Tragedi Malam Itu

Tragedi Malam Itu
Part 13


__ADS_3

Nisa hanya bisa pasrah kepada tuhan atas nasibnya yang sekarang ini, mau melawan pun hanya membuang tenaga saja, sebab tenaga wanitanya yang lemah tidak sebanding dengan tenaga laki-laki busuk yang di atasnya, jadi semua perlawanannya hanya lah berbuah sia-sia.


Nisa hanya bisa pasrah dengan kendali pria itu, jangankan untuk melawan, membuka mulut saja ia tidak bisa lagi. Rasanya persendian di tubuhnya tiba-tiba saja mati bagaikan kematian berada di depan matanya, mungkin malaikat Izrail sedang otw untuk mencabut nyawanya selanjutnya, entahlah ia juga tidak bisa menebak-nebak.


Mata Nisa terpejam kuat tak sanggup melihat detik-detik saat laki-laki itu merobek pakaianya, namun sebelum ia memejamkan mata seperti ada bayangan seseorang di atasnya yang menghampiri laki-laki itu. Nisa berharap bahwa bayangan tersebut adalah malaikat Izrail yang bakal mencabut nyawanya, dan ia pun pergi dari dunia yang kejam tak berperasaan memberikan ujian yang begitu berat baginya dan bahkan bagi banyak orang di luaran sana.


Ada rasa penyesalan di hati Nisa ketika ia di dalam rahim dahulu menyetujui syarat dan ketentuan hidup di dunia yang bakal ia jalani, andaikan dia dahulu menolaknya, otomatis ia tak akan ada di dunia sekarang dan menjalankan hidup yang penuh akan drama yang tak jelas.


Sedetik kemudian Nisa tak merasakan apa-apa setelah laki-laki itu merobek pakaiannya, meskipun robekan tersebut tidak terlalu besar tapi Nisa berasa bahwa ia bagaikan sampah dan barang bekas yang tempat sesungghunya adalah tong sampah. Dengan keberanian yang tersisa Nisa membuka kelopak matanya sipit untuk melihat apa yang telah terjadi.


"Ba-bayangan itu..." Nisa dibuat terkejut dengan bayangan yang sempat ia lihat.


Ia langsung membuka matanya selebar-lebar mungkin untuk mencerna apa yang telah terjadi. Bagaimana Nisa tidak dibuat terkejut, bayangan yang ia lihat tadi ternyata adalah seorang perempuan. Dan yang lebih parahnya lagi adalah perempuan tersebut dalam hanya satu menit sudah dapat meringkus kawanan pereman-preman itu.


Wanita itu tdak bisa menutup mulutnya yang melebar ketika melihat sang perempuan tomboy yang ia belum ketahui namanya itu menonjok laki-laki yang berada di sampingnya tadi hingga tersungkur tidak berdaya di tanah, sedangkan teman-temannya yang lain telah lebih dulu terkapar bagaikan ikan yang dipisahkan dari air.


Yang tambah membuat Nisa menjadi terkejut adalah, perempuan itu mendekat kearahnya. Nisa hanya berharap kepada tuhan bahwa perempuan ini adalah malaikat penolongnya bukan malaikat penghantar nyawanya, ia tidak jadi mengharapkan perempuan itu malaikat maut.


"Hey Kau! Tak apa kan?" Ucapnya kepada Nisa yang sedang terbaring lemah sembari menatap ke wajah perempuan itu yang samar, lantas Nisa pun mengangguk.


"Lo ikut gue saja terlebih dahulu, agar lo aman dari orang-orang itu," ujarnya yang diangguki Nisa. Tak lama pandangan Nisa pun semakin buram dan berakhir matanya yang tak dapat melihat apa-apa selain gelap.


___________

__ADS_1


"Ngeh," erang Nisa setelah mendapatkan kesadarannya.


Perempuan itu pun mengucek-ngucek matanya untuk melihat keadaan sekitar menjadi lebih jelas, dahi wanita itu pun mengernyit ketika ia mendapatkan tubuhnya terdampar di tempat asing yang sama sekali tidak familiar di matanya.


Nisa pun bangun dan duduk sembari menyenderkan kepalanya pada kepala ranjang, ia menatap sekitar yang terasa asing, lantas perempuan tersebut pun mengalihkan pandangannya pada tubuhnya yang sudah memakai pakaian yang layak, selain itu juga banyak perban yang terdapat dibebrapa bagian tubuhnya. Ia pun merasa jikalau badannya terasa lebih mendingan ketimbang dengan tadi.


Banyak pertanyaan yang muncul di kepala perempuan itu. Mengapa ia ada di sini? Siapa yang membawanya kemari? Di mana kah ia berada sekarang? Sipa pemilik rumah yang seperti kontarkan ini? Siapa yang menggantikan bajunya?


Namun sebelum pertanyaan yang berada di kepalanya dapat ia pecahkan, seorang wanita paruh baya termakan usia datang menghampirinya dengan senyum manis milik perempuan tersebut.


"Ya ampun yang ikam sudah sadar leh (ya ampun nak kau sudah sadar)," ujarnya dengan bahasa dan logat banjar, "ikam handak apanya? Banyu gula kah? Banyu putih? Atau ikam handak makan, tapi yang ngah maaf sebelumnya di rumah nenek ni kada ada belauk makan, yang ada iwak karing narai awan gangan bekaruh, hakunkah yang ikam makan wan ngintu lauknya? (kamu mau apa? Air teh? Air putih? atau kau mau makan, tapi nak maaf sebelumnya di rumah nenek ini tidak ada lauk makan yang ada cuman ikan asin sama gangan bekaruh, maukah nak kau makan dengan lauk itu?)" Kata yang berasal dari kata iyang yang berarti panggilan orang banjar untuk anak perempuan.


Nisa melongo seraya mengedip-ngedipkan matanya mendengar pernyataan dari nenek tersebut. Ia pun menggaruk tengkuknya sembari menyengir supaya nenek itu tidak tersinggung bahwa ia tak mengerti apa yang sudah nenek itu ucapkan.


"Dia nenek gue, dan dia juga tidak terlalu fasih berbahasa Indonesia, jadi nenek gue ini gunakan bahasa daerah yaitu bahasa Banjar. Lo pasti nggak ngerti dengan bahasa nenek gue kan?"


Nisa pun mengangguk membenarkan apa yang telah dikatakan oleh perempuan itu. "Kamu siapa?"


"Nama gue Issabel, panggil aja Ibel, sedangkan nenek gue namanya Miah. Dan nama lo siapa?" Tanya perempuan itu pada Nisa.


"Nisa." Nisa pun menjawab pertanyaan dari perempuan itu sembari mengamatinya. "Kamu kok tadi bisa lawan mereka semua?"


"Karena gue adalah atlet karate," ujarnya, dan Nisa pun menatap takut kepada Ibel.

__ADS_1


"Ha ha ha, gak usah takut gitu dong ke gue. Tenang aja gue orang baik kok," ujarnya memdekati Nisa seraya mengambil alkohol di atas meja, lalu menumpahkan alkohol tersebut di atas kapas, dan kemudian kapas itu dioleskan kepada bagian luka yang terdapat di tubuh Nisa.


"Auuu," rintih Nisa ketika cairan dingin tersebut mengenai lukanya dan memberikan rasa pedih.


"Maaf," ujarnya, lalu orang itu mendekati wajah Nisa berniat ingin memberikan obat kepada memar yang terdapat di bagian kepala perempauan tersebut.


Saat kapas yang sudah ditumpahi alkohol dekat dengan hidung Nisa, dengan refleks Nisa menepis tangan perempuan tersebut dan memalingkan wajahnya ke samping dan muntah tanpa ada sesuatu yang keluar.


Huek huek huek


"Lo alergi dengan bau alkohol ya?"


Lantas Niasa menggeleng, "Enggak, cuman anak di perut ku tidak tahan mencium baunya," ujar Nisa tanpa tau ia sudah keceplosan.


Sedangkan Ibel sibuk mencerna perkataan yang Nisa ucapkan tadi.


"Maksud mu yang, ikam hamil kah?"


"Ja-jadi lo sedang hamil?" Ujar Ibel menatap Nisa tidak percya.


___________


Tbc

__ADS_1


__ADS_2