Ia pun membersihkan sisa makan tersebut dari bibir Nisa menggunakan jari tangannya, setelahnya ia masukkan jari tangannya tersebut yang terdapat sisa makan Nisa ke mulutnya. Jujur seumur hidupnya belum pernah memakan Kimchi. Dan ini untuk pertama kalinya ia memakan Kimchi, dan rasanya sangat enak sekali, apakah karena bekas bibir Nisa Kimchi tersebut memberikan sensasi enak di lidahnya.


"Enak," ungkap Arsen membuat Nisa yang mendengarnya tersipu. Ia jelas malu, bagaimana pun juga itu bekas mulutnya.


"Romantis sekali," tegur Ariana yang membuat wajah Nisa semakin memerah menahan malu.


"Kapan kalian akan menikah?" Tanya Davit membuat suasana hening menunggu jawaban Arsen.


"Minggu depan."


_________


1 Minggu kemudian


Di dalam kamar, seorang wanita yang penuh dengan riasan, mengenakan pakaian kebaya, dan kepalanya dipenuhi dengan pernak pernik serta kembang goyang yang terlihat berat. Wajahnya hari ini benar-benar cantik dan bersinar, bahkan orang yang melihatnya hampir tidak mengenali perempuan itu.


Di samping wanita itu terdapat Alsya yang sedang menemani sang Kakak yang tampak merasakan gugup. Sesekali ia meyakini dan menyemangati Kakanya tersebut. Yap hari ini adalah hari kebahagiaan sang Kaka yaitu hari pernikahan Kakanya.


Nisa merasakan jantungnya empat kali berdetak dan sangat cepat. Ia tidak dapat menahan rasa gugup nya. Jujur hari ini ia akan benar-benar menjadi milik Arsen. Ia menggenggam tangannya sendiri sembari menunggu sang Mama yang menjemputnya untuk ke luar. Yang menikahkannya ialah Ahmad selaku menggantikan ayah kandungnya Nisa.


Laki-laki itu sangat menyayangi anaknya Nisa hingga demi kebahagiaan sang anak ia rela menyingkirkan sedikit keegoisannya. Nisa juga telah mengetahui perasaan Habib kepadanya dari Alsya. Ia cukup terkejut mendengar pengakuan tersebut, hingga Habib ingin bertemu dengannya pun ia tidak mau, karena entah mengapa ia merasa bersalah dengan laki-laki itu.

__ADS_1


"Alsya Kaka takut sekali." Nisa menggenggam tangan adiknya. Dapat Alsya rasakan jika tangan sang Kaka terasa dingin seperti batu es.


"Kaka tenang saja. Ka Arsen pasti melakukannya secara sempurna."


Nisa mengangguk. Setelahnya ia mengamati wajah sang adik yang seperti berusaha ikhlas. Hal itu tentu menjadi keanehan bagi Nisa.


"Kamu kenapa Sya?"


"Tidak apa-apa Ka."


Namun Nisa mengetahui jika Alsya berbohong. Sebuah pikiran aneh pun mengahntuinya. Ia ragu ingin menanyakan ini kepada adiknya tersebut.


"Kamu suka dengan Arsen ya?"


Alsya tercekat dan langsung menggeleng cepat. "Tidak Ka."


"Kamu bohong. Katakan saja kepada Kaka yang sebenarnya Dek, sebelum Kaka mengetahui dari orang lain."


Dengan ragu Alsya memandang Kakanya. Ia menatap mata sang kaka dengan tidak percaya diri. Ia tau jawabannya ini sangat menyakiti sang Kaka.


"I-iya Alsya suku. Tapi sekarang sudah enggak kok."


Nisa bernapas lega atas pengakuan sang adik. Namun hatinya tidak cukup lega karena ternyata Alsya menyukai calon suaminya yang sedang mengucapkan ijab kabul di luar.


Hening.


"SAH!!"


Suara teriakan dari luar yang menyebut sah pun menyadarkan Nisa kembali. Wanita itu yang mula merasa tenang, kini kembali merasakan gugup. Tiba-tiba saja air matanya keluar dan menetes. Tangis yang sedang ia alami sekarang bukanlah tangisan kesedihan melainkan tangisan kebahagiaan. Ia tidak pernah menyangka jika jodohnya adalah Arsen.


"Kaka sekarang sudah sah jadi istrinya Ka Arsen," ucap Alsya kegirangan seraya memeluk Nisa dengan bahagia. Nisa menghapus air matanya, ia tidak ingin ada air mata lagi.


"Kaka bahagia Say. Semoga kamu juga nanti bahagia ya Sya!"


"Amin Kak." Mereka pun melepaskan pelukannya.


Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar kamarnya. Nisa pun memperbaiki pakaiannya serta make-up perempuan itu. Kemudian wanita itu pun membuka pintu dan tersenyum kepada orang tersebut yang tak lain adalah Ariana. Aisyah ia hanya menunggu di luar sebab perempuan tersebut sedang sakit dan juga buta.


"Selamat ya sayang sekarang kamu sudah sah jadi seorang istri." Ariana memeluk Nisa haru.


"Makasih Ma."


"Ayo keluar, Arsen sudah tidak sabar nungguin kamu di luar."


Mereka bertiga pun berjalan keluar. Alsya memegang baju kebaya Nisa yang amat panjang di belakang. Sedangkan Ariana menuntun Nisa berjalan menuju ke luar menghampiri Arsen yang telah menunggunya di luar.


Dan kini sampailah mereka di luar. Nisa dapat melihat Arsen yang tampak gagah dengan baju pengantin berwarna putih yang tengah menunggunya, ia terperangah dengan ketampanan Arsen. Mata mereka bertemu cukup lama dan saling melempar senyuman.


Sama halnya Arsen, laki-laki itu juga sedang terhidpnotis dengan penampilan serta kecantikan Nisa yang hari ini sangat luar biasa. Dada Arsen semakin berdetak saat wanita itu berjalan dan mendekatinya, matanya tidak bisa berkedip lagi melihat kecantikan sang istri. Ah Arsen berjanji mereka malam ini tidak akan bisa tidur sampai pagi.


Saat Nisa duduk di sampingnya, jantung Arsen seakan lost control. Ia semakin merasa sesak saat Nisa meraih tangannya dan mencium punggung tangannya. Setelahnya ia pun berusaha mati-matian menahan degup jantung yang tidak sesuai dengan ketukan, kemudian ia pun mencium kening Nisa.


"Sekarang kamu adalah istri ku." Arsen berbisik di telinga Nisa.


Nisa yang mendengarnya pun langsung memerah.


_______


Tbc


Nisa



Arsen



Nggak komen banyak-banyak aku bakal mogok nulis sama nggak bakal buat malam pertama mereka. Maaf nggak ada visualnya karena proses reviewnya lama, jadi karena saya tidak ingin kalian menunggu lama maka tidak menggunakan cast.

__ADS_1


Mereka yang Nikah gue yang baper.


__ADS_2